
Keterpurukan cukup menggerogoti kehidupan kami beberapa waktu lalu. Namun kini, lambat laun semua sadar, kita hidup bukan untuk menangisi masa lalu lantas lupa menatap masa yang akan datang. Perombakan segala aspek mulai dibentuk, guna menata hidup perlahan tapi pasti. Songsong masa depan dan jangan biarkan usaha yang telah jauh di bangun Adolf ambruk akibat perasaan suram kita. Bukan berarti kita melupakan Adolf, jiwanya masih kekal memiliki ruang di hati.
Perombakan sebagai langkah awal yang aku ambil, selaku pewaris perusahaan Adolf adalah memecat beberapa karyawan yang tidak berguna. Tentu saja semua berjalan tak semulus harapan. Ada kerikil-kerikil kecil yang menghambat. Kata tak setuju tak sekali dua kali ku dengar. Namun apa peduliku, ini perusahaan ku, aku bebas untuk itu.
"Tuan tidak bisa melakukan itu semua pada kami." Teriak salah satu kepala bagian produksi.
"Lalu, membiarkan terus menikmati pundi-pundi ilegal yang kau dapat dari perusahaan ku?" Sindirku culas.
"Maksud tuan apa, kami sudah mengabdi puluhan tahun di perusahaan ini, dan semuanya baik-baik saja." Sanggahnya dengan peluh mulai bercucuran.
"Maksud ku jelas, memotong garis korupsi selama bertahun-tahun yang membuat perusahaan Adolf mandek di urutan lima perusahaan terkemuka di Denmark." Aku tak ingin mendengar ocehannya dan bergegas menuju ruangan selanjutnya.
Letih rasa kaki dan mulut memecat sampah perusahaan sepadan dengan hasil yang ku peroleh. Total ada lima ratus tujuh puluh empat sampah dalam balutan tubuh manusia yang aku singkirkan. Mereka membentuk kelompok-kelompok besar untuk saling tutup dalam hal suap dan saluran dana korup lainnya. Pantas saja korup di perusahaan ini seolah menjalar ke seluruh departemen, akarnya saja ada pada tangan kanan Adolf. Aku rasa aku memang ditakdirkan untuk menjadi pewaris dan membuat Adolf bangga melihatku dari langit.
"Bos apa yang harus kita lakukan untuk kekosongan posisi dalam jumlah terhitung tak sedikit ini?" Felix yang sedari tadi membantu ku berkeliling dan memecat langsung semua sampah langsung bertanya saat kita baru saja duduk di meja kantin perusahaan.
Aku menyesap jus jeruk untuk menghilangkan dahaga, lalu menjawab pertanyaan Felix," Kau bertanya padaku?"
"Tidak aku bertanya pada pohon rindang yang sedang bergoyang di belakang mu." Sewot Felix, meminum jus jeruknya hingga tandas.
"Itu tugas mu mencari orang, kenapa masih saja bertanya." Jawabku malas.
"Bos yang benar saja, bisa mati burungku jika terus-menerus kerja tanpa kenal istirahat. Aku butuh liburan, aku butuh waktu bersama Jolie." Keluh Felix yang memang selalu aku bebani dengan banyak tugas, salahnya sendiri memiliki kemampuan apik.
"Tidak ada karyawan di seluruh bumi yang di gaji sebesar aku membayarmu, jadi sudah sepantasnya aku banyak menuntut mu." Ujarku, sembari memesan minuman isotonik karena jus jeruk saja tak mampu melawan dahaga kali ini.
"Kau ini bagaimana sih bos, mereka tak di gaji sebesar diriku karena perkerjaannya hanya fokus pada satu bidang saja. Sedang aku semua hal kau minta, ngomong-ngomong aku juga mau tambah minuman." Benar apa yang di katakan Felix.
"Kau butuh banyak uang untuk menikahi anak orang bod*h." Aku coba meyakinkan Felix agar tetap sudi ku perintah di luar tanggung jawabnya.
"Jolie tak banyak tuntutan, sudah jangan merayu, tekad ku sudah bulat sana cari sekertaris baru, atau Amanda saja yang bekerja disini, atau aku bunuh diri saja agar kau puas." Felix mulai meniru gaya bicara Jason.
