
Wanita adalah makhluk lembut dengan segala hal yang ada pada dirinya. Aku tidak tahu bahwa kelembutan dari seorang wanita akan senyaman ini. Aku enggan membuka mata walau untuk kepentingan negara sekalipun. Alhasil aku bangun terlampau siang, seharusnya aku bangun pukul 5 pagi tapi menjadi pukul 7 pagi. Dan aku masih betah dengan posisi ini, rasanya aku tak sudi beranjak sedikitpun. Tapi apa boleh di kata, aku harus rela melepas semua rasa nyaman ini, karena Danda juga butuh diriku saat ini.
Perlahan aku menggeser tangan Amanda yang memeluk tubuh ku, lantas sepelan mungkin berpindah tempat untuk mempermudah diri bangun dari tidur tanpa mengganggu manusia indah di samping ku. Butuh lima menit sampai aku bisa lepas dari jerat kenyamanan Amanda. Akhirnya aku meninggalkan Amanda yang masih terlelap dengan sebuah kecupan hangat di dahinya.
"Aku pergi sebentar, semoga harimu menyenangkan." Bisik ku lirih, berharap saat dia terbangun tidak khawatir atas tidak adanya diriku disisinya.
Aku melangkah cepat menuju kamar ku. Bersiap dengan semua keperluan ku, lantas aku menelpon Felix," Lacak keberadaan Danda."
"Bisakah menganggap aku manusia, kau memperlakukan ku seperti alat." Dramatis adalah ciri khas seorang Felix.
"Cepat lakukan." Tidak ada bantahan karena aku membutuhkan segera posisi Danda sekarang.
"Iya...iya cerewet." Memutuskan sambungan secara sepihak setelah mengatai ku cerewet, tidakkah dia memiliki kaca di kediamannya sehingga dia bisa menilik diri sendiri dengan semua kecerewetan yang dimiliki.
Sekitar satu menit lamanya Felik menghubungi ku kembali," Posisi tepat lima kilometer dari vila mu, ruang bawah tanah pabrik bekas, selatan Denmark."
"Kondisi wilayah." Aku butuh lebih rinci.
"Informasi sekitar, pabrik tidak beroperasi sejak tiga tahun lalu. Tapi aku yakin di ruang bawah tanah selalu ada aktifitas melihat tagihan listriknya tidak sepadan untuk sebuah gedung yang ditinggalkan." Jelas Felix dengan segala keahlian meretas informasi.
"Lalu." Aku mendengarkan penjelasannya sambil melangkah cepat menuju garasi.
"Ruang bawah tanah beroperasi untuk penampungan anak-anak yang berhasil mereka dapatkan, sembilan kilo dari situ merupakan tempat transaksi yang sering mereka lakukan. Dan kau harus bergegas karena Danda kalah jumlah untuk kali ini." Felix mengakhiri sambungan setelah menyampaikan beberapa informasi.
Bertepatan aku sampai di garasi, Jason menghampiriku dengan tergopoh-gopoh. " Aku telat bangun, tapi aku tidak telat untuk membantu malaikat mencabut nyawa seseorang."
"Persetan dengan jalan pikiran mu Jas, lekas menyetir." Aku menyerahkan kemudi pada Jason, karena dia sudah seperti pembalap jika dalam kemudi.
"Tentu, seperti biasa." Menampilkan senyuman bangga akan kemampuan miliknya satu ini.
Kami berdua sampai di lokasi seperti yang dikatakan oleh Felix. Namun ketika kami mengeledah seluruh ruang bawah tanah isinya nihil. Jangankan bertemu Danda, bayangan manusia tak nampak satupun. Aku ekstra fokus memindai ulang, tapi tetap saja tak menemukan jejak kehidupan disini. Akhirnya aku menghubungi Felix kembali.
"Felix kau bodoh atau mengerjai kami?" Aku sedikit marah, karena entah kenapa perkataan Amanda mulai terngiang di kepala ku.
"Aku bersungguh-sungguh Ge, bahkan posisi mereka dalam monitorku tak berubah sedari tadi." Jelas Felix dari jauh.
"Cek kembali dengan benar." Perintah ku tegas.
"Sure, tuan." Jika Felix sudah memanggil dengan tuan, menandakan keadaan sedang genting bahkan tak ada ruang untuk sekedar bercanda.
"Bagaimana Ge, apa kata Felix?" Jason nampak khawatir dengan mata jamrudnya.
"Entahlah, aku rasa mereka bermain sedikit merepotkan kali ini." Jawab ku tak yakin dengan semua ini.
"Jika pelacakan yang dilakukan Felix tidak benar, bukankah musuh berhasil meretas monitor miliknya. Atau mungkin musuh lebih handal memanipulasi keadaan." Pendapat yang di lontarkan Jason ada benarnya, akhirnya aku berlari kembali ke mobil dan melakukan hal yang aku bisa untuk menyelamatkan Danda.
__ADS_1
"Ge, hah...Tolong kalau berlari beri aba-aba jangan asal meninggalkan ku." Susul Jason dengan separuh nafasnya yang tersengal.
