
35 Maaf, Aku Menyerah!
Suasana mansion itu cukup sepi mengingat lokasinya yang berada di sebuah pulau terpencil.
Meski pulau itu merupakan pulau terpencil, tapi pulau itu sangat indah dan damai.
Tak sembarang orang bisa keluar masuk seenaknya dari pulau itu. Karena pulau itu merupakan salah satu dari pulau-pulau lain yang dimiliki oleh Keluarga Palvin.
Di pulau itulah Soraya menempatkan Granny dalam pengasingannya. Sebenarnya bukan sebuah pengasingan, karena semua kebutuhan Granny terpenuhi dengan baik. Mansion itu juga dilengkapi dengan maid dan koki profesional.
Hanya saja Granny tak diperbolehkan meninggalkan tempat itu. Puluhan bodyguard berjaga secara bergilir untuk menjaga keamanan di sana.
"Nyonya Besar ... Sudah waktunya makan siang. Anda mau makan sekarang?" tanya Amy, kepala pelayan yang ada di sana.
Fransisca Abreu Palvin, sang Granny mengalihkan pandangannya dari iPad ke arah kepala pelayan itu.
"Hmm ... ," gumamnya sambil mengangguk.
Amy segera menundukkan tubuhnya untuk segera menyiapkan makan siang untuk majikannya.
"Dasar bodoh!" gumam Fransisca lagi sambil membaca email yang dikirimkan orangnya yang masih ada di perusahaan.
Hal itu dilakukannya untuk memantau Soraya. Mengikuti semua perkembangan yang terjadi pada cucunya yang keras kepala itu.
Pagi tadi dia mendapatkan email yang berisi laporan tentang kejadian yang terjadi ketika rapat terakhir. Kejadian saat Soraya memutuskan menghabisi Abos.
Fransisca menghela napas berat. Mungkin dia memang agar longgar pada pria itu. Tapi itu dia lakukan agar pria itu tidak sadar bahwa dirinya sudah mengumpulkan bukti untuk menggulingkan pria itu dari perusahaannya. Dan saat ini, dia hampir bisa menggulingkan pria itu, namun Soraya sudah melakukan hal yang akan memicu pertikaian.
"Hhh ... Anak itu memang masih harus banyak belajar. Dia melakukan sesuatu yang benar-benar ceroboh kali ini." gerutunya sambil mencari berita tentang kejadian itu.
"Hmmm ... Setidaknya dia masih bisa mengendalikan pers sehingga berita itu tidak muncul ke permukaan," katanya setelah tak menemukan satu pun berita yang mengungkap kejadian itu.
"Sepertinya Granny sekarang suka bicara sendiri, huh!"
Sebuah suara mengagetkan dirinya. Dia segera menoleh ke sumber suara.
Tampak Soraya berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
Matanya mendelik, wajahnya berubah masam.
"Untuk apa kau kemari, hah?" dengusnya.
"Tentu saja untuk mengunjungi dan melihat keadaan Granny."
Soraya mendekat dan duduk di sofa yang ada di hadapan Fransisca.
"Dan mengejek kekalahanku?"
Soraya mengernyit. "Maksud Granny?"
Fransisca melotot tapi tak memberi pengaruh pada Soraya. Terbukti dengan santainya dirinya mengambil potongan buah di meja dan memasukkan ke mulutnya.
"Kau puas sudah memenjarakan aku di sini?" pekik Fransisca.
"Duuh ... Jangan berlebihan deh Granny. Memang ada penjara yang memiliki fasilitas mewah seperti di sini?" sindir Soraya.
__ADS_1
Fransisca berdehem, menghindari untuk mengakui kebenaran perkataan Soraya.
"Tapi aku tak bisa ke mana-mana," gerutunya.
"Memangnya Granny mau ke mana sih. Sudah tua juga. Lebih baik Granny istirahat dengan tenang di sini."
"Dasar cucu kurang ajar," kata Fransisca sambil memukul dahi Soraya dengan telapak tangannya.
"Aduh ... Sakit! Dasar Granny kurang bersyukur."
"Apa katamu?" Perkataan Soraya membuat Fransisca kembali meradang.
Lama-lama dia bisa terkena serangan jantung kalau terus berdebat dengan Soraya.
Oek ... Oek ... Oek ...
Tangisan bayi menginterupsi perdebatan mereka.
Seorang babysitter mendekat dan menyerahkan seorang bayi mungil yang lucu kepada Soraya.
"Anakmu?" tanya Fransisca dengan mata berkaca-kaca.
Dia memang sudah mendengar kabar kalau Soraya melahirkan seorang bayi perempuan. Tapi belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri.
