
Huekkk
Huekkk
Hukhhhhhhh
Aku memuntahkan cairan bening, dan ini sudah kedua kalinya di pagi ini. Rasanya pusing mendera, mual tak tertahan, dan sekujur tubuh mendadak lemas.
"Sayang kau masuk angin, kita ke dokter ya, aku takut kau terkena angin duduk." Amanda memijat tengkukku dan terus berucap khawatir.
"Angin duduk?" Aku tak paham dengan penyakit jenis ini.
"Iya, masuk angin yang terlalu lama dibiarkan." Jelasnya sambil mengelap mulutku dengan tisu.
"Penyakit dari negaramu memang ada-ada saja, mana mungkin angin bisa duduk sayang." Perkataan konyol Amanda sedikit membuat aku lupa dengan rasa mual.
Dalam kondisi normal mungkin akan ku bahas mengenai masalah angin duduk sampai angin itu menjadi berdiri. Tapi tidak untuk sekarang, aku pindah dari toilet ke kamar saja butuh bantuan Amanda. Maka mari menghemat energi dengan tidak banyak melakukan aktivitas walau hanya berbicara sekali pun.
Aku sudah di ranjang, berbaring lengkap dengan selimut dan Amanda yang duduk di sampingku. Aku layaknya manusia lemah yang tak dapat beraktivitas hanya karena mual muntah. Dalam diam aku berpikir bagaimana mengatasi rasa badanku yang kurang sehat. Jika mengandalkan Amanda pasti dia kekeh membawa ku ke rumah sakit. Dan aku tak suka berada di sana.
Dengan sisa tenaga aku berbicara, meminta Amanda untuk menghubungi Mommy agar datang ke mansion. Karena tentu saja mommy lebih tahu cara mengurusku yang sakit dibanding yang lain termasuk Amanda. Karena selama ini aku lebih banyak mengurusnya ketimbang dia mengurus ku.
"Jadi suamiku kenapa dok?" Amanda langsung bertanya, setelah sesaat dokter mengecek kondisi ku.
"Tidak ada, apakah nona sedang hamil?" Tanya dokter pribadi keluarga kami.
"Iya dok." Jawab Amanda sopan.
"Ini hal wajar, suami anda mengalami morning sickness." Jelas sang dokter.
"Bukannya harusnya aku yang nyidam dok?" Heran Amanda, sama herannya denganku.
"Ada beberapa kasus, justru ayah sang bayi yang mengalaminya. Tidak apa berarti ikatan anak dan ayahnya amat kuat. Nanti saya beri resep untuk menghilangkan mual dan pusing yang dirasa tuan Gerlard." Tutur sang dokter.
__ADS_1
"Baiklah dok, terimakasih." Mommy langsung mengantar sang dokter keluar kamar.
Aku hanya speechless dengan fakta yang ada. Walau aku pria dan baru pertama kali akan punya bayi, tapi aku tak sebodoh itu untuk tidak tahu bahwa kehamilan biasanya disertai dengan nyidam. Tapi tidak pernah mendapat cerita bahwa ayahnya yang menyidam. Apa bayiku tergolong bayi langka.
"Nah apa Mommy bilang kau hanya nyidam, segala repot memanggil dokter. Tidak percaya sekali sih dengan Mommy." Dengus Mommy kesal, pasalnya Mommy sudah memberitahu seperti yang dikatakan dokter dari pertama masuk ke mansion, tapi dasarnya aku saja yang bebal.
"Mom, wajar saja Jiji seperti itu. Ini pengalaman pertama baginya, begitupun aku." Tumben Amanda membelaku di depan Mommy.
"Iya sayang, Mommy hanya sedikit kesal. Sudah buru-buru kesini namun tak dipercayai sama sekali. Bukankah nampak seperti tak berguna." Mommy mengelus perut Amanda yang masih rata.
"Lain kali akan ku marahi dia mom, kalau sampai tak percaya lagi dengan Mommy." Amanda beralih kubu, sungguh tak setia.
"Yasudah mom pamit dulu, ada urusan dengan Daddy." Mommy menyempatkan diri mencium keningku sebelum pergi.
Akhirnya aku berangkat ke kantor. Di kantor aku di sambut oleh Cecil, Albert, Jayden, Mirna, dan Bryan. Mereka menungguku di ruang rapat atas instruksi ku sebelumnya. Mereka duduk saling berhadapan dengan layar monitor menyala, siap melakukan presentasi hasil kerja mereka dengan ide dari Amanda yang aku berikan.
