
Hari berganti bersambut bulan, lalu ditutup dengan akhir tahun. Segala hal hidup di bumi memasuki fase tertentu seiring dengan itu. Begitupun bayiku, yang kini tumbuh dan berkembang menjadi anak dengan usia genap dua tahun. Putra putriku yang berharga, memulai hidupnya dengan penuh balutan kasih sayang dari kami selaku orangtua, dan semua sanak kerabat. Membentuk pribadi luar biasa dengan tingkah yang tak tertebak setiap harinya.
"Hai sayang mama mana?" Aku baru pulang kantor dan hanya mendapati putraku seorang diri di ruang tangah.
"Papa, angkat." Tak memperoleh jawaban, yang ada tambah beban karena dia minta di gendong.
"Hup, wow anak papa bertambah beratnya." Lumayan juga menggendong bayi sepulang kerja, terasa berat berkali lipat.
"Baby, iet iya pa." Ucapnya dengan bahasa planet yang tak ku mengerti.
"Huum, ayo cari Mama mu lebih dulu untuk terjemahkan ocehan mu barusan." Menggendong putraku di sebelah kiri, tangan kanan menenteng sekotak pizza pesanan Amanda, dan tas kerjaku.
Sedikit cerita, niat hati ingin di panggil mereka dengan panggilan Daddy dan Mommy tapi tak terwujud. Entah darimana kedua bayiku kompak memanggil kata papa untuk pertama kali di usianya saat enam bulan. Baru tak lama dari itu mereka bisa memanggil Amanda dengan sebutan mama. Ya, tentu saja Amanda murka dengan fenomena tersebut. Dia merasa banyak dirugikan. Dia yang mengandung dan mengurus setiap hari, tapi aku yang istimewa dimata bayi mungilku.
"Mama disini?" Amanda ada di dekat kolam renang dengan putriku di dalam gendongannya.
"Hah, putrimu kabur lagi." Adunya degan raut lelah.
"Pa, papapap au ga hi." Aku tahu putriku menyambutku, tapi tolong siapapun bahasa bayi kenapa sulit dimengerti.
"Pa, dia mau digendong juga." Amanda menjelaskan maksud dan tujuan putriku.
"Oh, kemari sayang." Aku menghempaskan tentengan di tangan kananku berganti dengan tubuh gempal putriku.
"Kau tega sekali membuang pizza pesanan ku." Protes Amanda.
"Sudah ayo ke ruang tengah dan kita makan pizza bersama." Ajakku, malah berdebat dengan Amanda.
"Sayang kau tidak lupa memesan sesuai resepku bukan?" Amanda selalu banyak permintaan dengan olahan makanan dari luar. Padahal dia bisa membuatnya sendiri di rumah.
"Iya tidak ada lada, dan saos sambal di dalamnya." Jelasku, karena pizza ini juga untuk anak-anak sekalian.
"Yang pa, ma yang yang pa." Putriku ikut menimpali.
"Tuhkan ma, jangan panggil sayang di depan anak-anak." Imbasnya amat buruk, karena mereka ikut memanggilku dengan sebutan sayang.
"Upss, maaf mama lupa." Amanda terkikik dengan tingkahnya sendiri.
Ruang tengah menjadi ruang bermain mereka. Bahkan ruangan itu kini disulap menjadi taman bermain dan arena rekreasi. Terkadang kami makan bersama disana. Karena anak-anak jauh lebih lahap jika makan dalam lingkungan yang membuatnya nyaman.
__ADS_1
"Mars tak makan? Ayo sini mama suapi." Putraku menolak semua pizza dan hanya mengeluarkan tatapan memelas.
"Venus ajak kakaknya makan dong nak, kau lahap sendirian." Siapa tahu bujukan saudarinya lebih ampuh.
"Iet ma, papa cuyuh." Ungkapnya lalu menutup mulut rapat-rapat dengan kedua tangan mungilnya.
"Papa, kenapa menyuruh Mars untuk diet. Lihat akibatnya dia sampai tak mau pizza kesukaannya." Marah Amanda sambil mencubit pahaku yang sudah tak ada harga dirinya.
"Maaf sayang, papa tidak memintamu untuk diet. Ini namanya kesalahpahaman antar lelaki." Bisikku di telinganya, yang membuat Mars kegelian.
"Hihihihi, giyi papa." Ucapnya lucu.
"Ayo makan, nanti habis dengan Venus." Bujukku.
"Uapin pa." Oke kali ini aku tahu dia minta disuapi.
Anak kembar ku dianugerahi nama planet, karena aku berharap mereka akan seluar biasa planet-planet tersebut kelak. Meski sempat di tentang oleh Amanda, tapi akhirnya disetujui karena terdengar unik dan berbeda dari lainnya. Alhasil nama itu kini tersemat bersama dengan hidup kedua bayiku.
