Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
One Request


__ADS_3

Jika seorang ayah adalah sosok yang mengagumkan bagi anaknya, contoh sosok kuat dan hebat, lelaki nomer satu yang ingin kau tiru, maka semua itu tak berlaku bagi ku. Bagaimana bisa aku meniru tingkah konyolnya, sikap usilnya, drama king, dan bahagia melihat anaknya menderita, sungguh bukan panutan yang baik. Lihatlah sekarang bertambah satu tingkah yang tidak elok, pencari muka di depan Amanda.


"Jadi siapa nama gadis cantik ini?" Tanya daddy sembari menggenggam tangan kanan Amanda.


"Amanda pak." Jawab Amanda singkat.


"Nama indah sesuai dengan paras mu nak, dan mulai sekarang panggil daddy saja." Berbicara dengan nada halus, berbanding terbalik saat matanya melirik diri ku sekilas.


"Jangan terpengaruh muka dua seorang Dion tua Amanda, dia sejenis manusia dengan bisa mematikan." Hal ini butuh di informasikan, mewaspadai kejadian buruk kedepannya untuk Amanda, jadi dengan rendah hati ku bocorkan sebagian.


"Jangan dengarkan mulut anak durhaka, yang persentase masuk nerakanya 99%, kau lebih baik percaya pada ku yang sudah tua tapi masih di perlakukan tidak layak oleh Gerlard." Menyerah tidak pernah dilakukan daddy, baginya terasa menyenangkan mempengaruhi Amanda.


"Cih... Daddy sendiri tidak menginginkan untuk dimuliakan." Sudah jelas mencari perhatian, tapi jika di beri perhatian selalu menuai protes, mengatakan bahwa daddy masih sanggup melakukan semua sendiri. Initnya daddy pencari sensasi.


"Terimakasih daddy memberi izin Amanda untuk memanggil dengan sebutan daddy. Amanda merasa bahagia, bolehkan Amanda memeluk daddy." Sungguh permintaan yang membuat ku kesal saat mendengar penuturan Amanda.


"Tentu saja nak, kau anak gadis daddy yang cantik, kemarilah." Merentangkan tangan menyambut datangnya Amanda, kemudian mengelus pundak Amanda dengan kasih sayang.


"Pelukan daddy hangat, Amanda suka." Bagai alunan yang indah, aku bahkan baru menyaksikan daddy sedikit tersentak diiringi dengan senyum merekah yang sudah lama tak terbit itu.


"Daddy tidak akan melepas mu untuk selamanya nak, detik ini kau resmi menjadi anak ku." Mengelus kepala Amanda, memutuskan sesuatu tanpa meminta pertimbangan ku sebagai pemilik Amanda sesungguhnya.


"Tidakkah daddy merasa bersalah?" Aku tak tahan melihat adegan di pelupuk mata yang mempertontonkan Amanda ku di pelukan lelaki lain.


"Daddy justru merasa harus menjadikan Amanda bagian dari keluarga. Kau tau sendiri betapa keluarga kita tidak di beri keturunan gadis satupun." Kebenaran yang sulit untuk disangkal.


"Tidak harus Amanda juga daddy, Jason tidak terima. Pasti nanti jatah kasih sayang kalian terbagi." Bagus Jason, lakukan penolakan yang lebih berkelas lagi, ku percayakan padamu.


"Tidak ada ceritanya kasih sayang orangtua yang berat sebelah Jason, percaya dengan mommy." Hasut mommy, pendukung nomer satu daddy setiap waktu.


"Lagi pula, kau sendiri pernah meminta adik perempuan bukan?" Melepas pelukan pada Amanda seraya memposisikan kembali duduknya menghadap arah semula.


"Tapi yang masih bayi daddy, kalau sudah seperti Amanda terlihat lebih elok jika dijadikan istri Gerlard saja." Seruan yang akan membuat Jason mendapat limpahan kasih sayang tambahan dariku.


"Jika memang ingin yang masih bayi kenapa kau tidak membuatnya sendiri saja, daddy rasa kau sudah cukup usia." Sanggah daddy yang semakin salah kaprah.


