Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
Honeymoon


__ADS_3

Memadu kasih bersama orang terkasih adalah impian semua orang. Amanda bukan sekadar impian, kini dia menjadi amat nyata bagiku. Kenyataan yang begitu indah, dan melaluinya terasa amat mendebarkan setiap waktu. Debaran jantung bukankah seharusnya lebih normal saat aku telah berhasil meminangnya. Semua hanya angan belaka, debaran justru bertambah hebat. Oh, inikah luapan cinta yang sedang kurasakan.


Denmark masih hening, jauh dari hiruk pikuk kehidupan manusianya. Pukul empat dini hari tentu semua orang masih sibuk dengan mimpi indahnya dalam lelap. Tapi aku harus rela terjaga karena Amanda mengeluh sakit.


"Sudah mendingan?" Aku tak tega melihatnya yang meringis setiap ingin bergerak.


"Sepertinya akan sembuh total jika aku pulang sekarang juga." Amanda menjadi sedikit emosional setelah beberapa hari menikah denganku.


"Kau tega meninggalkan ku sendiri disini?" Tanyaku, dengan mimik wajah ku buat sesedih mungkin.


"Kau menjijikkan." Lihat bahkan lidahnya berubah jadi Amanda yang suka mengumpat.


"Ayolah, sakitmu adalah berkah dan Tuhan sangat cinta dengan istri yang melayani suaminya dengan baik." Aku tak salah bukan.


"Tapi tidak mengurungku hampir empat hari di hotel, dan hanya digempur terus-menerus olehmu, ngilu rasanya." Protes Amanda.


"Katanya mau memberikan cucu cepat-cepat." Aku mencoba mengalihkan rasa kesalnya.


"Tapi tidak setiap jam sekali juga Gerlard D Dark yang terhormat." Amanda memukulku dengan guling yang di raihnya dari ranjang.


"Berani suami mu ini perkasa." Tukas ku bangga.


"Perkasa nenek moyang mu, sudah bantu aku ke kamar mandi." Amanda mengulurkan tangannya minta untuk ku bopong, karena dengan kondisinya saat ini dia malas untuk sekedar berjalan.


"Kau mau melakukannya di kamar mandi lagi?" Goda ku amat ingin melihat reaksinya.


"Enyah kau!" Teriak Amanda.


Tuhan selamat aku, aku tak sanggup tidak mencubit pipinya. Tapi akan berakhir dengan pukulan Amanda yang membabi buta di sekujur tubuhku.


...****************...


Pagi menjelang, Amanda masih bergelung di balik selimut. Dia berpesan agar membangunkannya saat sarapan tiba, dia lelah banyak bergadang meladeni suami katanya. Padahal aku suami yang memuaskan istrinya, harusnya dia senang akan hal itu.


Mari jangan ganggu Amanda karena aku sibuk mengganggu kedua pujangga yang sedang menghujat ku terang-terangan dalam grup pesan keluarga. Senang juga membaca respon mereka, kadang aku terbahak dengan isi pesan makian mereka. Jason dan Danda bahkan meninggalkan grup keluarga akibat ulahku. Bukankah kemajuan pesat bagiku dapat membuat mereka bringsal dengan dengan lelucon ku.


"Hallo, kenapa menelpon aku sibuk." Setelah keluar grup, Jason meneror ku langsung via telepon.


"Tolong jangan pamer foto keramas mu setiap saat Gerlard, kita juga bisa keramas." Teriak Jason mendapat dukungan Danda.


"Apa masalahmu, aku keramas suka-suka, lagipula yang lain juga tidak masalah aku berbagi di grup." Balas ku memancing ribut.


"Dasar id*ot, yang lain sudah beranak pinak mereka justru senang dengan kau yang begitu, dikotak mereka hanya ada cucu, cucu, dan cucu." Jason masih tak terima.


"Kau tak ingin keponakan lucu dariku?" Iseng ternyata menyenangkan.


"Mau, tapi yasudahlah terserah kau saja, sana pamer di grup. Jangan hubungi aku dan Danda, kami sibuk." Ucapnya lantas menutup telpon sepihak, pertanda hatinya yang tak terima.


Aku tersenyum, menjadi usil tidak seburuk itu ternyata, pantas Jason sangat usil padaku. Aku sasaran korban usilku melarikan diri, jadi kuputuskan untuk mandi sembari menanti datangnya santap pagi.


"Kau sudah mandi?" Setalah rapi dan tampan maksimal, aku dihadapkan dengan Amanda yang sudah bangun tapi masih betah di balik selimut.


"Hm, apa kau mau mandi juga, rasanya tubuh lebih segar." Saran ku melihat Amanda yang cukup kusut pagi ini meskipun tak sedikitpun mengurangi kecantikannya.


"Aku mau mandi asal hari ini tidak melulu di dalam hotel, aku juga ingin jalan-jalan Ji." Pintanya dengan nada kesal.

