
Berita bahagia itu juga sampai ke Indonesia yaitu kedua orang tua Ardan. Mereka sangat bahagia dan mendoakan semoga Soraya dan calon anak-anaknya sehat dan dilindungi dari segala marabahaya.
Mereka juga menyuruh Ardan untuk memperketat penjagaan untuk keamanan Soraya.
Meski Erick dan Bora sudah mati tapi tak menutup kemungkinan masih ada musuh yang ingin melenyapkan Soraya karena dia sekarang satu-satunya Palvin yang tersisa.
Apalagi dengan berita kehamilannya yang tidak semua orang menyukai itu. Musuh-musuh Palvin tetap berusaha untuk melenyapkan keluarga Palvin hingga tak bersisa satu orang pun.
Ardan tentu saja tak akan membiarkan Soraya kembali terluka. Dia kembali meminta bantuan Red Devil untuk menambah keamanan untuk Soraya selain bodyguard yang sudah dia miliki. Dia tak mau kecolongan lagi.
"Apa tidak berlebihan melibatkan para Red Devil?" tanya Soraya setelah mengetahui hal itu.
"Tidak! Tak ada yang namanya berlebihan untuk keselamatanmu dan calon anak kita. Aku tak mau menyesal karena lalai dalam menjagamu," sahut Ardan sambil membelai rambut Soraya yang sedang bersandar di dadanya.
Soraya merasa sangat bahagia mendengar betapa suaminya sangat memperhatikan keamanan dirinya dan calon anak mereka.
"Bagaimana anak kita hari ini?" tanya Ardan sambil membelai perut Soraya yang sudah membuncit.
"Mereka aktif bergerak seperti biasa."
"Kamu tak apa saat mereka bergerak? Tidak sakit?" Entah sudah berapa kali dia menanyakan hal itu, semenjak kandungan Soraya sudah mulai besar dan bayi mereka mulai menendang.
Soraya tersenyum dan memahami kekhawatiran suaminya. "Tidak! Aku cuma kadang merasa agak sesak dan sulit bernapas. Mungkin karena mereka berdua sudah besar, jadi berdesakan di dalam sana."
"Sayang ... Bagaimana dengan saranku yang satu itu?" tanya Ardan kemudian.
"Apa? Tentang melahirkan cesar? Aku tak mau."
Ardan memang menyarankan agar Soraya mau melakukan cesar saja. Jadi Soraya tak perlu merasakan kesakitan seperti persalinannya yang pertama. Tapi Soraya tidak mau.
"Kau yakin bisa melewati persalinan kali ini? Ini dua bayi, lho!" bujuk Ardan lagi.
"Insya Allah. Kita kan juga sudah mengikuti kelas hamil dan diajarkan bagaimana menghadapi persalinan kembar."
Begitulah percakapan mereka hampir setiap malam di minggu-minggu terakhir menjelang kelahiran si kembar.
Beberapa hari kemudian Soraya melahirkan dengan selamat bayi kembarnya di rumah sakit yang sudah dipersiapkan oleh Ardan.
Penjagaan saat menjelang kelahiran dan sesudah kelahiran diperketat. Tak ada orang luar yang diperbolehkan mendekat ke bagian rumah sakit yang sudah di booking khusus untuk Soraya dan si kembar.
Ardan memang telah memperhitungkan semuanya. Dia tak mau ada yang mengambil kesempatan saat dia dan Soraya lengah saat menghadapi proses persalinan yang benar-benar memacu adrenalin Ardan. Bagaimana tidak, menghadapi sang istri yang kesakitan sedangkan dirinya tak mampu melakukan apapun yang dapat meringankan kesakitan istrinya.
Setelah kedua bayinya lahir dengan selamat, barulah Ardan bisa bernapas dengan lega.
Dia selalu di samping Soraya. Membantunya ke kamar kecil dan mandi. Tante Diana juga mendampingi mereka, tapi Ardan ingin dirinya sendiri yang melayani istrinya.
Papa Soraya datang menjenguk ditemani Peter.
__ADS_1
Papa dan Momi Ardan juga datang dari Indonesia untuk melihat cucu kembar mereka. Alena bahkan mencium kedua cucunya sambil menangis. Dia teringat dengan Hana yang telah meninggalkan mereka.
"Siapa nama mereka?" tanya Alena
"Yang laki-laki namanya Kenzie Rezvan Hadisaputra. Sedangkan yang perempuan namanya Zevina Tany Hadisaputra."
Ya ... Bayi kembar mereka berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
***
Si kembar sudah mulai bisa merangkak. Zevina lebih aktif dibanding Kenzie. Jika Zevina suka menjelajah kesana kemari, maka Kenzie lebih suka memperhatikan mainan yang ada di tangannya.
Soraya yang duduk di sofa bersama dengan Ardan memperhatikan tingkah laku kedua anak mereka.