Soraya mengangguk sambil mengangsurkan putingnya pada si kecil yang langsung menghisapnya dengan lahap.
Fransisca memandangi cucunya yang sedang menyusui dengan pandangan yang menghangat. Tak terasa pipinya sudah basah dengan airmata. Tak dapat dipungkiri bahwa dia sangat merindukan mereka. Soraya dan bayinya adalah keluarganya yang tersisa.
"Siapa namanya?" tanya Fransisca setelah menghapus air matanya.
Matanya yang bulat memandang ke arah Fransisca, bibirnya yang mungil mulai berceloteh khas anak kecil.
Fransisca merasa dadanya terasa membuncah karena merasa bahagia.
"Nama yang bagus. Lengkapnya?"
"Hana Wania Hadisaputra."
"Apa? Mengapa harus Hadisaputra yang berada di dalam namanya? Dia seorang Palvin!" seru Fransisca dengan sengit.
Soraya menghela napas. Duh, Granny mulai lagi, pikirnya.
"Apa salahnya sih Granny? Hana kan memang keturunan Hadisaputra?"
"Iya, tapi Palvin lebih berhak!"
"Sama-sama memiliki hak," kata Soraya mengoreksi perkataan Fransisca.
"Terserah padamu. Aku ingin ada Palvin dalam namanya."
"Baiklah, Granny. Jangan marah terus, nanti darah tinggi!"
"Kamu doain aku cepat mati ya!"
Soraya mengelus dadanya. Huh, sabar!
__ADS_1
"Bagaimana keluarga Abos?"
"Granny tahu?" Soraya cukup kaget karena neneknya mengetahui kejadian itu. Tapi kemudian dia sadar siapa neneknya. Mata dan telinganya ada di mana-mana.
"Tentu saja aku tahu. Sebenarnya aku menyayangkan apa yang sudah terjadi. Tapi bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Aku cuma berpesan agar kau harus ekstra hati-hati setelah ini. Keluarga Abos bukan keluarga yang dapat kau singgung. Dia punya hubungan dengan jaringan bawah tanah."
"Apakah itu yang menyebabkan Granny tidak menindak tegas atas kecurangan yang Abos lakukan dulu?"
"Ya. Kau jangan salah sangka. Aku bukan membiarkan hal itu. Aku hanya mencari celah untuk menjatuhkannya. Soraya, terkadang kita harus berjalan memutar untuk mencapai tujuan kita. Hal itu dilakukan agar perjalanan kita aman dan terkendali."
Soraya mengangguk mendengarkan nasehat neneknya.
"Mmm ... Bolehkah aku menggendongnya?" tanya Fransisca ketika melihat Hana menjulurkan tangan padanya.
Soraya mengulurkan Hana yang langsung disambut Fransisca.
Si kecil Hana menatap dengan matanya yang polos. Tangannya yang mungil meraba wajah Fransisca.
"Ini Granny, sayang!" katanya sambil menimang Hana.
Amy datang ...
"Maaf, Nyonya. Makan siang sudah siap."
"Oh, ya sudah ... Ayo, kita makan dulu."
Granny bangkit dan berjalan bersama Soraya ke ruang makan. Hana diserahkan pada babysitter yang sudah menyiapkan makan pendamping ASI untuknya.
Sambil makan, mereka berbincang dengan santai. Terkadang perdebatan kecil terjadi, tapi hanya sebentar karena Soraya bisa membuat neneknya kembali tertawa.
"Bagaimana dengan suamimu?"
"Maksud Granny?" Soraya agak khawatir kalau-kalau neneknya menentang lagi hubungannya dengan Ardan.
"Apakah dia menghalangimu mengurus perusahaan?"
"Tidak! Dia malah mendukung semua yang aku lakukan."
"Baguslah ... Aku awalnya mengira dia akan menentang dirimu sebagai pewaris Palvin."
"Dia mengerti keadaanku."
"Bagaimana dengan Hana?"
"Kalau aku pergi ke kantor, Hana aku bawa bersama dengan babysitter nya. Di kantor sudah kusiapkan area bermain untuknya."
"Aku senang kau dapat membagi waktu untuk semuanya. Pekerjaan penting, tapi suami dan anak juga penting. Aku yakin kau akan bisa menyeimbangkan di antara kewajiban itu."
Seharian penuh mereka di sana. Sore menjelang, Soraya pamit untuk kembali ke ibu kota.
**Jangan lupa like dan krisan ya!
Terima kasih banyak buat reader yang setia membaca cerita ini. 🥰
Tinggalkan jejak ya! Jadi aku tahu kalau kamu mampir. 🥰**
__ADS_1