
Apakah rasa bahagia yang berlebih dapat menimbulkan kekhawatiran secara bersamaan. Entah apa yang saat ini kurasakan. Masalahnya jika ku ingat beberapa hari ke belakang, aku selalu di anugerahi kebahagiaan oleh Tuhan. Lantas kenapa aku was-was bahkan tidak sanggup melanjutkan tidur nyenyak ku pagi ini. Oh ayolah, ini masih pukul 05:15 am waktu Denmark setempat.
Gundah gulana yang menimpa diriku harus ku enyahkan segera. Aku memutar otak, memikirkan apa yang salah denganku, namun tak kunjung terpecahkan. Alhasil, aku keluar kamar meninggalkan kasurku yang terlihat nyaman tapi tak sanggup membawaku terlelap, atau sekedar membuatku lupa akan rasa ini.
Sembari menguap aku berjalan mengikuti arah kaki melangkah. Dan kenapa harus seperti ini, karena lagi dan lagi sepasang kaki ini menuntunku ke depan pintu kamar Amanda. Jika dulu mungkin tanpa permisi aku akan menerobos masuk, lantas bertingkah sesuka pribadiku, namun sekarang mana berani aku. Memikirkan aku mengganggu tidur lelapnya saja, tak tega hal itu terjadi. Apalagi berkelakuan buruk, dan mencoreng nama baik yang mengakibatkan Amanda menjauh dariku.
Krekkkk....
"Astaga!.." Ucapku spontan, karena terkejut dengan pintu kamar Amanda yang tiba-tiba terbuka.
Muncul Amanda dengan wajah kasur nya, lantas berucap," Heiii.. Morning Ji, sedang apa disini?"
"Entahlah, hanya ingin melihat wajahmu kurasa." Jawabku, dengan suara memelan di akhir. Karena aku sendiri mana percaya bisa semelankonis ini dalam hidup.
"Ha..haha kenapa jawabanmu seolah tidak yakin Ji, cepat mengaku apa yang akan kau perbuat?" Tanya Amanda meragu.
"Sudahlah jika tak percaya, aku sendiri saja masih belum percaya lantas bagaimana aku bisa meyakinkan orang lain?" Ujarku yang entah merupakan jawaban atau sebuah pertanyaan lainnya.
"Apa kau mengigau Ji, ayo kembali ke kamar mu dan melanjutkan tidur. Bicaramu masih melantur, jelas kebutuhan tidurmu belum terpenuhi." Tutur Amanda dengan sok tahunya.
"Bisakah kau diam sejenak, dan cobalah berkontribusi dalam hidupku, agar terlihat berguna keberadaanmu disini, bukan bisanya hanya merepotkan semua orang." Ucapku, yang setelah terdengar aku bergegas berdoa agar Amanda tidak sakit hati.
"Kau ini seperti bom berjalan yang siap sedia meledak sewaktu-waktu. Dasar Jiji masih pagi sudah sewot. Siang sedikit mencak-mencak, sore seperti orang kebakaran jenggot, malam sedikit sudah...
Belum sempat Amanda menyelesaikan lantunan tak bermutunya, kutarik paksa tubuhnya ke arahku, lantas ku dekap tubuh mungil Amanda, tanpa mengucap penjelasan atas tindakanku.
"Ji.... sedang apa kau, apa kau sakit, aku harus bagaimana?" Tanya Amanda khawatir. Yang seketika membuatku heran, mengapa Amanda selalu mudah khawatir jika aku bertingkah tidak sebagaimana mestinya.
"Tidak, cukup diam jangan banyak bertanya." Jelas ku mengharap pengertian Amanda agar tidak ada pertanyaan susulan.
Betah dalam posisi memeluk Amanda yang kurasa sudah berlalu sekitar dua menit, aku turut memejamkan mata. Kuhirup aroma tubuh Amanda, dan siapa sangka wangi ini dapat menenangkan pikiran runyamku. Jika tau begini sedari tadi saja ku peluk manusia kurang ajar ini, dari pada pagiku terjebak dalam kegelisahan. Setelah kurasa cukup, aku membuka kelopak mataku perlahan, menilik Amanda yang ternyata diamnya bukan karena menuruti perintahku melainkan dia sudah kembali ke alam mimpinya.
