
Terang rembulan tak dapat menggantikan terangnya sikap Amanda di mataku. Hangat mentari kalah hangat jika dibandingkan dekapannya. Senyumnya menawan, manis mengalahkan manisnya sari tebu.
"Kenapa kau setuju bertunangan denganku, padahal beberapa hari lalu kalau tak salah dengar kau menolak ku sayang?" Aku sedikit heran, bukannya aku tak melamar Amanda lebih dulu di banding kejutan dari mereka, sebelum terbang ke Chicago aku sudah mengajaknya bertunangan agar lebih terikat.
"Kau tahu itu hasil negosiasi paling sulit yang akhirnya terkabul." Amanda berucap sambil menaruh sisirnya lantas menatapku yang duduk di tepi ranjangnya, sedang dia duduk di depan lemari rias.
"Maksudmu?" Aku membuat gestur agar Amanda mendekat supaya lebih jelas apa yang akan disampaikannya.
"Mereka memintaku menikah denganmu kemarin." Ujar Amanda cemberut, membuatku sedikit sakit hati. Memang apa bedanya menikah dan bertunangan.
"Kenapa kau tidak setuju." Aku tak mungkin memaksakan kehendak atasnya.
"Kau hilang ingatan atau bagaimana Ji, aku baru masuk kuliah satu semester belum genap, tahu-tahu menyebar undangan pernikahan, coba bayangkan betapa tak eloknya itu." Ungkapnya dengan penuh keheranan.
"Kau menolak menikah denganku dan rela bernegosiasi dengan mereka karena takut dengan pendapat teman kampusmu begitu?" Entahlah, rasanya aku banyak menaruh rasa tak terima.
"Bukan seperti itu Ji, aku mau menikah kapan saja tapi jika aku sudah selesai kuliah. Kau tahu sendiri aku tidak cukup cerdas untuk menjadi sosok ibu kalau menikah sekarang." Amanda jujur mengatakan itu semua, dia merasa belum pantas untuk hubungan pernikahan.
"Menikah tidak harus melulu tentang mempunyai anak, kurasa kita bisa lebih banyak mengenal tanpa momongan terlebih dahulu." Bujuk ku, takut kecolongan di nikahan paksa lebih dulu dengan cara mereka.
"Bisakah kita tidak membahas ini. Sudah banyak aku menguras batin dan pertimbangan untuk pesta kemarin Ji." Mohonnya, seolah buntu.
"Maaf jika permintaan ku terdengar egois, tapi bisakah kau tidak merasa terpaksa dengan pertunangan ini?" Karena sungguh raut wajahnya seperti enggan.
"Aku sedikit terpaksa, tapi bukan karena aku tak mau. Hanya saja semua tidak berdasarkan suara hatiku, hati kita. Bahkan kita tidak dibebaskan hanya untuk sekedar merancang jalannya pesta. Maaf jika terdengar kurang bersyukur Ji." Tukas Amanda lantas memelukku erat.
"Hei, jangan bersedih. Jika kau bersedia kita bisa mengadakan pesta ulang sesuai keinginan mu." Aku pun sama halnya dengan Amanda, ingin semua sesuai dengan selera kita, meski kita tak dapat membantah kemauan orangtua.
"Tidak, Ji. Aku minta hentikan perbincangan tentang ini. Aku lelah berkelahi dengan pikiranku sendiri." Ujarnya parau, sarat akan kerisauan jiwa.
Setelah mencapai kesepakatan bersama, kami menyibukkan diri dengan kesibukan masing-masing. Amanda pergi kuliah sedang aku apalagi kalau bukan bekerja.
"Wow sumringah sekali wajah pria selangkah menuju pernikahan." Aku mampir melihat proyek yang sedang di garap, dan sudah menjadi bulan-bulanan Felix.
"Diam, fokus saja pada pekerjaan mu, aku ingin hasil maksimal." Pungkas ku mengalihkan topik.
"Tenang saja pekerjaan sudah selesai dan tertata rapi, sementara waktu proyek dapat di kendalikan dari jarak jauh tak perlu ke Chicago." Balas Felix bangga dengan hasil jerih payahnya sendiri.
