
Lima hari setelah sidang kedua, Ardan dan orang tuanya meninggalkan Budapest.
Setelah membereskan semua pekerjaan dan juga mengabulkan gugatan perceraian yang diajukan oleh Soraya, Ardan tak mau berlama-lama di negara itu.
Kedua orang tuanya pun sangat menyetujui keputusannya. Mereka tak mau Ardan makin terpuruk jika masih berada di Budapest. Mereka merasa cukup lega karena Ardan sendiri yang berinisiatif untuk secepatnya meninggalkan Budapest. Sehingga mereka tidak harus capek-capek membujuknya.
Ardan menyuruh kuasa hukumnya untuk mengurus perceraiannya secepatnya. Dia tak mau lagi melihat wajah Soraya. Bahkan jika dia bertemu, dia tak yakin akan dapat menahan diri dari keinginan membunuh wanita itu. Wanita yang sudah berani menggugurkan bayi mereka.
Selesai berpakaian, Ardan mengitarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Kenangan indahnya bersama Soraya saat berada di kamar ini seperti slide yang berputar.
Di ranjang itu masih jelas dalam ingatannya malam-malam panas yang mereka lalui. Di pojok itu, Soraya selalu suka memandang ke luar kaca jendela. Di sofa panjang itu, mereka juga melakukan pergumulan di sana.
Ardan menyapu kasar airmata yang kembali meleleh di pipinya.
Sialan! Mengapa aku masih menangisi wanita itu? Wanita yang tak memiliki hati. Masih pantaskah dia untuk ditangisi? Tidak! Sama sekali tak pantas! Tapi mengapa airmata ini mengkhianatiku? Mengalir begitu saja begitu kenangan tentang wanita itu menguar.
Heh ... Ardan menangkup dadanya yang masih terasa perih. Entah kapan sakit ini akan sembuh?
Salah satu cara ialah dengan meninggalkan semua hal yang mengingatkannya dengan Soraya. Seperti sekarang, dia harus segera meninggalkan tempat ini, juga negara ini.
Dia tak yakin akan dapat kembali ke tempat ini dalam waktu dekat. Dia harus memulihkan diri terlebih dahulu. Dan pemulihannya akan memakan waktu lama. Jika luka di badan, dapat dicari dokter yang akan menyembuhkan. Namun jika luka di hati, ke mana obat hendak dicari.
Ardan perlahan membuka pintu kamarnya. Untuk yang terakhir kali dia memandang ke sekeliling kamar sambil menghela napas berat.
Tak pernah terpikir olehnya kalau hubungan mereka akan berakhir seperti ini. Kedatangan mereka ke Budapest merupakan bulan madu yang tertunda. Tapi ternyata perceraian yang akhirnya terlaksana.
Sampai di anak tangga terakhir, Ardan melihat kedua orang tuanya sudah menunggu di depan pintu.
Permana merangkul pinggang Alena yang menatap Ardan dengan tatapan kasih seorang ibu.
Tak mau melihat orang tuanya ikut bersedih, Ardan menyunggingkan senyum tipis. Berlagak seolah tegar dan mampu menghadapi semua ini.
Alena yang melihat Ardan tersenyum, merasa miris. Kasian sekali nasibmu, anakku!
"Kau sudah siap?" tanya Permana.
"Yeah, aku siap," sahut Ardan.
Mereka melangkah keluar dari mansion dan masuk ke mobil yang sudah disiapkan untuk mereka.
Para bodyguard juga memasuki mobil masing-masing. Mereka mengawal mobil Permana dari belakang.
*******Helna*******
Lima bulan kemudian...
__ADS_1
Ardan menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Dia berubah menjadi workaholic. Yang ada di pikirannya cuma satu, yaitu kerja, kerja dan kerja.
Terkadang karena terlalu sibuk, Ardan tak sempat pulang ke rumah. Dia akan tidur di kamar pribadi kantor. Itupun kalau dia sudah merasa sangat kelelahan. Sehingga jatuh tertidur tanpa dia sadari.
Boleh jadi apa yang sekarang dia lakukan adalah sebuah pelarian dari hatinya yang luka, dia tak peduli. Selama apa yang dia kerjakan bisa membuatnya lupa dari mengingat Soraya, dia akan menenggelamkan diri dalam pekerjaan itu.
Permana dan Alena tak bisa berbuat banyak. Mereka membiarkan saja Ardan melakukan semua itu. Lagipula hal itu lebih baik daripada dia kembali ke klub malam, berkeliaran mencari wanita penghibur.
Ardan sedang sibuk mempelajari proyek besar yang sedang dia tangani. Matanya menatap serius pada berkas yang ada di hadapannya.
Brak ...
Sebuah amplop cokelat mendarat di atas mejanya. Ardan mengangkat wajahnya dari berkas yang sedang dia baca. Dia ingin tahu siapa yang sudah berani mengganggunya.
Tampak Antoni sedang berdiri sambil tersenyum tengil.
"Apa maumu?"
"Ckck ... Tuan Gila Kerja, sabar! Lebih baik kau buka dulu amplop itu. Mungkin dengan melihat isinya kemarahanmu akan sirna."
"Memang apa isinya? Segitu penting kah?"
