Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
Happy Together


__ADS_3

Selayaknya manusia biasa, rasa takut akan hinggap dalam kehidupan pada saat-saat tertentu. Terlebih saat sosok berharga akan meninggalkanmu untuk selamanya, maka rasa takut yang mendera tiada tara tercipta. Itulah yang saat ini disuguhkan oleh raut muka Jason.


"Jas, kemarilah." Aku menepuk bahu sebelah kiri Jason untuk memperoleh respon darinya. Mengingat sudah beberapa panggilan ku terabaikan.


"Ge..." Lirih dan gemetar, suara yang dikeluarkan dari mulut yang biasanya berkata kasar.


Tanpa repot menyahuti ucapan Jason, aku menariknya ke dalam pelukan." Aku tau ini berat untuk kita, tapi percaya bahwa Danda itu kuat, dan berdo'a kepada Tuhan untuk keselamatannya."


"Tapi..." Timpalnya, masih dengan nada yang lirih.


"Kita memilih dokter terbaik. Cukup percayakan semua padaku, bersihkan kekacauan pada tubuhmu, lantas beristirahatlah, biar aku mengurus sisanya." Pintaku pada Jason yang saat ini jelas dalam kekalutan.


"Aku tidak bisa, bagaimana aku beristirahat sedang otakku berbisik semua kemungkinan buruk terjadi." Kalimat panjang yang akhirnya ku dengar setelah dua jam lamanya berhadapan dengan Jason yang nyaris bisu, kini dia berucap dengan tangisnya yang pecah.


"Jason dengar, aku dalam kondisi tidak dapat di bantah sekata pun. Lihat dirimu yang masih berlumuran darah, rambut dan pakaian sama kusut, kau tidak elok walau hanya sekedar untuk dilirik." Tukas ku dengan sedikit penekanan, yakinlah Jason dalam mode ini sangat sulit diberi arahan.


Bukannya aku tidak takut kehilangan Danda seperti Jason. Akan tetapi, aku yakin Danda baik-baik saja. Hanya satu peluru tak mungkin mampu membawanya bertemu malaikat maut. Tapi lain bagi Jason yang selalu kalap jika orang terkasihnya mengeluarkan darah walau hanya terkena goresan pisau. Bertolak belakang dengan kepribadiannya yang kasar, dan mulutnya yang sarkas.


"Ge, aku ingin di peluk mommy." Ucapnya dengan berderai air mata, yang membuat ku ingin mengumpat dasar cengeng jika kondisi tidak seperti ini.


"Kau sudah mau pulang?" Tanya ku pelan, dan hanya anggukan kepala yang kulihat, sebagai tanda persetujuan Jason.


Cukup rumit menangani Jason dengan mentalnya yang sedang turun. Bayangkan aku butuh waktu dua jam untuk membujuknya pulang ke villa menenangkan diri. Jika Jason terus-terusan menunggu di depan ruang operasi, aku takut trauma masa kecilnya terulang. Maka jalan terbaik adalah memintanya kembali ke villa.


Tujuh menit setelah kepergian Jason, operasi selesai dan dokter memberi kabar baik atas proses operasi Danda. Kini Danda sudah alih ruang, berada di kamar rawat. Aku menilik Danda tak lupa mengambil potrait dirinya untuk dikirim pada Jason agar membuatnya lebih tenang. Sayang aku belum bisa menanyai keadaannya secara pribadi, karena kondisi Danda yang belum siuman setelah anastesi.


"Felix..." Aku bersuara setelah nada sambung terdengar.


"Iya bos."


"Bagaimana kondisi disana." Monitor ku mengenai keadaan diseberang sambil duduk memandangi Danda.


"Beres bos, sesuai instruksi. Cacat fisik tanpa kematian dan tentunya kemiskinan satu paket dengan kesulitan hidup pasti di dapat oleh wanita ular yang kini sebatang kara. Sedangkan Yamato tamat, kau terlalu brutal tadi bos." Jelas Felix tidak mengecewakan.


"Oke, sekarang kau ke villa temui Daddy dan urus pindah alih aset kekayaan Yamato. Biar sisanya anak-anak yang bersihkan." Komando ku cepat.