Menoel pipinya sambil berkata," Hei bangunlah, jika mengantuk tidur kembali sana!"
Bukan sautan yang ku peroleh, melainkan jelmaan manusia yang bertingkah layaknya kucing setelah dielus majikannya lantas memposisikan kepala untuk meminta kenyamanan lebih.
Kuputuskan membawa Amanda kembali ke kamarnya. Membaringkan sosok wanita serakah lantas menutupinya dengan selimut, sentuhan terakhir kuberi hadiah kecupan manis di kening Amanda," Tidurlah yang nyenyak." ucapku sembari memandang wajah pulasnya.
Aku bahkan belum sempat bertanya, hendak apa dia bangun sepagi ini dan sudi meninggalkan tempat tidurnya. Sedang semua penghuni villa tau, Amanda tergolong wanita tidak tahu diri tingkat akut. Posisinya sebagai tawanan tidak membuatnya menjadi pribadi lain untuk menjilat hati. Karakter bobroknya malah semakin menjadi, bangun pagi bukanlah gaya Amanda. Dia akan bangun setelah semua orang bangun, tentunya sebelum aku. Jangan tanya kenapa, karena aku masih di posisi juara umum dalam memaksimalkan hak untuk tidur.
Aku berada di halaman depan villa usai perkara dengan Amanda. Aku heran mengapa kecemasan enggan meninggalkan hatiku. Akhirnya aku mengambil sepeda dan memantapkan diri berkeliaran menyatu dengan suasana pagi yang siapa tau bisa menjadi obat itu sendiri.
Semakin jauh aku mengayuh, semakin bertambah rasa gelisah ini. Kupercepat kayuhanku karna kupikir rasa lelah mampu menggantikan rasa lainnya. Sepeda yang aku naiki melaju dengan kencangnya, aku berpacu melawan angin. Namun nihil hasilnya, kepalaku terasa akan pecah seiringan dengan rasa pegal di kaki. Kini kusadari betah bodohnya seorang Gerlard, kenapa juga aku harus menjauh dari sumber ketenanganku. Bodoh...bodoh...bodoh... harusnya aku tetap berada di villa.
Putar haluan tanpa berpikir dua kali, aku menggunakan performa terbaik dalam bersepeda layaknya atlit yang mengejar kemenangan. Samapi di area vila, betapa syoknya aku saat melihat beberapa orangku tewas bersimbah darah di gerbang utama villa. Aku semakin kesetanan, meninggalkan sepeda lantas berlari sekencang yang ku mampu. Mendapati satu asisten Lesi terbujur kaku di area taman. Masuk vila jiwaku seperti direnggut paksa malaikat maut, bagaimana bisa Jordan pesuruh terkuatku tergeletak mengenaskan di anak tangga.
Kalang kabut tanpa sempat memperdulikan Jordan, aku menuju kamar Amanda dengan tangan kosong. Pikiranku keruh, refleks tubuhku melumpuh. Sesampainya di depan kamar Amanda, tanpa repot menarik daun pintu, aku menyaksikan Amanda yang terkejut dalam posisi duduk di atas kasur dengan todongan pistol yang menempel di pelipisnya.
"Yakk.... Bed*bah turunkan senjatamu atau kau menyesal!!!!." Teriak ku tanpa rencana matang.
Lelaki itu merespon....., bukan respon menuruti perintahku melainkan dia menarik pelatuk pistol dan siap melayangkan peluru di dalamnya.
"Jason...Danda!!! hentikan bede*bah itu. Kenapa kalian bodoh sekali hanya menonton tanpa bertindak hah?" Seruku frustasi.
