Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
Give a Little Touch


__ADS_3

Gusar mendera jiwaku, aku tak mampu sekedar berpikir lurus. Seakan semua anggota tubuh berkhianat tak menurut perintah otakku. Apa ini gejala awal kelumpuhan otak. Tidak, jangan membodohi diri sendiri. Aku tahu aku mengkhawatirkan Amanda. Aku juga bingung kenapa harus khawatir sedang Amanda hanya menemani Danda berbelanja. Jika jatuh cinta semenggerikan ini dalam mengendalikan jiwa, lantas mengapa harus jatuh cinta. Hal merepotkan namun mendebarkan secara bersamaan.


"Sudah ku putuskan untuk menghubungi Amanda saja, daripada aku uring-uringan sendiri. Bertindak layaknya budak menunggu majikan pulang. Ya sebaiknya ku telpon sekarang juga." Monologku lirih.


"Kemana perginya handphone ku, kenapa semua tidak berjalan sesuai keinginan." Perasaan aku meletakkannya disekitar sini kenapa tiba-tiba hilang.


"Ah, aku lelah mencari. Sebaiknya aku meminta bantuan Lesi." Aku sudah berusaha mandiri mencari hampir di seluruh ruang dan nihil hasilnya.


Sejenak ku tinggalkan kamar, menuju ke arah tangga, mempersiapkan suara lalu aku berucap, " Lesi!"


"Cih, apa Lesi juga hilang. Tumben sekali di panggil tidak langsung menyahut. Apa gaji yang ku berikan kurang, sehingga kesetiaannya memudar." Aku pikir akhir-akhir ini aku banyak menggerutu karena hal-hal sepele.


"Ge, apa yang kau lakukan. Berdiri di pinggir tangga menghalangi jalan saja." Tegur Jason di tengah kebingungan ku mencari handphone.


"Mau berdiri dimana pun terserah aku, ini vilaku." Kataku kesal karena kehadiran Jason pasti tak akan berguna hanya menambah beban mata memandang saja.


"Sensitif sekali, tolong minggir tuan saya ingin lewat." Sindir Jason dengan mengganti panggilan tuan kepadaku.


"Lewat tempat lain, menggangu saja." Kataku sambil terus melihat pergerakan Lesi, sejauh ini belum ada tanda-tanda kedatangan wanita itu.


"Lalu aku harus lewat mana, langsung terjun ke lantai dasar?" Tanya Jason dengan nada sedikit meninggi.


"Ya kalau mampu lakukan, mengapa harus meminta saran." Jawabku santai.


"Ku rasa kadar kewarasmu semakin menipis seiring bertambahnya usia." Celetuk Jason mulai membawa-bawa umur.


"Jason mana handphone mu?" Ucapku mengabaikan ocehan Jason.


"Ada bersamaku, kenapa mau pinjam?" Tanya Jason balik.


"Mana sudi aku meminjam, aku akan memakainya sekali lalu akan ku remukkan kemudian." Aku dengan sifat gengsi yang sudah melekat dengan darah dan dagingku.


"Apa begitu caramu meminjam, dan ditilik dari pandangan manusia normal mana ada orang mengungkapkan rasa terimakasih dengan menghancurkan barang yang di pinjam." Heran Jason dengan apa yang aku katakan barusan.


"Cerewet, kemarikan!" Aku tak sabar dan berusaha merebut handphone yang sedang di genggaman Jason.


"Enak saja, yang ini baru berusia dua hari jangan sembarangan merusak barang adikmu. Rusak saja punyamu sendiri." Tolak Jason tak terima.


"Aku lupa menaruh handphone milikku dimana. Aku sudah berusaha mencari tak kunjung ketemu juga, membuat jengah saja." Akhirnya aku berkata jujur kepada Jason.


"Hah, selain kurang waras kau bertambah idiot pula. Coba raba saku celana bagian kananmu. Benjolan itu tampak seperti telepon genggam." Kata Jason memberi sedikit perintah.


"Ah kau benar, kenapa tak terpikir olehku. Sudah sibuk mencari ternyata aku menaruhnya disini." Dan aku baru sadar setelah kesibukan ku mencarinya beberapa saat lalu yang pening kesia-siaan.


"Idiot kuadrat." Jason mengumpat untukku.


