
56 Maaf, Aku Menyerah!
"Erghhh... ."
Diana terbangun mendengar rintihan dari ranjang. Dia bangkit dari sofa panjang tempat dia mengistirahatkan badan. Kemudian bergegas menghampiri Soraya.
Melihat Soraya sudah membuka matanya membuat Diana langsung memeluknya.
"Syukurlah ... Syukurlah, kau sudah siuman! Aku takut! Aku takut sekali! Huu ... Huu ... Kau tak tahu betapa takutnya diriku. Aku mengira akan kehilanganmu ... Huu ... Huu ... ," Diana menangis sambil memeluk Soraya.
"Tante ... " Lirihan lemah dari mulut Soraya menyadarkan Diana dengan kondisi Soraya yang masih lemah, dia cepat melepaskan pelukannya.
Diana menata bantal di sandaran ranjang saat melihat Soraya yang perlahan bangun. Dengan perlahan direngkuhnya tubuh Soraya dan disandarkan ke bantal yang sudah tersusun. Setelah dirasa Soraya sudah duduk dengan nyaman, Diana duduk di pinggir ranjang dan menyentuh tangan Soraya.
"Apa yang kau rasakan? Ada yang sakit? Kau merasa pusing? Atau mual?"
Soraya menggeleng, "Tidak, Tante! Aku cuma merasa agak lemas. Setelah cukup istirahat, aku rasa akan pulih seperti sediakala."
"Oh ... Baguslah!"
Mereka terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Tante ... "
"Ya?"
"Apakah aku ini tidak berguna?"
"Kenapa kau mengatakan hal seperti itu?"
Soraya menunduk dan mulai terisak. Tangan menutup wajahnya.
"Aku merasa tak berguna, Tante! Untuk apa kekuasaan yang aku miliki tapi tidak bisa melindungi orang-orang yang aku sayangi. Mereka mati tanpa bisa aku cegah. Lalu apa bedanya aku dengan para gelandangan yang juga tidak dapat berbuat apa-apa saat salah satu keluarganya harus meregang nyawa di depannya, entah karena kelaparan atau tidak adanya dana untuk berobat ... Hiks ... Hiks ...."
Diana mencengkeram kedua bahu Soraya. "Mengapa kau berpikir seperti itu? Kau wanita kuat! Jangan biarkan semua kejadian ini membuatmu terpuruk! Bangkit Soraya! Bangkit!"
Soraya semakin terisak. "Mereka mati, Tante! Semua karena salahku. Aku lalai melindungi mereka ... Hiks ... Hiks ..."
"Ini bukan dirimu, Soraya! Mengapa jadi selemah ini? Apakah kebahagiaan yang kau rasakan selama ini membuatmu jadi lembek? Kau Soraya Palvin! Jangan biarkan orang-orang itu bergembira di atas penderitaanmu! Sekarang hanya dirimu yang tersisa dari Palvin!"
__ADS_1
Soraya tersentak. Dia mengangkat wajahnya dan memandang Diana dengan tatapan penasaran.
"Maksud ... Maksud Tante?"
"Mereka tak hanya meracuni anakmu, tapi juga membunuh Nyonya Besar."
"Apa!??" Mata Soraya membulat.
Diana mengalihkan wajahnya. Meski dia tidak pernah menyukai Nyonya Besar tapi biar bagaimana pun Nyonya Besar tetap neneknya Soraya. Dan beliau menyayangi Soraya dengan caranya sendiri.
"Iya ... Aku juga baru mendengar kabarnya. Mereka mengatakan kalau beliau juga diracun seperti Hana." Diana menyesal menyebut nama Hana saat melihat wajah Soraya yang kembali sendu.
"Sebenarnya siapa mereka, Tante? Aku tidak merasa pernah menyinggung siapapun. Kalaupun aku bersikap tegas pada yang lain, itu karena mereka yang terlebih dahulu melakukan hal jahat padaku dan pada perusahaan."
"Mereka adalah musuh lama yang terus bersembunyi dan menyerang dari dalam. Mereka menggunting dalam lipatan. Seperti tikus yang menggerogoti sedikit demi sedikit."
Suara pria mengejutkan mereka. Seorang pria tua di kursi roda memasuki kamar dengan didorong oleh seorang pria yang sangat dikenalnya.
Bukan pria berkursi roda yang membuat Soraya terpaku, tapi pria yang sedang mendorong kursi roda itu.
"Ardan ... " gumamnya tak percaya.
Setelah kabar mengerikan itu, Soraya tak dapat membayangkan akan dapat bertemu dengan Ardan lagi.
Soraya masih tak bergeming. Dia benar-benar merasa shock melihat kehadiran Ardan. Seakan kembalinya Ardan adalah sebuah keajaiban.
Ardan pun tak membuang waktu. Dia melepaskan tangannya dari kursi roda dan melangkah ke arah Soraya.
