
Awas, mengandung adegan ena-ena!
Yang jombol dilarang mendekat! 🤭
41 Maaf, Aku Menyerah!
Setelah kejadian tadi siang, Soraya mengacuhkan keberadaan Ardan. Entah sudah berapa kali Ardan berusaha menjelaskan pada Soraya, namun dirinya seolah tak nampak dalam pandangan Soraya.
Ardan tak berputus asa. Diikutinya Soraya kemana pun. Ke kamar Hana, ke taman bunga, ke dapur, ke ruang makan, ke depan televisi, tapi tetap diacuhkan. Dirinya sudah seperti anak pitik ngikutin induk. Wek ... Wek ... Wek ...
Malam semakin larut. Setelah menidurkan Hana, Soraya telah kembali ke kamar mereka.
Fiuh ... Untunglah Soraya mau kembali ke kamar. Ardan sudah mengira kalau Soraya akan memutuskan tidur di kamar Hana.
"Sayang ... Aku mau jelasin kalau antara aku dan Marsya sudah tidak ada apa-apa lagi. Setelah dia pergi ke Amerika, kami sudah tidak berhubungan. Aku tak tahu kenapa malah dia muncul di sini."
Ardan mendekati Soraya yang sedang duduk di depan meja rias. Dia membersihkan wajahnya seperti kebiasaannya selama ini. Meski bersikap acuh, tapi sebenarnya dia mendengar apa yang dikatakan Ardan. Dia ingin tahu, sampai di mana perjuangan Ardan untuk meluluhkan hatinya.
Untuk seorang mantan player seperti suaminya, Soraya memang telah menyiapkan hati jika sewaktu-waktu harus berhadapan dengan wanita seperti Marsya yang masih menganggap Ardan memiliki perasaan padanya.
Ugh ... Menyebalkan! Wajahnya semakin terlihat kesal. Dan Ardan melihat itu. Dia mengira Soraya semakin marah karena kejadian tadi siang.
Ardan meraih tangan Soraya dan meremas lembut jemarinya.
"Sayang ... Kau harus yakin, hanya kamu yang ada di sini. Tak ada tempat untuk wanita lain," katanya dengan lembut sambil meletakkan tangan Soraya di dadanya.
Wajah Soraya bersemu. Dadanya bergemuruh karena bahagia mendengar perkataan suaminya. Ah, sebucin itukah dirinya? Hanya karena sedikit rayuan, sudah membawanya mengawang ke angkasa.
"Bohong! Kau pasti sudah sering mengatakan hal itu pada mantan-mantanmu, 'kan?" Bibir Soraya mencebik mengingat kalau Ardan adalah mantan seorang player.
Apalagi kelakuan player itu seperti sebuah penyakit, yang kapan pun bisa kambuh saat harus berhadapan dengan wanita cantik nan seksi.
Huh! Memikirkan itu saja sudah membuat hati Soraya meradang.
"Aku serius! Aku tak akan mengkhianati kepercayaanmu lagi seperti yang terjadi di masa lalu."
Wajah Ardan terlihat memelas dan matanya menatap Soraya dengan hangat. Soraya menatap ke manik mata Ardan dan melihat kesungguhan di sana.
"Lalu kenapa kau mengatakan semuanya kepada Marsya?"
"Mengatakan apa?" tanya Ardan tak mengerti, mengapa Soraya masih berkeras.
"Mengatakan kalau aku hanyalah tameng bagimu untuk menghindari perjodohan yang selalu dilakukan oleh orang tuamu agar kau segera menikah. Kau tahu, aku merasa ditelanjangi saat ada orang luar tahu dengan pasti keadaan rumah tangga kita. Aku malu, Mas!"
Nada suara Soraya meninggi, menandakan emosinya sedang naik. Dia menarik tangannya dari Ardan.
Ardan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ughh ... Ini semua memang salahku. Tapi itu aku lakukan sebelum aku menyadari perasaanku padamu. Itu terjadi setelah kita menikah. Marsya yang memang memiliki hubungan yang cukup dekat denganku memilih pergi mengejar cita-citanya sebagai seorang desainer. Aku melakukan kesalahan dengan menceritakan semuanya padanya. Berharap dengan begitu dia membatalkan kepergiannya."
__ADS_1
"Lalu ... Kalau dia membatalkan kepergiannya, apakah kau akan menceraikan aku dan menikahinya?" tanya Soraya dengan getir, matanya mulai berkaca-kaca.
Ardan terlihat ragu untuk menjawab.
"Tak usah dijawab! Aku sudah tahu jawabannya," kata Soraya sambil memalingkan wajahnya. Dia tak mau Ardan melihat air matanya. Tak cukupkah pria itu menyakitinya?
Ardan meraih bahu Soraya dan membalikkan tubuhnya agar menghadap ke arah Ardan.
Soraya menepis kasar air mata yang luruh tanpa bisa dicegah.
"Shhh ... Itu hanya masa lalu. Seperti yang aku katakan tadi. Sekarang hanya ada dirimu di hatiku. Aku tak akan goyah meski ada ribuan Marsya."
Ardan memeluk Soraya yang meledakkan tangisnya di pelukan suaminya sambil memukul dadanya.
"Kau jahat, Mas! Kau jahat! Mengapa kau selalu menyakitiku? Apakah kau memang tak puas membuat hatiku hancur? Apakah kau ingin aku gila karena kelakuanmu? Huu ... Huu ... Kau jahat!" katanya sambil memukul dada suaminya.