Sekeji apa laki-laki itu hingga mampu melumpuhkan Jason dan Danda tanpa senjata, bahkan mereka hanya berdiri di samping ranjang Amanda dengan wajah pucat menghilangkan karakter angkuh sosok mafia. Perduli setan dengan sosok ini, aku bersiap menerjang manusia yang masih betah membelakangi keberadaan ku.
"Ka..akkk... jangan..! Seru Jason saat menyaksikan aku berlari menerjang kepar*t itu.
Terlambat, aku tak sanggup menghentikan kinerja tubuhku. Yang syukurlah, aku merobohkan cecunguk itu dengan sekali tendang.
"Hai son..." Sapanya dengan nada entah ramah, mengejek, atau tak berekspresi.
Mulutku menganga kaku tak sanggup berkata, kini giliran darahku yang hilang memberi kesan pucat sekujur tubuh.
"Da..dad." Terbata, ya aku terbata jika mengingat kebengisan daddy.
__ADS_1
"Semakin sopan saja dirimu sekarang G." Sarkas imbalan yang harus ku terima jika salah bertindak sedikit saja dengan daddy.
"Sorry dad, mana tahu itu kau." sahutku tanpa dapat merangkai kata tepat untuk merilekskan suasana.
"Meninta maaf tanpa uluran tangan membantuku untuk berdiri? Cihhh tulus sekali nampaknya." Mendecih sembari berdiri dari lantai lantas menepuk bagian celananya yang nampak bersih di mataku.
"Dad, untuk apa kemari?" Ah, mulut bodoh kenapa malah memperburuk keadaan.
"Hah, untuk apa katamu? Tentu saja melenyapkan manusia tak berguna disekelilingmu." Bebernya tanpa menoleh sedikit pun ke arahku.
"Aku masih mampu melakukannya sendiri Dad." Balasku benar adanya.
"Oh benarkah? Daddy rasa kau semakin bodoh makanya daddy berbaik hati membantu seperti biasa." Ucapnya remeh.
Kuberi tahu Daddy memang selalu begini, membunuh tanpa persetujuan jika menganggap orang di sekelilingku tampak parasit di matanya.
"Dad, aku sudah dewasa aku tau mana yang harus aku singkirkan dan mana yang harus ku pertahankan." Sedikit pembelaan yang terlintas di benakku.
"Benarkah, dengan menghidupi tawanan mu berbulan-bulan, apa tujuanmu?" Tanyanya. Dan seketika aku muak dengan sikap Daddy yang selalu memantau ku dari kejauhan, bahkan untuk membodohinya teramat sulit.
"Dia bukan sandera Dad, ku kenalkan dia calon istriku." Jawabku mantap.
"Hahaha... Lucu sekali kau, apa melawak sekarang profesimu?" Sinisnya berlanjut.
"Dad, stop mentertawakan, aku serius tak bercanda!" Tanpa sadar aku meneriakinya
"Wow...lihat hebat sekali bukan, sekarang kau bahkan berani meneriaki ku!" Emosinya.
Lantas tanpa kendali daddy mengarahkan kembali pistolnya ke kepala Amanda yang sedari tadi masih di posisi yang sama. Sebelum sempat daddy menembakkan peluru, aku mencegah itu, menggantikan kepala Amanda dengan telapak tanganku.
"Daddy tidak main-main G, MENYINGKIRLAH!" Tegasnya.
"Dad, kumohon.. Kali ini saja aku bahkan tidak bisa berpikir apa yang dapat kutukarkan yang setara dengan nyawa gadis ini." Pinta ku tulus.
"Hon, kau sudah sampai?" Celetuk mommy yang baru bergabung dan entah datang dari arah mana sembari berhambur memeluk tubuh daddy.
"Oh ayolah, begitu saja marah. Salah sendiri, sudah dibilang ney mau bertemu anak-anak masih larang-larang. Ya terpaksa kabur sedikit hehe." Ujar mommy
"Kau menemui anak-anak tapi menelantarkan aku seperti tak dipedulikan, cih... menyebalkan sekali tingkahmu." Gerutu daddy tak terima.
