
Maaf 🙏🤧 dua hari ga update!
Bukan kesengajaan!
Itu karena selain ada kesibukan, aq juga lagi blank. Ga bisa dipaksakan nulis. untuk nulis dua paragraf aja menghabiskan waktu setengah jam. Akhirnya, aku istirahat!
61 Maaf, Aku Menyerah!
Bandara terlihat ramai seperti biasanya. Tampak orang-orang hilir mudik. Ada yang berjalan sambil menarik kopernya, ada yang sambil menuntun anak kecil, ada juga yang hanya membawa ransel yang menggantung di pundaknya.
Di antara para calon penumpang itu, terlihat seorang pria muda yang sedang gelisah menunggu waktu keberangkatan. Seharusnya pesawat yang akan ditumpanginya itu sudah take off satu jam yang lalu. Entah kenapa mengalami delay.
Beberapa kali dia melirik arloji yang berada di tangan kanannya. Kemudian dia mendesah kuat. Tampak sekali kekhawatiran di wajahnya. Terkadang dia mengusap wajahnya beberapa kali. Sejurus kemudian dia mengedarkan pandangan ke segala penjuru untuk memastikan tak ada yang menyusulnya.
Satu rombongan pramugari lewat dengan gaya mereka yang anggun. Pria itu menelan salivanya. Tenang! Sebentar lagi dia akan bebas dan dapat memilih wanita yang dia sukai dan bermain-main dengan banyak wanita.
Tak sadar dia tersenyum membayangkan kehidupan mewah yang sedang menunggunya di luar sana. Dia tak akan lagi terhina ataupun mengkhawatirkan akan dipecat.
Uang yang diperolehnya dari mengeruk kekayaan Palvin bisa dia nikmati tujuh turunan. Hmm ... Kenikmatan yang sudah lama dia impikan akan terwujud. Pria itu masih tersenyum sendiri sehingga tidak menyadari beberapa orang yang mendekatinya dan membekap mulutnya, membuatnya kehilangan kesadaran.
Di tengah hiruk-pikuk orang yang lalu lalang, tak ada seorang pun yang memperhatikan pria muda itu sekarang di dudukkan di kursi roda itu. Kepalanya tampak lunglai ke samping dengan kacamata yang menutupi matanya yang tertutup rapat.
Pria yang membiusnya tadi mendorong kursi roda itu dengan perlahan diiringi rekannya yang lain.
Terdengar suara dari pria itu. "Misi berhasil. Target akan segera meluncur ke tempat Anda."
Klik!
Sambungan diputus tanpa adanya jawaban dari rekan bicaranya.
Mereka membawanya sampai ke lahan parkir. Setelah memasukkan target, mereka masuk ke mobil dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi.
***
"Kita sudah mendapatkannya. Kau bersiaplah! Kita akan segera menemui wanita itu." Kata Ardan pada Soraya yang baru saja selesai mandi.
Meski merasa agak terkejut tapi Soraya mengangguk dan memakai pakaiannya dan menyapukan bedak serta memoles lipstik tipis pada bibirnya.
Dia mengambil tas tangan dan memasukkan ponsel ke dalamnya. Kemudian bergegas turun menemui Ardan yang telah menunggunya.
Mobil bergerak setelah mereka berdua masuk dan duduk di kursi tengah. Sopir melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
"Kau siap?" Ardan meremas jemari Soraya.
"Ya ... Aku penasaran, mengapa dia begitu menginginkan nyawaku."
"Kau akan tahu setelah bertemu dengannya."
Tak lama mobil mereka tiba di tempat tujuan.
Mereka menyusuri lorong panjang tanpa adanya pembicaraan. Seorang penjaga membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk.
Soraya masuk ke ruangan yang penuh dengan alat-alat penyiksaan. Ruangan itu jauh berbeda dengan ruang interogasi di basecamp Palvin. Mungkin karena mereka adalah mafia sehingga konsep penyiksaan yang mereka miliki lebih bervariasi untuk menghukum orang-orang yang menjadi musuh mereka.
Di sudut ruangan, tepatnya di balik jeruji, seorang wanita menatap kedatangan Soraya dengan tatapan penuh kebencian.
"Kau! Ternyata kau yang sudah menyuruh mereka untuk menculikku. Kau tak tahu sedang berurusan dengan siapa. Sebentar lagi Geng Socrety akan membebaskan aku dan mencabik-cabik kalian. Dan aku bersumpah akan membuat kalian menyesal karena melakukan ini padaku."
Ellias tersenyum sinis. "Itu kalau dia tahu kalau kau berada di sini."
Bella terkejut. "Apa maksudmu?"
