
Duk
Duk
Duk
"Sayang..." Haru biru rasanya pertama mendengar tendangan anak kembar ku.
"Aku tak bohong kan mereka sudah pandai bermain di perut." Amanda lega akhirnya aku tahu juga.
"Habisnya beberapa hari ini kau selalu bilang bayinya menendang. Tapi saat aku pegang atau tempelkan telingaku di perutmu tak ada pergerakan." Malah suara cacing perut mu yang terdengar, lanjutku dalam hati.
"Itu karena si kembar tak suka bermain dengan Daddynya." Ucap Amanda melukai hatiku.
"Mana ada, kalau mereka tak suka mungkin hari ini juga akan terus bersembunyi. Jangan melukai hatiku yang rapuh dengan kalimat tajam mu sayang." Aku yang semula berjongkok kini berdiri dan memeluk Amanda gemas.
"Itu karena kau barusan memberikan izin kami makan es krim sepuasnya. Terimakasih ya Daddy kita bahagia." Amanda tersenyum sampai garis matanya melengkung dan matanya terkesan menghilang.
Alangkah bahagianya diriku. Bulan demi bulan kini berganti dengan cepat. Aku tak ingat bagaimana kini Amanda sudah memasuki lima bulan kehamilan. Butuh empat bulan lagi aku bisa bertemu dengan buah hatiku. Belum lahir saja sudah sebesar ini kebahagiaan yang aku rasakan. Apalagi kelak saat mereka lahir. Ah, membayangkannya saja membuatku melompat kegirangan.
"Kau kenapa seperti kesurupan kuda lumping sayang?" Amanda sedikit menaikan intonasinya melihat tingkah ku yang tiba-tiba melompat kesana kemari.
"Kuda lumping apa sayang?" Apakah di dunia ini ada spesies kuda yang langka dan aku tak tahu.
"Kuda lumping temannya kuda poni." Balas Amanda, tak meyakinkan sekali.
"Kau diam saja disitu, biarkan aku mengungkapkan rasa suka cita ini." Aku berlarian memutari tubuh Amanda yang masih berdiri.
"Masih lama tidak, ini kaki ku pegal." Keluhnya padahal belum ada lima menit berdiri.
"Kau mengacaukan suasana hati." Dasar perusak suasana yang hebat.
"Hmmm, kau belum tahu saja rasanya berdiri dengan perut besar dan menggunakan sepatu hak macam ini." Amanda dengan segala keluhannya.
"Iya maaf sayang, aku tak akan memaksa mu memakai sepatu itu lagi." Amanda minta keluar di tengah hujan untuk makan es krim tadi, mana mungkin aku membiarkannya menggunakan alas kaki sembarangan.
Usai dengan urusan Amanda, kini aku bersiap tidur disisinya. Tumben dia tidur lebih awal. Jika tahu memakan es krim di malam hari dalam kondisi hujan dapat membuatnya bahagia dan mudah untuk tidur, mungkin akan setiap hari aku sediakan es krim di mansion.
Memasuki usia kehamilannya dua puluh tujuh minggu ini dia mulai tidak bisa tidur. Kemarin malam saja aku harus rela membuang waktu tidur ku yang berharga untuk bergadang semalaman suntuk. Benar Amanda memang meminta ku untuk tidur lebih dulu, tapi mana tega aku meninggalkannya terjaga seorang diri. Aku yang membuatnya hamil, bukankah segala yang dia rasakan aku wajib mendampinginya meski tak tahu rasanya.
"Sayang.......!!!!
"Sayangggggggg."
"Sayang kau dimana?" Aku teriak dari lantai dasar mansion dan tak ada sahutan dari Amanda.
"Tuan, nona meminta kami memberitahukan bahwa nona pergi bersama nyonya besar." Asisten rumah tangga tiba-tiba datang dan memberi sedikit info.
"Di pagi buta seperti ini?" Tanyaku heran.
"I..iya tuan." Kening pelayan berkerut, tapi tetap menjawab iya.
"Yasudah kau boleh pergi." Ujarku.
Hah, lelah rasanya ditinggal kabur istri di pagi hari. Aku baru terlelap karena sudah biasa tidur larut malam. Sehingga saat Amanda dengan mudahnya terlelap tadi malam aku berakhir dengan memandangi wajahnya dan mengelus perutnya sampai pukul empat dini hari.
