
Kegilaan dalam rangka ulang tahunku tidak berhenti hanya dengan tiup lilin lantas suap-suap kue di rumah sakit. Terlalu indah dan beda dari yang lain saat memberi kejutan ulang tahun di rumah sakit. Memang pembawaan keluarga ini sedikit tidak waras.
"Ge besok malam kita adakan pesta di vila, Daddy mengundang semua kolega di Denmark." Informasi dari Daddy setibanya kita semua di vila.
"Tidak usah berlebihan Dad, aku sedang kurang fit, aku tak ingin beramah tamah dengan tamu undangan nantinya." Beberku tak terima diberi perayaan ulang tahun seperti anak kecil saja.
"Justru itu, Daddy beritahu lebih awal agar kau segera pergi tidur dan bertenaga kembali esok hari." Ujar Daddy menggurui.
"Dad, aku yang ulang tahun saja sama sekali tak menginginkan adanya pesta. Aku ingin menghabiskan waktu dengan Amanda." Kurasa energi ku yang terkuras oleh perkerjaan akan berangsur membaik jika di dekatnya.
"Menurut atau tak bertemu Amanda selamanya?" Ancam Daddy, ciri khas sekali jika keinginannya tak terpenuhi, meski sudah tua bangka kebiasaannya tak luntur diterjang umur.
"Amanda aman bersamaku Dad, tak perlu menggunakan trik rendahan seperti itu." Bantahku tak terima.
"Sekarang Daddy tanya, memang Amanda ada dimana?" Tanya Daddy, yang membuatku berpikir cukup lama dan berujung tak menemukan jawaban.
"Dad, jangan lagi mencoba memberikan kejutkan yang aku tak ingin. Aku tak tahu Amanda dimana, seingatku dia bersama Mommy sepulang dari rumah sakit." Pintaku sebagai anak.
"Jika tak tahu, maka menurutlah. Ah satu lagi, tidak ada bantahan untuk ini. Daddy muak bicara denganmu." Daddy pergi menaiki tangga, dan malas menoleh kembali hanya untuk sekedar melihat ekspresi frustasi ku saat ini.
Buntu, pikiranku buntu. Aku tahu sekeras apapun berusaha mencari Amanda maka hasilnya akan nihil jika Daddy sudah berkehendak.
Rasa kantuk mulai mendera, kuputuskan untuk masuk ke kamar Amanda lebih dulu. Menelisik seluruh ruangan, lantas sedikit berbaring di ranjangnya. Aku suka aroma Amanda yang tertinggal di bantal, wanginya menjemputku ke alam mimpi.
"Ge, bangunlah jangan seperti orang mati." Sayup terdengar Jason membangunkan ku.
"Hm." Sahutku singkat, sungguh rasanya badanku amat sakit. Bahkan sekarang aku seperti sulit hanya untuk sekedar mengambil oksigen.
"Cepatlah bangun, atau aku menindihmu lebih lama lagi." Ancam Jason yang membuatku berpikir dalam serpihan sadar yang ku miliki.
"Yakk.... menyingkir b*doh." Pantas aku sulit bernafas, ku kira daya tahan tubuhku lemah. Nyatanya adik tak tahu diuntung ini bertindak kurang ajar saat aku tak sadar.
"Aku akan menyingkir jika kau membuka matamu sekarang juga." Perintah Jason nampak lelah atas diriku.
Perlahan aku membuka mata, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk dalam pupil dan mengigit bahu Jason seadanya tenaga saat bangun tidur.
"Akhhhh... Kau manusia apa zombie. Setelah hibernasi berubah jadi pemakan daging sesama." Ejek Jason, sambil meringis kesakitan.
"Jangan banyak bicara cepat menyingkir, kita bukan pasangan sesama jenis yang dimabuk kasih dan sedang berbulan madu, adegan ini sangat menjijikkan Jason." Bagaimana bisa terlintas ide membangunkan ku dengan menindih seluruh badanku dengan badannya yang lebih berisi.
