
Menjadi kaya jalur surga memang bukan impianku, bayangkan aku harus berkutat dengan setumpuk berkas dan menghabiskan banyak waktu hanya untuk mendapat kesempatan suatu proyek. Meski tak pernah gagal bukan berarti aku suka mengerjakan semua ini. Belum lagi banyak perusahaan baru yang memiliki daya saing tinggi saat ini. Bahkan perusahaan ku yang kini dipimpin oleh Danda memiliki kemajuan amat pesat dibawah naungannya. Betapa menyebalkan kenyataan itu.
Laporan kinerja akhir tahun yang harus aku periksa, dan berkas strategi target capaian tahun depan menumpuk sejajar di atas mejaku. Melihatnya saja sudah mual apalagi menyentuhnya. Bisa saja aku meminta sekretaris ku untuk menyelesaikan semua ini. Tapi aku takut tak sesuai dengan pikiranku. Aku sedang mabuk kerja, karena sedang bersaing ketat dengan Danda.
Kalah tak ada dalam sejarah hidupku sejauh ini. Tapi kemarin, perusahaan yang aku pimpin yang semula berada pada posisi lima teratas, harus menelan pahit kenyataan karena tergeser oleh perusahaan Danda. Bukan sedikit cemoohan yang aku peroleh dari anggota keluarga. Mengataiku hebat hanya dalam dunia gelap saja dan tak becus mengurus harta warisan Adolf. Lihat saja akan ku buktikan aku bisa sukses dalam semua jenis pekerjaan.
"Tuan, Cecil dan Albert sudah memeriksa berkas dari departemen keuangan ada beberapa hal janggal yang perlu ditinjau ulang." Lamunan ku buyar karena Bryan salah satu sekretaris ku menarik paksa aku untuk kembali pada kenyataan.
"Kumpulkan mereka semua di ruangan ku setelah jam makan siang, kau boleh pergi, aku butuh waktu sendiri." Aku memiliki lima orang sekretaris sekaligus, selain mereka bertiga masih ada Mirna dan Jaden. Tentu mereka semua anak asuh Danda yang tak diragukan kredibilitasnya padaku.
Aku menekan pelipis ku dengan tangan kiri, pusing juga jadi kepala keluarga. Baru saja aku ingin santai dari berkas, dan mengalihkan beberapa pada sekretaris, Amanda malah meneror ku dengan pesan bahwa dia ingin liburan akhir tahun. Ancamnya jika tak jadi juga dia akan liburan seorang diri.
Aku bisa saja liburan semauku jika kondisi perusahaan sudah stabil. Tapi tidak untuk saat ini, bisa turun drastis nama perusahaan di dunia kerja. Sebenarnya Amanda juga sibuk mengelola butik tapi alangkah menakjubkan kinerjanya, hingga mampu membuat mulut keluarga menganga saat tahu keuntungannya saat ini. Tak ada pengalaman sebelumnya dalam urusan mengelola butik, makanya dia selalu membandingkan hasil kerjanya denganku.
"Bos, Arab meminta pasokan senjata tambahan, kali ini tak tanggung mereka meminta kiriman sampai dua ribu tujuh ratus senapan." Ucap Felix setelah aku menerima telponnya.
"Lalu?" Aku tak mau tahu urusan dunia gelap lagi, kenapa Felix masih saja membawaku bersamanya.
"Aku butuh persetujuan mu bos, dan tolong pecat Jason mual aku kerja dengannya." Dumel Felix, tak suka.
"Beri setengahnya saja, lagipula mereka belum lama transaksi dengan kita kenapa sudah ingin transaksi lagi." Senapan bukanlah barang mudah habis dalam setahun bukan.
"Baiklah, kapan kau kembali? Aku bosan terjun langsung ke lapangan, kadang aku terkena serangan bandit-bandit juga, aku tak suka tubuh mulusku tergores." Curhatnya, yang selama ini hanya bertugas jadi peretas saja.
"Nanti kalau aku sudah punya keturunan, kau berdoa saja." Jawabku acak.
"Yakk, kau idi*ot atau bagaimana, keburu aku mati terlalu banyak menghabiskan waktu dengan Jason." Teriaknya di seberang sana.
Pekerjaan gelap yang menghasilkan pundi-pundi dolar ku serahkan pada Felix dan Jason. Meski demikian, keduanya sulit untuk akur. Felix lemah dalam hal tempur, tapi kadang Jason malas melindunginya. Jadilah setiap ada transaksi dan serangan dadakan, Felix mencak-mencak padaku.