"Shut up, pergi sana membuat mual saja melihatmu." Usirku tak perduli.


"Sama-sama." Kata Jason tak menyambung.


"Apanya yang sama-sama bodoh." Tanyaku tak paham dengan ucapannya.


"Bukannya barusan kau mengucapkan terimakasih karena telah membantu menemukan handphonemu?" Oh ternyata dia butuh pengakuan akan keterlibatan kecilnya dalam menemukan handphone milikku.


"Tidak ada terimakasih untuk manusia sepertimu." Mana ada terimakasih, bantuannya saja tak menghasilkan uang sepeserpun.


"Siapa peduli terimakasih seorang Gerlard yang tak tulus, aku hanya butuh sedikit timbal balik. Nah, sekarang minggir aku mau lewat Ge." Pusing dengan suara Jason, tanpa menjawab aku bergeser dari depan tangga, padahal tangganya cukup luas hanya untuk Jason sekedar melewatiku.


"Terkadang aku merasa lebih dewasa dari seorang Gerlard, bukannya menjawab malah pergi begitu saja." Gumam Jason lirih.


"Aku masih mendengarmu Jason, cepat enyah aku muak." Teriakku membalas gerutunya.


"Aku juga muak, dasar manusia kasmaran." Balas Jason tak terima dan lari tunggang langgang menuruni tangga.


"Jangan kabur kau Jason, berhenti berlarian di tangga kau bisa celaka." Jason kabur dengan gaya berlari diluar nalar manusia membuat khawatir saja.


"Terimakasih sudah khawatir, aku lebih baik jatuh dari tangga daripada terkena bogem mentahmu Ge." Teriak Jason diujung anak tangga.


Tak ambil pusing dengan kelakuan ajaib Jason, aku memutuskan untuk menghubungi Amanda di dalam kamar saja. Ku dial kontak Amanda, menempelkannya di kuping dan entah mengapa setiap nada tut terdengar maka jantungku seakan ikut berdetak lebih keras merespon nada tersebut. Sampai nada tut terakhir tidak ada tanda-tanda akan diangkatnya panggilanku. Aku tak menyerah ku ulangi kegiatan tersebut sampai lima kali, namun tetap tak membuahkan hasil. Aku murka, maka aku berencana untuk melacaknya saja. Mengambil kunci mobil dan bersiap menghubungi Felix.


"Felix tolong lacak keberadaan Amanda sekarang." Felix adalah salah satu orangku, ahli dalam bidang retas dan sebagainya.


"Yak, seharusnya kau menyapa dulu Ge, jangan langsung memerintah seperti bosku saja." Jawab Felix di seberang sana.


"Aku memang bosmu bedeb*h." Kadang terlalu akrab dengan bawahan membuat Felix sedikit lupa posisinya.


"Ah iya juga, maaf kadang aku lupa akan hal itu hahaha." Lihat, dia terbahak tanpa rasa bersalah.


"Cukup basa-basinya lakukan perintahku, hasilnya ku tunggu satu menit kemudian." Perintahku mutlak.


Sembari menunggu hasil, aku sudah menyalakan mesin dan siap berangkat. Tak ku siakan waktu meski hanya sedetik, prinsip seorang G turun temurun. Aku mengeluarkan mobil dari garasi dan siap melaju membelah lebatnya hutan pinus. Sekedar informasi sekarang sudah pukul sebelas malam dan Amanda masih diculik oleh Danda. Itulah yang membuat aku tak tenang, bagaimana bisa seorang wanita pergi berdua dengan pria dan belum kembali sampai larut malam. Danda memang selalu menyukai kesukaanku dari semasa kecil. Jangan sampai dia benar-benar suka dengan Amanda, karena aku sedang sebisa mungkin meredam emosi agar tidak terjadi pertumpahan darah antar saudara malam ini.

__ADS_1


"Ya Felix jadi dimana Amanda sekarang?" Tanyaku setelah satu menit berlalu.


"Kurasa dia tak membawa handphone miliknya Ge, disini jelas posisinya berada di vilamu." Jelas Felix.


"Lacak bandul kalungnya Felix." Aku baru teringat jika menyusupkan GPS di bandul kalung yang ku berikan untuknya.


"Sepertinya aku tidak bisa membantu kali ini Ge, semua benda yang bisa terlacak ada di vilamu." Ujar Felix kemudian.