"Tidak ada waktu untuk itu Jas, lihat Felix ada bersama Danda saat ini. Dugaan mu salah Jas, sepertinya mereka berada dalam tekanan musuh." Aku melacak keberadaan Felix dengan kemampuan ku sendiri, dan betapa mengejutkan hasil yang ku peroleh.
"Mereka di dermaga Ge, ayo segera kesana." Jason panik, sehingga dia lupa arah yang harus ditempuh.
"Tenangkan dirimu Jas, kenapa kau sepanik ini padahal ini bukan pertama kalinya bagimu." Aku mencoba membujuk Jason agar lebih rileks.
"Karena ini bukan pertama kalinya, maka aku tau ada yang tidak beres. Danda dalam keadaan bahaya dan aku tak mau terlambat sedetik pun dalam menyelamatkan Danda." Matanya menatap lurus ke depan, Jason mulai serius.
Sampai di dermaga, kita menuju bagian pengangkutan barang skala besar. Usai dengan persiapan kami turun dan menyusuri tempat tersebut dengan hati-hati. Sepanjang jalan menuju tempat yang kita yakini ada Danda dan Felix, mata kita disuguhkan pemandangan mayat orang-orang Danda yang tergeletak mengenaskan. Dari luka mereka, nampaknya aku tau siapa dalang pembantaian ini, maka aku mengatur ulang rencana.
"Jas, ubah rencana menjadi plan C. Kerahkan pasukan khusus mu, jangan menggunakan pistol karena tak ada guna." Bisik ku di dekat Jason.
"Hati-hati sampai aku kembali Ge." Jason paham maksudku langsung mengambil tindakan berpisah dengan ku dan mencari bala bantuan.
Aku memasuki ruang yang sepertinya kedatangan ku memang sangat di tunggu. Terbukti dengan orang-orang yang menjaga gedung namun tetap membiarkan ku lolos dengan mudah saat melewatinya. Bahkan tak menggubris saat aku melewati mereka. Seyakin itu kah mereka akan menang, sampai meremehkan kedatangan seorang Gerlard.
"Lama sekali kau datang, sedetik lagi kau tak muncul aku akan menghadiahi kepala mereka untuk mu." Senyum kemenangan merekah dari bedeb*h Yamato.
"Lihatlah betapa bodohnya dia dengan tipu muslihat kita." Tatapan sinis dipadukan dengan kata yang kasar dipertontonkan oleh wanita ular yang bisa di panggil Saron.
"Cih, hanya ini permainan mu?" Angkuh dan terkesan tak perduli aku pamerkan untuk mereka.
"Jangan sombong kau Gerlard, kau kalah telak dua kali." Yamato mengatakan jangan sombong, tapi justru dia yang sombong.
Dorr...
Dorr....
Danda dan Felix yang saat ini dalam posisi duduk dengan tangan dan kaki terikat serta mulut di sumbat harus menjadi korban timah panas yang di keluarkan Yamato. Aku tahu Yamato menunggu respon ku akan hal itu, tapi aku tentu saja tidak akan memenuhi semua keinginannya.
"Wow, sepertinya kau tak perduli dengan nyawa kedua orang ini." Ujar Saron yang sedari tadi tak mengalihkan pandangnya dari ku.
"Persetan kau perduli atau tidak, aku akan tetap membunuh mereka karena dengan lancangnya telah menerobos bisnis ku." Yamato bersiap melepaskan timah panas untuk kedua kalinya, karena kali pertama hanya menggertak saja.
"Bunuh saja mereka, toh semua juga akan mati pada waktunya." Aku berbalik membelakangi mereka, bersiap melangkah meninggalkan ruangan yang mengharuskan aku berbagi oksigen dengan orang yang aku benci.
"Yakk, melangkah sekali lagi maka bukan hanya nyawa mereka yang akan melayang melainkan nyawa mu juga." Yamato mulai terpancing emosi, melupakan rencana untuk memancing emosi ku sendiri, dan itu memang yang aku mau.
Yamato tipikal manusia dengan sejuta trik, namun ciri khas membunuh musuh dengan samurai adalah kesenangan baginya. Aku sudah terlalu hapal dengan tingkahnya yang tidak inovatif. Maka sebelum aku memasuki gedung jebakan karya sepasang penghuni neraka permanen ini, aku memberikan misi khusus untuk Jason. Mengganti alat tempur, menyiapkan sniper, dan tentu menyiapkan samurai ku yang haus akan darah.
Aku tidak sadar kapan tepatnya di mulai, saat aku membalikkan badan Jason beserta anak buahnya sudah menerobos masuk dan sedang baku hantam saat ini. Hebatnya kita bahkan telah berhasil menyelamatkan Dandan dan Felix. Tentu saja semua terndengar mudah, karena jebakan yang disediakan oleh Yamato kalah telak dengan jebakan yang aku punya. Bagaimana tidak, jika orang-orang Yamato di dalam ruang ini kecuali si wanita ular, adalah orang ku yang menjelma menjadi pesuruh Yamato.