"Hai, semuanya!"
Sebuah suara mengejutkan mereka. Tak jauh dari mereka, seorang laki-laki yang tak asing berdiri dengan cengirannya yang tengil.
"Hai, Antoni! Kapan datang?" sambut Soraya antusias. Berbeda dengan Ardan yang masam.
"Baru saja. Aku langsung kemari karena ingin melihat si kembar. Mana kedua keponakanku yang lucu dan menggemaskan?" sahut Antoni tanpa menghiraukan wajah Ardan yang tak bersahabat.
Dia langsung mendekati Kenzie dan mentowel-towel pipinya yang chubby. Kenzie memandang tajam pada Antoni sebagai tanda tak suka diganggu.
"Wah... Kenzie mirip daddy nya," seloroh Antoni. Lalu dia kemudian mendekati Zevina.
"Yaahhh ... Daddy nya cemburu," goda Antoni.
"Biarin ... Anakku juga," sahut Ardan tak mau kalah.
Ting tong ...
Bunyi bel terdengar. Pelayan kemudian membukakan pintu dan melihat siapa yang datang. Kemudian pelayan itu menemui mereka yang sedang di ruang keluarga.
"Maaf, Tuan, Nyonya ... Ada tamu nyari Tuan Antoni."
"Haa! Orangnya seperti apa?" sahut Antoni cepat. Kelewat cepat sehingga menimbulkan kecurigaan Soraya dan Ardan.
"Seorang gadis cantik dan masih muda."
"Mmm ... Wajahnya oriental ya?" tebak Antoni lagi.
"Iya ... Pokoknya masih segar."
"Kamu cepat bilang aku tak ada di sini."
"Ah, tadi saya bilang Tuan ada. Bagaimana ini?"
__ADS_1
"Bilang aja aku sudah pergi lagi. Cepat!" Antoni mengibaskan tangannya pada pelayan itu.
"Siapa sih, Ton?" tanya Soraya penasaran.
"Bukan siapa-siapa ... Cuma gadis gila."
"Lho ... Gila tapi kok kenal dan nyari kamu?" desak Ardan.
Antoni menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gadis muda yang ngejar-ngejar aku. Hiyy!" Antoni bergidik.
"Kenapa kamu jadi takut? Bukannya kamu terbiasa dikelilingi wanita?" tanya Soraya lagi.
"Aku suka wanita yang sudah berpengalaman. Dia cuma gadis muda yang masih bau kencur. Iya kali ... Aku terkam juga."
Ardan dan Soraya tertawa menertawakan Antoni yang terlihat ketakutan dikejar-kejar seorang gadis.
Mereka jadi penasaran seperti apa gadis yang telah membuat seorang casanova seperti Antoni ketakutan.
"Memangnya di mana ketemunya?" Ardan memandang Antoni.
"Aku sendiri malah ga ingat awal ketemu gadis gila itu. Yang aku ingat dia mulai ngejar-ngejar aku."
"Kamu ga kepedean kan? Atau jangan-jangan kamu punya hutang sama dia. Lalu kamu bilang kalau dia sedang ngejar-ngejar kamu."
"Ya ampun! Orang keren kayak aku ini mana punya hutang." Antoni duduk dan mengambil jeruk yang ada di atas meja, kemudian mulai mengupas dan memakannya.
"Atau kamu sudah mengambil kehormatannya sehingga dia meminta pertanggungjawaban?" tebak Soraya.
"Ah, gila! Aku aja ga selera sama tu gadis. Mana mungkin aku ngambil kegadisannya," elak Antoni.
"Hei ... Jangan bilang begitu! Siapa tahu nanti malah kamu yang balik ngejar-ngejar dia," kata Soraya.
"Ishh ... Amit-amit!" Antoni bergidik.
"Yaah ... Aku kan cuma bilang sebuah kemungkinan. Iya kan, Mas?" Soraya meminta dukungan dari Ardan.
"Iya ... Bisa jadi," sahut Ardan.
"Ah, sudahlah! Aku mau pergi aja." Antoni langsung melangkah pergi meninggalkan Soraya dan Ardan yang saling tersenyum penuh arti.
Hai, semuanya!
Ini aku kasih bonus chapter. Maaf, cuma ngasih dua chapter, sekedar mengobati kerinduan kalian pada pasangan Soraya dan Ardan. Dan ingin memberitahukan kalau akhirnya Soraya dan Ardan memiliki anak lagi. Tapi kudu ekstra penjagaan karena sebagai penerus Palvin, akan selalu ada musuh yang ingin melenyapkan mereka. Terima kasih karena telah membersamai novel "Maaf, Aku Menyerah!"
Author sangat bahagia. Mudah-mudahan bisa bertemu lagi di cerita author yang lain.
__ADS_1
See you! 😘