
Seseorang takkan mampu membahagiakan semua orang, jadi cukup bahagiakan orang terdekat mu, lantas hiraukan penilaian orang lain terhadap dirimu. Jika dulu aku masih peduli dengan menutupi jati diri dalam sekumpulan teman sekolah atau tetangga, dengan meminimalisir sifat angkuh ku, membentengi diri dengan topeng lelaki baik dan cerdas, namun ternyata respon balik dari mereka hanya ke pura-pura an semata. Maka aku muak dengan semuanya, dan sekarang aku tidak perlu repot bersandiwara karena aku beruntung seburuk apapun diriku, wanita ini mau menerima ku.
"Ji, sudah selesai belum membantai musuhmu?" Tanya Amanda yang kini sedang menyenderkan kepalanya di lengan kanan ku.
Aku yang tadi cukup santai menikmati teh sembari melihat pemandangan dari balkon, seketika tersedak mendengar pertanyaan Amanda, yang ku akui benar adanya. Tapi dari siapa dia mengetahui hal itu.
"Apa maksud mu?" Tanya ku kembali.
"Kau kan pergi meninggalkan vila dan habis berperang. Apa kau sejenis penyelamat negara?" Ujarnya, yang masih betah bersandar sambil jemarinya memainkan kancing bajuku.
"Justru sebaliknya, kurasa aku penjahat negara." Mau bagaimana lagi, jujur lebih baik. Lagipula Amanda punya pola pikir yang bertolak belakang dengan kebanyakan manusia pada umumnya.
"Benar juga kenapa aku harus repot bertanya, kemarin kan Felix sudah memberitahu kalau kalian menang dari siapa ya, emmm itu loh siapa namanya aku lupa?" Amanda yang niat bercerita namun bermodal daya ingatnya yang minim, jadi butuh bantuan sekitar untuk kelanjutan cerita lengkapnya.
"Yamato." Jawabku membatu memanggil daya ingatnya.
"Nah, iya Yamato. Harusnya kau membawaku supaya aku bisa memarahinya karena telah membunuh keluarga ku. Kenapa malah pergi tanpa pamit dan membiarkan Danda terluka. Emmm.... Apakah kau menghajarnya untuk membalaskan dendam ku?" Raut muka penuh harap bercampur penasaran sedang menatap ku serius.
"Tidak, aku hanya malas memperpanjang urusan dengan manusia tak layak saing sepertinya." Aku menjawab sekenanya saja.
"Benarkah? Untung saja itu kemauan mu sendiri, bukan karena aku." Ucapnya menggantung.
"Memangnya kenapa?" Tanyaku tak paham dengan kalimat yang Amanda ucapkan barusan.
"Karena kalau kau melakukannya demi membalaskan dendam ku atas kematian papa dan mama, rasanya akan percuma karena aku tak menaruh dendam dengan Yamato." Kata Amanda tanpa beban, yang masih betah memainkan apa saja yang bisa di raihnya dari diriku, bahkan sekarang jarinya mulai memainkan hidungku.
"Jangan berdusta anak kecil, dimata mu aku melihat pancaran kebencian terakhir kali kau mendengar nama Yamato di sebut oleh ku. Jadi jujurlah, tidak perlu berkoar kepada semua orang, cukup jujur kepada dirimu sendiri." Aku mungkin salah menilai, jika Amanda memang tak dendam.
"Aku memang tidak dendam. Lagipula aku yakin karma itu ada." Ujarnya cukup yakin.
"Memangnya apa yang memotivasimu agar hidup tanpa bayang-bayang rasa dendam." Tanyaku masih tak percaya, bagaimana mungkin ada manusia tidak dendam dengan orang yang merenggut nyawa orangtuanya, kecuali jika yang mengambil malaikat maut, itu lain cerita.
"Mudah saja, karena aku bukan orang lemah. Jadi kecil kemungkinan untuk menyimpan dendam." Kalimat Amanda semakin membuatku berpikir dan tak menemukan kejelasan dari pernyataan tersebut.
"Memangnya hanya orang lemah saja yang boleh memiliki dendam?" Pola pikir Amanda memang aneh, sudah ku bilang bukan.
"Tentu saja, karena orang kuat sepertiku pasti memaafkannya. Dan orang pintar pasti mengabaikannya, bukankah begitu?" Senyum simpul mengakhiri opininya, aku baru sadar bahwa paras indahnya diikuti dengan pikirannya yang indah.
"Jadi kesimpulannya, orang lemah akan balas dendam, lantas orang kuat akan memaafkan, kemudian orang pintar akan mengabaikan. Kenapa kau memiliki pemikiran seperti itu, bukankah itu terlalu kolot?" Sanggah ku atas pemikiran Amanda.
"Apakah itu terlalu kolot? Ah, berarti aku akan ganti motivasi lain saja. Untung saja aku baru membicarakannya dengan mu." Jelas Amanda, yang bukan membuat ku tak mengerti namun pusing mendera seketika.