"Paman, sepertinya akan lebih baik jika kita menanyakan pada Amanda saja. Bagaimana pendapatnya mengenai hal ini." Saran yang terdengar baik, Danda memang selalu jenius saat diperlukan.


"Tidak perlu, Amanda mau kan, jadi anak daddy?" Menoleh ke sebelah kiri dengan nada yang diperlembut sehalus mungkin.


"Daddy tidak bisakah kita makan dulu, perut Amanda sudah berdemo." Amanda dengan segala tingkah konyolnya, ku yakin bahkan dia tidak menyimak percakapan yang sedang berlangsung.


"Hahahaha.... Kau memang cocok menjadi anak daddy. Ayo makan sini daddy ambilkan." Pertama kali melihat daddy tertawa lepas hanya karna rengekan gadis lapar. Dan, ayolah mana pernah daddy mengambilkan nasi beserta jajarannya untuk aku dan Jason, tapi lihat dia melakukan hal itu untuk Amanda.

__ADS_1


"Jason cemburu, Jason tidak suka Amanda. Lihat daddy sudah pilih kasih secepat mungkin, Jason juga mau disajikan oleh daddy." Protes lancar dari mulut Jason, terasa jujur, mengingat dia selalu dinomer satukan sebelumnya.


"Anak daddy sudah besar, laki-laki pula, harus mandiri." Daddy tidak mau kalah dan menyulut api peperangan dengan si bungsu.


"Baiklah, Jason mogok makan saja." Ini bukan ancaman, Jason memiliki sikap kekanakan di luar nalar jika sudah bersama daddy dan mommy.


"Anak manja mommy, sini biar mom ambilkan." Tawar mommy memberi pengertian agar Jason sedikit lebih mengalah.


"Mommy terbaik, Jason sayang mommy." memeluk mommy yang berada di sampingnya, mencium pipi kiri mommy berlaku untuk pamer ke daddy tapi tak memperoleh respon. Bagaimana direspon jika sekarang daddy sibuk bertukar suap dengan Amanda, mereka seolah memiliki kesenangan tersendiri tanpa memperdulikan sekitar.


Malam hari setelah berakhirnya drama di meja makan usai. Kami beralih ke ruang keluarga hal yang jarang sekali terjadi mengingat kesibukan masing-masing. Aku sampai tak sempat menuntaskan rasa heran mengapa kehadiran Amanda sangat berpengaruh besar di keluarga kami. Dan Amanda, apakah dia lupa kalau daddy adalah orang yang mengarahkan pistol di kepalanya. Sekarang mereka berdua bahkan duduk saling merangkul menikmati seduhan teh hangat yang disandingkan dengan beberapa jenis kue. Membuat muak karena lagi-lagi ada manusia serakah memonopoli Amanda seorang diri. Andai daddy bukan bagian hidupku, sudah ku tendang dari tadi. Daddy memang mengobrol santai dengan Amanda, tapi tatapan mengejek ke arah ku tidak bisa diterima dengan lapang dada. Andai bisa menukar daddy dengan makhluk yang lebih baik, maka akan ku lakukan sesegera mungkin.


"Jadi kau harus menyaksikan tragedi pembunuhan itu di depan mata mu nak?" Aku harap Amanda baik-baik saja, entah kenapa daddy terlalu jauh mengulik masa lalu Amanda dengan dalih dia harus tau latar belakang anaknya.


"Iya dad, dan aku adalah wanita beruntung karena Tuhan berbaik hati mengirimkan ku malaikat dalam sosok Jiji." Bagus Amanda, puji-puji aku terus, supaya daddy tahu siapa pemilik mu sebenarnya.


"Benarkah, daddy yakin ada maksud jahat dari tindakannya menolong mu." Mencoba mempengaruhi Amanda, ciri khas daddy sekali.


"Tidak mata Jiji memancarkan ketulusan yang tidak bisa berbohong dad, jika bukan karenanya hidup bukanlah sesuatu yang penting untuk ku, aku tidak sanggup dengan jalan yang akan ku lalui nantinya." Tidak bisakah daddy berhenti bertanya, aku mulai khawatir akan Amanda sekarang.


"Memangnya apa yang dia katakan sampai kau sangat yakin akan seorang Gerlard?" Lihat lah betapa menyebalkan manusia yang ku panggil daddy ini, semakin lama semakin menjadi saja.