"Yak, apa yang kau lakukan si*lan!!!" Teriak Yamato histeris saat Jason dengan indahnya memotong tangan kiri Saron.
__ADS_1
"Bersenang-senang tentu saja." Jason menjawab sambil memotong kembali tangan kanan Saron dan meninggalkan jeritan yang memicu semangat ku untuk turut andil melakukan tindakan sama seperti Jason.
"Tidak usah terlalu perduli dengan wanita mu, pedulikan saja nasib mu sendiri." Aku mengayunkan samurai ku yang Jason berikan tepat di depan wajah Yamato.
"Ayo bernegosiasi Gerlard." Gemetar saat mengajukan negosiasi menandakan jika Yamato yang sedang duduk bersimpuh di hadapan ku adalah Yamato pada titik terendah.
"Aku tak butuh apapun darimu, jadi negosiasi tidak akan menguntungkan bagiku." Nada ku sombong.
"Kalau begitu cukup hanya jangan bunuh aku, maka aku tidak akan mengganggu mu lagi." Mencoba mengambil jantung ku, untuk belas kasihan.
"Kata siapa aku akan melenyapkan mu, kematian mu terdengar terlalu mudah bagi ku. Kau tau aku hanya akan mengambil kedua mata mu, ah mungkin di tambah kedua kaki mu. Bukankah aku begitu adil, agar kalian masih bisa saling melengkapi satu sama lain." Aku mencengkram dagu Yamato sembari mengamati matanya yang bergetar setiap aku mengucapkan kata demi kata.
"Aku menyesal, aku mencintai hidup ku. Aku bersumpah tak akan mengusik mu." Yamato tak menyerah atas pengampunan untuknya.
"Manusia memang begitu, harus mengalami pengalaman menyakitkan, baru bisa paham betapa berartinya hidup yang dia miliki.
Begitu pula dengan ku, yang sadar aku tidak mungkin melepaskan manusia yang berani menyentuh bagian terpenting dalam hidup ku." Danda yang kini bebas, berjalan mendekat ke arah ku dan Yamato walau dengan kaki kiri terseok akibat timah panas Yamato, tak menghalangi Danda untuk menendang Yamato sampai berguling mengenai darah Saron.
"Orang mati pun meminta keadilan, tapi jangan harap itu ada untuk mu." Aku tidak mau kalah terlihat keren dari Danda, maka aku mematahkan kakinya dengan sekali injak.
"Aakkkkkkkk." Jerit Yamato.
"Selesaikan semua, aku menunggu kalian di mobil." Aku pergi menyisakan manusia jahanam yang sedang sekarat.
Dorrrr.....
Tidak, aku tidak merasakan sakit padahal kuping ku tak mungkin salah dengar. Jelas sekali jika suara tembakan itu mengarah pada ku. Sial, aku tau apa yang terjadi tapi aku tak sanggup memastikannya.
"Brengsek kau!!!!!" Aku kalap, berlari lantas menginjak leher Yamato sampai menghembuskan napas terakhirnya.
"Ge, tolong katakan aku harus bagaimana saat ini Danda tidak bernafas dengan baik." Jason sedang memangku Danda yang menjadi korban penembakan dari Yamato, tidak lebih tepatnya dia memasang badannya untuk menghadang peluru yang mengarah pada ku.
"Felix kau bisa urus sisanya." Aku memastikan tidak terjadi hal yang sama, maka aku mengambil pistol Yamato dan menembakkan semua timah yang tersisa ke wajah Yamato yang tidak ingin ku ingat.
"Serahkan semuanya tuan." Felix mode serius kali ini.
Aku meninggalkan Felix dan beralih membopong Danda menuju mobil, sedang Jason membuntuti dari belakang sambil terus menangis. Jason memang seorang pembunuh sadis, tapi melihat Danda tergores pisau saja dapat membuatnya tak tidur semalaman, apalagi melihatnya hampir kehabisan napas.
"Jason tenang, Danda tidak mungkin mati, berhenti mengeluarkan ingus menjijikan mu." Aku memarahi Jason yang membuat ku semakin kesal dengan tingkahnya yang satu ini.
"Dasar psikopat, bukannya simpati malah memarahi ku." Dumel Jason memicingkan mata.
"Diam dan urus saja Danda di belakang, dan berdoalah jangan sampai malaikat maut lebih cepat mengambil nyawanya daripada kita yang sedang mencoba menyelamatkan hidupnya." Ujar ku yang masih fokus menyetir.
"Dasar gila, sadis, tukang bunuh, gila harta, tidak cinta tanah air, tidak cinta saudara, arghhhhh kau bajing*n Ge." Jason mengumpati ku dengan sumpah serapah yang terlintas di benaknya.
__ADS_1
"Kau tau aku memang demikian lantas apa masalah mu." Jason membisu, hanya memandangi wajah Danda tanpa menyahuti ucapan ku, yang mengakibatkan kami saling diam dalam perjalanan membawa Danda yang berada dalam pangkuan Jason.