Maaf, Aku Menyerah!

Maaf, Aku Menyerah!
Persidangan


__ADS_3

Hari persidangan tiba. Mau tak mau Ardan harus menghadiri persidangan ini jika masih ingin menyelamatkan rumah tangganya.


Selain itu dia sama sekali belum bisa menemui Soraya. Karena saat dia menerima surat panggilan perceraian itu, Soraya tidak dapat ditemui. Walaupun dia sudah nekat menerobos ke mansion Palvin yang dijaga ketat oleh ratusan bodyguard.


Siapa yang tidak tahu dengan nama besar Palvin?


Palvin adalah kekuatan besar di belakang pemerintahan. Kalau mereka mau, mereka bisa menciptakan krisis moneter, merombak kabinet pemerintahan, mengganti Perdana Menteri bahkan presiden. Tapi tak ada yang bisa membuktikan keterlibatan mereka dalam pemerintahan. Campur tangan mereka sangat bersih. Tak akan ada bukti, tak ada juga saksi. Benar-benar kekuasaan hitam yang mencengkeram pemerintahan, bahkan militer tak luput dari intervensi Palvin.


Satu hal yang harus diingat. Jangan pernah berurusan dengan Palvin! Terlebih menjadi rivalnya. Karena ketika Palvin menjentikkan jarinya, rivalnya hanya akan tersisa abu.


Dan sekarang, Ardan harus berhadapan dengan Palvin di depan pengadilan. Semoga saja bukan akhir buruk yang menantinya!


Ardan telah tiba di ruang pengadilan ditemani Permana dan Alena. Mereka tak mau membiarkan Ardan berjuang sendiri. Dia harus tahu, masih ada mereka orang tuanya yang selalu mendukung dan menolongnya. Apapun kemungkinan terburuk yang akan terjadi harus mereka hadapi bersama.


Ardan dan orang tuanya menempati tempat yang sudah disediakan. Sebelum mereka ke pengadilan, mereka telah berembuk dengan tim pengacara yang akan mewakili Ardan selaku tergugat.


Tak lama berselang, tampak Soraya datang dengan didampingi tim kuasa hukumnya. Selain Soraya, ada seorang wanita tua dan pria muda yang menghadiri sidang pertama mereka. Kedatangan mereka diiringi lima orang bodyguard.


Cih, hanya lima bodyguard? Kau kira aku takut? pikir Ardan.


Ardan memperhatikan kondisi Soraya yang terlihat segar, tidak seperti terakhir mereka bersama. Hal itu cukup membuat Ardan heran tapi dia tidak menduga apa-apa.


"Hakim akan memasuki ruang sidang. Semuanya diharap berdiri."


Semua orang yang ada di ruangan itu berdiri untuk menghormati kedatangan hakim. Hakim masuk diiringi dua orang yang menjadi hakim pendamping. Kemudian setelah hakim duduk, semua orang dipersilakan duduk kembali.


"Pada sidang pertama ini akan kita dengarkan pemaparan dari kuasa hukum penggugat. Dipersilakan!"


Seorang pria muda yang merupakan salah satu dari tim kuasa hukum Soraya berdiri dan memberi hormat sebelum berbicara.


"Terima kasih atas waktu yang diberikan. Saya yang akan menjadi juru bicara dari tim advokat penggugat."


Pria itu kemudian menyerahkan sebuah map ke meja hakim kemudian meneruskan bicaranya.


"Kami tak akan banyak bicara. Yang kami inginkan adalah saudara Ardan agar segera menceraikan klien kami, Nona Soraya. Adapun alasan klien kami menggugat cerai karena saudara Ardan tidak bisa membahagiakan Nona Soraya, bahkan saudara tergugat memiliki affair dengan banyak wanita. Di dalam map yang kami serahkan, ada bukti yang dapat meyakinkan hakim bahwa tergugat berkencan dengan wanita-wanita yang berbeda. Itu membuktikan bahwa tergugat tidak memiliki moral yang baik dan rasa hormat terhadap wanita. Jadi, klien kami memohon agar hakim mengabulkan gugatan ini. Sekian pemaparan kami. Dan sebagai catatan, Nona Soraya menolak mediasi. Terima kasih Yang Mulia."


Pria muda itu menghormat kepada hakim sebelum kembali ke tempatnya.


Hakim membuka bukti yang diserahkan pria tadi. Tampak kerutan di dahinya. Dia tampak manggut-manggut.


"Apakah ada yang ingin disampaikan oleh kuasa hukum tergugat?"


Seorang wakil dari kuasa hukum Ardan maju dan berbicara.


