
43 Maaf, Aku Menyerah!
Marsya memandang gedung tinggi di depannya. Dia terpaku beberapa saat. Tak menyangka kalau Soraya bukan wanita sebatang kara seperti yang diketahuinya selama ini.
Jika dia tahu seberapa berkuasanya wanita itu, dia tak akan cari perkara. Perkiraannya, Soraya bekerja di kantor sebagai seorang bawahan. Tak dikira kalau ternyata Soraya lah orang nomor satu di perusahaan itu.
Juga prasangkanya yang lain kalau Soraya menikmati kekayaan Ardan tanpa rasa malu, padahal orang yang berhak menikmati itu semua adalah dirinya. Karena dibandingkan wanita lain, Ardan hanya pernah dekat dengan dirinya. Kenyataannya, Soraya malah berasal dari keluarga yang sangat kaya, melebihi kekayaan Hadisaputra.
Bukan Soraya yang beruntung mendapatkan Ardan, tapi Ardan yang beruntung bisa memiliki istri sempurna seperti Soraya. Bahkan keluarga mereka semakin lengkap dengan kehadiran putri yang sangat cantik.
Marsya masih ingat perkataan papanya tentang keluarga Palvin yang merupakan keluarga terkaya di Budapest. Kekayaan dan kekuasaan mereka tak dapat diukur. Bahkan ada rumor yang mengatakan mereka mengendalikan pemerintahan.
Huft ... Marsya menghembuskan napas dengan berat. Beban di pundaknya terasa sangat berat.
Sebenarnya dia harus merendahkan egonya dengan datang ke sini untuk menemui Soraya dan meminta maaf padanya, agar dia membatalkan rencana untuk membuat perusahaan mereka bangkrut.
Tapi demi orang tuanya, dia harus melakukan hal ini. Karena semua terjadi mutlak disebabkan oleh kesalahannya.
Tak lama nampak dua buah mobil berhenti tepat di depan pintu lobi kantor. Marsya melihat Soraya keluar dari salah satu mobil diiringi wanita muda yang tampak awas di dekatnya.
Marsya cepat menyusul Soraya yang sudah masuk ke dalam kantor. Tapi sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam, dua orang security menghadang dirinya.
"Berhenti!"
Marsya terpaksa menghentikan langkahnya.
"Anda siapa? Ada keperluan apa datang kemari?"
"Eh, saya mau ketemu So ... Eh, anu ... Nyonya Soraya," sahut Marsya terbata-bata. Dia merasa gugup di hadapan dua security yang memandangnya dengan tatapan menyelidik.
"Ada kepentingan apa ingin bertemu dengan Nyonya Soraya?"
"Ada urusan penting yang ingin saya sampaikan pada Nyonya Soraya."
"Ada janji temu?"
"Eh, tak ada ... Saya belum ... ."
"Maaf, karena tidak ada janji temu, Anda tidak bisa bertemu Nyonya Soraya. Beliau sangat sibuk. Tak punya waktu untuk menemui orang yang sama sekali tak penting."
"Tolonglah, Pak! Saya perlu sekali bertemu dengan Nyonya Soraya. Ini tentang hidup dan mati." Marsya memelas dan membuat kedua security itu merasa kasihan. Mereka berdua saling pandang, seolah bertukar pikiran lewat tatapan. Kemudian salah seorang security mengangguk dan yang lain menghela napas sambil menggeleng. Yang tadi mengangguk menepuk pundak temannya yang kemudian membuatnya mengangguk lemah.
Marsya tak mengerti apa yang mereka pikirkan dan diskusikan tanpa kata sama sekali. Tapi Marsya cukup lega karena akhirnya kedua security itu mempersilahkan dirinya masuk dan menunggu di lobi kantor.
__ADS_1
"Siapa nama Anda, Nona?"
"Oh, aku Marsya ... Marsya Adelia Gouda! Sampaikan pada Nyonya Soraya aku perlu bicara untuk mengklarifikasi sesuatu."
"Baik! Saya akan mencoba menghubungi Nyonya Soraya. Anda duduk saja di sini sementara menunggu."
"Terima kasih." Besar harapan Marsya, Soraya mau menemuinya. Meskipun hati kecilnya juga khawatir jika Soraya menolak.
Salah satu dari security itu mencoba menghubungi Soraya di meja resepsionis.
Kemudian security itu melangkah ke arah Marsya setelah berbicara beberapa saat via telpon.
"Maaf, Nyonya Soraya menolak untuk bertemu. Beliau benar-benar sangat sibuk dan tak bisa diganggu. Sebaiknya Anda segera pulang. Jika benar-benar penting, Anda bisa datang lagi besok."
"Mmm ... Bisakah aku tunggu di sini saja?" Tatapannya memohon pada kedua security itu yang kemudian mengangguk dengan lemah.
"Terima kasih! Aku janji tak akan membuat keributan selama menunggu di sini."
Akhirnya kedua security itu meninggalkan Marsya yang masih duduk di lobi.