Mendengar celoteh daddy yang selalu bertransformasi menjadi baby saat dekat mommy membuat mommy mengambil tindakan pencegahan dini sebelum berubah semakin menjadi. Dipeluknya daddy semakin erat, mengecup pipi sebelah kanan daddy walau harus berjinjit karena perbedaan postur tubuh yang berbeda.
Cup
Cup
Cup
"Uh bayi besar ku merengek, ayo temani aku sarapan daripada bermain drama murahan seperti ini." Ucap mommy sembari mengeluarkan rayuan maut, berkedip sebelah mata di akhir kalimat dengan tangan yang tak henti mengelus pipi sebelah kanan daddy.
"Selalu saja bertingkah manis jika sadar diri kedapatan bersalah." Ucap daddy dengan nada yang mulai melunak.
"Sudah, ayo kita makan saja. Biarkan anak-anak bermain sendiri hon." Ajak mommy.
"Terpaksa harus dituruti, jika tidak ingin terjadi perang negara." Timpal daddy.
Mommy berhasil menyeret daddy setelah sedikit perdebatan mesra. Peristiwa ini membuat aku, Danda, dan Jason menghembuskan nafas bersamaan tanpa komando, menunjukkan kelegaan yang tercipta.
Tak membuang waktu, bergegas kuhampiri Amanda. Sialnya karena jarak kita bertiga sama dekatnya dengan Amanda, alhasil kami berempat kini duduk berkumpul di ranjang Amanda.
"Kau ok, dimana daddy menyakiti mu, jujurlah padaku." Ujarku memulai percakapan.
"Manda, apa kau baik-baik saja. Katakanlah sesuatu." Lanjut Danda.
"Amanda sudah jangan syok, daddy memang suka prank, eh tapi tadi itu daddy serius atau bercanda ya?" Oceh Jason dengan pertanyaan bodohnya.
__ADS_1
"Manda, ayo bicara. Lupakan perkara tadi, aku juga tidak tau apa tujuan paman, tapi yakinlah dia tidak akan menyakiti sembarang orang." Kata Danda, jelas kebenarannya.
"Benar apa yang diucapkan Danda, katakan kau baik-baik saja, kumohon." Sahut ku membenarkan.
"Ji, aku merasa sedikit pusing, dan aku....ti.."
"Tenang Amanda, jika menyangkut dirimu walau itu daddy sekalipun akan ku hadapi, jadi yakinlah kau aman." Ucap ku, setelah memotong pernyataan Amanda, seraya memeluk guna menenangkannya.
"Ji, jangan suka memotong ucapan lawan bicaramu. Aku sedikit pusing bukan perkara daddy, aku pusing karena kalian bertanya tanpa jeda, memberondongku dengan pertanyaan yang nyaris sama. Coba bayangkan pusing tidak aku?"
Oke, sudah cukup rasa khawatir ku yang ternyata sia-sia. Dilihat dari jawabannya, Amanda baik-baik saja, karena ucapan yang keluar dari mulutnya masih panjang lebar, atau dalam bahasa singkatnya cerewet.
"Jadi, kau tidak kaget di todong seperti tadi?" Tanya Jason penasaran.
"Tidak." Jawab Amanda singkat.
"Woah, hebat kau lulus uji jadi calon istriku." Ucap Jason sekenanya.
Karena ucapannya yang dinilai tidak senonoh, akhirnya Jason mendapat geplakan santai dari Danda. Dimana tindakan itu ku akui sangat berguna untuk mengembalikan kewarasan Jason, ingatkan aku untuk berterimakasih pada Danda nanti.
"Calon istrimu dari surga? Manda tidak pantas disandingkan dengan putra neraka macam kau, dia serasi denganku." Lanjut Danda setelah aksi anarkis sesaatnya.
Aku menyesal sempat berpikir akan berterimakasih pada Danda. Nyatanya kadal satu ini lebih menyebalkan.