__ADS_1
"Amanda tolong berkata yang mudah di mengerti, rasanya kepala ku tidak dapat mencerna ucapanmu kali ini." Menyerah untuk memikirkannya sendiri, aku melimpahkan pertanyaan saja untuknya.
"Iya, jadi aku hanya ingin terlihat kuat saja. Sebenarnya ingin dibilang pintar tapi nampaknya tidak cocok sekali, jadi aku mengambil sikap memaafkan untuk terbilang kuat saja. Oh dan satu lagi itu hanya kata motivasi dari ilmuan Albert Einstein, wajar kau tak paham yang berbicara sekelas ilmuan sedang kau hanya seorang penjahat. Jadi saran ku kau tak perlu memikirkan kata-kata tadi." Tuturnya panjang lebar.
Aku menyesal sempat mengagumi cara pikirnya, ternyata aku salah menilai. Aku sebagai manusia selalu bertemu jalan buntu jika dihadapkan dengan Amanda. Ibarat aku tidak menyekolahkannya dapat berakibat bodoh, tapi memberinya kepercayaan untuk belajar tak menjamin membuatnya menjadi lebih pintar. Aku tak habis pikir bagaimana bisa dia menerapkan kata motivasi padahal sejatinya dia sendiri tak paham dengan makna terkandung di dalamnya. Semoga jika menikah kelak anak-anak ku hanya mewarisi paras dan rasa kasih sayangnya, jangan sampai wawasan sempitnya menurun, bisa gila aku dibuatnya.
"Kenapa diam saja sih Ji, kau tidak mendengarkan ya dari tadi aku berbicara. Atau sekarang kau sedang mencoba memahami kata-kata motivasi barusan?" Amanda kesal, ditandai dia mulai mencubit dan memukul dada ku sembari mendumal.
"Kenapa kau kesal, seharusnya aku yang kesal." Aku menyentil gemas pelipis Amanda.
"Jangan sentil-sentil, dasar kekerasan dalam rumah tangga." Lihat dia bertambah kesal dengan bibir yang mulai mengerucut.
"Tolong digaris bawahi, memang siapa yang mau berumah tangga dengan wanita jelmaan gorila seperti mu." Aku bermaksud bercanda.
"Yak, kau menyebalkan." Teriak Amanda tepat di wajahku.
Amanda pergi, tak lupa memberi hadiah perpisahan melempari ku dengan bantal. Menatap tajam sejenak, lalu membuang muka dan mendengus kencang. Aku melihatnya masuk ke dalam kamar dan membanting pintu amat kencang. Dan selamat kini aku terkunci di balkon.
"Hah, bukankah seharusnya dia tertawa. Ini hanya sekedar candaan lucu, atau minimal dia membalas candaan ku, bukannya malah marah lantas mengunci ku di balkon. Ah tolonglah, ini malam hari, dan tentu saja suhu menurun beberapa derajat. Apa dia tidak berpikir panjang, walau penjahat tapi kulit dan tubuh ku tidak mati rasa, dasar wanita." Aku mengomel karena tak terima kedinginan sendirian, oh ayolah aku baru saja pulang dari rumah sakit, ya walaupun bukan aku yang sakit.
Sebelum membeku melawan dinginnya suhu pada malam hari, aku memutuskan untuk meminta batuan Jason. Karena tentu saja Amanda tidak mungkin mau membuka pintu jika dalam mode merajuk.
"Halo Jas, bisa kau ambilkan tangga untukku dan letakkan di bawah balkon kamar ku?" Tanya ku setelah nada sambung terdengar.
"Kau pikir aku rombongan sirkus yang akan tampil, enak saja mengatai ku akan atraksi." Sungut ku tak terima.
"Lantas untuk apa tangga malam-malam begini." Jason dengan sifat banyak tanyanya yang membuatku muak.
"Sudah tak usah banyak tanya, lakukan saja." Perintahku kemudian.
"Enak saja, lakukan saja sendiri aku bukan pesuruhmu." Ujar Jason yang memang benar adanya .
"Kalau tidak mau yasudah." Aku mematikan telpon sepihak.
Aku mencoba mengetuk pintu dan membujuk Amanda untuk membukakan pintu, tapi sudah pasti hasilnya nihil. Akhirnya aku memutuskan untuk melompat saja. Ya, melompat ke balkon kamar Amanda, mana mungkin aku melompat ke bawah, karena ini bukan adegan film laga. Aku tau sampai mana keahlianku. Sebenarnya bisa sama aku terjun langsung ke bawah. Tapi mana sudi aku jadi bulan-bulanan daddy karena tau Amanda merajuk padaku.
Saat hampir berhasil mencapai balkon Amanda, hanya perlu memasukkan kaki kanan ku, aku dikejutkan dengan teriakan dari bawah balkon.
"Siapa disana!" Teriak seseorang dari bawah.
