
Jangan menyentuh hatiku sesukamu. Kau bahkan tak pantas untuk itu. Tapi kenapa kau lancang tak mendengar peringatan yang ku lancarkan. Jika terus seperti ini aku takut, sungguh takut kau tidak hanya menyentuh tapi mengambil semua hatiku. Ungkapan kesal ku yang masih tak habis pikir dengan diri sendiri. Bagaimana mungkin aku menyimpan foto Amanda di album ponselku.
Masih betah bergelung malas di bawah selimut, aku menikmati pagi dengan menatapi wajah Amanda. Wajah yang dihiasi lengkung indah senyuman. Wajah yang memberi kesan kalau kondisinya selalu baik. Bibir yang tiada lelah mengeluarkan kicauan. Hidung mungil yang pas dipadankan dengan mata cantiknya. Semuanya, aku mau semua yang ada pada Amanda untukku seorang. Apa yang aku pikirkan, tidak-tidak ini berbahaya. Lebih baik aku mandi, daripada merusak diri sedini mungkin.
Pikiran ku lebih segar setelah mandi air dingin. Siap dengan pakaian santai, aku menuju ruang makan untuk melakukan rutinitas manusia pada umumnya.
"Lesi!!!!" Teriakku memanggil kepala pelayan sepagi ini.
"Iya tuan ada apa?" Lesi selalu datang tepat waktu, aku curiga dia punya ilmu teleportasi.
"Kau bodoh atau bagaimana hah?" Tanyaku teramat heran.
"Ampun tuan, kalau boleh bertanya apa kekeliruan yang saya perbuat?" Lesi sedang pikun atau memang benar-benar tak tahu menahu.
"Masih bertanya apa salahmu? Kenapa ruang makan sepi sekali. Dan kemana perginya sarapanku?" Hah, aku menghela napas, hal seperti ini dapat memperpendek usia.
"Maaf tuan, sarapan sudah habis dua jam yang lalu. Bahkan sekarang kami sedang mempersiapkan hidangan santap siang tuan." Jawab Lesi seolah tak ada rasa bersalah membiarkan aku melewatkan santap pagi.
"Siapa yang membayar mu hah, kenapa memberi makan orang lain sedang tuanmu kelaparan. Tolong gunakan sedikit otakmu dalam bertindak!" Aku kalap dan meneriaki Lesi semauku.
"Mohon maaf tuan, saya akan siapkan makanan anda sesegera mungkin. Mohon untuk menunggu di meja makan tuan." Tawar Lesi berusaha menebus kesalahannya.
"Wow, hebat sekali kau berani memerintahku. Lupakan sarapan, aku lebih tertarik untuk makan manusia saat ini." Sebenarnya tidak ada satu pun kesalahan dari ucapan Lesi, hanya saja aku sudah terlanjur kesal.
Aku tidak menyangka memikirkan Amanda di pagi hari akan berdampak buruk. Amanda harus menebus kesalahannya karena memonopoli pikiran pagiku. Dengan ini kuputuskan mencarinya secepat mungkin, agar sialku tak berkepanjangan. Nampaknya sial tak kunjung usai. Aku tak berhasil menemukan seorang manusia pun di vila ini.
Ketika melewati pintu menuju belakang vila aku mendengar riang tawa para manusia. Akhirnya aku mengikuti dari mana datangnya suara tersebut. Tiba di kolam renang aku melihat empat manusia sedang bercengkrama di gazebo samping kolam. Aku menghampiri dan aku mulai tahu siapa dalang di balik hilangnya sarapanku.
"Mom." Sapa ku memecah tawa mereka.
"Sayang ya ampun anak mommy, sini-sini." Raut bahagia terpancar di wajah wanita yang telah melahirkanku.
Aku memeluk mommy mengecup kedua pipinya sebagai pemanis salam pertemuan. "Kenapa tak bilang jika berkunjung hari ini?"
"Kejutan sayang, bagaimana terkejut tidak?" Tanya mommy penuh antusias.
"Sangat, bukan hanya aku yang terkejut tapi perutku juga." Sindirku menuai protes.
"Loh kenapa dengan perutmu sayang." Tanya mommy seolah tak tahu akibat perbuatannya.
"Mom jahat dengan Ge, tidak memberi jatah sarapan. Sedih sekali di anak tirikan." Protesku secara langsung.
"Tidak sayang tadi mommy menyuruh Jason untuk mengantar sarapanmu ke kamar." Ujar mommy dan memperjelas kalau aku dikerjai Jason.
Dasar bocah badung ini, bertingkah semaunya karena merasa ada pelindung nomer satunya. Lihat saja sampai mana kau akan dilindungi. Aku harus mengeluarkan jurus manusia lemah butuh kasih sayang seorang ibu.
"Tapi Gerlard kelaparan mom, entah sarapannya tersesat kemana." Adu ku seperti anak kecil lima tahun.
__ADS_1
"Kamu taruh dimana Jason sarapan kakakmu?" Mommy mulai mengintrogasi Jason.