"Kau kerasukan? Bunuh diri juga siapa yang peduli." Karena pada hakikatnya Felix adalah seorang anak panti hidup semata wayang.
"Aku punya Jolie sekarang, jika kau lupa." Jawabnya menyulitkan ku.
"Yasudah nanti aku minta Danda saja, dasar tak becus bekerja." Ledekku sedikit bercanda.
"Yakk, kau semakin semena-mena saja setelah menikah, aku tak becus bekerja seperti ini saja masih kau pakai lebih dari yang lain, apalagi kalau becus." Kesal Felix, memakan menu santap siangnya dengan brutal.
__ADS_1
"Kau menjijikkan, seperti tak pernah makan." Aku menikmati penderitaan Felix.
"Kau..auuxxx...awukkkkm.....awukkkk..." Cerososnya tak jelas karena bicara dengan mulut penuh.
...****************...
Jiwa muda badan jompo, itu yang aku rasakan saat ini. Lelah berjalan mengelilingi gedung seratus dua belas lantai membuatku encok disegala engsel tulang. Berendam air dingin, minum teh hangat sembari pijat rileksasi tetap tak berefek kali ini. Rasanya membunuh ratusan orang tak pernah semelelahkan ini. Apa aku pensiun saja dari kantor ya, tapi baru sehari bekerja. Hah, serba salah.
"Terus menghela napas, dan itu akan memperpendek umurmu." Celetuk Amanda yang baru selesai berpakaian.
"Kejam sekali mendoakan suaminya cepat mati." Aku memonyongkan bibir meniru Amanda saat merajuk.
"Dih, jangan pernah bertindak seperti itu di luaran sana. Aku yakin selain hujatan, orang yang melihatnya akan trauma." Tukas Amanda membekap mulutku. Apakah tampangku saat ini benar-benar tak enak dipandang, ingatkan ku untuk bercermin sambil monyong nanti.
"Yakk, kau kasar sekali. Aku sedang mencoba mencari nafkah dengan benar tahu, bukannya di dukung malah diperlukan tak enak." Kesal, lalu aku masuk selimut dan menutupi seluruh badan.
"Yakin akan terus merajuk, malam ini bukannya malam Jum'at loh sayang." Amanda membuka selimut bagian kepalaku, lalu meniup hidungku sampai merinding sekujur tubuh aku dibuatnya.
"Jangan menangis jika tidak bisa berjalan esok hari." Salahkan Amanda yang sudah lancang membangunkan gairahku.
...****************...
...*Sia*l, kemarin meneror ku dengan pesan minta tolong. Ini pagi sekali aku datang ke kantormu, kau belum datang. Dasar Gerlard seta*n neraka paling dasar, musnah saja kau.*...
"Kau mau bawa bekal atau tidak?" Tanya Amanda yang melihat aku menghampirinya dari lantai dua.
"Heiii, kenapa cepat sekali mencium keningnya, kau langsung berangkat tanpa sarapan?" Protes Amanda sedikit tak mengerti.
"Sayang maaf, aku ada janji dengan Danda, nanti ku telpon." Aku mencomot satu sandwich lalu sedikit berlari menghemat waktu menuju garasi.
Danda bukan orang yang mentolerir keterlambatan. Lagipula kali ini aku yang butuh dia, bukan sebaliknya. Dalton saja tak berani berurusan soal waktu dengan anak kandungnya, apalagi aku yang berstatus sepupunya ini. Aku harap dewi fortuna masih memihak padaku.
Hampir tiga puluh menit aku tiba di kantor. Mendapati raut masam Danda dengan aura negatif disekitarnya. Ingin hati mendampratnya bersikap seperti itu padaku, tapi tak mungkin bukan. Hah, sulit memang berbisnis di jalur surga. Aku rindu bisnis neraka ku.
"Jam berapa ini?" Danda menatapku sangar.
"Eits, kau harus tau urusan orang sudah menikah kadang tak bisa dikesampingkan. Maaf tapi aku ada urusan dengan Amanda yang tak mungkin ku ceritakan padamu." Semoga dengan membawa nama Amanda dia sedikit menurunkan raut masamnya terhadap ku.
"Yasudah, cepat duduk malas sekali menatap mu dari posisi ini." Ucapnya seperti atasan ku saja.