Aku memutar otak, kali ini ada tiga pokok tanggungan yang harus aku selesaikan dalam kurun waktu bersamaan. Masalah perusahaan, masalah dunia gelap, dan masalah nomer satu yaitu mengabulkan keinginan istriku. Alhasil aku pergi meninggalkan kantor dan membatalkan janji temu dengan semua sekretaris.
"Loh sayang, kau pulang lebih awal atau sedang istirahat?" Tanya Amanda kaget karena aku mendatangi butiknya tanpa mengabari.
"Aku sedang tak mood kerja." Aku memeluknya mengabaikan puluhan pasang mata yang melihat.
Amanda mencubit perutku dan berbisik," malu."
"Kenapa mesti malu, biasanya kau kurang kalau hanya di peluk." Godaku.
"Yakkk, manusia tak tahu tempat." Seru Amanda melengos pergi.
__ADS_1
"Aduh." Ringisku, karena sebelum pergi Amanda menyempatkan diri menginjak kakiku.
Aku membuntuti Amanda yang ternyata masuk ke ruang kerjanya. Aku mendapat beberapa sapaan dan harus membalas serangan senyum dari karyawan Amanda, sebelum sampai tempat. Dan tentu saja aku mengabaikannya.
"Kenapa kau cuek sekali, banyak karyawan ku yang berkata kau galak tahu." Cerocos Amanda yang ternyata mengawasiku dari dalam ruang kerja.
"Nanti aku balas senyum sapa mereka kau cemburu, ngambek tak mau makan denganku tapi diam-diam makan di tempat mommy." Aku menutup pintu, tak lupa menguncinya lalu memeluk Amanda.
"Tak usah mengingat masa itu bisa tidak?" Amanda cemberut, lalu balas memeluk ku erat.
"Kau mau kita liburan kemana?" Tanyaku lirih.
Amanda spontan melepaskan pelukannya, dan berkata," Kau serius?"
"Hm, seratus persen serius." Jawabku mantap, kini beralih duduk pada kursi yang disediakan untuk tamu eksklusif milik Amanda.
"Kau yakin, tak rindu pekerjaan saat liburan nanti?" Amanda menyusul duduk tepat di samping kiri ku dengan badan condong ke arahku.
"Geser sedikit bisa tidak, gerah tahu. Bukannya kalau tak dituruti kau mau minggat." Candaku karena kesal dia melepaskan pelukan secara paksa, padahal aku sedang enak-enaknya menghirup aroma tubuhnya.
"Woah, sepertinya ada seonggok manusia yang ngin disentil ginjalnya." Bukannya menjauh Amanda malah menggelitik perutku.
Tidak sia-sia aku memilih segera menemui Amanda. Sosoknya selalu membawa rasa nyaman yang membuatku mendambanya. Persetan dengan urusan bisnis, kali ini aku harus mundur sesaat agar bisa berpikir lebih baik dan mengalahkan semua perusahaan hingga berada di puncak urutan.
...****************...
Desember telah memasuki minggu terakhir, cuaca ekstrim sedang melanda beberapa negara. Berat hati mengatakan ini pada Amanda, tapi apa boleh dikata keselamatan adalah hal utama. Apapun tanggapannya nanti, cukup tunda liburan sementara.
Amanda sedang sibuk memasak, berhubung ini akhir pekan aku turut serta mengawasinya meracik bumbu dan memadu padankan hidangan. Sungguh bingung memulai pembicaraan mengenai liburan yang tertunda bersamanya. Baru kemarin aku membuatnya bahagia dengan kabar liburan, tak mungkin langsung memberikan kabar buruk selang sehari bukan.
Semangat Amanda mendengar kata liburan masih teringat jelas dalam benak. Bahkan akhir pekan yang biasanya di habiskan dengan bergumul manja dalam selimut, kini berganti dengan Amanda yang super sibuk. Sibuk menyajikan hidangan favorit ku seorang sebagai tanda bahagianya. Lantas aku harus bagaimana. Tuhan beri aku sedikit pencerahan.
"Hei awas kesurupan, kemasukan setan. Masih pagi sudah sibuk melamun saja." Tegur Amanda saat tiba di meja makan.
"Aku melamun karena mu." Jujurku, berharap Amanda sedikit mengerti.
"Ah, gombal." Ucapnya kembali meninggalkan ku untuk mengambil menu selanjutnya.