"Arghhh, lalu bagaimana dengan Danda." Aku mencoba melacak apapun yang bisa ku lacak.


"Kau pikir Danda siapa? Dia keturunan seorang G, sulit bagiku melacak keberadaannya." Jelas Felix yang membuatku ingat Danda tidak mungkin membuat lokasinya mudah untuk diretas mengingat dia penjahat kelas kakap.


"****!" Aku hanya bisa mengumpat.


Aku memutuskan sambungan dengan Felix, tetap melaju tanpa arah bermodalkan naluriah. Tangan membawaku sampai di salah satu mall kenamaan di Denmark. Ku edarkan pandangan, menilik setiap sudut dan nihil. Aku tak menemukan keberadaan Amanda. Benci dengan hal yang tak bisa ku raih, aku memutuskan kembali ke vila.


Butuh sekitar tiga puluh menit menuju vila. Saat berniat memarkirkan mobil, aku melihat mobil Danda terparkir rapi di garasi. Oh sudah pulang rupanya anak itu. Refleks aku menarik nafas lega, akhirnya mereka pulang.


Ruangan di dalam vila sudah di dominasi cahaya remang setiap sudutnya, menandakan tidak adanya kehidupan di vila ini. Dan aku mengutuk diri sendiri karena kakiku melangkah dengan ringannya ke kamar Amanda. Entah sihir apa yang digunakan, tapi aku merasa lega hanya dengan mengetahui jika Amanda ada di kamar ini. Terbukti dengan daun pintunya yang terkunci dari dalam.


Pagi menjelang, seperti biasa aku mengumpulkan runtuhan jiwaku agar kembali menyatu dengan metode rebahan sejenak. Ku lirik arloji di nakas tepat pukul tujuh, jadi akan lebih baik jika aku mandi sekarang. Lalu menunggu sarapan, agar tidak terjadi hal-hal tidak diinginkan.


"Wah wah wah, sudah siap di meja makan sepagi ini Ge, hebat sekali kelakuanmu." Sudah biarkan saja tidak usah di jawab ocehan tak penting Jason di pagi hari.


"Apakah kau bisu karena terlalu lapar, aku serasa berbicara dengan tembok." Jengah juga dia tak di tanggapi, rasakan.


"Dua kesayangan mommy sudah wangi dan tampan, ayo sarapan. Loh mana Amanda dan Danda kenapa belum turun, tidak biasanya." Tanya mommy bingung.


"Mommy bicara seolah sudah tinggal lama disini, padahal baru tiga hari sudah berani menyimpulkan kelakuan seseorang saja ya Ge." Apa-apaan Jason mengikutsertakan aku.


"Mommy ini tahu segala hal hanya sekali pandang, kau diam saja." Mommy dengan sifat orangtuanya yang selalu profesional dalam menilai.


"Mom kita makan duluan saja ya. Jason sudah cukup lapar." Merengek seperti tak pernah diberi makan selama ini.


"Baru cukup lapar, belum sangat lapar. Tahan sebentar bisa." Saranku berharap semua anggota bisa makan bersama.


"Jason panggil mereka berdua saja ya mom." Usul Jason tak sabar.


"Itu bagus ada inisiatif." Jawab mommy mengiyakan.


Jason dengan semangat juang sarapan segera menuju kamar Amanda dan Danda. Tiga menit kemudian ketiganya beriringan menuju meja makan. Tentu saja Jason berjalan di depan memimpin barisan, untuk santap pagi ini.


"Tidak apa sayang, ayo duduk dan kita mulai sarapan." Ucap mommy.


"Amanda semalam pulang jam berapa memangnya? Sampai-sampai aku tak tahu kapan kau pulang." Tanya Jason penuh selidik.


"Entahlah Jas, sekitar pukul dua dinihari mungkin." Jawab Amanda.


"Larut sekali, memangnya kau kemana saja dengan Danda." Jason terus menuntut jawaban, aku tahu bukan dia yang perduli. Jason hanya bertanya agar aku tak perlu gengsi untuk bertanya tapi tetap dapat informasi. Terkadang Jason memang sangat berguna.


"Hanya membeli hadiah, makan, menonton, makan lagi, kemudian pulang." Jelas Amanda kurang rinci.