Sudut bibir Ellias terangkat. "Kau kira aku akan sebodoh itu meninggalkan petunjuk yang akan mengarahkan mereka kemari? Kau terlalu meremehkanku!"
Bagaimana ... Bagaimana dia bisa tahu? Wajah Bella memucat.
Soraya yang mendengar itu juga terkejut. Angel? Pantas saja dia menginginkan untuk menghilangkan nyawaku. Mengingat apa yang telah dia lakukan di masa lalu padaku. Penculikan dan pelecehan!
Mengingat hal itu Soraya menggigil. Amarah memenuhi rongga dadanya. Sialan! Lagi-lagi harus berurusan dengan ular betina ini! Hari ini dia harus membayar semua perbuatannya!
"Kau terkejut? Kau kira rahasiamu tersimpan aman dan tidak terendus orang lain? Meski kalian berusaha menutup rapat rahasia ini. Tapi selama uang berkuasa, tak ada yang namanya rahasia." Kata Ardan sambil tersenyum mengejek.
"Lalu apa mau kalian?" teriak Angel dengan marah.
"Pertanyaan bodoh! Tentu saja kami menagih hutang yang telah bertumpuk. Hari ini akan kupastikan kau membayar semuanya!" Soraya menyeringai.
"Apa maksudmu?"
Soraya terkekeh. "Apakah aku harus menyebutkan dosamu satu persatu, wanita jal*ng? Ekhm ... Tapi sepertinya kau memang sudah lupa dengan apa yang telah kau perbuat padaku. Kau beruntung karena aku masih mengingatnya dengan jelas. Akan aku buat kau membayarnya hari ini."
"Kau ... Kau ... Kau tak akan melakukan itu!"
"Bagaimana kau bisa memastikan hal itu?" Desis Soraya.
__ADS_1
"Karena kau lemah! Kau tak akan sanggup melakukan hal itu."
"Kau yakin? Sepertinya kau belum mengenal diriku dengan baik."
Soraya berbalik menghadap Ardan. "Bagaimana sayang ... Apakah kau berpikir aku tak dapat menghukumnya atas semua perbuatannya padaku?"
"Tidak! Kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Aku selalu mendukungmu. Kau tahu itu." Sahut Ardan.
Soraya tersenyum puas dan kembali menghadap Angel.
"Kau dengar! Aku mampu untuk menghukummu. Dan ... Sebagai informasi, aku akan mengatakan padamu. Kalau aku sudah menghukum Marsya sesuai dengan dosanya. Sekarang giliranmu!"
"Apa ... Apa yang telah kamu lakukan padanya?" Angel mulai ketakutan.
"Sudah aku katakan, aku menghukumnya sesuai dengan perbuatannya. Ckck ... Kau ini. Sekarang kau renungkan apa yang telah kau perbuat padaku!"
"Jadi, kau sudah meracuninya?" tanya Angel memastikan setelah ingat Marsya lah yang meracuni putri Soraya.
"Ya ... Itu dosa yang dia lakukan pada putri kecilku. Dan itu tidak akan terjadi jika kau tidak membantunya mendekati putriku. Bisa kau bayangkan apa yang akan aku lakukan untuk membalasmu, huh?"
"Jangan ... Kau tak mungkin tega melakukan itu!"
"Tega? Kenapa aku harus tak tega? Memangnya manusia sepertimu masih pantas untuk dikasihani? Kau menganggap tinggi dirimu sendiri. Cih ... Tidakkah kau sadar kalau kesalahanmu padaku sudah sangat banyak?"
"Tidak! Kau akan menyesal. Aku akan membalasmu!" Angel menggeram marah.
"Membalasku? Kau kira akan selamat dan bisa keluar dari sini hidup-hidup?"
"Sialan! Kau wanita ******! Kenapa aku tidak langsung membunuhmu saja malam itu." Teriak Angel dengan penuh kemarahan.
"Itu karena kau hanyalah wanita bodoh! Kau hanya seorang ******* yang menggunakan tubuhmu untuk mencapai semua tujuanmu. Dan ... Biar aku tebak. Kau sebenarnya tidak mencintai Gentara, 'kan? Karena parasit sepertimu akan cepat berpaling saat inangmu sudah tak mampu memenuhi semua keinginanmu."
Angel terlihat sangat marah, tangannya mengepal dan giginya gemeretuk.
"Aku akan membunuhmu, Soraya! Aku pasti akan membunuhmu!" Angel mengulurkan tangan mencoba meraih Soraya yang sigap melangkah mundur sambil tersenyum mengejek.
"Coba saja! Jika kau mampu!" tantangnya.
Komen yang sopan ya! 🙏🙏
Kira2 apa hukuman yang akan menimpa Angel? 🤔
__ADS_1