Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
War Before Marriage


__ADS_3

Cobaan sebelum menikah terdengar seperti tahayul bagiku, tapi kini aku sadar semuanya benar adanya. Meski persiapan sudah matang seratus persen, aku bahkan yakin akan melalui hari-hari indah saat penantian hari pernikahan, semua sirna karena teror entah darimana.


Beberapa orang ahli milik Daddy dikerahkan, dan membuahkan hasil maksimal secepat mungkin. Usut punya usut pelakunya adalah mantan tangan kanan Adolf. Entah apa motivasinya, yang jelas dia tak suka aku dekat dengan Adolf. Mungkin dia takut aku ingin menguasai harta milik si kakek.


"Amberson, yang memerintah ku tuan." Jelas salah satu bedeb*h yang merusak wedding dress kami.


"Dasar lintah hutan, sudah ku pelihara bisa-bisanya kurang ajar." Adolf menggerutu, kakek tua ini ikut dengan ku mengatasi masalah yang sedang terjadi.


"Kau kenal?" Tanya ku yang belum paham.


"Dia tangan kananku, semua kuasa sudah ku alihkan padanya, dan lihat sehari kemudian keluargaku keracunan. Kini aku dekat denganmu kau pun terkena imbasnya, maafkan kakek tua ini Ge." Adolf merasa bersalah.


"Enaknya kita rebus saja orang-orang ini Ge, lalu kirimkan dengan kualinya sekaligus ke rumah Amberson." Usul Jason.


"Bukankah lebih baik jika kita lapor polisi." Sanggah Adolf tak tahu sistem kerja keluarga kami.


"Maaf kakek tua, bekerjasama dengan polisi bukan gaya keluarga ini. Semua bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan." Tukas Jason penuh maksud.


"Lakukan Jas, aku terima beres." Putusku akhirnya.


"Dengan senang hati." Balas Jason langsung memberi aba-aba untuk eksekusi.


Aku membawa Adolf keluar dari ruang bawah tanah, sedikit tak tega jika tiba-tiba dia terkena serangan jantung melihat langsung bengisnya Jason saat mengeksekusi. Ingin hati turun tangan langsung, tapi Daddy melarang keras. Tugasku hanya fokus untuk memulihkan kondisi tanganku yang terluka akibat ulah pribadi.


"Kau serius membiarkan Jason merebus manusia, bukankah terdengar mengerikan." Tanya Adolf saat menaiki tangga untuk keluar ruang bawah tanah.


"Lebih kejam Amberson kepadamu bukan, setidaknya prinsip keluarga ku masih tahu apa itu balas budi kek. Maaf, tapi biarkan semua balas dendam diatur keluarga ini saja." Jelasku membantunya mempercepat langkah, agar tak mendukung jerit orang-orang suruhan Amberson.


...****************...


"Lintah hutan yang kau pelihara bahkan mulai melakukan korupsi setahun setelah kau pungut. Kau rugi besar Adolf." Ucap Daddy menelusuri sepak terjang Amberson.


"Dan lebih lucu lagi dia membabi buta merusak perlengkapan gaun pesta hanya karena Adolf investasi sepuluh persen sahamnya pada butik kemarin." Imbuh Danda.


"Hah, aku pikir menolong anak yatim adalah tindakan terpuji." Celetuk Adolf penuh sesal.


"Bukan anak yatim yang membunuh kedua orangtuanya sekaligus hanya untuk mendapat tunjangan kesehatan juga, harusnya kau lebih teliti sebelum mengadopsinya." Jason menasehati meski semua sudah telat, tak dapat diubah.


"Mana tahu aku kalau dia seorang pembunuh. Lalu bagaimana harta yang aku titipkan padanya untuk anak yatim lainnnya." Bingung Adolf.


"Kau tenang saja, Danda akan mengurus semua itu." Terangku, karena aku tahu Danda sangat tak terima perihal apapun yang menyangkut menyakiti anak-anak terlebih mereka yatim piatu.