"Salah mu sendiri, tidur seperti mati suri, sudah dibangunkan dengan berbagai metode malah aku frustasi seorang diri." Protesnya, mungkin aku sulit untuk disadarkan dari tidur nyenyak ku.
"Ribut sekali, aku baru terlelap beberapa menit Jason, itu belum dapat menggantikan tiga malam sebelumnya aku terjaga." Protesku, kembali menyadarkan Jason betapa tubuhku butuh pemulihan dari rasa kantuk.
"Maaf tuan muda Gerlard, anda tertidur sudah dua malam." Sahut Jason berkacak pinggang.
"Bercandamu berlebihan Jas, kau pikir aku percaya." Mana mungkin aku tidur nyaris menyamai mayat.
"Kau melewatkan pesta ulangtahun yang di gelar Daddy." Imbuh Jason, mencoba meyakinkan ku.
"Serius?" Aku linglung, jangan bilang sekarang aku masih bermimpi.
"Lihat kalendar di arlojimu, ini sudah tanggal 23 April Ge." Seru Jason, sambil menarik paksa tangan kananku lantas meletakkan tepat di depan wajah tampan ini.
"Yakk... kenapa tidak membangunkan ku adik yang mulia." Murka sekali rasanya dengan ketidakpekaan anak satu ini.
"Pikir saja dengan kewarasan mu, mana mungkin tidak dibangunkan. Bahkan semua orang sudah mencoba kau saja terlalu asik dengan mimpimu." Jelasnya yang masih membuatku tak yakin.
__ADS_1
"Kau tidak sedang membodohi ku bukan?" Harus dipastikan berulang kali, karena seingatku aku tak pernah seperti ini sebelumnya.
"Kau harusnya berterimakasih padaku, tadi Daddy berniat membangunkan mu dengan senapan miliknya, tapi tertahan oleh Amanda." Cerita Jason dengan bangga.
"Memang Amanda tidak bisa membangunkan ku?" Heran rasanya, jika sama sekali tak ada yang bisa membangunkan ku.
"Justru jika Amanda yang datang, kau malah memeluknya sampai nyaris kehabisan nafas. Terjaga atau terlelap kau sama gilanya." Ledek Jason.
"Jadi bagaimana?" Akhirnya aku pasrah dan meminta pertolongan.
"Aku tidak bisa membantumu Ge, Daddy marah besar kemarin malam." Jason tahu diri, tak ada yang selamat menghadapi amukan Daddy.
"Heiii, tidak sepenuhnya kesalahanku bukan." Enak saja aku disalahkan, padahal aku bukan pelaku utama meskipun bintang utama pada acara pesta.
"Terus kelahi, dan kau bisa dicabik-cabik Daddy lima menit kemudian." Danda masuk dengan setelan jas rapi.
"Maksud mu apa Danda?" Tanyaku kebingungan.
"Kau ditunggu Daddy dan semua orang di ruang bawah Ge, bergegaslah." Ujarnya membuatku berpikir.
Jika aku tak terlahir dengan paras tampan setiap detik mungkin saat ini rasanya aku ingin bertemu malaikat maut. Bagaimana tidak, jika Danda dan Jason sepakat membawaku secara paksa ke lantai dasar. Mulutku terasa kebas karena terlalu lama menganga melihat betapa penuhnya ruangan itu dengan manusia.
Lantunan saxophone disambut dengan suara merdu penyanyi undangan Daddy sangat meriah menyambut ku yang baru sadar dari tidur. Aku tidak dapat mencerna dengan baik kondisi ini, terlebih aku turun tangga dengan diseret oleh mereka.
Bagai suatu pertunjukan, aku disulap dan dipermak di depan umum. Meski bingung untunglah, aku tak ditelanjangi bulat-bulat. Mereka melakukannya seperti trik-trik sulap yang menarik dan memukau untuk ditampilkan.
"Selamat sore tamu undangan sekalian, bintang utama kita telah tiba, jadi minta waktunya sebentar." Sambutan pembawa acara.