Tak puas karena tak mendapati istri saat mata terjaga. Aku berusaha mencarinya di lantai dasar. Dan ternyata dia sudah di bawa kabur oleh Mommy. Terkadang orangtua memang suka mengganggu kesenangan anaknya.
__ADS_1
"Mom kenapa pagi-pagi sudah menggondol Amanda pergi." Bukannya mandi dan bergegas menyusul Amanda aku lebih memilih memarahi Mommy lebih dulu.
"Hai bocah nakal, pagi darimana. Ini jam dua siang Gerlard ku sayang." Ucapan mommy membuatku kaget.
Aku menilik arloji di lengan kanan ku, dan betapa terkejutnya aku ketika yang diucapkan Mommy adalah kenyataan," Tetap saja harusnya izin padaku kalau ingin membawa Amanda pergi."
Segera ku tutup saluran telpon, bisa-bisa aku kena semprot mommy jika seperti ini. Tak ambil pusing aku langsung masuk kamar mandi dan membasuh diri. Selesai bersiap, aku menginjak pedal gas menuju vila. Berharap Amanda baik-baik saja disana.
"Sayang kenapa tak membangunkan ku?" Sampai di mansion aku langsung memeluk Amanda yang sedang mengobrol santai di ruang keluarga.
"Kau sudah di bangunkan dengan segala cara tapi tetap tidur. Kau seperti manusia yang sedang latihan mati jika kau tahu." Bukan jawaban dari yang keluar dari mulut Amanda, mommy mewakili.
"Mom, aku tak bertanya padamu." Kadang juru bicara tak diperlukan saat seperti ini.
"Mommy tak terima, karena mommy ikut andil membangunkan mu." Teriak mommy dengan mulut bersungut-sungut.
"Sudah sayang jangan suka berteriak di depan ibu hamil, aku takut cucu kita akan seperti mu." Daddy bersuara.
"Oh jadi maksud mu jika cucu kita mirip aku itu suatu kesialan, begitu?" Tantang mommy yang mudah tersulut emosi seperti hormon wanita hamil.
"Tidak seperti itu sayang, tapi watak tak baikmu itu yang dihindari." Tumben Daddy tak cari aman.
"Kau ingin kelahi rupanya, sini ku penggal ketiakmu." Mommy mulai memiting ketiak Daddy.
Amanda cekikikan melihat tingkah konyol dari orangtuaku. Melihatnya bahagia aku ikut bahagia. Dan entah kenapa aku mulai merasa lapar. Padahal sebelum bertemu Amanda tak ada rasa lapar sedikitpun yang aku rasa.
"Sayang maukah kau menemani ku makan?" Suaraku lembut sekali seperti angin yang berbisik pada daun.
"Kau belum makan?" Amanda berbalik tanya.
"Itu karena kau terbiasa melihatku lebih dulu saat bangun tidur. Maaf aku meninggalkan mu hari ini." Tangan lentiknya mengelus pipiku, ah tentramnya.
Meninggalkan pertikaian orangtua yang tak menarik sama sekali. Aku membawa Amanda ke meja makan. Untung saja masih banyak santapan yang bisa masuk dalam perut ku. Amanda dengan cekatan memilih menu makanan yang aku suka. Memasukkan dalam piring dan meletakkannya di hadapan ku.
"Makan sendiri atau aku suapi?" Bukankah itu pertanyaan konyol.
"Tentu disuapi sayang, kenapa harus repot-repot bertanya." Aku tersipu mengucapkan kalimat sederhana itu.
"Manjanya manusia ini." Ucap Amanda tak sadar diri, kita berdua saling manja diwaktu tertentu.
"Yakkkkk!!!"""
"Uhukkkk..."
Aku tersedak di suapan pertama. Bagaimana tenggorokan ku tidak kaget. Mommy memukul pundak ku dan berteriak, aku kaget setengah mati.
"Beraninya kau makan, disaat Mommy belum memenangkan perkelahian." Hardik mommy yang kini berdiri di dekatku.
"Mom, tak perlu dilihat sampai selesai aku tahu Mommy selalu menang atas Daddy." Mulutku berucap manis.
"Ah, kau benar juga." Alhasil Mommy tak jadi ribut.
"Mom, Jiji belum sempat makan di mansion. Jadi dia kelaparan sekarang." Amanda menjelaskan dengan tangannya yang aktif menyuapi ku.
"Salah sendiri, bangun siang sekali." Sarkas Mommy yang ikut duduk dan nyemil makanan yang ada di meja.