"Tolong ya, aku berterimakasih pada kalian semua." Ucap Adolf tulus.


"Tak usah sungkan, kita membuat perhitungan dengannya bukan atas namamu saja. Tapi karena berani menyentuh anakku tepat menjelang hari pernikahannya." Daddy mengenalnya tangannya mengingat kekesalan tempo hari.


Ruang tengah masih dihiasi dengan percakapan para lelaki mengena balas dendam terindah yang akan diusung oleh Jason sebagai eksekutor kali ini. Perbincangan mereka belum selesai, tapi aku harus undur diri segera mungkin karena mata Daddy hampir keluar memelototi ku yang tak kunjung pergi dari sana.


Daddy tak ingin aku ikut campur menghabisi Amberson. Pasalnya jika aku ikut, dia takut akan berimbas buruk pada hari pernikahan. Selain itu alasan terbesar Daddy, agar tubuhku tak menambah luka dan membuat malu saat pernikahan nanti. Konyol sekali bukan.


Enggan melawan manusia super kolot itu, aku melenggangkan kaki menuju lantai dua. Tapi sebelumnya aku ikut menimbrung dengan para wanita yang sedang berkumpul di ruang santai.


"Kalian belum pergi tidur?" Tanyaku sedikit membuat kaget ketiganya.


"Kau ini seperti hantu saja tiba-tiba datang, dan bersuara membuat merinding saja." Sewot Carmila selaku orang paling terkejut mendengar suaraku.


"Kami sedang sibuk, kau kemari sebentar." Pinta Mommy, yang tak tahu memang niat awalku adalah menimbrung dengan mereka.


"Bagaimana desain baju yang ini, kami sudah memilihnya kurang lebih selama tiga jam dan ini paling baik menurut kami." Tanya Mommy menyodorkan tablet miliknya.

__ADS_1


"Mom, ini terlalu sexy, ganti atau aku bakar." Sembarang sekali mereka memilih baju, sudah jelas kurang bahan masih saja digemari.


"Kau tidak tahu mode, ini gaya tahun ini dan sedang ramai diperbincangkan dunia Ge." Promo Mommy.


"Tidak-tidak, aku yakin Amanda juga tak akan nyaman memakainya nanti." Aku sedikit bermain mata dengan Amanda agar dia sekomando denganku.


"Benar mom, bukankah dari tadi aku sudah menolaknya, tapi tetap kalah suara." Curhat Amanda, seolah bersyukur telah ku selamatkan.


"Yasudah pilih, tapi jangan lama-lama, kita berburu waktu. Untung saja perancang busana kita mau mengambil resiko menyelesaikan gaunnya kurang dari dua hari. Lagian ada-ada saja orang gila itu, merusak kebahagiaan orang lain saja." Cerocos Mommy.


...****************...


Mayat dari tiga orang pesuruh Amberson sudah di kirimkan ke kediamannya. Saat ini aku, hanya memonitor dari layar saja apa yang di lakukan oleh Jason, Danda, dan juga Daddy.


"Paket apa yang kalian antar malam-malam begini?" Amberson keluar rumah dengan pajama coklat tua.


"Maaf tuan kami kurang paham, ini kiriman dari kantor cabang yang ada di bagian barat tuan, seperti itu informasi yang kami dapat dari jasa pengiriman kami." Samar Jason berlakon jadi kurir.


"Yasudah bawa masuk." Putus Amberson tanpa menaruh curiga.


Jason menyetir, membawa truk melewati pagar rumah Amberson. Tak lama pintu gerbang ditutup oleh penjaga rumahnya. Jason menurunkan barang berbentuk bejana raksasa dengan trol.


"Kami letakan disini tuan." Danda mendekati Amberson dan menyerahkan tanda terima paket.


"Ah, aku harus memeriksa isi paket tersebut. Bisa kau bantu aku membukanya?" Amberson meminta bantuan Jason.


"Tentu, tuan lebih baik ditandatangan setelah melihat isi paketnya terlebih dahulu." Jason mulai membuka katup bejana tersebut.