"Kau menonton dan makan di daerah mana sampai jarak tempuhnya memakan banyak waktu." Teruslah bertanya Jason, aku sudah menyiapkan pundi-pundi dolar untukmu nanti.


"Danda membawaku ke tempat makan di ujung kota Denmark, bagaimana bisa cepat pulang." Jelas Amanda yang membuatku kesal, untuk apa makan terlalu jauh jika tujuannya sama saja yaitu membuat kenyang.


"Sudah ku duga, lebih baik tadi aku tak bertanya ya Ge." Jason membawa aku dalam obrolannya.


"Urus urusanmu sendiri Jas." Sarkasku menimpali perkataan Jason.


"Sepagi ini dan kau sudah emosi, bakat marahmu semakin meningkat rupanya." Ledek Jason kemudian.


"Ah ya Manda, kenapa kau mau-mau saja diajak Danda berkeliaran tengah malam." Interogasi dari Jason belum usai nampaknya, dia masih gencar mengajukan pertanyaan.


"Mungkin karena mengasikan menghabiskan banyak waktu dengan Danda, bahkan aku sampai lupa waktu." Amanda tersenyum di akhir kalimat, menunjukkan bahwa ucapannya tanpa ada paksaan.


"Kalau dengan Gerlard bagaimana?" Tanya Jason memancing emosiku, karena tak siap mendengar jawaban Amanda.


"Emm, aku.." Amanda tampak ragu akan menjawab apa.


"Ini meja makan bukan untuk mengobrol, dimana tata krama kalian? Hah, aku selesai." Ku tinggalkan meja makan dalam kondisi sedikit kenyang.


Aku menyesap sebatang rokok sebagai penenang amarah. Aku marah akan jawaban Amanda yang terdengar ragu untuk berucap. Aku marah karena Amanda bahagia menghabiskan waktu dengan Danda sedang aku kelimpungan mencarinya semalaman. Aku marah karena tak ada sedikit rasa bersalah di matanya terhadapku, bahkan dia belum menyapaku pagi ini. Aku tak bisa menerima semua itu.


"Hey, kenapa merokok disini?" Lamunanku buyar karena Amanda menghampiriku ditengah sarapannya.


"Apa perdulimu."


"Tentu saja aku perduli, kau belum menghabiskan santapan mu. Kau pasti masih lapar mengingat porsi makanmu yang banyak. Ayo kembali dan melanjutkan sarapanmu yang tertunda." Bujuk Amanda penuh rayuan.


"Persetan dengan sarapan. Enyah kau!" Suara Amanda sangat lembut sebenarnya aku tak tega menolak.

__ADS_1


"Loh kok jadi emosi. Itu karena kau belum kenyang makanya marah-marah." Ledek Amanda sok tahu.


"Ayo, biar tidak tambah emosi." Amanda menggenggam tanganku, dia berusaha menarik tanganku untuk mengikutinya kembali ke meja makan.


Hatiku belum berdamai, maka ku hempasakan tangannya seraya berucap, "Emosiku biar aku sendiri yang mengurus, tolong pergilah!"


"Tidak tidak, kau itu kekanakan. Nanti semakin menjadi jika ku tinggal." Lihat Amanda makin sok tahu tentang emosiku.


"Kau tahu apa tentangku. Pergilah." Usirku, namun hati berkhianat ingin Amanda tetap disini.


"Perasaanmu sedang tidak baik ya Ji, baiklah aku tidak memaksa." Amanda menyentuh bagian lengan kanannya yang tadi ku hempasakan. Mimik mukanya menandakan kekecewaan akan sikapku.


Melihat hal itu di depan mataku, reflek lidahku tergerak, "Sebelum perasaan ku semakin rumit, kumohon kembalilah."


"Jadi kau memintaku pergi atau kembali?" Amanda nampak bingung dengan ucapanku yang bertentangan dalam kurun waktu dekat.


"Lupakan, pergilah." Dan aku dengan sikap labilku kembali mengusirnya.


Plakkk...


"Kenapa kau memukul jidatku?" Aku tak terima, tanpa ada angin Amanda memukul jidatku cukup kencang.


"Otakmu belum utuh karena bangun terlalu pagi dan kau paksa mandi, biasanya kau sarapan dulu baru mandi, tidak seperti hari ini." Tenyata dia tau rutinitas harian ku.