"Terima kasih atas waktu yang diberikan, Yang Mulia. Kami sudah mendengarkan pemaparan dari tim kuasa hukum penggugat. Jadi, kami minta waktu untuk mempersiapkan sanggahan. Satu hal yang ingin kami tanyakan sekarang, mengapa penggugat menolak mediasi? Bukankah setiap sidang perceraian pasti harus melalui mediasi. Terima kasih."


Pria tua itu kembali ke kursinya.


Juru bicara tim advokat penggugat kembali berdiri.

__ADS_1


"Nona Soraya menolak mediasi karena keputusannya untuk bercerai tidak dapat diganggu gugat lagi. Itu adalah keputusan yang diambil penggugat untuk bebas dari tergugat yang telah menyakiti penggugat selama mereka berumah tangga. Menyakiti dalam hal ini bukan dari segi fisik tapi lebih kepada emosional. Hal itu sangat berdampak pada kondisi kejiwaan penggugat. Rasa nyaman dan aman tak lagi penggugat rasakan dalam rumah tangga mereka. Kira-kira itu jawaban dari kami. Terima kasih."


Wajah Ardan memerah. Apa-apaan ini? Pikirnya. Bukankah itu merupakan masa lalu? Tapi mengapa Soraya baru menggugat sekarang? Bukankah keberangkatan mereka ke Budapest adalah dalam rangka memperbaiki hubungan mereka yang sempat kacau gara-gara Angel.


Ardan mengarahkan pandangan ke arah Soraya. Namun wanita itu tak mau menatapnya. Dia membuang pandangan sejak pertama masuk ke ruang sidang.


"Baiklah. Karena tim kuasa hukum tergugat meminta waktu untuk mempersiapkan sanggahan, sidang kami tunda ke hari kamis depan. Tok ... Tok ... Tok."


Semua yang hadir kembali berdiri saat hakim melangkah keluar dari ruang sidang.


Soraya dan rombongan juga terlihat akan meninggalkan ruang sidang. Ardan melangkah dengan cepat dan mencekal tangan Soraya.


Para bodyguard sudah akan melangkah maju untuk membebaskan Soraya dari cekalan Ardan, tapi Soraya mengangkat tangannya sebagai tanda agar bodyguard itu tidak mengganggu mereka.


"Soraya, kita perlu bicara." Suara rendah Ardan sarat akan intimidasi.


Soraya menatap datar dan mengatakan, "Tak perlu. Bukankah tadi sudah dikatakan oleh tim advokat kalau aku menolak mediasi?"


"Aku tak peduli. Aku ingin bicara padamu. Kita harus membicarakannya dengan jelas." Ardan kekeuh.


"Apa lagi yang mau diperjelas? Bukankah sebelumnya aku memang minta berpisah? Apakah kau berpikir dengan memberiku sedikit kesenangan dan kebahagiaan bisa menghapus luka dan penderitaan selama lima tahun? Jangan naif! Aku bukan malaikat!"


Soraya melepaskan tangannya dari cekalan Ardan. Dari sudut matanya dia melihat neneknya memperhatikan interaksi mereka. Dan kepuasan terlihat saat dia mendengar perkataan Soraya.


Meski sakit, hal ini harus dia lakukan. Dia tahu kalau ancaman neneknya tak main-main. Dia tak dapat membayangkan jika neneknya menghancurkan keluarga Hadisaputra. Terlebih menyakiti Ardan, suaminya. Dia tak akan memaafkan dirinya jika itu terjadi.


Soraya segera melangkah pergi diiringi rombongannya. Meninggalkan Ardan yang masih terpaku di tempat. Tak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu dari Soraya.


Meski kata-kata yang diucapkannya terdengar menyakitkan tapi mengapa Ardan melihat kilatan kesakitan di matanya.


Apa yang kau sembunyikan dariku? Mengapa kau berubah? Apakah memang tak pernah ada maaf untukku?


Ardan berlalu dari tempat itu dengan berbagai pertanyaan di benaknya. Di belakangnya, orang tuanya mengikuti tanpa banyak bicara. Mereka paham kalau Ardan memerlukan waktu untuk sendiri.


***** Helna******


Hari kamis tiba, sidang kedua akan digelar. Ardan dan tim kuasa hukumnya sudah tiba di lokasi.


Tadi malam mereka mendiskusikan langkah yang akan diambil. Dan Ardan sangat yakin, perceraian itu tak akan terjadi. Karena dia punya kartu jackpot!


Sebelumnya Ardan ragu untuk menggunakan hal itu tapi tim advokat mendesaknya. Karena hal itu satu-satunya yang bisa membuat perceraian tak akan terjadi.


"Tidak! Aku tak akan pernah melepaskan Soraya." Gumam Ardan.