"Meski jalan yang kulalui penuh darah, kumohon sudilah kau ku genggam sampai gerbang terakhir. Jiji berkata seperti itu sambil memeluk ku erat." Beber Amanda mengingat perlakuan manis ku kala itu.


"Tidak hon, kau tidak bisa menjadikan Amanda adik dari Ge dan Jas, Amanda mutlak calon penerus seorang Gerlard." Bagus, mommy mendukung ku sekarang.


"Ney, kau tidak takut Amanda mati di tangan anak ini. Lihat saja, berapa nyawa telah melayang di tangannya dengan wajah tampannya itu?" Sungguh kecaman luar biad*b yang tidak ingin ku dengar di depan Amanda.


"Tidakkah kau merasakannya ketika melancarkan aksi konyol mu saat datang, Ge bahkan memohon untuk nyawa Amanda dengan tulus." Terus mom, kau harus membuat daddy mengingat kelakuan busuk nya itu.


"Mereka saja terlalu serius, percaya dengan apa yang mereka lihat di depan mata tanpa meneliti terlebih dahulu." Pembelaan macam apa yang daddy utarakan, tidak dapat dipahami.


"Daddy jika melakukan kejutan seperti itu tidak harus membunuh orang-orang disini, mana ada becanda diawali dengan pembunuhan, Jason tidak bisa berpikir jelas." Gerutu Jason, karena memang daddy perlu mengetahui jika cara berpikir manusia tidak ada yang miring seperti jalan pikirannya.


"Mana sempat Danda berpikir, jika mayat dan darah tercecer di kawasan villa, ditambah ketika ditelusuri paman sudah menodongkan pistol di kepala Amanda, coba siapa yang bisa berpikir jika itu hanya sebuah bentuk keisengan semata." Gaya bercanda mafia memang berbeda, haruskah aku menirunya.


"Jadi daddy membunuh sungguhan, Amanda kira itu hanya properti saja. Berarti daddy benar-benar berniat membunuh Amanda ya kemarin pagi?" Tanya Amanda, yang entah kemana pikirannya selama ini.


"Daddy mana tega melakukan hal keji pada mu nak. Daddy hanya ingin tau reaksi ketiga curut ini hahahaha." Penjelasan yang diakhiri derai tawa membahana seorang Dion Dark.


"Amanda cukup kaget saat ditodong di kepala, tapi karena daddy mengedipkan sebelah mata, Amanda jadi sedikit rileks dan mengikuti permainan daddy. Jiji maaf membuat Jiji khawatir." Sikap bodoh khas seorang Amanda memang sudah mendarah daging.


"Kau, kau tidak tahu aku seperti ingin kencing di celana saat kejadian. Dan ternyata kau mengetahui sandiwara busuk daddy, kau semakin membuat ku kagum, kau cocok untuk jadi kakak ipar ku." Jason tak pernah gagal membuat ku tersenyum dalam hati jika sudah melancarkan dukungan.

__ADS_1


"Daddy puas dengan reaksi mereka, apalagi Danda mukanya sangat imut saat khawatir tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Daddy sedikit kesal dengan Gerlard, bibit durhaka sangat nampak sekali, mana ada anak bertemu orangtua langsung di gulingkan sekali terjang." Daddy mana mau kalah jika tindakannya di protes.


"Tapi Amanda penasaran kenapa daddy membunuh orang-orang di villa, lalu kenapa daddy tidak ditangkap polisi, apakah daddy penjahat yang kebal hukum?." Kepolosan Amanda yang menyerempet kata bodoh memecah tawa seisi ruangan.


"Hahaha kau ini nak, membuat perut daddy sakit saja. Kau tau, mustahil mengatakan jika daddy orang tanpa dosa, tapi daddy tetap ingin kau menjadi bagian keluarga daddy. Terlepas kau menjadi anak atau menjadi menantu, semua pilihan kembali pada mu, karena kali ini daddy sangat menghargai setiap keputusan mu." Menerima keputusan orang lain bukan gaya seorang Dion, tapi pesona Amanda sangat kental menguasai keluarga kami.


