
Keselarasan antara masalah perasaan pribadi dan sosial harus seimbang mengingat kehidupan dunia, kita sangat butuh uluran tangan makhluk lain jika ingin sukses dalam meraihnya secara bersamaan. Meski saat ini aku sangat rindu dengan sosok Amanda, aku tetap mengesampingkan perasaan itu agar tujuanku kali ini berjalan mulus. Aku tidak munafik aku adalah orang yang ini bahagia dalam soal percintaan dan tidak ingin kurang dalam hal finansial. Jadi disinilah aku menetap sudah hampir satu minggu tanpa kehadiran Amanda selaku wanita penggenggam hatiku.
“Apa agenda mu sore nanti sayang?” Aku selalu menyempatkan diri bertukar informasi dengan Amanda, karena aku takut jika kecolongan seperti waktu Danda membawanya berlibur tanpa izinku akibat tak saling berkabar.
“Sore nanti tidak ada kegiatan pasti, hanya saja besok aku harus ikut serta teman-teman kampus untuk menyelesaikan tugas kelompok.” Ujarnya di sebrang sana.
“Benarkah, dimana kalian akan mengerjakan tugas-tugas itu?” Aku harus tetap waspada karena anak muda zaman sekarang sulit untuk dipercaya.
“Entahlah, aku juga belum tahu pasti dimana itu, hanya saja mereka bilang akan mengerjakannya di klub malam daerah sini, jadi masih terjangkau dari vila.” Kata Amanda tanpa tahu reaksi apa yang aku peroleh setelah mendengar penjelasan darinya yang tidak mengenakkan saat masuk saluran gendang telingaku.
“Tugas macam apa yang harus dikerjakan di dalam klub malam, tidak-tidak kau dilarang keras untuk mengerjakan tugas itu, mengerti!” Perintahku dengan penuh penekanan agar Amanda dapat menyerap dengan baik bahwa aku sangat khawatir jika dia sampai pergi dengan dalih mengerjakan tugas.
“Tapi jika aku tidak pergi bagaimana dengan nilaiku, aku juga tak enak hati dengan anggota kelompok yang lain Ji.” Bantahnya dengan suara memohon, mungkin dia berharap aku akan luluh jika dia terus meminta dengan lembut.
“Tidak, sekali tidak tetap tidak Amanda, bebal sekali jadi manusia. Lagipula aku seperti ini karena aku lebih paham bagaimana kehidupan anak muda zaman sekarang dan aku ingin kau tak ikut serta dengan kesalahkaprahan hidup jiwa muda yang tak akan ada gunanya untuk kehidupanmu kelak.” Aku rasa aku sampai lupa cara bernafas saat mengucapkan setiap kata yang keluar dari mulutku karena saking emosinya, bahkan aku merasa bahwa kalimat ku tidak tertata dengan benar.
“Menasehati sih menasehati, tapi boleh tidak dengan nada lebih lembut, sudah beda negara saja tetap terasa luapan emosimu, dasar laki-laki tua.” Kalimat yang dilontarkan memang mengejek tapi aku tahu jauh disana Amanda mulai menangis.
“Dengar sayang aku minta maaf jika intonasi ku tinggi saat ini, aku hanya berharap kau mendengarkan apa yang aku katakan, jadi anggap saja ini bukan perintah melainkan aku minta tolong kepadamu agar kau tidak pergi sayang.” Aku takut jika tetap menggunakan cara keras bukannya menurut Amanda malah akan bertindak semaunya mengingat wataknya yang sulit dimengerti.
“Iya aku juga minta maaf, tapi bolehkah aku minta solusi?” Berikutnya suara Amanda sudah mulai stabil, aku yakin menangisnya tertunda setelah mendengar kalimat ku barusan.
“Apa itu sayang, katakanlah.” Ujarku penuh harap.
“Menurutmu bagaimana aku dapat mengerjakan tugas tanpa ke klub malam sedang tugasku sebagai calon psikolog adalah mengamati alasan tiap orang datang ke klub malam Ji?” Kata Amanda menjelaskan maksud tugas tersebut.
“Kenapa tidak bilang sayang. Oke sekarang aku tanya berapa teman satu kelompokmu untuk tugas itu?” Tuntutku bertanya kilat.
“Ada enam anggota, tiga laki-laki dan tiga perempuan Ji.” Jawabnya dengan cepat, ikut membalas caraku bertanya tadi.
