Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
Adolf vs Jason


__ADS_3

Argumen adalah milik semua makhluk hidup tak pandang usia muda atau tua. Meski demikian seperti sudah mendarah daging kita sebagai manusia muda harus mengalah argumen jika dengan orangtua. Tapi tidak bagi Jason, prinsipnya argumen Daddy seorang yang tak dapat ditentang olehnya, selain itu masih bisa dirundingkan.


"Ya bukan salah ku kalau kau jadi tumbal kesialan Gerlard. Kenapa manusia kaya raya seperti mu, ada mansion semewah ini sampo saja mengemis pada pengantin baru." Ledek Jason tak mau disalahkan.


"Apa salahnya meminta pada anak sendiri, aku tak merugikan mu Jas." Balas Adolf.


"Nah, kalau seperti itu jangan salahkan aku. Salahkan nasibmu saja yang sudah tua dan selalu sial." Jason memang titisan si pahit lidah.


"Tua seperti ini jika duel dengan mu aku tak mungkin kalah." Tukas Adolf percaya diri.


"Hemm, jangan mentang-mentang sekarang kita ada di mansion mu kau bisa melakukan taktik kepadaku. Jangan menantang manusia beruntung sepertiku kawan." Jason berucap tengil.


"Yasudah kalau tak ada nyali, tak usah berbelit." Adolf yang awalnya menatap Jason kini berbalik menghadap ke arah televisi.


Akibat ulah Jason, malam-malam keluarga ku yang ada di vila semuanya ikut ke mansion Adolf untuk melihat kondisinya. Sebenarnya tak separah itu hanya rasa kesal Adolf harus dilampiaskan, jadi dia menelpon Daddy meminta Jason untuk datang, tapi malah semua ikut serta.


"Sudah malam, lebih baik kalian menginap disini." Aku mengambil suara setelah beberapa menit lalu dikagetkan dengan kedatangan rombongan keluarga.


"Tidak untuk Jason." Adolf meski sudah tua kadang sulit diatur.


"Katanya mau duel, menurutku lebih baik semua tidur disini supaya bisa lebih pagi duelnya, sekarang tidur dan menyusun duel macam apa yang akan dipertandingkan." Saran Amanda, kesal karena perkara ribut Jason dan Adolf tak usai dan menyita waktu tidurnya yang berharga.


"Nah aku setuju. Tumben otak mu terpakai, bukan berarti aku sudi tidur di rumah jelekmu ini kakek tua." Meski setuju tetap saja saling debat.


"Hah, yang tua memang harus mengalah dengan daun muda tak tau diri." Balas Adolf tak mau kalah.


Tepat pukul satu malam kami menuju kamar masing-masing. Sebelum masuk kamar Adolf mengeluh akan tingkah Jason yang menggangu tidur jndahnya. Aku bukan tipe orang yang keberatan tidur terganggu, tapi aku tipe orang yang ingin menonjok Jason karena ulahnya aku tak tidur dengan Amanda malam ini.


"Mom, tidak usah aneh-aneh." Tolakku tak terima dengan usulan Mommy.


"Aneh darimana, kau tinggal tidur dengan Daddy sedang aku dan Carmila tidur dengan Amanda." Mommy terus menggandeng tangan Amanda erat.


"Tapi mom, Mommy harusnya tidur dengan Daddy saja, lihat Daddy seperti mau menangis." Bujukku.


"Jangan bawa-bawa aku dalam negosiasi mu Ge." Daddy menolak dengan gaya khasnya bersedekap dada.


"Ayolah mom, aku belum genap sebulan menikah mana bisa tidur tanpa istri." Rengekku gencar.


"Tidak, sekali tidak tetap tidak. Aku tak mungkin membiarkan Carmila tidur sendirian, jadi lebih baik kita tidur bertiga." Hah, Dalton kepa*rat kenapa juga harus meninggalkan istrinya pulang ke Chicago.


"Mom, aku ikut tidur dengan kalian saja kalau begitu." Aku bergegas memeluk Mommy erat.


"Yakkk, lepaskan kau berat Gerlard." Teriak mommy penuh tolakan.