"Amanda hanya ingin tinggal bersama daddy dan yang lainnya, tanpa daddy minta Amanda egois sudah menetapkan daddy adalah sosok ayah untuk Amanda, dan masalah untuk menjadi menantu, Amanda terlalu kecil untuk memutuskannya dad, maaf." Suara Amanda memberi keputusan dari permintaan daddy.


"Jika begitu mommy rasa Amanda akan menjadi anak mommy dan Daddy sampai ada yang melamar, bagaimana... apakah semua setuju." Pilihan mommy mencoba mencari solusi yang menurut ku tidak ada tepatnya, mengapa mereka tidak menanyakan padaku selaku wali hidup seorang Amanda.


"Jason tidak setuju mom. Itu akan sia-sia karena pada akhirnya Amanda tetap menjadi anak kalian melalui jalur menantu. Jadi kenapa harus repot-repot mencantumkannya dalam akta keluarga." Jason mengucapkan kata yang tidak ingin mendengar sepatah katapun jawaban dari kami, didukung dengan dirinya yang pergi meninggalkan ruang keluarga setelah berucap.


"Hon, lihatlah putra bungsu mu, jelas sekali kecemburuan jika dijadikan kakak, harus bujuk cepat-cepat sebelum melakukan hal aneh di luar nalar." Mommy bergegas menyusul Jason.


"Amanda tidak usah khawatir, Jason memang dimanjakan sedari kecil. Terkadang sikapnya memang begitu, kau tidurlah." Mengelus kepala Amanda sambil memberi mantra penenang.


"Ayo Amanda aku antarkan." Ajak ku mengulurkan tangan yang disambut hangat oleh Amanda.


Kami berjalan dengan tangan yang saling bertaut. Melewati anak tangga pertama, Amanda beralih merangkul tangan kiri ku, kemudian tersenyum manis tanpa menjelaskan tindakannya. Kami berjalan dalam diam sampai tiba di kamar Amanda.


"Masuklah, tidur yang nyenyak jangan pikirkan apapun." Cukup pikirkan aku saja, lanjut ku dalam hati.


"Ji, aku ingin mengobrol dengan mu, bolehkah?" Memasang raut memelas hanya untuk permintaan berbicara, bagaimana aku harus menolaknya.


"Yasudah, ayo berbicara di dalam saja." Kami melangkah menuju kursi santai yang tersedia di kamar Amanda.


"Ji, apakah Jason tidak nyaman dengan keberadaan ku. Dia terlihat marah saat pergi ke kamarnya." Amanda mulai mengutarakan rasa khawatirnya.


"Tidak, dia hanya tidak suka jika daddy memberi perhatian lebih kepada orang lain, sedang perhatian terhadap ku saja jika berlebihan dia akan mengurung diri di kamar seharian tanpa makan dan minum." Ucap ku memberi pengertian.


"Benarkah, tapi Jason nampak biasa saja mommy menyayangimu di depannya?" Heran Amanda karena saat bersama mommy, tak jarang mommy lebih perhatian terhadap ku daripada Jason.


"Bagi Jason daddy segalanya, mommy adalah mesin kasih sayang, dan aku adalah kakak yang harus dicontoh semua tindakannya. Jadi intinya dia tidak mau berbagi daddy dengan siapa pun." Pecinta daddy sejati adalah Jason dengan segala sikap protektifnya.


"Jason lucu sekali dengan sifatnya, ternyata dia sangat menggemaskan." Amanda selalu menyimpang dengan pemikirannya, dari segi apa seorang Jason menggemaskan.


"Sudah tidurlah, aku akan menyusul daddy dan Danda di bawah." Pamit ku, karena memang ada urusan bisnis yang harus segera dibicarakan.


"Temani aku sampai tidur dulu ya." Mengeluarkan jurus mematikan dengan tatapan memelas, dan jarinya yang menarik ujung baju yang ku kenakan.


"Baiklah, ayo cepat berbaring."


Dan disinilah aku berakhir, harus menemani Amanda tidur seperti anak bayi. Mengelus pelipisnya, menyanyikan sebuah lagu, dan memastikan Amanda benar-benar tidur.

__ADS_1


__ADS_2