"Ini tubuhku, semauku mengaturnya setiap waktu." Elakku mendengar kalimatnya.


"Coba pinjam tubuhmu, aku ingin memeluknya sebentar." Ujarnya.


Tanpa izin Amanda dengan sikap selalu lancangnya merengkuh badanku. Mendongak karena tinggi kita yang lumayan jauh, mengelus bekas pukulannya di jidatku. Menatapku dengan jenis tatapan yang sulit ku mengerti, mengelus rahang ku lantas berujar, " Rahang mu bisa retak jika terlalu sering mengeras. Rileks sehari saja Ji, bisa tidak?"


"Retak atau runtuh sekalian apa perdulimu?" Tanyaku telak.


"Tentu aku perduli, jika retak aku mungkin akan sedih berkepanjangan." Amanda berkata tanpa tahu ucapannya mampu menarik senyum tipis bibirku.


"Bodoh, menangisi ku untuk apa." Mengeluarkan kata manis padaku, tapi selalu pergi dengan Danda.


"Kau butuh berlibur, aku akan mengajakmu berkeliling Denmark malam nanti." Bujuk Amanda.


"Kau yakin, kau bukan warga Denmark. Mana paham seluk beluk wilayahnya." Aku bahkan tidak sadar suara yang ku keluarkan melunak sendirinya.


"Ah kau benar, kalau begitu aku mengajak mu bersepeda di sekitar vila besok pagi." Ajaknya penuh antusias.


"Lalu malam nanti? Kau tidak melakukan apa-apa untuk menebus ajakan yang gugur sebelum disetujui." Amanda bahkan lupa mengajakku makan malam di luar malah pergi dengan Danda.


"Kau saja yang mengajakku nanti malam Ji. Aku akan menggantinya setelah benar-benar paham wilayah disini, bagaimana?" Tawarnya selaku sanak rantau.


"Merepotkan." Jawabku.


"Ayolah, ah aku lupa semalam aku ingin memberikanmu hadiah tapi sayang kau tidak ada di vila saat aku pulang." Kata Amanda.


"Aku bukan anak kecil yang butuh hadiah." Dalam hati aku penasaran hadiah macam apa yang dia punya.


"Aku membelinya dengan menjual cincinku tanpa sepengetahuan Danda, kau harus menghargainya." Sombong Amanda.


"Aku tak meminta kau melakukan itu, untuk apa menghargainya."


"Susah sekali bicara dengan manusia es sepertimu."


"Awas kedinginan memeluk es ini."


"Walau kau dingin aku suka Ji." Sial kalimat Amanda membuatku tersipu diam-diam.


"Mana tanganmu sini biar ku pasangkan." Badannya setengah memeluk badanku, tangan Amanda meraih tangan kananku lalu memasangkan gelang tersebut.


"Ini apa, kau melamar ku dengan benda ini?" Aku berharap Amanda menjawab dengan kaya iya.


"Tidak ada sejarahnya melamar laki-laki dengan gelang. Aku hanya suka modelnya, saat melihatnya mengingatkanku dengan kau, jadi aku membelinya, baguskan." Bangganya mengulas senyum.


"Biasa saja." Meski demikian aku sangat menyukainya, ditambah fakta kau masih mengingatku saat bersama Danda membuat aku bahagia, bonus kau membelikan ku gelang tangan dan rela menukarkannya dengan cincinmu, aku sungguh tersentuh.


"Tak apa pakai dulu ya, anggap saja ini jimat dariku. Nanti kalau aku punya banyak uang, aku akan membelikanmu yang lebih baik." Ujarnya.


"Aku tak butuh semua itu." Karena seharusnya aku yang membelanjakan keinginanmu bukan sebaliknya.


"Pokoknya aku memaksa." Kekeh Amanda dengan pendapatnya.


"Terserah kau saja." Tukasku.


"Kenapa malah bermesraan disini Ge. kami menunggu kalian kembali untuk makan bukan menunggu kalian pacaran sembunyi-sembunyi." Suara Jason sambil cekikikan.


Entah kapan Jason berdiri di samping kita, aku tak menyadari kehadirannya jika dia tak bersuara. Semoga dia baru tiba, kalau tidak matilah riwayat hidupku.

__ADS_1


__ADS_2