"Baguslah, memang kau dibayar untuk itu." Ujarku datar.
"Ngomong-ngomong sudah sejauh mana kau dengan Amanda, ah pasti semalam suntuk kalian berbagi kehangatan." Felix dengan rasa ingin tahunya yang sembrono sampai lupa bersikap patuh padaku.
"Kau, jangan mengorek informasi asmara ku, itu bukan tugasmu." Larang ku atas pertanyaan Felix yang melantur.
"Dari jawaban mu aku sudah dapat menebak apa yang terjadi bos." Seolah tahu Felix menyeringai.
"Kau, jangan berpikir yang tidak-tidak." Felix semakin berani mengejek ku setelah mempunyai pacar.
"Jangan terlalu percaya diri, tak usah berpikir aku tahu pasti tak terjadi apa-apa karena hubungan kalian terlalu kaku. Lihat aku dan Jolie bos, asmara memang harusnya dibumbui sentuhan kehangatan." Felix berucap bangga, seperti profesional dalam hal percintaan, padahal tak ada bedanya denganku.
"Tak usah menggurui, kau manusia belum genap sebulan menjalin kasih tahu apa tentang sentuhan hangat yang sesungguhnya. Kau belum tahu tentang itu Felix, kau masih butuh banyak belajar." Aku memberi Felix petuah sebagai rasa iba.
"Yang benar bos, jangan berpura-pura bahwa ada hal lain yang lebih tinggi dari hasrat." Tanyanya mengambang.
"Cinta yang dilalui dengan langkah yang tepat akan terasa lebih dalam di banding cinta yang dilakukan tergesa-gesa. Percayalah padaku." Aku meyakinkan Felix dengan cara pandang dan yang aku alami belakangan setalah tahu apa itu cinta.
"Baiklah, sepertinya aku kalah." Ujarnya pasrah.
"Memang kau pernah menang dariku?" Tanyaku sarkas.
"Tentu saja tidak." Felix kesal dengan fakta yang ada.
Usai dengan menilik secara langsung perkembangan proyek mega dana, aku bertandang ke kantor untuk bertemu Danda. Karena ada beberapa dokumen yang harus ku periksa.
__ADS_1
"Telat sekali, aku hampir mati menunggu." Sambut Danda, setelah kaki kananku menginjak lantai ruang kerjanya.
"Berlebihan, lagipula aku sudah bilang akan datang terlambat." Kenapa jadi tak terima padahal jelas aku bosnya disini.
"Kenapa, karena terlalu asik berduaan dengan Amanda?" Tuduh Danda tanpa bukti.
"Ya mungkin itu termasuk." Seingatku aku harus menenangkan Amanda terlebih dahulu sebelum ke kampus.
"Ingat kata Jason kalian belum resmi." Peringat Danda ketus.
"Kenapa mulutmu jadi alih fungsi seperti itu, kau terlalu banyak bergaul dengan Mommy dan Carmila." Danda seolah cemburu dengan situasi ini, jangan bilang dia mencintai Amanda juga.
"Aku begini karena cemas memberikan Amanda padamu, padahal kau belum teruji kelayakannya." Ledek Danda dengan mulut tajamnya.
Bersilat lidah dengan Danda mode wanita pms sangat sulit untuk menang. Alhasil aku memilih mengabaikannya. Danda tahu kapan harus berhenti jika tidak berbalas ucap.
Cukup duapuluh menit berkutat dengan setumpuk berkas, aku harus memutar mata karena jengah dengan dua laki-laki tua yang tiba-tiba menyusul paksa ke ruang kerja Danda.
"Lihat laki-laki muda hina itu." Ucap Dalton sambil menunjuk ku dengan dagunya.
"Muda darimana, wajahnya sebelas dua belas denganku yang berumur hampir enampuluh tahun." Timpal Daddy, yang jelas hampir serupa denganku dalam paras tapi tidak dengan usia tua bangkanya itu.
"Cintanya berlabuh di wanita yang tepat." Ujar Dalton yang entah olokan atau pujian.
"Kau benar, tapi betapa tidak serunya dia, hanya mengenal satu wanita dan langsung otomatis jadi istri nantinya." Daddy dan Dalton pada dasarnya sama-sama tukang main perempuan sebelum akhirnya menikah dengan Mommy dan Carmila.