__ADS_1


"Baiklah-baiklah, memangnya kau mau jalan kemana, kita masih di Denmark dan tak ada yang istimewa." Kadang perempuan memang aneh bukankah tujuan bulan madu adalah bermesraan.


"Hm, apa hanya sekedar berjalan-jalan saja butuh terbang ke negara lain dulu. Ayolah aku bosan." Pintanya, semakin merasa kesal.


"Oke-oke, sekarang ayo aku bantu untuk mandi." Tawarku penuh perhatian tulus.


"Tak sudi, yang ada nanti aku kau hajar lagi." Amanda berlari sebelum aku berucap.


Tak butuh waktu lama seperti menunggu wanita pada umumnya, hanya butuh lima belas menit menunggu Amanda untuk bersiap. Lincah tubuh Amanda saat akan jalan-jalan berbeda dengan dirinya yang nampak lemas setiap di dalam hotel. Hah, mungkin bulan madu juga butuh jalan-jalan sesekali.


Kami tak jadi makan sarapan di hotel, Amanda begitu antusias untuk pergi. Jadi disinilah kami, mengantri giliran untuk memperoleh sarapan. Sedikit kesal karena aku butuh banyak asupan makanan untuk isi ulang energi. Ini malah harus tertunda untuk lebih lama lagi untuk makan.


"Kenapa seperti manusia tak pernah makan berabad, jangan-jangan selama ini kau jaim saat makan dihadapan ku." Celetuk Amanda yang heran aku lebih rakus daripada dirinya.


"Jelas aku butuh tenaga untuk memuaskanmu sayang." Balasku, masih sibuk menyantap makanan.


"Hah, seharusnya aku mengajak Mommy dan yang lainnya supaya kau dapat pencerahan apa itu bulan madu." Tutur Amanda.


"Jika semua ikut itu namanya family gathering sayang." Enak saja pemikiran uniknya itu, untung tak terlaksana.


"Lalu apa bedanya bulan madu tapi hanya mengurung diri di kamar, lebih baik kita di vila saja tak menghamburkan uang." Protes Amanda.


"Kau ini bagaimana, kalau di vila nanti kau malu aku kurung di kamar terus menerus. Apalagi kau akan terus diledek para orangtua, apa kau tak keberatan. Lagi pula uangku banyak, nanti kita bulan madu keliling negara." Ya, kami tak pergi jauh karena aku masih dalam pantauan dokter pasca koma.


"Diam sudah makan, dasar kau laki-laki dengan seribu alasan." Entah kenapa semenjak menikah Amanda berubah jadi galak, ini belum seminggu apalagi sudah setahun mungkin dia mirip jelmaan Mommy.


Mulutnya memang galak, tapi tangannya bertolak belakang. Amanda menyuapiku dengan varian menu yang kita pesan, mengelap sudut bibir ku yang terkena saus dengan tisu. Sesekali dia mencubit pipiku yang mengembung akibat konsumsi berlebih dengan gemas.


Tangan kami saling bertaut di sepanjang pelataran swalayan. Amanda mengajak ku berkeliling di pusat perbelanjaan, karena ada beberapa barang yang ingin dia beli. Aku malas sebenarnya, tapi demi menjaga jatah malamku aku mengiyakan semua permintaan permaisuri hati ini.


Permasalah tambahan, aku seorang Gerlard pemuda tampan rupawan dengan harta berlimpah harus rela membawa semua hasil belanjanya. Kedua tanganku terasa kebas menenteng kesana kemari dari mulai berbagai jenis makanan dan juga sepatu ada juga handuk. Ingin koprol rasanya.


"Tidakkah kaki mu lelah sayang?" Tanyaku mulai kehabisan tenaga.


"Ckckck, kit bahkan belum belanja apapun Ji, jangan mengeluh seperti kakek renta, ayo cepat sedikit jalannya." Amanda berjalan mendahului ku tanpa perduli belanjaannya yang menempel di badanku.


"Pantas Daddy selalu malas menemani Mommy belanja, ternyata ini alasan utamanya." Gerutuku sambil melangkah malas.


"Ji, ayo cepat sedikit nanti keburu malam." Seru Amanda tak sabaran.


"Sayang, sayang tunggu sebentar aku ingin mampir di toko ini." Ujarku memanggil Amanda yang beberapa langkah di depanku.


"Hm, yasudah ayo." Amanda menggandeng tanganku, dan menyeret masuk dalam toko.


"Yak kenapa mengajakku ke tempat seperti ini?" Amanda tersipu setelah tahu aku mengajaknya ke konter pakaian yang memanggil gairah pria.


"Aku ingin melihat-lihat saja siapa tau ada yang cocok denganmu." Ucapku meninggalkannya di dekat pelayan toko yang ikut tersenyum.


