Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
Time to Study


__ADS_3

Kisah percintaan setiap orang tidak dapat di tebak bagaimana awal mulanya, tak terkecuali aku. Jalinan kasih yang bermula dari ketidaksengajaan, dari rasa risih berubah nyaman. Jatuh cinta tak semengerikan yang aku bayangkan, dan aku bersyukur dikaruniai rasa cinta di waktu dan dengan orang yang tepat.


“Kenapa jadi melamun?” Tanya Amanda membuyarkan lamunan indahku.


“Tidak, hanya saja bukankah sedikit lucu jika menilik ke belakang awal mula hubungan kita.” Jawab ku sambil mengenang masa lalu.


“Lucu darimananya, bukankah dulu sangat menyebalkan. Aku saja malas mengingatnya.” Tukas Amanda sedikit emosi dengan kenangan yang dimilikinya.


“Kau memang selalu berhasil merusak suasana.” Balas ku, dan terciptalah keheningan setelahnya.


“Oh ya, aku boleh meminta tolong tidak Ji?” Amanda membuka percakapan baru setelah suasana hening beberapa menit lalu.


“Apa aku bisa menolaknya?” Aku balik bertanya.


“Kau kan masih manusia, jadi ada kemungkinan menolak atau tidaknya.” Amanda berujar dengan tangan aktifnya mecubit manja lengan ku.


“Tapi tidak jika menyangkut kau.” Tenyata aku ada bakat menggombal.


“Aduh, gombal sekali. Aku minta berangkat ke kampus naik bus saja tidak di beri izin, belum lagi minta izin memelihara kucing, berkebun menanam bunga saja tidak boleh, kemarin saja...” Ucapan Amanda terhenti karena aku membekap mulutnya, itu ku lakukan karena pengalaman yang ada mengajarkan jika sudah mengeluarkan keluhan bisa mencapai lebih dari satu jam ceramah dari bibir indahnya yang berubah jadi tidak indah saat terlalu banyak kata yang di keluarkan dalam satu waktu.


“Syutt, diam sebentar ini dihentikan secara paksa karena sudah salah arti menerima maksud hati dan tujuan tindakanku padamu. Dengar, ada beberapa yang memang tidak dapat izin dariku mengingat, emmm intinya semua untuk kepentingan dan kebaikanmu, dan tolong jangan membantah, karena itu mutlak.” Aku menjelaskan sambil perlahan membuka bekapan di mulutnya.


Sedikit informasi untuk kalian, aku hampir kehilangan arah pembicaraan saat berkata demikian dikarenakan dengan santainya saat aku membekap mulut Amanda, dia dengan usil menjilat telapak tangan ku. Semakin serius nada bicaraku maka semakin intens jilatan yang diberikannya. Sungguh keterlaluan bukan rubah licik dalam wujud wanita polos itu, perlu kewaspadaan setiap saat.


“Kenapa diam, sekarang giliran mu mengungkapkan apa permohonan yang harus aku kabulkan, ah dan tolong pahami aku hanya mengabulkan yang tidak membahayakan kehidupanmu.” Ujar ku mengingat terkadang permintaannya di luar nalar.


“Jadi sudah boleh bicara ya, dan tolong jangan di potong tiba-tiba dengan cara paksa itu berbahaya asal kau tahu.” Protes Amanda akan tindakan ku barusan.


“Maaf, aku hanya sedikit trauma dengan kata-kata yang kadang di luar nalarku jika kau tak ku hentikan tadi.” Kata ku kemudian.


“Ya itu terjadi karena nalar yang kau miliki dengan nalar ku berbeda, ah aku lupa nalar mu itu bukan hanya berbeda dengan ku, tapi berbeda dengan 90% nalar manusia yang ada di bumi, tolong di ingat tuan muda Gerlard.” Ketus Amanda.


“Aku tidak suka perkataan mu barusan nona Amanda.” Balasku ketus.


“Iya maaf tadi terpeleset sedikit lidah ku, jadi aku minta tolong besok tolong antarkan aku ke kampus, dan tolong jangan sibuk mempersiapkan keperluan kampusku biar aku sendiri. Dengar, bukan berarti aku tak suka di bantu, hanya saja biar aku belajar dengan keadaan sehingga kelak aku bisa mengurusmu, mengurus keturunan-keturunan kita juga, jadi boleh ya.” Dasar perayu ulung, sempat-sempatnya Amanda menyematkan harapan dalam permintaan tolongnya, kalau sudah begini aku bisa apa.