Semua sektor berhasil ditangani dengan ide-ide brilian milik mereka, kini mereka mengajukan untuk menambah dalam bidang kuliner. Karena pada dasarnya semua orang tak dapat bertahan hidup tanpa makan. Kuliner kali ini akan mengusung tema makanan dari beberapa negara. Diantara makanan dari Indonesia yaitu mie ayam, dari Jepang sushi, dan dari Turki yakni kebab. Semua akan dikemas dengan ciri khas berbeda namun mengutamakan rasa otentiknya.
Pulang kantor lebih awal karena malas saja berlama-lama berada disana, aku bertandang ke kantor Daddy. Rasanya aku rindu sekali bau ketiak Daddy. Meski malas mengakui, terpaksa aku kesana tanpa memberitahu Amanda.
"Tumben kemari, ada masalah apa?" Curiga Daddy karena aku bertindak tak seperti biasanya.
"Tak ada hanya ingin mengobrol saja." Aku duduk di kursi yang disediakan diruangan Daddy, disana sudah ada Mommy yang asik dengan majalah dan teh serta kukis, khas wanita tua sekali.
"Kata Mommy kau mual muntah." Tanya Daddy pindah duduk di dekatku.
"Hah, rasanya tak enak Dad. Jangan sampai Daddy merasakannya. Sungguh aneh, tak dapat di deskripsikan." Jika ada dokter spesialis nyidam, mungkin aku akan konsultasi dengannya.
"Hahahah, nikmati saja. Daddy dulu nyidam makanan mie khas China jam dua malam. Kau bayangkan harus bagaimana itu." Curhat Daddy menghadapi masa ngidamnya dulu.
"Woah, lalu apa seterusnya Dad?" Aku malas membayangkan, jadi ku tanya kelanjutannya saja.
"Daddy mencoba untuk tidur, tapi semakin di coba memejamkan mata semakin terbayang rasa mie tersebut di ujung lidah. Yasudah Daddy terbang ke China, padahal dulu kita sedang di Amerika. Kau bayangkan saja betapa mengjengkelkannya itu." Curhat Daddy mengenang masa lampau.
__ADS_1
"Hah, sungguh repot." Tanggapku asal.
"Ya itu kan kau, sudah banyak mau dari dalam perut. Sekarang kau rasakan keinginan anakmu." Sewot Mommy menimbrung.
"Hah, sebenarnya aku malas jujur tapi ini hal yang tak mungkin kulakukan dalam kondisi normal, dan tolong jangan di tertawakan. Ingat kalain orangtua ku, jadinya harus paham." Sebelum pada intinya, aku harus mewanti-wanti mereka lebih dulu.
"Tuhkan benar dugaan Daddy, kau tak mungkin kemari dengan sendirinya jika tidak ada keperluan mendesak. Cepat katakan!" Perintah Daddy tak sabar.
"Iya, sepertinya nampak rahasia sekali. Apa ada misi penting, apakah Mommy boleh ikut dengar?" Tanyanya, padahal meski dilarang Mommy pasti memaksa ingin tahu.
"Hah, dengan segenap rasa malu yang ada dan ku tahan, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan meski berat. Jadi sebenarnya aku, kesini... hah... aku..."
"Yak, bertele-tele sekali, kau laki-laki bukan." Seru Mommy, manusia minim rasa sabar.
"AKU INGIN MENCIUM KETEK DADDY." Aku berkata tak sampai lima detik, cepat dan berteriak. Sedikit bocoran aku pun menutup mata saking malunya mengatakan hal itu.
HHAHAHHAHAHAHAHAHWHA
Mommy dan Daddy berlomba dalam tawa, Daddy terbahak sambil memukul perutnya, sedang Mommy terbahak sampai meneteskan air mata saking begitu lepas tawanya. Aku tahu ini permintaan terkonyol yang pernah ku pinta. Tapi aku tak mau tau semuanya harus terkabul.
Puas dengan tertawa mereka, sedang aku cemberut di pojokan, Daddy akhirnya menghampiri ku. Merentangkan kedua tangannya, lalu memelukku hangat. Ah ini kesempatan, aku langsung menyerbu aroma ketiak Daddy dengan hidung mancungku. Ah, leganya, ini aroma yang ku rindu.
Aroma legendaris yang sulit diutarakan, pokoknya kalian tak akan mengerti. Apa ini, kenapa bau ketiak Daddy menghipnotis ku seolah meminta agar terlelap. Mataku berat untuk sekedar dibuka beberapa milimeter. Alhasil, aku tak sadarkan diri entah di menit ke berapa.
"Tidur?" Daddy bertanya lirih pada Mommy.
"Iya." Jawab Mommy dengan suara ikut lirih.
"Si*al, bisa kebas ketek ku lama-lama seperti ini."
"Sudah nikmati saja hon."
"RIP ketiak ku."
__ADS_1