“Sekarang hubungi mereka jika kau sudah memilih tempat, sampaikan ke mereka untuk tidak membawa uang sepeserpun dan tidak usah berkendara karena akan di fasilitasi oleh orang-orangmu, mengerti?” Jelasku secara perlahan berharap Amanda paham dengan tujuanku.
“Apa sih Ji aku tidak paham.” Ujarnya tak berdosa.
“Yasudah berikan kontak mereka kepadaku, dan tunggu saja besok mereka yang akan datang menghampirimu.” Kataku mempermudah kerja kelompok mereka.
“Jadi solusinya kita kerja kelompok di vila, begitu?” Tanya Amanda masih tak paham.
“Bukan begitu sayang, kalian akan tetap kerja kelompok di klub malam. Hanya saja biar aku yang atur klub mana yang harus di datangi. Jadi jangan berpikir, cukup berikan kontak mereka padaku, bisa?” Aku sudah berbaik hati ingin memecahkan masalah dengan solusi yang aku punya, bukannya segera memberikan apa yang aku minta Amanda malah banyak bertanya.
“Baiklah, jika begitu sudah dulu ya. Aku menyayangimu.” Ucap Amanda riang, sembari menutup saluran tanpa mendengar balasan cinta dariku, dasar wanita egois.
Inilah yang aku takutkan, Amanda memang tidak sendiri di vila, tapi bukan berarti semua orang sepemikiran denganku dalam memperlakukan Amanda. Aku tahu mereka sama halnya denganku yang sangat ingin Amanda berkembang, tapi mereka tipikal orang yang tidak mempersoalkan jalan mana yang kau tempuh untuk mengembangkan potensi diri. Dan aku tidak menyalahkannya, karena metode itu berhasil untuk semua anggota keluargaku, tapi aku tak ingin Amanda sama dengan kami. Jadi sudah menjadi kewajibanku untuk senantiasa menjaga kemurnian jiwa Amanda.
Notifikasi dari Amanda masuk, setelah melihatnya aku langsung menghubungi orang-orangku untuk mencari info tentang mereka. Lantas menghubungi Felix agar bekerja sesuai dengan keinginanku.
“Jadi apa yang harus aku kerjakan kali ini bos?” Tanya Felix setelah nada sambung pertama terdengar.
“Aku ingin kau menyiapkan klub malam kita untuk besok malam, dan bawa dengan baik Amanda beserta kelima temannya. Utus beberapa orang kita untuk menjemput teman-teman Amanda, kumpulkan mereka di vila, baru setelahnya kau bawa mereka secara beriringan menuju klub. Kerjakan dengan rapi untukku.” Tegasku pada Felix.
“Tugas diterima, dan mohon tunggu kabar baik dari kami bos. Apa ada lagi.” Tanya Felix.
__ADS_1
“Memangnya aku sedang memesan makanan, sampai kau bertanya ada lagi. Oh ya, tolong jaga Amanda jangan sampai menyentuh alkohol dalam bentuk apapun.” Imbuhku kemudian.”
“Tadi ditanya ada lagi sewot, ujung-ujungnya tetap saja bertambah permintaannya.” Gumam Felix cukup keras, sengaja supaya aku dengar.
“Terus mengomel tapi kau harus tetap bekerja dengan elit dan rapih, tidak kecil bukan uang yang kau terima dariku setiap bulannya.” Hanya sekedar mengingatkan.
“Memang uang yang kau berikan sangat berlebihan bos, tapi kau sangat pelit memberiku waktu untuk sekedar berlibur.” Felix mulai mengeluh.
“Untuk apa pergi berlibur sedang pacar saja tidak ada.” Ledekku.
“Aku tidak ada pacar karena pekerjaan darimu yang tidak ada henti, sudah seperti tugas pencatat amal buruk dan baik setiap karyawanmu asal kau ingat.” Katanya seolah frustasi.
“Aku ingat, karena aku yang memberi kepercayaan itu untuk mu.” Aku mencoba membuatnya bangga karena sangat mengandalkannya dalam hal ini.
“Yasudah aku tidak ingin berlama-lama berbincang denganmu.” Tukasnya.
“Yakk, aku bosnya disini, jika kau lupa.”
“Iya, iya bos. Sudah dulu ya, aku akan bekerja karena bosku sangat tidak suka jika pekerjaannya tertunda, dan........” Belum usai bicara aku memutuskan sambungan, karena Felix semakin mengesalkan setiap detiknya saat mode terganggu.