“Baiklah, jika itu maumu.” Jawab ku singkat untuk menutupi rasa senang ku yang membuncah saat ini.


“Nah sekarang bisakah kau pergi ke kamar mu sendiri aku mulai mengantuk dan ingin segera istirahat supaya besok tidak terlambat.” Pinta Amanda sedikit mengusir.

__ADS_1


“Lihatlah wanita ini, aku tak percaya kau mengusirku.” Kata ku tak terima.


“Bukan seperti itu, aku sangat ini kau ada disini, tidur disampingku, tapi tidak untuk sekarang.” Katanya bertele-tele, semenjak kuliah tingkah Amanda menjadi lebih dewasa dan aku tak suka itu.


“Tidak, aku akan menginap di kamar mu malam ini.” Tegasku langsung berbaring dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut Amanda.


“Ayolah, kau sudah di kamarku sejak usai makan malam tadi Ji, jangan bertindak yang membuatku sulit mengikhlaskan mu untuk keluar dari kamar ku.” Kata Amanda yang entah apa aku tak dapat mencernanya dengan baik.


“Memangnya kenapa jika aku tidur disini?” Ketus ku masih betah bersembunyi di bawah selimut.


“Kau tahu kebiasaan tidurmu meminta agar di peluk semalam suntuk, belum lagi sebentar bangun dan merengek, dan yang lebih penting kita belum menikah, jadi sana ke kamar mu, atau aku yang tidur di kamar mu?” Tawar Amanda yang terdengar tidak bagus di telinga ku.


“Dasar wanita handal negosiasi, aku saja yang mengalah. Awas kau jika sudah menikah akan aku kurung satu bulan lebih di kamar, lihat saja nanti.” Aku mengancam dan bergegas meninggalkan Amanda.


“Yakin langsung pergi tanpa mencium keningku?” Ejek Amanda dengan suara jenakanya.


“Bilang saja kau tidak bisa tidur tanpa ku cium terlebih dahulu.” Ujarku dengan nada mengejek mengikut gaya bicara Amanda.


Dengan rasa kesal yang perlahan luntur seiring dengan langkah ku menuju ranjang Amanda, aku menampilkan senyum indah ku malam itu. Membelai anak rambutnya yang menghalangi keningnya, lantas memberi kecupan selamat malam, dan memberinya pelukan hangat di akhiri dengan kata perpisahan. Setelah memastikan kenyamanan Amanda, aku bergegas menjemput mimpi di kamar ku sendiri.


Keesokan paginya, aku sudah siap di meja makan dengan anggota keluarga lainnya. Kami menikmati santap pagi dengan sesekali menceritakan kesibukan yang saat ini kami jalani, sekedar untuk bertukar informasi. Walaupun kebanyakan cerita berasal dari Amanda. Usai dengan sarapan kami dipisahkan dengan kesibukan masing-masing, dan untuk hari ini aku sibuk mengantar Amanda ke kampus disusul dengan acara peresmian kantor cabang.


“Ji pulang nanti aku hubungi.” Kata Amanda setelah menutup pintu mobil.


Tanpa mendengar balasan Amanda lari meninggalkan ku tak menoleh sekalipun. Setelah bayangnya hilang di telan gedung-gedung fakultas, aku hendak meninggalkan area kampus dan di kejutkan dengan notifikasi pesan yang aku terima. Di pesan itu tertulis “Semangat untuk hari ini sayang, will miss you”, kata Amanda. Singkat tapi terkesan manis.


Amanda Pov


Tiba di kampus tepat waktu terasa menyenangkan, aku bisa memilih tempat duduk sesuka hati karena ruang kelas masih terbilang kosong hanya terisi beberapa siswa saja. Aku memilih baris ketiga dari depan agar lebih memudahkanku untuk mendengar dan melihat apa yang disampaikan oleh dosen ku. Lima menit menunggu, akhirnya dosen tiba dan kami siap menerima materi darinya, hanya saja sepuluh menit awal akan sedikit kurang fokus karena ada beberapa anak yang telat masuk dan menyela di tengah penjelasan agar diizinkan untuk mengikuti pelajaran.