"Soraya ... Ini aku, Ardan suamimu!" Dia bersimpuh di sisi ranjang.
Soraya menatap Ardan dengan linangan airmata. Tangannya terulur, mencoba menyentuh wajah Ardan. Merasakan sensasi kasar dari bulu-bulu yang tumbuh di sana. Untuk meyakinkan diri bahwa wujud di depannya memang nyata adanya. Bukan sebuah mimpi apalagi halusinasi.
Tangannya Soraya masih meraba-raba wajah suaminya. "Kau nyata! Kau ... Kau masih hidup! Ini bukan mimpi?"
Ardan memegang tangan Soraya yang berada di pipinya. Matanya berkaca-kaca, rasa bersalah menghantuinya karena tidak segera mengirim kabar pada Soraya tentang keselamatannya. Sehingga membuat Soraya semakin terpuruk karena mengira telah kehilangan semua orang yang berarti dalam hidupnya.
Diana perlahan menjauh dari pinggir ranjang. Memberi kesempatan kepada pasangan itu untuk meluapkan rasa rindunya.
Dia berdiri di samping Aslan yang juga menyaksikan adegan mengharukan itu.
__ADS_1
Ardan menciumi tangan Soraya sambil terisak.
"Maaf ... Maafkan aku! Hiks ... Hiks ... Aku tak bisa melindungi kalian. Maafkan aku karena membiarkan kau menderita!"
Perkataan Ardan membuat Soraya menggeleng kuat. "Aku yang harus minta maaf. Aku tak mampu melindungi putri kita ... Huu ... Huu ... Putri kita ... Putri kita Ardan ... Dia ... Dia ... Telah mati ... Itu salahku! Huu ... Huu ... Salahku! Kenapa aku tidak mati saja ... Huu ... Huu ... "
Soraya memukul-mukul dadanya. Ardan menangkap kedua tangan Soraya. Dia tak mau Soraya menyakiti dirinya sendiri.
Soraya meronta dengan keras tapi Ardan tak melepaskan tangan Soraya. Dia memeluk Soraya yang menangis semakin kencang.
"Huu ... Huu ... Kita kehilangannya Ardan ... Kita kehilangan putri kita ... Huu ... Huu ... Mengapa Tuhan menghukum kita seperti ini? Putri kita ... Dia ... Dia sangat manis dan pintar."
Soraya melepaskan pelukan Ardan. Wajahnya penuh dengan airmata.
"Dia ... Dia ... Kesakitan. Aku memeluknya seperti ini." Soraya mendekap tubuhnya seolah Hana berada di pelukannya.
"Aku memeluknya ... Berharap dapat meringankan rasa sakitnya ... Huu ... Huu ... Dan dia mengejang. Di tangan ini ... Dia sekarat! Dia tersengal ... Darah tersembur dari mulutnya ... Huu ... Huu ... Anakku ... Hana ... Kejamnya mereka yang telah melakukan itu padamu ... Huu ... Huu ... "
Ardan kembali memeluk Soraya. "Sshhh ... Itu bukan salahmu. Kita akan membalas ... Kita akan membalas mereka. Aku janji!!" Ardan menggeram menahan kemarahan di dadanya.
"Dia ... Tubuh mungilnya mengejang di tanganku ... Dan setelah memuntahkan darah untuk yang terakhir kali, dia pergi. Dia pergi, Ardan! Dia pergi meninggalkan kita. Karena kita bukan orang tua yang baik. Kita tak bisa melindunginya. Dia tak mau lagi bersama kita." Soraya mulai meracau. Dia memukul punggung Ardan dan menjambak rambutnya.
Diana yang melihat semua itu ikut meneteskan airmata. Begitu melihat Soraya mulai mengamuk, Diana memanggil perawat.
Perawat segera datang dan menyuntik Soraya dengan obat penenang.
Tak lama kemudian Soraya pun lunglai di pelukan Ardan. Dengan perlahan Ardan merebahkan tubuh Soraya dan merapikan selimutnya.
Ardan memandangi wajah Soraya yang terlelap. Dalam hatinya ada penyesalan yang sangat besar. "Maafkan aku yang tidak bisa mendampingimu saat kau terpuruk. Aku memang bukan suami yang baik untukmu. Tapi aku akan berusaha membahagiakanmu. Tak akan kubiarkan dirimu menderita lagi."
Tangannya merapikan anak rambut yang menempel di dahi Soraya. Dikecupnya dahi Soraya dengan penuh cinta dan kerinduan.
"Bersabarlah! Kita akan membalas mereka semua. Mereka akan membayar atas semua penderitaanmu."
*****
Jangan lupa like dan vote ya!
Part selanjutnya akan diketahui bagaimana Ardan bisa selamat dari kecelakaan. Jadi, tetap setia ya!
__ADS_1
Seperti biasa, hari minggu libur. Family time!!!
Sampai bertemu lagi senin depan! 😘