Antoni mengeleng-gelengkan kepalanya melihat betapa keras kepalanya sang sepupu.
"Bukalah dulu! Aku yakin kau tak akan menyesal. Malah mungkin kau akan berterima kasih padaku."
Tapi karena merasa penasaran, Ardan mengambil amplop itu dan membukanya.
Banyak foto berhamburan di atas mejanya. Dia mengambil salah satu. Tampak seorang wanita sedang membuka pintu mobil. Tapi bukan itu yang menjadi fokusnya, melainkan perutnya yang nampak menonjol.
Ya ... Itu foto Soraya dengan perut besarnya!
Ardan membelalak, seolah tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Kemudian dia beralih ke foto lain. Di foto itu Soraya sedang memakai mantel merah tapi tetap tak dapat menyembunyikan perutnya yang besar.
Ardan tampak shock!
Sesaat dia merasa tak mengerti apa yang telah terjadi. Pikirannya berusaha menyatukan kepingin puzzle yang berserakan di kepalanya.
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" gumamnya.
Lalu dia berpaling ke Antoni, melangkah ke arahnya dan memegang kedua bahunya.
"Katakan kalau ini benar! Kalau Soraya masih mengandung anak kami." tanya Ardan sambil mengguncang bahu Antoni.
"Memangnya dia hamil anak siapa jika bukan anakmu?" kata Antoni sengit. Dia heran dengan kepandaian Ardan yang tiba-tiba turun drastis, hampir serupa idiot. Apa-apaan itu! Apakah itu masih harus ditanyakan lagi? Tentunya Soraya itu hamil anaknya. Dan si idiot itu menanyakan padanya seolah itu hal yang tidak mungkin. Heh, cinta memang membuat orang pandai menjadi idiot! Pikir Antoni sambil bergidik. Untunglah aku tak pernah jatuh cinta. Dan semoga saja tak akan pernah.
__ADS_1
Ardan melepaskan tangannya dari bahu Antoni. Dan bergegas keluar dari ruangannya.
"Hei, mau ke mana?"
"Menemui Soraya!" jawab Ardan singkat, meninggalkan Antoni yang sudah tersenyum bahagia melihat betapa antusiasnya Ardan ingin bertemu dengan Soraya.
Ardan menyuruh asisten nya untuk mempersiapkan jet pribadinya. Dia melangkah masuk ke lift khusus yang membawanya ke lantai teratas.
Di sana sudah menunggu helikopter untuk membawanya ke bandara.
Dia tak peduli darimana Antoni mendapatkan foto-foto itu. Yang ada di pikirannya sekarang adalah segera menemui Soraya dan melihat langsung kehamilan wanita itu.
Rasanya dia masih tak percaya. Matanya mengerjap mencoba menetralisir perasaannya yang melambung. Tiba-tiba muncul kekhawatiran dalam dirinya.
Apakah Soraya mau bertemu dengannya? Bukankah wanita itu membencinya? Karena kebencian itulah Soraya menggugat perceraian. Bahkan dia memanipulasi surat keterangan kehamilan agar dirinya bisa lepas dari Ardan.
Tapi sudut hatinya meyakinkan dirinya untuk menemui Soraya. Perihal Soraya yang tak mau bertemu dengannya itu tak usah terlalu dipikirkan. Lihat saja nanti apa yang akan terjadi.
Helikopter telah tiba di bandara. Ardan meloncat turun dan menaiki tangga jet pribadinya tanpa menghiraukan sambutan dari para awak pesawat.
Selama di dalam perjalanan, Ardan sama sekali tidak dapat memejamkan mata. Kebahagiaan yang membuncah di dadanya membuat mata dan tubuhnya terasa segar sehingga tidak merasakan kantuk dan lelah.
Ardan tak lupa menghubungi asistennya di Budapest, memberitahukan kedatangannya. Dan juga meminta informasi keberadaan Soraya.
Jet pribadinya baru mendarat di bandara Budapest pada siang hari. Mobil jemputan sudah menunggu di depan bandara.
Ardan tak mau membuang waktu. Dia langsung menuju ke perusahaan Soraya saat mendapatkan informasi dari asistennya di Budapest.
Sesampainya di depan perusahaan Soraya, Ardan segera masuk. Tampak asisten Soraya sedang berada di lobi dan terkejut melihat kedatangannya. Namun dia memberi hormat kepada Ardan.
"Selamat datang, Tuan Ardan! Ada yang bisa saya bantu?"
"Aku ingin bertemu Soraya. Di mana dia sekarang?"
Asisten itu nampak ragu, tapi sejurus kemudian dia mengarahkan Ardan untuk masuk ke lift khusus dan mengantarkannya ke sebuah ruangan.
Asisten itu berhenti di depan sebuah pintu.
"Saya hanya mengantarkan sampai di sini. Silakan Tuan masuk! Tapi saya tidak tahu apakah Nyonya Soraya mau bertemu dengan Tuan."
Asisten itu berbalik dan meninggalkan Ardan yang masih berdiri dengan ragu di depan pintu.
Bersambung ...
**Jangan lupa like dan krisan ya!
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir di work pertama aku. Semoga ga bosan**!