"Venus kenapa tidak mau tidur nak ini sudah malam. Ayo, lihat Mars saja sudah hampir tidur jika tidak setia menunggumu." Venus berulah malam ini.
"Ni nyi cih coye ma." Lihat dia mirip Amanda sukar diberi tahu.
"Kata siapa ini masih sore, Ini sudah jam sepuluh. Tidak ada loh bayi tidur lebih dari jam sepuluh." Amanda mendekati Venus yang kini berdiri di tepi ranjang, usai protes dan berusaha kabur dari ranjang.
"Cicak tidak bisa tidur, ayo tidur sebelum malamnya habis, jadi nanti Venus tidak bisa tidur malam." Diluar nalar memang cara bujukan Amanda.
"By ndur." Jawabnya.
"Iya, sini papa angkat Venus ke ranjang ya." Semua harus atas persetujuan tuan putri jika mau bertindak.
"By by!!!!!!!!" Teriak Venus.
"Hah, pa dia mau di panggil baby buka Venus." Info dari Amanda.
"Uh, my baby come to papa." Ku rentangkan kedua tangan lebar-lebar.
"By by by." Jawabnya, kegirangan.
Perkara mari menidurkan anak bayi sudah tuntas. Kini waktunya bermesraan dengan Amanda. Amat jarang aku diperhatikan belakangan ini. Memang bukan kehendak Amanda juga seperti itu, karena terkadang aku juga yang tak tahu diri. Ingin tetap dibuai kasih meski sudah menjadi papa dari dua orang anak.
__ADS_1
"Kenapa pindah posisi?" Protes Amanda, karena awalnya aku di dekat Venus.
"Tidak ada, hanya ingin dimanja olehmu saja." Ku lingkarkan kedua tanganku di pinggang Amanda.
"Yasudah, ayo tidur." Ajak Amanda, dengan posisi membalas pelukan ku.
"Aku mau dimanja sayang, bukan mengajak mu tidur sambil pelukan." Sungutku tak terima.
"Lantas dimanja seperti apa yang kau maksud sayang. Ayolah ini sudah pukul satu dinihari, apalagi jika bukan tidur." Sewot Amanda karena tidurnya terganggu.
"Ayo kita buat adik untuk mereka." Bisikku.
"Yakkk, kau gila!" Teriak Amanda spontan.
"Syuttt, kau ini. Untung anak-anak sudah pulas." Bisa perang dunia kedua jika mereka bangun tengah malam.
"Lagian kau aneh-aneh saja." Lihat, sifat tak kau salahnya masih saja menempel.
"Aneh darimana, bukankah banyak anak banyak rezeki." Ujarku, sambil mengelus perut dalamnya.
"Tangan anda tuan Gerlard." Amanda menyingkirkan paksa tanganku yang bertengger di pinggangnya.
"Dasar tak asik." Meski sempat memperoleh penolakan aku tetap gencar beraksi.
"Hah, ayo cepat selesaikan. Aku mengantuk." Lihat Amanda luluh juga bukan.
Kami pindah ruang, dan memastikan anak-anak aman dalam tidurnya. Ya, Amanda memang sedikit kuno dengan pandangan manusia khas Indonesia. Menurutnya tumbuh kembang anak, akan lebih stabil dan pesat jika selalu dalam dekap kasih orangtuanya.
"Sayang jangan lama-lama, aku harus bangun pagi-pagi sekali esok." Amanda mewanti-wanti sebelum di mulai.
"Iya sayang." Aku tak janji, lanjutku dalam hati.
"Apa kau lihat-lihat?" Galak sekali Amanda ini.
"Call me baby too, darling."
Hatiku terasa penuh dan hangat. Hidup dihiasi dengan tawa dan tangis serta celotehan ceria Mars dan Venus. Saling pengertian, menguatkan dan berproses menjadi manusia seutuhnya bersama Amanda. Bukankah ini adalah puncak kebahagiaan dari makhluk hidup. Berkembang biak, beranak pinak dan mengasuhnya dalam kasih.
Meski cara mendidik antara aku dan Amanda tak padu. Nyatanya Mars dan Venus memiliki kecerdasan di atas rata-rata anak seusianya. Bahkan dijuluki jenius dari kerabat dan beberapa orang kantor yang sempat singgah dan bertemu tatap dengan mereka berdua.
__ADS_1
Begitulah cerita hidupku, manusia sarat harta dan kekuasaan yang dipertemukan dengan gadis sandera yang menjadi primadona hidupku saat ini. Primadona yang disebut istri dan dipanggil mama oleh anak-anak ku. Primadona yang memberi kebahagiaan berlipat ganda dengan hadirnya. Aku harap kita akan bahagia sampai ajal menjemput.
TAMAT