Ardan membiarkan Soraya meluapkan amarah dan kesedihannya. Hingga pukulan itu melemah.
"Aku minta maaf! Maafkan aku karena selalu menyakitimu! Hidup bersamaku hanya membuatmu selalu terluka. Maafkan aku!"
Ardan menempelkan dahinya ke dahi Soraya. Matanya terpejam.
Keheningan memenuhi ruangan.
Tak ada yang bicara. Mereka berdua mencoba menikmati sentuhan fisik yang terjadi sambil menenangkan hati.
Ardan membuka matanya. Nampak wajah istrinya yang penuh dengan air mata. Dia benar-benar menyesal atas semua sikap dan kelakuannya yang membuat istrinya terluka.
Ardan mengangkat dahinya. Tangannya menangkup wajah Soraya. Dia mulai mencium dahi Soraya. Istrinya diam tak bergerak, matanya masih terpejam, hanya napasnya yang teratur menandakan bahwa dirinya masih hidup.
Ardan menciumi mata Soraya, kanan dan kiri. Kemudian turun ke pipinya yang basah.
Ughh ... Hanya Tuhan yang tahu betapa dia menyesal membuat istrinya kembali menangis.
Lidah Ardan menari di pipi Soraya, seakan ingin menghapus jejak air mata di sana.
Ibu jarinya mengusap lembut bibir merah istrinya, kemudian mencuri sebuah ciuman singkat.
Tidak! Itu tak cukup, pikirnya.
Dia kembali menempelkan bibirnya ke bibir Soraya. Menyesap, mengulum, menggigit dengan lembut. Dia menunggu reaksi Soraya.
Jika Soraya menolak, dia akan menahan diri. Tapi jika Soraya tak menolak, dia akan meneruskannya.
Soraya tidak menolak, dia malah membalas melum*t bibir Ardan. Merasa mendapat angin segar, Ardan mengangkat tubuh Soraya dan membaringkannya di atas ranjang dengan perlahan. Kemudian menindih tubuh istrinya.
Ardan kembali memenuhi dahaganya pada bibir Soraya yang ranum, bibir yang selalu membuatnya tak pernah merasa cukup.
Miliknya!
__ADS_1
Soraya miliknya!
Semua yang ada pada Soraya adalah miliknya.
Ciuman yang awalnya perlahan dan penuh cinta berubah menjadi menuntut dan penuh nafsu.
Ahh ... Lenguhan lepas dari bibir Soraya, membuat Ardan semakin bergairah. Kecupannya beralih ke leher jenjang istrinya, kemudian turun ke dadanya yang telah terekspos setelah tangannya dengan cekatan membuka kancing piyama Soraya satu per satu.
Matanya melebar melihat bukit kembar yang tampak semakin besar karena Soraya masih dalam masa menyusui.
Sebelah tangannya meremas bukit yang satu sedangkan lidahnya menjelajah di puncak bukit yang satunya.
Tubuh Soraya menggelinjang mendapatkan serangan yang begitu dahsyat dari suaminya. Ardan tersenyum penuh kemenangan. Dia selalu tahu titik-titik sensitif pada tubuh Soraya.
Hal itu membuat Soraya tak pernah dapat menolak sentuhannya. Siapa yang dapat menolak saat dirinya dibelai oleh tangan, bibir, dan lidah terlatih Ardan.
Tangannya kemudian menjulur ke pangkal paha istrinya. Namun sebelum sampai pada pusat inti Soraya, istrinya membalik tubuhnya.
Hmm ... Sepertinya istrinya ingin memimpin permainan. Baiklah! Ardan sama sekali tak keberatan.
Tampak mata Soraya yang sudah penuh dengan kabut gairah memandangnya dengan tatapan mendamba. Tangannya dengan terampil membuka kancing piyama Ardan dengan cepat, sehingga menampilkan otot dadanya dan otot perutnya yang sixpack.
Tanpa membuang waktu, Soraya memanjakan tubuhnya dengan kecupan dan *******. Seakan ingin memenuhi tubuh Ardan dengan tanda kepemilikan.
Ardan melenguh menerima perlakuan Soraya. Celananya terasa sempit, cepat dilepaskannya sehingga menampakkan kejantanannya yang sudah berdiri dengan sangat gagah.
Tiba-tiba Soraya bangkit. Membuat Ardan menatapnya heran.
Ada apa? Sorot matanya seolah mengisyaratkan pertanyaan itu.
Soraya tersenyum dengan manis.
"Maaf, Sayang! Tapi malam ini Mas ga dapat jatah. Ini hukuman karena telah membuat aku menangis," kata Soraya penuh kemenangan sambil melangkah keluar kamar.
"Kau mau ke mana?" tanya Ardan sambil meredam gairah yang sudah memuncak.
"Tidur di kamar Hana. Selamat malam, Sayang! Tidur yang nyenyak ya! Muaachh!" Soraya melemparkan ciuman jarak jauh.
Ardan mengerjap tak percaya. Dia masih tersengal dalam gairah yang membuat kepalanya pening.
"Lalu bagaimana dengan 'pusakaku'?" pekiknya kesal sambil menendang-nendang di atas ranjang.
NASIB!!!
**Yeayy! si Ardan dapat hukuman. He he he
Enak kan ga dapet jatah!
kuapokmu kapan?
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote ya! 🙏
Biar author makin semangat. 🥰**