"Aih, tapi aku tak ingin Ji. Untuk apa aku memakai pakaian setengah telanjang. Bahkan kau sudah sering melihatku tanpa busana." Walau yang dikatakan Amanda benar tapi rasanya akan berbeda, dan aku ingin mencoba itu.


"Ayolah, daritadi kau terus yang belanja, kini giliran ku telah tiba, jadi jangan protes." Aku tersenyum licik.


"Hm, yasudah kau yang pilih, dimataku baju-baju ini nampak sama." Amanda akhirnya setuju.


"Oke." Balasku tersenyum penuh semangat.

__ADS_1


Aku berkeliling dan menitipkan barang belanjaan Amanda sebelumnya pada pelayan toko. Semuanya tampak menarik, tapi pakaian wanita berwarna merah tua dengan renda hitam menarik mataku. Aku menyentuh bahan pakaian itu terasa mendebarkan saat membayangkan Amanda memakainya.


"Yang ini sepertinya oke." Aku menunjukkan hasil pilihanku pada Amanda.


"Yak, ini gila. Pakaian kurang bahan harga sepuluh juta. Katanya kau tak suka aku memakai baju sexy." Amanda mulai mencari alasan untuk tidak memakainya.


"Memang benar, tapi kali ini lain cerita sayang. Kau mau yang ini atau aku belikan yang satu set dengan paikan cupid yang itu?" Aku memberinya pilihan yang tentu saja merugikannya.


"Yasudah yang pertama saja." Yeyy, akhirnya aku memang. Aku tahu Amanda pasti setuju jika diberi pilihan tak untung.


"Tolong bungkus yang satu ini." Pintaku pada pelayam toko yang senantiasa membuntuti dari beberapa meter.


"Baik tuan, silahkan tunggu di kasir dan lakukan pembayaran." Balas pelayan toko sopan.


"Kau kenapa terus menggeliat seperti ulat bulu Ji?" Amanda yang sedari tadi diam tiba-tiba bertanya dan menyamaiku dengan hewan tak elok.


"Ayo pulang aku tak tahan" Jawabku jujur.


"Kurasa kau semakin kesini semakin gila." Sewotnya tak suka.


"Aku gila karena mu sayang. Cepatlah datang barangku, aku tak sabar melihat kau memakai pakaian sexy itu." Ucapku yang tak sabar menunggu barang pesanan di depan kasir.


Pukul sepuluh malam Denmark di guyur hujan deras, untung kami sudah berada di hotel. Bukankah alam begitu berbaik hati padaku. Aku bahkan sudah mandi lebih dulu dari Amanda untuk mencoba beberapa hal intim malam ini, dan aku benci fakta bahwa wanita begitu lama saat mandi.


"Kau sudah selesai." Akhirnya Amanda keluar juga dari kamar mandi.


"Yakkk, kau membuatku kaget Ji. Kenapa berdiri di samping pintu kamar mandi." Amanda bahkan tak mengira aku sampai rela hati menunggunya di depan pintu kamar mandi.


"Ini, pakailah." Aku menyodorkan pakaian yang ku pilih tadi.


"Kau tahu ini hujan deras, dan kau memintaku untuk memakai baju yang bisa membuatku masuk angin. Suami macam apa kau." Tolak Amanda.


"Justru karena sudah, tak usah khawatir masuk angin karena hawa dingin, tenang saja aku bisa menghangatkan mu dan membuatmu berkeringat di bawah guyuran hujan." Aku terkekeh dengan kalimat yang aku ucapkan sendiri.


"Hah, derita seorang istri." Dengan berat hati Amanda mengambil baju di tanganku dan masuk kembali ke kamar mandi.


"Wow." Ucapku memuji.


"Kenapa ikut masuk ke kamar mandi sih, percuma saja aku ganti disini jika kau ikut." Usir Amanda.


Aku duduk di ranjang menanti datangnya Amanda. Meski mencoba terlihat cool nyatanya sulit. Aku berdoa air liurku tak menetes saat Amanda keluar nanti. Sekarang saja otakku mulai berpikir liar.


"Ji, aku malu." Cicit Amanda, dengan tangannya yang sibuk menutupi belahan dadanya yang terekspos.


"Kenapa musti malu, kita sudah sering melakukannya." Jawabku menahan hasrat.


"Kau terlihat lebih mengerikan dari malam pertama." Amanda sadar akan gairahku yang liar.


"Waktu itu aku cukup lelah karena pesta yang merepotkan." Aku menarik Amanda dan dia jatuh dipangkuan ku.


"Yak kau mesum sekali, kenapa sudah menonjol." Amanda sadar akan pusaka milikku yang tak sabaran.


"Apanya yang menonjol sayang." Aku bertanya sambil menjilati daun telinganya, yang membuat Amanda merinding.


"Hush, hentikan geli." Meski menolak tapi dadanya membusung ke arah wajahku seolah berteriak minta di jamah.

__ADS_1


__ADS_2