Waktu berlalu begitu lambat bagi Marsya yang tidak terbiasa menunggu.
Ada rasa kesal, marah dan juga khawatir dalam hatinya. Dia meremas tangannya.
Marsya menajamkan matanya, berharap di antara lalu lalang karyawan itu ada Soraya yang juga keluar untuk makan siang. Tapi sayangnya harapannya tak terkabul. Jangankan Soraya, bahkan bayangan tubuhnya pun tak nampak.
Dia lupa kalau Soraya merupakan Bos yang dapat dengan mudah menyuruh sekretaris untuk mencarikannya makan siang.
Marsya kebingungan, antara pergi makan siang atau tetap menunggu di sini. Jika dia makan siang, dia takut tak melihat Soraya keluar. Tapi jika dia bersikeras tetap menunggu di sini, dia akan melewatkan makan siangnya. Padahal perutnya sudah meronta sejak tadi.
Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu. Biarlah dia menahan perutnya yang perih karena kelaparan. Dia tak mau kehilangan kesempatan bertemu Soraya.
Waktu istirahat hampir habis. Para karyawan yang tadi pergi untuk makan siang telah kembali dan melanjutkan pekerjaannya.
Tak ada yang memperhatikan keberadaan Marsya yang duduk gelisah di lobi. Dia sudah mulai pusing, keringatnya bercucuran dengan deras. Penyakit maag akutnya sepertinya mulai kumat.
Akhirnya jam pulang pun tiba. Para karyawan tampak melangkahkan kaki keluar dari kantor dengan wajah letih dan loyo.
Marsya berdiri setelah melihat Soraya keluar dari lift khusus. Dia berjalan cepat ke arah Soraya agar tidak kehilangan kesempatan untuk berbicara.
Soraya berhenti melangkah saat melihat Marsya menghadang jalannya.
Mau apa lagi wanita ini? Pikir Soraya.
__ADS_1
Dia menatap Marsya dengan tatapan datar, nyaris tanpa ekspresi. Naomi sudah akan bergerak, tapi dia mengisyaratkan agar berhenti.
"Ada apa?" tanya Soraya dengan dagu terangkat.
Marsya mendekat, Naomi tampak waspada mengingat apa yang pernah wanita itu lakukan pada majikannya saat meeting di restoran beberapa waktu yang lalu.
"Aku tak bermaksud jahat. Aku hanya ingin bicara." Marsya menjelaskan begitu melihat sikap Naomi yang memandangnya dengan tajam.
"Bicara saja!" ketus Soraya. Dia memang tak suka berhadapan dengan Marsya, mengingat selama ini pertemuan dengan wanita itu tak pernah berakhir baik.
"Aku minta maaf atas semua tindakanku yang merugikan dan membuat Nyonya Soraya malu. Aku akan bertanggung jawab. Tapi aku mohon, jangan libatkan orang tuaku dan perusahaan. Mereka tak bersalah. Di sini akulah yang bersalah karena berani menyinggungmu." Marsya menangkupkan kedua tangannya di dada sebagai tanda penyesalannya.
"Cih ... Kau lakukan itu karena kau sudah mengetahui kekuasaan yang aku miliki. Jika aku tak memberimu pelajaran, aku bukanlah Palvin. Kau harus menerima konsekuensi atas semua yang telah kau lakukan."
"Aku mengakuinya. Aku mohon ... Hukum aku saja! Jangan libatkan orang tuaku dan perusahaan papa!"
"Kau tak berada di posisi yang bisa melakukan tawar menawar denganku."
"Aku ... Aku ... , "
Soraya meninggalkan Marsya yang kembali mengejarnya sampai ke mobil yang sudah siap menunggu di depan lobi kantor.
Sopir membukakan pintu, Soraya hampir memasuki mobil ketika Marsya memegang tangannya membuatnya menoleh dengan marah.
"Apalagi?" bentaknya.
Marsya berlutut dan ingin mencium kaki Soraya tapi dia memundurkan langkahnya.
"Aku mohon ... Kasihani keluargaku ... A-aku akan lakukan apapun yang kau mau."
Marsya masih berlutut dan menangis tersedu-sedu. Mengharap belas kasihan dari Soraya.
Soraya tak memperdulikan Marsya. Dia masuk ke mobil yang membawanya pergi meninggalkan Marsya yang luruh ke tanah.
Rasa pusing yang ditahannya tadi membuatnya kehilangan kesadaran.
Dua pasang mata di sebuah mobil hitam yang berada tak jauh dari tempat Marsya memperhatikan rentetan kejadian.
"Menarik! Kau tahu yang harus kau lakukan, bukan?" tanya pria paruh baya pada pria muda di sampingnya.
Pria itu mengangguk. Dia keluar dari mobil dan menuju ke tempat Marsya tergeletak pingsan. Dengan mengendarai sebuah taksi, dia membawa Marsya ke rumah sakit terdekat.
**Jangan lupa like dan Vote ya!
__ADS_1
Biar author tambah semangat. 🥰**