"Parah sekali, entah menurun dari siapa sifat tak kenal wanitanya itu. Padahal jika melihat dari bibitnya, kita unggul dalam berurusan dengan berbagai jenis wanita. bukankah begitu?" Ulas Dalton meminta persetujuan Daddy.
"Tolong jangan menggunjing di depan orangnya dasar tua bangka." Aku kesal dengan orang-orang hari ini, bertemu bukannya memberi uang malah menjadi beban.
"Lihat orang tidak berpengalaman dengan wanita memang mudah emosi." Ejek Dalton yang entah kenapa menjadi banyak bicara hari ini.
"Dan lihat anakmu sendiri sama halnya dengan ku bahkan lebih parah paman Dalton yang terhormat." Aku lebih baik jika dibanding Danda.
"Untunglah aku masih punya Jason menurun darah kita." Ucap Daddy bangga di sambut gelak tawa Dalton.
Mari tinggalkan manusia kurang kerjaan yang sedang menikmati hidup dengan mengomentari semua kelakuan anak-anaknya. Dua jam lagi Amanda pulang dari kampus, dan aku harus menjemput Mommy beserta Carmila sebelum menjemput Amanda.
"Haduh sudah datang saja Ge, tidak sabar bertemu Amanda ya." Interupsi Mommy yang belum ingin ku jemput.
"Perjalanan kantor, cafe, dan kampus Amanda berlawanan arah jika Mommy lupa." Lagipula untuk apa dua manusia ini ingin ikut menjemput Amanda padahal setiap hari bertemu.
"Mana Mommy tahu, lagipula untuk apa tahu jalan jika setiap berpergian selalu diantar supir." Ucapnya sedikit bergaya.
"Kuharap Mommy tak jatuh miskin selamanya." Aku tahu kemiskinan tak mungkin baginya.
"Lihat menyumpahi ibu yang melahirkanmu tergolong kategori anak durhaka Ge." Tukas Carmila berubah jadi kompor.
"Masih mau disini atau ku tinggal." Hakikatnya, wanita-wanita ini lebih mudah ditaklukkan daripada pria-pria tua bangka tadi.
Aku harus menyetir sendiri meski badan masih terasa remuk redam. Aku terserang flu, efek kondisi kurang fit dan perubahan cuaca ekstrem di Denmark saat ini. Dan dua manusia cerewet terus saja protes, membuat kepala rasanya mau meledak.
"Enggap sekali mobil ini." Ujar Mommy yang baru saja menginjakkan kakinya ke dalam mobil.
"Jika kurang luas naik bus saja mom." Sarkasku kesal.
"Jangan banyak bicara dengan suara tak merdumu. Awas saja sampai kita tertular flu." Ancam Mommy.
"Pakai masker Ge, jangan sampai bersinmu menyebar di dalam mobil sempit ini." Saran Carmila menyelam menyindir.
"Apa lelaki jika sudah dapat hati perempuan jadi seenaknya seperti kau. Biasanya aroma mobil sangat harum, bersih, dan nyaman tidak seperti ini." Mommy mulai lagi dengan omelannya yang bisa sepanjang perjalanan.
"Mom, aku tetap sama memperlakukan Amanda sampe tua nanti, tenang saja. Suasana mobil menjadi tak nyaman karena Mommy dan Carmila turut serta, jadi pasokan oksigen terbagi." Lagipula aku sedang tidak dapat mencium aroma, wajar jika tidak tahu betul aroma mobil saat ini.
__ADS_1
"Jadi maksud perkataanmu barusan apa?" Mommy tersulut emosi.
"Tidak ada." Aku malas memperpanjang urusan.
"Awas saja kau menduakan Amanda dengan berkas konyol seperti Daddy dan Dalton, kami pasti akan membuat perhitungan." Mommy masih saja cerewet dengan segala pendapatnya.
"Dan aku rasa kau harus menikah sebelum menginjak 31 tahun Ge, agar kau banyak anak tidak seperti kami yang hanya bisa melahirkan satu orang anak saja." Saran Carmila.