Cukup dengan urusan Amanda yang sudah terkendali, kini aku kembali fokus mempelajari beberapa berkas. Proyek mega dana ini mengusung tema hunian di atas pusat perbelanjaan dan tempat parkir bawah tanah sehingga aku harus jeli melihat material-material yang disusulkan dalam setiap proposal. Aku juga harus ekstra menyisihkan waktu untuk menjenguk pamanku malam nanti.
Aku melirik arloji di tangan kiriku, menunjukkan pukul delapan malam di Chicago membuatku membulatkan mata karena sudah telat menghadiri undangan paman. Sedikit informasi, Dalton adalah paman ku yang merupakan ayah dari Danda. Daerah kekuasaannya saat ini mencakup Chicago dan Amerika. Jika Danda adalah sosok pendiam, sopan, tapi mahir di bidangnya, pamanku ini definisi ayah mengkhianati sifat anak. Bayangkan saja mukanya sangar dipadukan dengan sifatnya yang terbilang bengis, membuatku malas berulah jika menyangkut dirinya.
Mobil yang ku kendarai dengan kecepatan abnormal mendarat dengan selamat di kediaman Dalton. Baru kaki kanan ku hendak melangkah keluar mobil, aku disambut dengan seekor singa jantan albino yang menjilat sepatuku. Aku menarik nafas, mengingat peliharaan paman memang selalu mengusung teman binatang liar, buas, mematikan. Dan aku berdoa untuk keselamatan manusia tampan edisi terbatas ini agar tidak menjadi santapan mereka.
“Hahaha, rupanya dia ingin berkenalan dengan mu Ge.” Aku mendengar suara paman dari arah samping, memberiku keberanian untuk bernafas kembali.
“Berani sekali anak kemarin sore memberi perintah padaku.” Paman nampaknya sedang tidak bersahabat denganku.
“Paman jangan sampai aku mengadu dengan bibi Carmila.” Karena aku tahu hanya itu kelemahannya sejak dulu.
“Laki-laki hanya jenis kelamin saja, sedang kelakuan tak jantan sama sekali, berani membawa wanita dalam urusan pria.” Ucap paman belum mencapai kesepakatan denganku.
“Oh begitu, yasudah jika wanita tidak boleh ikut campur mulai besok kau urus sendiri urusanmu lelaki jantan tapi tua.” Sarkas bibi Carmila yang datang setelah jariku aktif mengiriminya pesan untuk menyelamatkan keponakan tampannya ini.
“Ah sayang tidak begitu maksudku, aku hanya mendidik Gerlard supaya lebih jantan nyalinya.” Kilahnya dengan nada berbeda saat berbicara denganku beberapa menit lalu.
“Jangan berkelit, cepat usir anak berbulumu itu dan ayo makan malam.” Bibi berucap lalu pergi tanpa menungguku yang masih khawatir dengan kelangsungan hidup.
“Dasar licik.” Mungkin paman tahu aku berbalas pesan dengan bibi tadi, makanya dia berkata demikian.
“Paman aku tahu aku salah karena datang telat, tapi semua karena aku harus mengurus kekasihku dulu jadi ayo segera makan sebelum bibi lebih murka.” Bujukku akhirnya.
“Gerlard, pus..pus... kemari anak manis.” Aku ingin menembak kepala singa itu saat tahu kalau paman menamainya dengan namaku.
“Paman tak sopan sekali menyamaiku dengan hewan.” Protesku tak terima.
“Jangan terlalu percaya diri Ge, aku menamainya karena usul mommy mu.” Jelasnya tak masuk akal.
Aku masih memerlukan penjelasan lebih tentang namaku yang seenaknya saja disematkan pada seekor singa mana dia tak setampan diriku. Tapi daripada lebih runyam dan memperkeruh keadaan, aku hanya pasrah mengekor paman dan singa jelek dibelakang seperti anak tak diinginkan. Sampai di pintu utama mansion Dalton aku dikejutkan dengan dua ekor singa yang memiliki ukuran sama namun tidak albino. Lalu paman berhenti, mengelus keduanya sejenak dan berbalik menoleh kepadaku.
__ADS_1
“Kenalkan ini Danda yang sebelah kanan ini Jason.” Jelasnya singkat tapi sangat menohok kerongkonganku.
“Paman bisa tidak sedikit normal, aku yakin Danda dan Jason sama tak terimanya sepertiku saat tahu nama indah kita diberikan pada hewan jelek itu.” Kesalku pada tingkah lelaki tua itu.