"Bisa tidak jangan rusuh di mansion ku, dasar manusia-manusia tak tahu waktu." Adolf teriak dari lantai dua.


Jedarrrrrr

__ADS_1


Orang usia lanjut memang banyak yang terkena tekanan darah tinggi, Adolf contohnya. Akibat kita tak kunjung tidur dan ribut-ribut kecil di ruang tengah miliknya, Adolf membanting pintu kamarnya setelah memberi peringatan. Mau tak mau semua anggota keluarga bubar.


Enggan rasnaya kaki melangkah dari lantai ini, aku menatap tak percaya aku diusir dari kamar ku sendiri. Aku menderita menatap pintu kamarku yang dibanting tepat di depan wajah saat akan ikut serta mereka tidur bersama. Alibi mereka butuh waktu khusus perempuan.


Dua jam lamanya aku mondar mandir di ruang tengah, kantuk tak kunjung menerpa hanya rasa dingin yang menemani. Aku resah, gelisah jika bukan karena itu Mommy, mungkin aku sudah membumi hanguskannya. Ah, sialnya aku tak terkena jebakan Jason malah tidur tanpa jatah malam ini.


Pagi menjelang semua sudah siap untuk sarapan bersama kecuali aku yang baru saja dapat akses masuk kamar untuk mandi dan bersiap.


"Sayang, hei kenapa wajahmu penuh kantuk, pa kau tak tidur semalaman?" Amanda memelukku dan memberi kecupan sayang di dahi.


Aku tak menjawab, ku balas pelukan itu erat, menghirup aroma tubuhnya sedalam mungkin. Aroma ini, aroma yang mampu mengembalikan energi yang sempat hilang kini tergantikan semangat juang. Ah, leganya.


"Sayang, aku ingin." Ucapku memulai pembicaraan tentang jatahku yang raib semalam.


"Sayang aku sudah mandi, lagi pula kita sudah ditunggu untuk sarapan." Tolak Amanda.


"Kau tega denganku sayang." Aku memasang muka semelas mungkin.


"Huekkkk, kau tak cocok untuk itu Gerlard. Cepat mandi, Amanda akan turut serta dengan Mommy ke bawah sebelum kau terkam dan membuat kita menunggu lebih lama lagi." Mommy tiba-tiba datang.


Pelajaran penting bagi suami istri yang masih tinggal bersama keluarga, tolong diingat kuncilah pintu kamar setiap saat jika ingin momen-momen mu tak terganggu.


Usai sarapan bersama, semua orang diberi arahan oleh Adolf untuk berganti pakaian olahraga. Kali ini Jason menyerahkan semua jenis duel pada Adolf sebagai bentuk hormatnya kepada orang yang lebih tua dan pasti mendapat kekalahan telak.


Pruiittttt


"Waktunya berkumpul, semua peserta di tunggu di kolam renang." Komando wasit perlombaan.


Entah kapan Adolf mencari wasit dadakan, yang jelas sekarang kolam renang disulap menjadi arena perlombaan. Ada juri untuk setiap perlombaan, bahkan komentator pun siap sedia.


"Yak, kakek tua kau niat sekali mempermalukan diri dengan kekalahan." Komentar Jason dengan pemandangan yang dilihatnya.


"Jangan mengecewakan dirimu sendiri Jas, aku yakin tak pernah kalah dalam lomba seperti ini." Adolf berbangga diri.


"Terserah, aku tak ambil pusing karena aku pasti lebih unggul meski harus mengikuti arahan olimpiade konyol macam ini." Jason tersenyum jahil.


"Hello semua, karena peserta sudah siap dan tak sabar mengikuti rangkaian perlombaan kali ini, mari kita mulai dengan memilih regu masing-masing." Moderator ambil alih kuasa jalannya pertandingan.


"Kita sambut penantang utama tuan Adolf Bastian." Seru pemandu acara.


Riuh tepuk tangan pelayan Adolf memenuhi cakupan kolam renang, dan hanya Jason yang berteriak huuuu.


"Dan penantang muda kita, tuan Jason D Dark." Lanjut moderator.


"Huuuuu...." Kompak sorak para pelayan Adolf.