Oke, haruskah aku menjawab. Rasanya malu sekali terciduk oleh pelayan sendiri sedang bertindak layaknya pencuri di vila sendiri. Aku memposisikan tubuh dengan aman terlebih dahulu, lantas menilik ke arah pelayan dan berkata," Ini aku."
__ADS_1
"Ah, maaf tuan saya lancang." Jawabnya masih terdengar dari sini.
"Tak apa, lanjutkan tugas jaga mu, abaikan saja aku." Perintah ku.
Seperginya pelayan itu, aku menggeser pintu balkon Amanda dan syukurlah tidak terkunci. Saat aku bergegas menuju pintu untuk keluar dari kamar ini, aku melihat Amanda yang sedang menangis sesenggukan di bawah selimut. Entah kenapa melihat Amanda yang menangis, hatiku ikut sakit. Aku berlari memeluknya, mencoba menenangkannya.
"Hei... Sayang maaf, aku tidak bermaksud melukai perasaanmu. Aku.. Aku hanya bercanda." Tidak ada balasan darinya.
"Sayang tolong jangan seperti ini, buka dulu selimutnya, aku ingin melihat wajahmu." Amanda membuka selimut, menampilkan wajahnya yang sembab.
"Maaf." Kata ku sambil menghapus bulir air matanya.
"Hiks...Jiji..." Ucapnya parau lantas memeluk ku erat.
Aku merasakan tubuhnya yang bergetar. Kenapa aku begitu bodoh, kenapa aku lupa jika Amanda mungkin sensitif dengan hal berbau keluarga. Kenapa aku tak berpikir panjang dengan perkataan ku. Tangan ku mengelus punggungnya lembut, menyalurkan perasaan maaf ku kepadanya. Perlahan tangisnya mulai terhenti, hanya meninggalkan nafasnya yang masih tersengal.
Ku lepaskan pelukannya, meraih wajah mungilnya dengan kedua telapak tangan ku. Aku tak pernah merasa sebersalah ini terhadap manusia." Maafkan jika bercandaan ku melukai mu, pukul aku, marahlah kepada ku, tapi ku mohon jangan menyiksa ku dengan air mata mu."
"Kenapa kata-kata mu seperti di drama, apakah ini adegan romantis?" Nyaris aku mengigit Amanda saking gemasnya. Aku sampai bingung mendeskripsikan perasaanku, rasa kesal, jengkel, gemas, dan lucu berpadu.
"Dan tenang saja aku sudah memaafkan mu, semua sudah impas semenjak aku mengunci mu di balkon. Dan, bagaimana kau bisa ada disini." Tanya Amanda yang baru sadar jika aku berhasil lolos dari perangkap buatannya.
"Kau terbilang cukup cerewet untuk ukuran manusia yang baru saja selesai menangis." Aku mengalihkan topik agar dia lupa rasa kesalnya padaku.
"Benarkah, apakah ini salah satu bakat terpendam ku?" Pikiranku sudah berperang mungkin saja Amanda akan tetap kesal dan tidka terima aku mengalihkan topik, tapi ternyata semua sia-sia belaka.
"Dan sepertinya kau berbakat menjadi komedian." Ujarku asal.
"Wow, aku tak menyangka memendam banyak bakat sekaligus. Harusnya kau bangga mengenal ku sebelum terkenal, dan kau memotivasi ku untuk ikut casting lusa." Tolong siapapun hentikan kegilaan ini.
"Berhenti bercanda, dan bisakah kau tidak menangis lagi saat aku menyinggung mu." Pintaku pada Amanda, mengingat melihatnya menangis membuatku bagai teriris.
"Memangnya aku pernah tersinggung dengan sikap mu yang seperti preman?" Amanda mengajukan pertanyaan, padahal dari sikapnya yang menangis seperti ini menunjukkan bahwa dia tersinggung atas kata-kataku tadi.
"Tentu saja, buktinya kau menangis sepilu itu." Tudingku dengan alasan kuat.
"Kau....hahahaha... Sepertinya aku harus jujur." Amanda berbicara sambil tertawa ceria.
"Sebenarnya setelah aku kesal dengan mu, aku mengunci pintu dan berusaha menarik anak kuncinya untuk ku sembunyikan, tapi sepertinya dia berkarat jadi sangat sulit untuk dicabut. Hal itu membuat emosi ku bertambah akhirnya aku menendang pintu itu sekuat tenaga, dan kau tau sekarang kaki ku kesakitan karena ulah ku sendiri. Mereka bengkak, aku sampai malu untuk meminta tolong agar diobati, akhirnya aku hanya bisa menangis." Jelasnya yang membuatku menyesal sudah khawatir berlebihan.
"Jadi, jadi kau menangis bukan karena tersinggung dengan ucapan ku?" Aku memastikan sekali lagi.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, percaya diri sekali kau." Ucapnya ketus.
Oke, aku tidak bisa berkomentar dengan semua ini. Jika di pikir ini cukup memalukan, tapi entah kenapa berakhir dengan gelak tawa kita berdua yang memenuhi seisi ruangan.