__ADS_1


"Baik bos, meluncur pesat bagai peluru." Canda Felix yang kaku layaknya fiber.


Aku mengakhiri sambungan, sambil tersenyum simpul membayangkan rencana yang akan ku perbuat ke depan dengan kekayaan yang baru saja ku peroleh. Terdengar lumayan untuk menambah beberapa aset dan wilayah kekuasaan tentu saja. Walau tentu saja tanpa aset Yamato aku sudah berlimpah harta dan kekuasaan, tapi jika ada tambahan bukankah lebih menguntungkan.


"Sungguh ironis kemalangan seseorang bisa menjadi ladang keberuntungan untuk mu." Ucap Danda yang kini mulai sadar.


"Wow, apa kau hanya pura-pura kehilangan nafas. Mulutmu tidak mencerminkan orang yang baru saja siuman dari operasinya." Aku yang tidak tau harus berkata apa, padahal aku senang Danda telah sadar.


"Hei... Aku sedang butuh figur pahlawan bagimu, maka dari itu aku pasang badan melawan peluru." Sahut Danda tidak sopan, dia tidak tahu jantungku hampir pindah ke kaki melihatnya tak sadarkan diri beberapa saat lalu.


"Mana mempan terhadap ku, jika kau berlaku demikian pada Jason mungkin berhasil tapi maaf, tidak untuk ku." Bohong ku, yang sesungguhnya bangga akan dirinya yang rela bertukar nyawa.


"Setidaknya tanya keadaan ku saat ini, walau kau tak memandang ku layaknya seorang pahlawan." Protes Danda ditengah obrolan.


"Kau terlihat baik-baik saja lantas kenapa harus repot bertanya." Elak ku, agar tak nampak rasa khawatir yang sesungguhnya, kalau tahu aku khawatir akan kondisinya, bisa menjadi bahan ejekan seumur hidup.


"Hanya karena kau bisa melihat aku baik-baik saja, bukan berarti kondisi ku baik saat ini." Setelah siuman kurasa sedikit berpengaruh dengan mental Danda, yang entah kenapa sedikit mirip Jason.


"Hei, berhenti berdebat. Oke, aku mengaku sedikit khawatir dengan kondisi mu. Apalagi kau pion penting dalam dunia bisnis ku, mana mau aku kehilangan jenius kejahatan sepertimu." Kadang bersilat lidah memang tak butuh pikiran.


"Seolah lupa diri jika kau kerabat mafia yang ikut andil di dalamnya." Protes ku benar adanya.


Merasa jengah dengan obrolan yang tidak berujung damai, alhasil tanpa komando kita seolah sepakat dengan pikiran masing-masing untuk mengakhiri pembicaraan tak berarah ini. Aku sibuk berbalas pesan dengan Jason yang terus menerus menanyakan kabar belahan jiwanya. Sedang Danda mulai menutup kelopak matanya, kurasa seorang Danda juga butuh istirahat.


Lima menit berbalas pesan dengan Jason membuat ku muak. Bayangkan saja aku harus menjawab pertanyaannya yang sama sedari tadi seolah tidak ada hal lain yang perlu ditanyakan. Jadi aku putuskan untuk mengakhiri membalas pesan dari Jason, baru sedetik tidak ku balas, Jason beralih menerorku melalui saluran telpon. Geram dengan sifat tidak sabarannya, aku mematikan telepon genggam milikku. Dan sepertinya menyusul Danda terdengar lebih menggiurkan, aku membaringkan tubuh di sofa yang entah kenapa terasa begitu nyaman saat ini.


Dubrak... Cklek....


"Tuhkan aku bilang juga apa, Danda pasti baik-baik saja. Sudah jangan menangis Jason. Ingus mu sampai mengenai bajuku soalnya." Suara Amanda yang dengan tubuh kecilnya harus membawa Jason yang dua kali ukuran tubuhnya menuju rumah sakit dalam kondisi kalut.


"Hiks...hik....siapa yang menangis, ini salah produksi kelenjar air mataku sedang berlebih karena kurang tidur, tolong jangan salah paham." Meski manja dan berprinsip pantang menangis di depan wanita, tapi dia menangis di depan Amanda layaknya seorang adik.