"Hei, sepupu putra neraka, tolong digaris bawahi Amanda tidak akan bisa dipersunting olehmu, sainganmu pemilik saham tertinggi di neraka." Ucap Jason, yang entah mengapa aku merasa terpanggil.
"Sudah jangan bertikai, tolong jaga Amanda, aku akan meminta penjelasan daddy." Titahku pada dua kadal, sebelum terjadi drama anak TK disini.
Tanpa persetujuan mereka, aku pergi menuju ruang makan yang ku yakini daddy ada disana, tapi sebelum pergi ku sempatkan mengecup kening Amanda agar dia menjadi lebih tenang.
Di ruang makan, ku hampiri daddy yang sedang sendiri. Kemudian tanpa mengurangi rasa hormat ku tanyakan," Dad apa maksud dari semua ini?"
"Hai son, tentu saja kejutan untukmu. Apa kau menyukainya?" Tanyanya dengan nada datar.
"Tolong pikirkan terlebih dahulu jika memberi kejutan, jika tujuannya melumpuhkan maka yang tadi luar biasa berhasil, tapi jika memberi kesenangan tolong jelaskan dimana letak senangnya." Ucap ku tegas.
"Wow, lihat kau mulai aktif bicara son. Daddy rasa ini kalimat terpanjang yang pernah kau layangkan untuk daddy." Sahut daddy tanpa jawaban.
"Daddy, aku sedang tidak mood untuk bergurau. Tolong cepat beri penjelasan." Pinta ku serius.
"Radarmu mulai melemah son, kau bahkan tidak mampu membedakan mana yang sungguhan orang mu atau hanya sekedar dibayar menjadi orangmu." Jelas daddy.
"Maksud daddy apa?" Tanya ku tak sabar menunggu penjelasan daddy.
"Bahkan sekarang kau lamban mencerna kata lawan bicaramu...."
"Dad...ak.."
"Diam, aku enggan mendengar suara orang yang sedang kasmaran. Kau menjadi bodoh saat jatuh cinta." Jelas daddy.
"Pertama, diantara orangmu banyak selundupan dari Yamato. Kedua sejak kapan kau memelihara manusia tidak menguntungkan. Ketiga, apa sekarang pekerjaanmu hanya di Denmark, kau seolah menetap disini membuat daddy terbang ke berbagai penjuru menggantikan pekerjaan mu. Keempat kalian semua meninggalkan daddy tanpa bertanya kabar daddy sama sekali." Lanjut daddy dalam satu tarikan nafas.
"Dad, pertama aku tau mereka selundupan aku sengaja menjadikan mereka boomerang untuk Yamato, karena aku selalu memberi informasi palsu saat berada disekitar mereka, sedang aku memperoleh banyak info dengan mudah tanpa mereka sadari"
"Kedua, manusia yang daddy maksud tidak menguntungkan itu akan menjadi satu-satunya wanita penerus keturunan ku."
"Ketiga, dad kau tau bagaimana aku bekerja. Jadi jangan mengarang cerita aku lalai dalam tugas. Untuk apa orang ku bayar mahal jika harus pontang-panting. Dan jangan berlebihan, aku tau daddy mana sudi menggantikan tugasku, yang ada jika itu terjadi maka daddy pasti mendatangiku karena mengira aku sakit."
"Keempat, ayolah dad. Daddy sudah tua, jangan mencari perhatian dengan cara murahan." jawabku teramat rinci.
"Woah... Wow.. Daddy semakin kagum akan kelancaran mu berbicara. Jika yang tadi daddy bilang panjang, maka yang ini super panjang, perubahan lumayan setelah daddy pantau." Ucap daddy, yang bukan menimpali penjelasan ku malah mengejek dengan nada jenaka.
"Dad..." Ucapku penuh penekanan.
"Okey..okey... Daddy akui, daddy hanya iseng." Jawaban sangat memuaskan dari daddy.
__ADS_1
Sial, mana ada becanda semenegangkan tadi.