"Akkhhhhhhhh.....!" Teriak Amberson kaget bukan main bahkan matanya melotot seperti mau keluar.


"Yak kalian gila, mana aku lihat surat ekspedisinya." Pinta Amberson memeriksa siapa pelaku pengiriman mayat tersebut.


"Kau tak ingat?" Daddy turun dari mobil dan mengintrogasi langsung.


"Untuk apa mengingat nama yang bahkan terasa asing dan tak penting bagiku." Sombong Amberson menatap balik mata Daddy.


Amberson cukup berani dan tak gentar dengan suguhan mayat yang kita beri, meski tadi sempat teriak histeris saat pertama kali melihatnya. Mata tajamnya yang menatap balik Daddy menandakan bahwa dia siap tempur saat ini juga. Kali ini cukup menarik karena berhadapan dengan psikopat, sayang aku tak ikut terjun lapang.


"Kalian masuklah dulu dalam rumah, bantu aku menyiapkan tempat untuk menerima paket ini. Tenang saja aku akan bayar dengan nominal tinggi." Kurasa Amberson ingin sedikit bermain dengan Daddy dan yang lain, dia tak tahu saja sedang berhadapan dengan siapa.


"Maaf tuan, kami tak berani jika bersangkutan dengan pembunuhan. Meski kami layanan antar ilegal dan sudah terbiasa melihat mayat, tapi kami tak ambil bagian dalam membereskan mayatnya." Jason bersilat lidah agar Amberson mengendurkan rasa waspada.


"Tidak, aku tak meminta kalian membereskan mayat-mayat ini. Cukup bantu aku membawanya ke dalam rumah, tak butuh waktu berjam-jam dan kalian bisa menikmati uang tak ternilai, bukankah hari ini keberuntungan kalian?" Amberson mencoba merayu dengan tipu daya yang aku yakin Daddy tahu itu.


"Baiklah, kau harus berjanji memberikan imbalan setelah tiga selesai. Bagaimana, apakah kalian setuju?" Tanya Danda, bersandiwara meminta pendapat.


"Tentu saja." Jawab Daddy.


"Tidak buruk." Sahut Jason.


Amberson tersenyum culas, seolah berhasil mengelabuhi mereka tanpa tahu dia telah memasukkan harimau ke rumahnya sendiri. Aku semakin terbawa dengan apa yang aku tonton dari monitor, tapi sempat terputus karena tadi aku mengawasi melalui kamera tersembunyi dari sisi mobil truk. Untung saja Felix tidak hanya memasang satu kamera tersembunyi. Jadi aku masih bisa mengikuti alurnya dari jauh.


"Jadi kita harus letakkan dimana?" Tanya Jason tak sabar setelah memasuki rumah Amberson.


"Ah kalian bisa survey tempatnya dulu, agar lebih mudah nanti saat proses bawanya. Mengingat bejana itu terlalu besar untuk di bawa 3 orang." Jelas Amberson menggiring mereka sepertinya ke ruangan rahasia.


"Kau tinggal sendirian di rumah sebesar ini?" Danda sengaja mengorek informasi.


"Untuk malam hari iya, kalau pagi sampai sore ada asisten rumah tangga dan tukang kebun yang membantu." Jelasnya santai.

__ADS_1


"Hem...begitu." Balas Danda malas melanjutkan.


Mereka berjalan cukup lama dan akhirnya sampai di ruang bawah tanah. Daddy sadar dan tersenyum licik saat tahu pintunya terkunci otomatis ketika mereka semua masuk ke ruangan tersebut.


"Dan karena kalian sudah di bawah sini bukankah sudah saatnya kita berpesta." Amberson mengenakan masker gas, sepertinya dia menyebarkan gas beracun atau sejenisnya.


"Apa maksudmu tuan?" Danda mendekati Amberson yang berdiri di dekat sebuah tiang besar.