"Kau main comot makanan, sudah cuci tangan belum." Interupsi Daddy akan tindakan Mommy barusan.
__ADS_1
"Oh iya aku lupa." Mommy berlari kecil menuju wastapel, menghadirkan tawa renyah dari kami yang menonton di meja makan.
Pulang dari vila aku membeli buah kelapa karena Amanda nyidam, namun sayang tak ada kelapa utuh. Tentu saja ada dalam kemasan dan aku tak mungkin mengizinkannya untuk minum minuman tersebut.
"Sudah sayang tak usah cemberut, aku ada kejutan sampai rumah nanti." Ujarku mencoba membujuk.
"Hah, baiklah awas kalau aku tak suka dengan kejutan ku." Ancamnya.
"Tenang saja, kau tahu sendiri suami mu ini ahli memberi kejutan untukmu." Sanjung ku terhadap diri sendiri.
"Dasar."
Tiba di mansion aku meminta Amanda lebih dulu masuk kamar, sedang aku bersiap dengan kejutan yang aku maksud. Awalnya Amanda tak setuju dan ingin tahu lebih cepat, tapi bagaimana mungkin dinamakan kejutan jika dia ikut serta. Dengan berbagai jenis kalimat bujukan akhirnya luluh dan kini dia beranjak ke kamar kita.
Aku bersiap diri di bantu asisten ku. Dia memberikan barang yang aku pesan lewat pesan tadi. Sempat geli sendiri, tapi rasa bahagia membayangkan tanggapan Amanda membuatku bertekad kuat untuk terus melanjutkan misi kejutan ini.
Tawa asistenku hampir meledak melihatku seperti ini. Untunglah aku sedang dalam kondisi baik hati, jadi aku hanya memelototinya saja. Malas bertemu banyak pelayan rumah tangga lainnya. Aku bergegas menaiki tangga, dan bersiap di balik pintu kamar.
Buahhahhahaahhahahah
Itu adalah suara tawa Amanda yang lantang. Dia Samapi menitikkan air mata saking tawanya terbahak. Kenapa aku sedikit malu di tertawai olehnya. Padahal semua ini keinginan ku semata.
"Apa..ha..apa.hahhahaha yang membuatmu jadi seperti itu?" Amanda sulit menghentikan tawanya ditengah bertanya padaku.
"Sayang jangan seperti itu, aku hanya ingin tahu apa rasanya." Aku mendekati Amanda dan duduk di sampingnya.
"Kau menggunakan apa agar terlihat hamil seperti ku sayang." Akhirnya tawa Amanda mereda.
"Kulit sintetis, ternyata pegal juga memakainya." Padahal aku baru beberapa menit ku pakai.
"Nah aku harap kau tak aneh-aneh memintaku melakukan segala keinginan mu. Tak enak bukan dengan perut seperti itu beraktivitas seperti biasanya." Amanda memukuli perut hamil dadakan ku dengan gemas.
"Aw, kau melukai anakku sayang." Candaku, menghalau tangan Amanda yang masih betah memberikan pukulannya.
"Ngomong-ngomong mau sampai kapan kau memakainya?" Amanda tersenyum jahil.
"Sesuka hatiku saja." Aku harus tepat memilih jawaban menghadapi ide jahil yang mungkin sedang terlintas di pikiran Amanda.
"Em begitu, tapi kau tahu kan tidak mudah melakukan segala hal yang kau suka dengan perut itu?" Pertanyaan menjebak yang dilayangkan Amanda.
"Sedikit." Kenapa aku jadi deg deg an.
"Kali tahu, jangan meminta aneh-aneh saat kita bercinta." Ucapnya santai.
"Mana bisa." Tolakku tak terima.
"Yasudah pakai perut itu sampai seminggu jika ingin tahu lebih dalam apa yang aku rasakan." Tantang Amanda.
"Mana mau, sayang. Aku harus ke kantor dan bekerja seperti biasanya." Jangan sampai ide ku menjadi bumerang.
"Aku saja tak pernah meletakkan perut buncitku wali hanya sedetik, dan tetap beraktivitas. Katanya kau mau tahu apa yang aku rasakan." Amanda mulai tersenyum menyebalkan.
"Sayang,,," Rengekku.
"Aku tak mau dengar apapun."
Arghhhhhhh, kenapa juga aku punya ide seperti ini. Meski bahagia di dapat ujung-ujungnya aku sengsara dengan tingkah ku sendiri.
__ADS_1