“Aku juga tak terima kalian semua kumpul di Denmark menghabiskan waktu bersama sedang kalian tak ada satupun yang tinggal dengan kita, bukankah ini impas.” Entahlah aku lelah dengan pola pikir manusia tua satu ini.
“Lagipula mereka hadiah dari daddy mu supaya aku tak iri hati, terus menerus dan tetap tinggal disini tanpa bisa menyusul kalian.” Imbuhnya kemudian.
“Paman tinggal menyusul apa repotnya.” Sanggahku masih menolak untuk setuju.
“Dan membantah perintah daddymu, lantas dikeluarkan dari garis keturunan?” Tanya Paman mengingatkan jika dua lelaki tua itu sama egoisnya.
“Yasudah aku mengalah, akan aku sampaikan kabar baik ini pada Jason dan Danda, ku harap mereka turut senang mendengarnya.” Lebih tepatnya mereka ingin protes tapi terhalang rasa takut.
“Nah, itu baru enak di dengar.” Tukasnya tampak menang.
Dalton dan aku tiba di meja makan yang dipenuhi dengan hidangan khas yang selalu dimasak oleh bibi Carmila. Wanita satu ini sangat menyukai hidangan berbau timur tengah, pecinta nomer satu daging unta. Setelah siap dihadapan hidangan masing-masing, paman mulai memimpin doa, kami pun makan dengan khidmat.
Angin semilir menemani kami bertiga yang sedang duduk di lantai lima mansion Dalton. Bibi membawakan banyak cemilan meski sadar bahwa kami baru sepuluh menit yang lalu di paksa kenyang olehnya. Wanita cantik dengan nama Carmila ini hampir sama dengan Amanda si pecinta makanan, dan manusia pemaksa yang selalu terkabul setiap permintaan yang dilontarkannya.
“Ceritakan tentang Amanda Ge, bibi ingin dengar.” Ucap bibi memulai pembicaraan.
“Sabar Bi, aku masih belum bisa bicara panjang lebar.” Ucapku tersenggal di setiap katanya.
“Dasar, masih muda saja sudah tidak berstamina.” Hardik paman dengan mulut tidak sopannya.
Aku ceritakan pada kalian, aku tahu aku salah karena datang terlambat memenuhi undangan paman. Dan aku pikir ditemukan dengan peliharaan liarnya saat awal langkah tadi sudah merupakan hukuman, nyatanya aku salah. Bayangkan aku harus menaiki anak tangga yang entah berapa jumlahnya dari lantai satu sampai dengan lantai lima dengan membawa keranjang buah padahal mansion ini di fasilitasi dengan lift.
“Kenapa nafasmu nampak tersengal begitu Ge?” Tanya bibi yang tak tahu menau.
“Tidak apa bi, mungkin aku hanya kekenyangan karena makanan mu luar biasa nikmatnya.” Aku harus berbohong ditengah kesengsaraan yang menimpaku.
“Benarkah, kalau begitu seminggu kedepan bibi akan memasak menu yang sama.” Girangnya, yang membuatku mendapat tatapan maut dari paman karena membuatnya terjebak dimenu yang sama untuk sepekan.
“Bukankah tadi bibi bertanya tentang Amanda?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas makanan yang bisa saja semakin mempersulit aku lepas dari jerat mata paman.
“Bibi ingin melihat fotonya terlebih dahulu supaya saat kau cerita bibi sembari membayangkan sosoknya.” Pinta bibi.
Aku merogoh saku kiriku, menemukan telepon seluler milikku lantas membukanya dan menuju menu galeri. Disana ada ribuan foto, tapi hanya diisikan oleh satu makhluk bernama Amanda. Dan ada beberapa foto yang diambil bersama denganku layaknya kekasih pada umumnya. Asik melihat foto Amanda, tiba-tiba handphone berdering menampilkan telpon dari Amanda.
“Wah tahu saja dia jika sedang kita bicarakan, angkat Ge dan biarkan kami ikut dengar perkacapan kalian.” Permintaan yang aku setujui, karena entah kenapa aku ingin sedikit pamer.
“Iya sayang ada apa?” Tanyaku setelah mengangkat telpon tersebut.
“Ge ini Jason, aku menemukan telpon milik Amanda di halaman depan karena sudah tiga jam kami mencarinya tapi tak kunjung ditemukan.” Kata Jason tak jelas.
“Apa maksudmu, Jas?” Tanyaku tak sabar.
“Amanda hilang Ge.”
“APA????”
__ADS_1