"Tentu saja aku ingin mencicipi tubuhmu yang sedari tadi membuat jantungku berirama tak normal." Amberson mengelus rahang Danda.


"Sinting kau." Danda menepis tangan Amberson sampai membentur tiang.


"Wow, tenaga mu luar biasa. Padahal biasanya dalam sepuluh detik saja orang lain sudah terbujur pingsan dengan gas tidur yang aku nyalakan." Bongkar Amberson, tanpa diminta.


"Kau, yakin gas tidur yang kau maksud menyala dengan benar?" Ledek Danda menarik paksa masker gas yang dikenakan Amberson.


"Yakkk...!" Amberson teriak kesakitan, karena tali masker tersebut putus dan membuat wajahnya merah memar.


"Hirup sedalam mungkin, dan pastikan sendiri gas apa yang kau maksud." Danda bersedekap tangan menyaksikan kepanikan Amberson.


Panik mendera Amberson, dia mulai memencet semua tombol tersamar yang ada pada tiang besar tersebut tanpa tahu semua kerja mesin di rumahnya telah di nonaktifkan oleh Felix.


"Yakkk, siapa sebenarnya kalian." Tanya Amberson.


"Utusan malaikat maut untuk mencabut nyawa psikopat seperti mu." Jawab Jason yang mulai membuka tirai penutup yang ada di ruangan tersebut.


"Wow, lumayan juga karyamu." Siul Daddy melihat beberapa tubuh laki-laki yang diawetkan dalam lemari kaca berisi cairan pengawet dengan pose-pose menjijikkan, aku rasa Amberson seorang psikopat pecinta sesama jenis.


"Meski tua matamu cukup jeli dalam menilai." Bangga Amberson akan hasil karyanya.


Jarak Daddy dan Amberson sekitar lima belas langkah, diterjang olehnya dalam hitungan detik lantas mencekik leher Amberson hingga membuatnya tak berkutik.


"Meski muda matamu tak cukup tahu siapa yang bisa kau lawan dan harusnya kau hormati." Daddy mencampakkan Amberson sampai terhuyung ke lantai.


"Hyakkk, rasakan ini." Amberson bangkit, menendang kaki Daddy sekuat mungkin.


"Hanya itu kekuatan yang kau punya? Kau salah memilih lawan." Ejek Daddy, karena tendangan Amberson bahkan tak terasa baginya.


Amberson membabi buta, mulai menyerang Daddy dari segala arah dengan pisau yang terselip di saku bajunya. Tak membuahkan hasil, Amberson menodongkan pistolnya di muka Daddy.


Aku yakin Daddy merasa muak melihat tingkah sok jagoannya. Alhasil, Daddy menepis pistol tersebut lalu merobohkan Amberson dengan menendang perutnya. Setelah terkapar di lantai, Daddy dengan sekali injak mampu menghilangkan nyawa Amberson.


"Kita tak ada waktu bermain dengan bocah ingus9 seperti mu." Ucap Daddy menyelesaikan permainan hari ini.


"Dad, kenapa dibunuh. Jason belum menyentuhnya sama sekali." Protes Jason tak terima.


"Aku harus cepat menemui Mommy mu yang sudah lima menit lalu menelpon untuk menemaninya minum teh." Jelas Daddy.


"Ah, tidak seru." Celetuk Jason, lantas meludahi mayat Amberson sebagai ungkapan rasa kesalnya.


"Ada apa?" Tanya Daddy sesampainya di pintu keluar, melihat Danda yang sibuk sendiri berusaha membuka pintu.


"Aku tak bisa membuka pintunya." Jelas Danda.


"Yakkkk.... Felix, akan ku cincang kau jika hitungan kelima pintu ini belum bisa dibuka juga." Teriak Daddy dari sana.


Kletakkkk, pranggg... Felix yang kaget langsung menjatuhkan tablet miliknya. Aku yang ada disampingnya hanya tertawa bahagia melihat wajahnya yang seperti kehabisan darah.


"Matilah aku." Ujar Felix frustasi.

__ADS_1


__ADS_2