Bertepatan dengan kedatangan Soraya beserta tim advokat nya.


Ardan berusaha tersenyum hangat pada Soraya, yang sama sekali tak mendapat tanggapan.


Soraya bahkan tak memandang keberadaannya di depan matanya. Dia berlalu dengan langkah anggun dan dagu terangkat, khas keluarga Palvin yang berkuasa.

__ADS_1


Hakim memasuki ruang sidang. Semua orang berdiri menghormati kedatangannya.


"Baiklah. Tanpa membuang waktu, mari kita dengarkan sanggahan dari tim kuasa hukum tergugat."


Pria tua yang menjadi juru bicara tim advokat Ardan berdiri dan memberi hormat sebelum memulai bicara.


"Terima kasih atas waktu yang diberikan Yang Mulia. Berdasarkan pemaparan dari tim advokat penggugat, kami akan memberikan sanggahan. Klien kami mengakui bahwa memang memiliki masa lalu yang buruk. Itu disebabkan oleh trauma karena kehilangan saudaranya. Dalam map yang kami lampirkan terdapat keterangan psikiater yang menangani Tuan Ardan."


Pria itu menyerahkan sebuah map ke meja hakim. Hakim membuka map dan mempelajari isinya.


"Berdasarkan hal itu dimohon agar menjadi bahan pertimbangan hakim. Dan sebagai catatan. Setelah pernikahan dengan penggugat lambat laun trauma tergugat perlahan sembuh. Jadi kehadiran penggugat sangat berpengaruh besar bagi kesembuhan klien kami. Karena itu tolong hakim menolak gugatan ini. Kehadiran penggugat sangat diperlukan oleh tergugat."


"Apakah tim kuasa hukum penggugat ingin menyanggah?"


"Benar Yang Mulia. Kami semakin yakin untuk meneruskan gugatan ini. Kami tak menyangka jika klien kami dianggap sebagai sarana kesembuhan untuk tergugat. Bukankah hal itu sama saja mengatakan klien kami dibutuhkan hanya untuk menyembuhkan tergugat? Apakah itu tidak termasuk dalam memanfaatkan orang lain untuk kepentingan pribadi? Jadi, kami tetap menggugat perceraian!"


Tim kuasa hukum Ardan meminta ijin bicara. Dan diijinkan oleh Hakim.


"Bukan itu maksud kami. Klien kami sangat membutuhkan kehadiran penggugat terlepas dari apa yang kami sampaikan tadi. Apakah salah seorang suami tergantung pada istrinya? Bukankah itu bagus, sehingga si suami tak akan berpaling pada wanita lain."


Juru bicara tim advokat penggugat tampak tak sabar untuk bicara.


"Lalu bagaimana dengan kasus terakhir yang melibatkan seorang wanita bernama Angel. Wanita yang mengaku hamil anak tergugat? Itukah yang disebut tidak dapat berpaling pada wanita lain?"


Tim kuasa hukum Ardan kembali bicara.


"Untuk kasus itu sudah berakhir dengan baik. Klien kami sudah membuktikan kalau Angel bukan wanita baik-baik. Dia memiliki affair dengan banyak pria. Tidak dapat dipastikan kalau dia sedang mengandung anak tergugat. Jadi mohon tim penggugat tidak lagi menjadikan itu sebagai salah satu alasan perceraian."


Tim penggugat kembali angkat bicara.


"Bagaimana jika anak yang dikandung Angel adalah anak tergugat? Apakah tergugat sudah memeriksakan DNA janin sehingga dapat meyakinkan kami bahwa itu bukan anak tergugat? Mengingat hubungan tergugat dengan Angel pernah dekat dan intim, kami rasa persentase kemungkinan itu masih fifty-fifty."


Tampak seseorang masuk ke ruang sidang dan memberikan sebuah map kepada tim kuasa hukum Ardan.


Mereka terlihat senang saat melihat isi map tersebut. Dan langsung menyerahkan map itu kepada hakim.


"Yang Mulia, ini adalah hasil pemeriksaan DNA janin Angel yang membuktikan kalau janin itu bukan anak tergugat."


Tim kuasa hukum Soraya kaget. Bagaimana mereka memiliki bukti secepat itu?


Hakim manggut-manggut.


Tim kuasa hukum Ardan merasa di atas angin. Bahkan mereka belum mengeluarkan kartu terakhir, tapi sepertinya hakim sudah mulai berdiri di pihak mereka.


Bersambung ...


**Jangan lupa like dan krisan ya!


Terima kasih sudah mampir di work pertama saya. kalau suka tolong kasih like ya. Biar saya tambah semangat. 🥰**

__ADS_1


__ADS_2