"Terserah kau saja, lebih baik aku menghampiri Jiji saja." Amanda dengan tingkah konyolnya.


"Mana boleh, mana bisa." Protes Jason tak terima.

__ADS_1


"Huh, boleh pokoknya boleh, aku khawatir dengan Jiji." Tukas Amanda.


"Yang sekarat itu Danda, kenapa khawatir dengan yang lain." Dan keduanya mulai berkelahi seperti biasa.


"Khawatir mana bisa pilih-pilih, lepaskan tanganku Jas, aku ingin melihat Jiji sebentar." Amanda dengan sikap keras kepalanya yang tak mau mengalah.


"TIDAK!...."


Bagai guntur menggelegar, aku terbangun akibat teriakan Jason. Seolah tak bersalah Jason melanjutkan baku hantam dengan Amanda, tanpa sadar sekelilingnya. Bahkan Danda yang tadi kulihat dalam kondisi terbaring kini duduk menghadap mereka sambil menikmati jeruk yang dikunyahnya. Perlahan aku mendekat, lalu memisahkan pertengkaran antar anak manusia ini.


"Yak... Ge apakah tangan mu tidak ada kerjaan lain selain menarik rambut indah ku?" Jason meringis ikut memegang tanganku yang sedang menjambak rambutnya.


"Jika tidak di jambak kalian akan tengkar tanpa sadar situasi." Ucapku membenarkan tindakan saat ini.


"Kalau memisahkan orang bertengkar itu harus adil Ge. Mana boleh seperti ini. Aku di jambak sedangkan Amanda dengan santai memelukmu." Sungut Jason tak terima.


"Oh iya juga ya, Jiji tolong tarik rambutku seperti yang kau lakukan kepada Jason supaya adil." Pinta Amanda dengan polosnya.


Gelak tawa tercipta dari seisi ruang, daddy dan mommy yang baru saja ikut bergabung ikut terpingkal dengan perkataan bodoh Amanda. Hanya tak habis pikir saja dengan sifatnya yang masih mudah dikelabuhi untuk manusia seumurannya.


"Haduh mana berani Gerlard bertindak demikian terhadap anak kesayangan mommy." Tim pembela Amanda mulai berkoar.


"Bukannya Jason anak kesayangan mommy kan?" Tanya Jason memastikan.


"Tentu saja tidak." Jawab mommy tanpa memikirkan perasaan Jason.


"Tidak bisa begitu, ingat mommy sebelum ada Amanda mommy selalu mengutamakan Jason. Jadi mommy tidak bisa berpindah ke lain hati tanpa persetujuan Jason. Lagipula Amanda menyebalkan untuk menjadi anak kesayangan, ini hanya peringatan dari Jason agar mommy tidak menyesal dikemudian hari. Dan mommy....." Jason tidak sempat melanjutkan perkataannya, Amanda mengambil tindakan cerdas dengan membekap mulut Jason.


"Sudah nanti saja demonya, sekarang lihat Danda sepertinya akan koma mendengar ocehan tak bermutu milikmu." Kata Amanda tanpa melepaskan bekapannya.


Jason nampak setuju untuk menunda unek-uneknya. Amanda melepaskan tangannya yang bertengger apik di mulut Jason. Tapi mana mungkin Jason mengalah dalam damai. Aku takut ini hanya siasat busuknya saja.


"Dasar Amanda gadis gila! Tiba-tiba menggigit, membekap, kasar sekali jadi wanita." Teriak Jason di telinga Amanda setelah berhasil membebaskan diri.


"Yakkkk......"

__ADS_1


Oke, mari duduk santai sambil menikmati kopi. Karena sebelum keduanya lelah dengan perkelahian mereka, maka keramaian tiada henti yang disuguhkan. Hitung-hitung hiburan. Hah, dan entah kemana hilangnya Jason yang kalut atas kondisi Danda, sedang saat tahu Danda siuman dia malah sibuk kelahi tanpa menanyakan kondisi Danda sekarang. Dan aku mulai bertanya, apakah tadi hanya akting belaka, ah entahlah.


__ADS_2