"Sayang tolong bantu aku menyiapkan makanan di meja makan, jangan sibuk dengan pikiranmu sendiri." Teriak Amanda, seolah lupa disini banyak pelayan yang bisa dimintai tolong.
"Iya." Dan lihat betapa bodohnya aku yang selalu menurut.
__ADS_1
...****************...
Sarapan usai, aku mengajaknya mengunjungi taman hiburan dan membeli berbagai makanan manis agar suasana hatinya baik saat menerima kabar buruk dariku. Aku genggam erat jemarinya, tak ku lepas meski saat menyetir dan tiba pada restoran favoritnya. Amanda seperti sadar dengan gundah gulana yang mendera pikiranku. Tanpa kuminta dia memelukku dan mengucap mantra penenang.
"Sayang katakanlah apapun yang mengganjal pikiranmu, aku akan coba mengerti, aku ini istrimu sudah sewajarnya kau berkeluh kesah padaku Ji." Ucapnya santai.
"Maaf tapi nampaknya kita harus menunda liburan kali ini." Aku berkata sambil berdoa dalam hati agar selamat.
"Dasar pendusta, tak ada jatah setahun untukmu." Seru Amanda melahap es krimnya ganas, tahu seperti itu respon Amanda harusnya nanti saja aku bicara di rumah.
"Sayang, aku sudah memesan tiket tapi pemberangkatan lewat segala jalur sedang ditutup. Dan ini belepotan sayang." Aku mengelap mulutnya yang seperti sengaja diberi remah eskrim.
"Aku tahu sayang, aku juga dengar berita. Aku tak marah hanya kesal." Ucap Amanda kini menatapku lembut.
"Berati jatah tetap lancar dong sayang?" Aku harus memastikan kesejahteraan pusaka ku.
"Tidak sayang, aku serius mengatakan tak ada jatah setahun." Ucapnya santai, tanpa tahu aku ingin berteriak jika tak sadar ini tempat umum.
"Sayang, kau tidak bisa seperti itu pada suami mu. Aku berhak penuh atas dirimu jika kau lupa." Terangku yang kini menjadi kesal dan gantian melahap es krim dengan brutal.
"Hahahah, kau lucu sekali melahap eskrim sekaligus. Ngomong-ngomong tetap tak ada jatah titik." Putus Amanda final.
"Hiyakkkk, tidak mau." Keceplosan, aku sedikit teriak dan mengundang pengunjung lain melihat ke arah kami.
"Syuttt, santai sedikit kenapa, malu ini tempat umum." Kata Amanda sembari meletakkan jari telunjuknya di bibir sebagai isyarat.
"Santai kepala Jason pitak, aku tidak rela sampai akhirat jika setahun lamanya tak dapat jatah sayang. Pokoknya aku tak terima." Dengus ku penuh amarah.
"Hah, sulit memang bercanda dengan bandit gagal perang macam kau, tidakkah kau tahu ini tanggal berapa?" Amanda menunjukkan layar handphonenya padaku.
""Tanggal tiga puluh satu, memangnya kenapa?" Tanyaku penasaran.
"Nah bukankah nanti malam pergantian tahun, jadi aku tak mau memberimu jatah karena Mommy dan Daddy sudah berpesan akan ke mansion untuk merayakan akhir tahun bersama. Jadi kemungkinan besar aku akan kelelahan dan tak mungkin bisa melayani mu malam ini sayang." Ujar Amanda membuatku bingung.
"Maksudnya? Aku sama sekali tak paham dengan perkataan mu barusan sayang." Aku terlalu pusing dengan pikiranku sendiri sampai-sampai mencerna ucapan Amanda saja tak mampu.
"Ya ampun Ji, ini lelucon murahan anak muda di akhir tahun. Seperti aku tidur tahun lalu tahu-tahu sudah berganti tahun saja, atau malam ini aku akan boros dan berhemat di tahun depan, atau yang lucu seperti kata setiap tahun baru kenapa harus tanggal tua." Jelasnya memberi pencerahan.
"Hah, aku kira sungguhan tak ada jatah. Bisa mati kutu pusaka ku sayang." Ucapku lega.
Lelucon yang tak pernah ku dengar, atau mungkin aku terlalu tua untuk itu. Apapun itu aku bahagia karena Amanda tak semarah seperti yang ada dalam pikiran ku. Tak ku sangka tahun ini ku habiskan bersamanya dalam status berbeda. Awal tahun yang biasa-biasa saja terasa amat mendebarkan jika dengannya.
__ADS_1