Usai mata kuliah jam pertama dan kedua, istirahat sejenak selama lima belas menit lantas disusul mata kuliah jam berikutnya, dan entah kenapa aku merasa kantuk mulai meraba saat masuk mata kuliah keempat. Rasanya tidak tertahan, dan tahu-tahu aku bangun kelas sudah mulai kosong, hanya tersisa segelintir orang.


“Hei, kau tertidur juga rupanya?” Sapa seorang gadis cantik di depan ku sembari memiringkan badannya agar bisa bersitatap dengan ku.


“Sepertinya iya.” Jawabku di akhiri dengan senyuman, karena jujur aku tidak tahu harus merespon seperti apa.


“Darimana asalmu?” Tanyanya lagi.


“Dari vila...”

__ADS_1


“Bukan itu maksud ku, aku tahu kau bukan berasal dari negara ini, lantas dimanakah asal negaramu?” Gadis itu merubah posisinya menjadi duduk di sebelahku.


“Aku dari Indonesia.”


“Oh ya, kenalkan aku Jolie, kau Amanda bukan?” Tanyanya kemudian.


“I..iya, kau tahu namaku?” Aku heran.


“Jangan takut, aku tahu namamu karena hanya kau satu-satunya siswa yang masuk di pertengahan semester, dan kebetulan kau seangkatan denganku sedang kakak ku adalah kepala jurusan studi kita.” Imbuhnya menjelaskan.


“Benarkah? Senang berkenalan denganmu Jolie, semoga kita bisa akrab untuk kedepannya.” Sambut ku riang.


“Tentu saja, kalau begitu ayo menuju gerbang bersama, apa kau tidak ingin pulang?” Ucapan Jolie mengingatkan aku bahwa sekarang waktunya untuk pulang.


Tidak sampai gerbang depan kampus, aku berpisah dengan Jolie di depan kelas dikarenakan dia di panggil oleh senior untuk membahas program kerja himpunannya. Jolie sempat mengkhawatirkan ku, tapi aku meyakinkannya kalau aku sudah tau arah untuk keluar kampus, walupun sebenarnya aku masih menggunakan petunjuk jalan yang ada di kampus.


Tiba di gerbang kampus aku dikejutkan dengan mobil Gerlard yang sudah terparkir indah tepat beberapa langkah dari depan gerbang. Aku menghampiri mobil itu, mengetuk kacanya dan langsung di respon oleh Gerlard.


“Sudah pulang?” Tanyanya dengan muka tampak kantuk.


“Iya, kenapa sudah menyusul padahal aku belum mengabari.” Tanya ku heran.


“Aku khawatir aku terlambat menjemput mu jadi aku menyempatkan diri untuk menjemputmu lebih awal.” Jelas Gerlard.


“Atau kau memang tidak beranjak dari sini sedari mengantarkan aku tadi pagi Ji?” Tuntut ku agar dia lebih jujur.


“Kenapa menuduh ku seperti itu? Aku hari ini bekerja sayang.” Ujarnya meyakinkan.


“Tapi tadi aku tanya satpam gerbang, katanya dari pagi kau memang tidak beranjak dari sini. Jadi siapa yang bohong?” Tanya ku ragu.


“Iya aku yang bohong, tapi aku benar-benar bekerja. Hanya saja aku bekerja di dalam mobil hari ini, dan jangan khawatir aku sudah makan siang tadi.”


“Besok jika masih seperti ini, aku mogok kuliah Ji.” Seru ku mengancam Gerlard.


“Aku hanya mengkhawatirkan mu sayang.”


“Tapi khawatir yang berlebih juga tidak baik, ayolah aku ingin kau memperlakukan ku lebih wajar Ji, aku mohon.” Pinta ku padanya.


“Iya sayang, maaf ya. Sekarang bisakah kita pulang, rasanya badan ku remuk duduk seharian dalam mobil.”

__ADS_1


“Siapa yang menyuruhmu untuk itu.” Sarkas ku di balas tawa renyah darinya, dasar bucin tingkat akut.


__ADS_2