"Waktunya pembagian kelompok regu, kali ini akan di bagi berdasarkan lempar koin, silahkan memilih masing-masing sisi koin." Moderator melemparkan koin setelah dua orang sepakat dengan pilihan masing-masing.

__ADS_1


"Pemenangnya tuan Adolf, dipersilahkan memilih anggota regu." Perintah moderator.


"Aku memilih Amanda, Carmila, dan Jessica." Tukas Adolf santai.


"Tidak bisa begitu, mana boleh, aku tak mau dipisahkan dengan Amanda." Teriakku tak terima.


"Baiklah, kita harus mengikuti alur permainan. Jadi kelompok sudah ditetapkan." Tukas moderator.


Olimpiade dadakan yang diadakan oleh Adolf berlangsung meriah. Ada empat lomba yang disuguhkan yakni catur, renang, makan, dan tebak bibir. Lomba catur duel antara Jason dan Adolf, renang tentu saja Daddy dengan Mommy, makan aku lawan Amanda, sedang tebak bibir Carmila lawan Danda.


Tua-tua sangat ahli strategi, meski kita dalam ajang perlombaan dunia sungguhan, siapa yang mampu melawan wanitanya. Pilihan Adolf sangat curang, dia sudah mengantongi kemenangan dari tiga jenis perlombaan. Meski babak ini tak diperlukan lagi Jason tetap kekeh ingin bermain.


"Jangan seenak jidatmu kakek tua, aku tak perduli dengan kemenangan para wanita, kau licik sekali walau sudah tua." Seru Jason tak terima.


"Biasa orang yang sedang terpojok dan sudah kalah selalu banyak bicara." Adolf mengejek dengan senyum simpul.


"Yak, ayo bermain catur aku tak mungkin kalah denganmu. Pertarungan ini adalah penentu siapa yang unggul disini." Jason mendahului kami semua menuju papan catur yang telah disediakan.


"Hei, mana bisa begitu, kemenangan sudah mutlak milikku. Untuk apalagi bermain." Tolak Adolf, meski menolak tetap mengikuti Jason.


"Tak tahu diri, yang ada masalah itu kau dan aku lantas kenapa berpuas diri dengan hasil jerih payah orang lain, dasar tua bangka." Jason menyusun bidak catur.


"Jangan menangis di ketiak Jessica nanti ya." Ledek Adolf.


Tak butuh waktu lama, hasil pertandingan sudah terpampang jelas. Adolf unggul dari Jason, mengalahkannya hanya butuh kurang dari sepuluh menit saja.


"Arghhhhhhh, kau curang." Teriak Jason tak terima.


"Hahahaha kau lucu sekali Jas." Adolf berdiri dari tempat duduknya lalu memeluk Jason.


"Hah, jangan mengasihani ku kakek tua." Ucap Jason dalam peluk.


"Terimakasih telah menemaniku bermain, terimakasih sudah menjadi cucu yang luar biasa untuk ku, terimakasih tidak bersikap baik di depan ku hanya untuk ke pura-puraan. Aku tahu kau tak kalah perhatian dibalik semua mulut busukmu Jas, aku rasa aku bisa pamitan sekrang." Ucap Adolf, masih terdengar oleh semua orang.


"Jangan bersikap seperti ini, kau membuatku takut, dasar manusia tua." Balas Jason, membalas pelukan Adolf.


"Aku amat bahagia." Balas Adolf.


Kami semua ikut tersenyum senang melihat pemandangan kucing dan tikus yang ternyata saling mengasihi. Lelah juga melihat mereka tengkar, dan harus ikut dalam pertengkaran mereka sejauh ini. Kami bahkan rela menghabiskan hari libur untuk perlombaan tak jelas ini.


"Yakkkkkk, kau kenapa?" Teriak Jason, karena tubuh Adolf melemas dipeluknya.


Semua orang berlari mendekat, Daddy memisahkan tubuh Adolf dan Jason secara paksa. Dan betapa terkejutnya semua manusia disini, karena Adolf telah dijemput malaikat maut dengan kondisi tersenyum dalam pelukan Jason.


"Adolf sudah tiada." Jelas Daddy.


"Tidakkkkkkkkkkk." Teriak Jason histeris.

__ADS_1


__ADS_2