__ADS_1
"Aku butuh orang untuk beberapa departemen yang kosong." Aku memberikan file karyawan kosong saat ini yang terletak di atas meja kerja ku.
"Gila, ini cari dimana sarjana sebanyak ini?" Danda mengangkat alis.
"Itu urusanmu, kalau aku tau mana mungkin meminta bantuan mu." Lagipula aku merasa kau tindas saat ini, lanjutku dalam hati.
"Jangan berpikir konyol untuk memindahkan sebagian orang kantor lama mu ke kantor ini Ge. Ingat mereka milikku sekarang." Ujarnya tahu maksud terselubung dari permintaan tolong yang aku ajukan.
"Ya jika kau tak keberatan, aku tak masalah." Balasku, yang kini mulai duduk santai karena Danda mulai menurunkan nada bicaranya yang semula ketus.
"Tak keberatan gundulmu." Ledekannya terasa asing bagiku, ini pasti ajaran sesat istriku.
"Maksudnya?" Tanyaku tak paham.
"Sudahlah, sulit memang bicara dengan orang udik." Imbuhnya dengan ledekan yang aku tak mengerti.
"Hei, jangan mengataiku udik, aku tak suka meski tak tahu. Dan aku rasa aku tak butuh sarjana untuk beberapa departemen. Aku butuh anak-anak mu yang sesuai dengan bidang yang dikuasai mereka." Anak panti Danda jelas terlatih dengan mahir, di tambah sudah ada banyak dari mereka yang memasuki usia kerja.
"Baiklah, nanti aku akan menghubungi pihak panti dulu, tapi mungkin tak banyak, karena sebagian sudah di pekerjaan oleh Daddy." Jelas Danda, dan ternyata aku kecolongan oleh Dalton yang selangkah lebih cepat memanen anak-anak Danda.
"Cih, masih butuh bantuan kita juga si tua satu itu. Dulu sangat menentang kau punya panti." Aku meracuni pikiran Danda agar menarik kembali anak asuhnya yang ada pada Dalton.
"Daddy sudah berubah." Jawab Danda tak tahu saja kelakuan busuk Dalton.
"Kau tahu, terakhir aku mengunjunginya di Chicago, jika tak salah ingat namaku, Jason, dan kau disematkan pada harimau peliharaanya." Kompor sekali aku hari ini.
"Yak, masih saja kurang ajar ternyata manusia itu." Nah, bahkan anaknya saja tak terima namanya disematkan pada binatang.
"Nah, sudah tarik semua saja anak asuhmu dan pekerjakan untukku." Bujukku kemudian.
"Ck, picik sekali pikiranmu, aku tak mungkin membuat bimbang anak asuhku dengan berpindah-pindah tempat sedang mereka butuh penyesuaian dengan orang dan lingkungannya yang baru. Sudah jangan harap aku menarik mereka untukmu." Putus Danda mutlak.
"Kalau begitu kau saja yang jadi tangan kananku seperti biasanya." Tawarku cerdas.
"Aku malas bekerja di bawah mu, kau kadang membuatku muak dengan tingkah semrawut mu." Tolaknya dengan melempar hinaan.
"Menolak adalah persetujuan yang tertunda." Aku yakin dia dan Jason tak pernah ingin jauh dariku sedari dulu.
...****************...
__ADS_1
Satu minggu tepatnya tawaran ku layangkan pada Danda, tapi sejauh ini tak ada kabar darinya. Danda hanya mengirim anak asuhnya sekitar dua ratus orang dan membiarkan ku harus merekrut orang dengan jalur pencarian karyawan baru lewat beberapa rangkaian tes. Untunglah aku melihat banyak manusia potensial dalam bekerja, tapi tak tahu dari sisi kesetiaan sebaik anak asuh Danda atau tidak.
Ratusan karyawan baru menanti sambutan dariku, hari ini adalah hari pertama mereka resmi ditempatkan sesuai minat dan bakat. Tak ada kata magang dalam perusahaan ku, mereka dituntut belajar lebih keras di perusahaan ini. Lagipula terkadang ide-ide brilian muncul dari anak-anak muda yang baru terjun dalam dunia kerja. Dan aku menaruh banyak harapan pada itu.