"Aku, ah panjang ceritanya mom." Sahut Jason, yang aku yakin mulai merangkai cerita dengan otak liciknya.
"Yasudah ayo kita duduk dulu, dan mari mendengarkan cerita panjang dari Jason" Bujuk mommy agar aku ikut serta diperkumpulan manusia-manusia yang sudah sarapan.
"Jadi?" Tanyaku tak sabar dengan hasil karangan Jason.
"Aku membawa makanan kakak menuju kamar, sayang saat di tangga aku tidak terlalu fokus. Sehingga ketika akan menaiki anak tangga pertama aku tersandung dan karena tidak dapat mempertahankan keseimbangan semua makanan jatuh berserakan, begitu mom." Aku yakin seratus tujuh persen semua itu hanya karangan belaka seorang Jason. Lagipula mana sudi dia repot-repot membawa makanan untukku sedang disini terdapat banyak pelayan.
"Kenapa tidak meminta pelayan untuk menyiapkan ulang?" Tanyaku memojokkan Jason.
"Aku kembali ke dapur dan memintanya, tapi sudah habis semua Ge, tak ada sisa." Alasanmu terlalu cetek Jason.
"Jika Jiji kelaparan, ayo ke dapur aku akan buatkan makanan secepat kilat." Celetuk Amanda yang sedari tadi hanya menyimak.
"Uh, Amanda betapa cantik paras dan pribadimu yang mommy semakin suka, jadi anak mommy ya." Kata mommy yang baru ku tinggal tidur beberapa jam lalu sudah akrab saja dengan Amanda.
"Kau akan memasak apa?" Aku bertanya karena merasa tak yakin meningkat riwayat memasaknya yang sangat kacau.
"Ah kalian tunggu disini, aku akan kembali." Amanda berlalu dengan lari tercepat yang ia miliki, tanpa menjawab pertanyaan ku.
Entah makanan apa yang dibuat Amanda. Tidak butuh waktu sepuluh menit dia kembali dengan langkah terburu menghampiri kami.
"Jiji ayo makan, nanti kau sakit. Maaf tidak menunggumu sarapan, aku merasa bersalah." ucap Amanda tulus.
"Lagipula kenapa bangun terlalu siang Ge, apa jam bangunmu mulai berantakan? Bisa-bisanya jam setengah sepuluh belum bangun, mana bisa perut kami menunggumu untuk ambil bagian dalam sarapan jika seperti itu." Koar Danda yang mulai mengeluarkan suara setelah menjadi manusia pajangan beberapa menit lalu.
"Aaaaa, ayo makan saja Ji. Nanti lagi mengobrolnya."Titah Amanda dan membuatku menuruti permintaannya.
Aku membuka mulut menerima suapan pertama dari Amanda. Sandwich yang melewati kerongkonganku terasa nikmat dan pas di lidah, ternyata makanan ini tidak buruk. Seperti gerakan lambat dalam adegan film, aku merasakannya saat ini. Saat Amanda dengan telaten memasukan potongan kecil sandwich ke mulutku, saat dia menghapus noda mayones yang menempel di bagian wajahku. Kenapa ini terasa seperti layanan sarapan pagi terindah yang pernah aku lalui.
"Bagaimana Ji, enak tidak?" Tanya Amanda membuyarkan suasana indah yang tercipta beberapa detik lalu.
"Hm, not bad." Sahutku singkat mengingat aku sedang sibuk mengunyah.
"Aku minta bagian juga Manda, sandwich itu nampak lezat di mataku." Harap Jason.
"Tidak untuk saat ini Jas, mengingat kakakmu belum sarapan. Dan ini porsi satu orang, kau akan ku buatkan nanti ya." Rasakan kau Jason, Amanda kau idaman sekali aku semakin sulit untuk tidak menyukaimu.
"Sesuap saja ya." Jason tidak menyerah.
"Tidak boleh Jason. Minta buatkan Lesi sana. Nakal sekali, tidakkah kau merasa menghianati Jiji dengan tidak mengatakan kejadian di tangga pada kami. Kalau tau Jiji belum sarapan kita kan bisa membuat ulang, kenapa mengatakannya sangat terlambat. Jangan main-main dengan urusan perut." Petuah Amanda yang memang menomorsatukan urusan perut.
"Iya-iya, maaf kan aku tidak sengaja. Aku juga lupa. Mommy taukan aku pelupa." Dengar, dia memang pandai berkilah.
"Iya sayang tidak apa, lagipula dengan begitu mommy jadi bisa melihat keserasian saat Amanda mengurus Gerlard. Ah manisnya." Mommy memang tidak pernah memarahi Jason, tidak adil sekali bukan.
Usai menikmati sarapan menjelang santap siang, Amanda kembali ke dapur menyisakan kami di tempat semula. Mata kami berempat tertuju pada Amanda yang membawa nampan bekas sarapan ku menuju ke dapur. Tepat saat Amanda menghilang di pintu dapur barulah kami mulai mengobrol kembali.