"Dan meski tugasmu sedang membantai lautan manusia, tetap ajak istri jangan sering ditinggal seperti kami. Jadi proses pembuahan sangat jarang dan minim bibit-bibit yang tumbuh." Sahut Mommy.
"Benar kak, aku sempat ditinggal dua bulan hanya untuk sebuah misi tak pentingnya itu." Timpal Carmila sedikit curhat.
"Kadang aku juga heran, bukankah mereka bosnya. Jadi kenapa harus repot-repot turun lapang." Kata Mommy.
"Itu juga yang aku pikirkan, padahal kita yang mengola butik, berlian, dan kuliner saja tak serepot para suami." Carmila bersungut-sungut.
Jadilah sepanjang jalan dihiasi dengan gossip mom, dan aku harus merelakan kupingku ternodai. Bahkan untuk sekedar menyalakan musik saja tak boleh.
"Heiii, ada apa Ge?" Tanya Mommy dan Carmila bersamaan karena kaget aku menginjak pedal rem tiba-tiba.
"Tidak ada, hanya saja kepalaku seperti migren barusan." Jujur aku mulai kewalahan dengan kondisi tubuhku sendiri.
"Kau sakit, biar Mommy panggilkan supir, kita berhenti disini dulu." Ujar Mommy penuh khawatir.
"Baiklah mom." Aku menurut, karena sungguh kepalaku sangat nyeri sekali.
Supir terdekat datang lima menit lamanya. Mommy dan Carmila sudah masuk ke mobil yang menjemput kami.
"Ayo masuk Ge, kenapa hanya mematung di depan pintu." Ajak Carmila karena aku lama berdiri di depan pintu mobil yang sudah terbuka.
"Aku rasa kondisiku baik-baik saja sekarang, bolehkah aku tak ikut kalian?" Izinku pada dua wanita cerewet ini.
"Kau yakin, cepat sekali sembuhnya jangan-jangan kau hanya tak mau Mommy dan Carmila ikut menjemput Amanda?" Selidik Mommy curiga.
"Tidak mom, sungguh." Tapi bisa jadi juga aku pusing karena mendengar betapa cerewetnya mereka berdua sepanjang aku mengemudi.
"Yasudah mungkin Gerlard sedang ingin meluangkan banyak waktu bersama Amanda, kita susul suami-suami kita saja kak." Seru Carmila pada akhirnya.
Mobil yang dikendarai mereka pergi lebih dulu di banding aku. Lantas aku bergegas masuk ke mobil sendiri, dan ternyata handphone ku berbunyi sedari tadi.
"Halo sayang, ada apa?" Ternyata Amanda yang menelpon sampai dua panggilan.
"Tidak aku hanya bertanya kau jadi jemput tidak?" Kata Amanda di seberang sana.
"Aku sedang dalam perjalanan ke kampus, memangnya kenapa?" Aku sedikit curiga dengan nada bertanya Amanda.
"Bisakah aku pulang dengan teman-temanku saja?" Benar bukan, Amanda memang selalu mementingkan teman kampusnya di banding aku.
"Tidak." Mutlak ku jawab sembari menahan amarah.
"Sekali ini saja ya Ji, kami ingin makan diluar dulu. Aku tidak enak hati jika menolak." Pintanya tanpa tahu telah menyakiti hatiku.
"Terserah kau saja, atur bagaimana baiknya." Aku menutup telepon tanpa memberinya izin ataupun melarang.
Tak habis pikir dengan wanita, jelmaan makhluk yang paling sulit dimengerti. Tidak tahukah dia bagaimana perjuanganku hari ini, sekedar untuk menjemputnya.
Aku memacu mobil putar arah menuju vila dengan kecepatan sedang. Karena setelah memutus telpon dari Amanda rasa sakit di kepalaku muncul kembali, sehingga membuatku waspada agar tetap aman.
Ckittttt.............
Brakkkkk..........
Tidak tahu bagaimana mula peristiwa, aku hanya ingat kerasnya suara hantaman antar mobil. Mungkin aku terkapar saat ini, karena dalam separuh sadarku aku melihat puluhan orang berkerumun disekitarku, sebelum akhirnya aku tak sadarkan diri.
__ADS_1