__ADS_1
"Ge, mommy mau Amanda jadi anak mommy. Semua yang ada pada dirinya begitu cantik, mommy suka. Mommy tidak pernah setertarik ini pada pandangan pertama dalam pertemuan. Mommy mohon boleh ya Ge." Pinta mommy tanpa mengalihkan pandangan dari pintu belakang yang mengarah ke dapur, seolah menanti kembalinya Amanda.
Tolong jangan serakah, bahkan sekarang kau mengambil hati ibu ku, keterlaluan sekali kau Amanda. Meski begitu aku mana sudi berbagi kau meski itu dengan mommy, mengingat jika ku iyakan permintaannya maka Amanda akan diboyong ke Eropa bersamaan dengan kepulangannya nanti.
"Tidak bisa mom, cukup Jason yang jadi adik Gerlard. Lihat satu saja sudah membuatku pusing apalagi dua." Elakku menolak dengan elegan dalam versiku.
"Bukan anak seperti Jason yang ibu mau, tapi anak menantu. Jadikan Amanda istrimu." Kata mommy seringan angin.
"Ayolah mom, aku masih senang melajang. Kalaupun menikah tidak mungkin dengan Amanda." Ujarku menutupi kegembiraan tak perlu repot mencari restu mommy kedepannya.
"Mommy maunya Amanda titik, awas kau mencari kandidat baru. Mommy jamin akan mommy siksa wanita itu." Kejam sekali, ini baru gaya ibu seorang mafia.
"Terserah mommy saja." Jawabku datar, dalam hati berbunga.
Waktu terus berputar, siang berganti malam dan hatiku masih penuh dengan bunga-bunga bahagia. Memori tadi pagi masih melekat indah dalam ingatan yang membuat senyumku tak luntur dari bibir. Tapi semua itu hancur seketika karena tanpa sepatah kata pamit, Amanda kencan dengan Danda.
"Apa yang sedang kau lakukan Ge? Mondar mandir tidak jelas seperti itu." Mommy mulai risih karena aku sedari tadi tak bisa diam di sekitarnya.
"Aku sangat lapar mom." Sahutku asal.
"Apakah jika kau lapar kau berlarian tak jelas di ruangan, mommy baru sadar semakin tua kau semakin konyol." Tegur mommy yang mulai jengah.
"Ya aku sangat lapar makanya aku butuh berolahraga." Dan aku menjawab semakin ngawur.
"Kau akan tambah lapar jika seperti itu, pergi ke meja makan. Mommy akan menemanimu." Tawar mommy kemudian.
Menuruti mommy dan pergi ke meja makan. Piring terisi penuh dan mommy penasaran, " Kanapa kau lapar terus hari ini Ge, jam makan malam kita pukul delapan dan kau sudah kelabakan seperti ini di jam setengah tujuh."
"Aku hanya lapar saja mom. Berikan aku sedikit waktu untuk makan mom." Aku hanya membolak-balikan makanan yang sudah aku taruh dalam piring.
"Kau pikir bisa membodohi ibumu, lihat kau bukan lapar Ge, kau hanya gelisah. Mana ada orang gelisah berlebih karena lapar." Tuntut mommy agar aku berkata jujur.
"Ada, ini aku contohnya." Tidak ada alur ceritanya aku berkata jujur jika aku tidak ingin.
"Terus mengelak, dan mommy yakin Danda yang akan menikahi Amanda." Mommy berkata seenaknya tanpa memikirkan doa ibu mudah terkabul.
"Maksud mommy." Tanyaku tak terima.
"Kau gelisah hanya karena Amanda pergi membantu Danda memilih kado untuk seseorang. Kau terlalu mudah untuk ditebak." Mommy menjelaskan maksud dari perkataan sebelumnya.
"Aku tidak mom, aku sungguh lapar." Dan sampai kapanpun aku akan terus mengelak.
"Jika kau mengantuk maka tidur adalah obat terbaik, dan jika kau lelah istirahatlah, namun jika kau jatuh cinta meski mengantuk dan lelah berjuanglah nak, berjuang seperti daddy memperjuangkan mommy dulu." Petuah mommy yang tidak perlu diperdengarkan sebenarnya aku juga tahu.
"Jangan melantur mom, siapa yang jatuh cinta, jangan menebak sembarangan." Bantahku masih tak mau mengaku.
"Aku membesarkanmu puluhan tahun Ge, mommy tau mana yang kau suka dan tidak. Sembunyikan semua yang kau suka dengan tatapan tajammu, mungkin berhasil di luaran sana. Tapi mommy yang melahirkanmu, kau tidak bisa mensiasati hubungan darah ibu dan anak." Kata mommy mutlak yang membuatku tak berkutik.
Sulit bagiku untuk membantah, karena mommy selalu tepat mendeteksi perasaanku. Tapi mom, entah mengapa sulit juga bagiku untuk menerimanya. Aku bahkan belum berdamai dengan hatiku karena memilih Amanda untuk ku cintai. Lalu bagamana caraku untuk persoalan ini. Aku benci urusan roman picisan seperti ini. Kenapa aku harus melewati masa seperti ini, ah ternyata aku masih manusia juga.
__ADS_1