"Untuk tuan Gerlard dipersilahkan menuju tempat yang disediakan." Pintanya membuatku bingung karena sama sekali tak ada orang berhati malaikat memberitahu ku tentang jalannya acara.
"Baiklah, ngomong-ngomong ini acara apa?" Aku sedikit berbisik mencuri informasi.
Bukannya menjawab pelayan itu hanya tersenyum malu-malu, kurasa ada beberapa sarafnya yang putus.
"Oke, tuan Gerlard D Dark sudah di podium mari kita dengar beberapa kata darinya." Seru pembawa acara.
Siapapun, tolong aku. Kenapa aku merasa dipermalukan oleh keluarga sendiri. Aku merasa konyol dan ingin mencongkel setiap mata yang memandangku penasaran saat ini.
"Terimakasih karena telah menghadiri pesta, semoga kalian menikmati pesta dengan baik." Ujarku singkat.
Suara tepuk tangan memeriahkan seluruh ruang. Dan tiba-tiba lampu meredup, aku merapal mantra agar tidak ada badut atau hal-hal konyol ciptaan mommy.
Harmoni indah tercipta dari perpaduan beragam alat musik. Dari tangga turunlah Amanda dibalut gaun putih menjuntai bagai pengantin dengan bunga menghiasi kedua tangannya. Tunggu-tunggu jangan bilang aku dinikahkan secara paksa.
Detik-detik langkah Amanda sampai dihadapanku serasa seabad. Meski aku belum melihat adanya pendeta, aku harap hari ini sungguh-sungguh pernikahan ku.
"Perhatian untuk hadirin, sambutlah bintang wanita kita dengan meriah." sambung pembawa acara disertai dengan menyalanya lampu utama.
"Untuk panitia agar membantu proses tukar cincin pangeran dan ratu kita sore ini." Pembawa acara meminta semua orang berhenti melakukan kegiatan memasuki acara inti.
Aku yang tak tahu apa-apa, bermodalkan ketampanan mengambil cincin dari pelayan, meraih tangan Amanda dan memasangkan cincin itu dijari manisnya. Bersambut dengan giliran Amanda memasangkan cincin untukku.
"Kau cantik." Pujiku, disela-sela pemasangan cincin.
"Aku tahu." Balasnya tersipu, membuatku ingin memakannya saat ini juga.
"Baiklah acara inti berjalan dengan sempurna. Tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati pesta hingga malam tiba." Tutup pembawa acara, tanpa informasi sebenarnya ini acara apa.
__ADS_1
"Selamat tuan, kami turut berbahagia."
"Gila kau, tak ada kabar hubungan asmara, ternyata sudah taken."
"Kau bukan pedofil bukan Ge, wanitamu terlalu muda."
"Apapun itu aku turut bahagia. Selamat Ge."
Beberapa kerabat dan kolega memberi ucapan silih berganti. Aku muak ingin pergi menghadap Daddy dan meminta penjelasan sedini mungkin. Kenapa menikahkanku tanpa kompromi.
Hampir delapan jam bercengkrama dengan berbagai jenis manusia akhirnya kita rehat juga. Meski waktu menunjukkan pukul satu dinihari aku nekat mengumpulkan semua anggota keluarga di ruang keluarga.
"Jadi ada apa melarang kami tidur padahal ini sudah amat sangat larut?" Tanya Daddy selaku orang paling berani menentang ku disini.
"Tidak banyak hanya jelaskan tentang pernikahan dadakan ini." Pintaku tak sabar.
"Siap yang menikah?" Ledek Jason disambut gelak tawa seisi keluarga, ditambah dengan Dalton dan Carmila.
"Jangan mencibirku Jason, bukankah pesta tadi pernikahan ku dengan Amanda?" Awas saja kalau bukan.
"Itu khayalan mu saja Gerarld." Cibir Daddy.
"Tentu bukan sayang, kalian hanya bertunangan. Masa seperti itu saja butuh klarifikasi." Jelas Mommy sedikit memberi titik terang.
"Bagaimana aku tak salah sangka, acara sangat meriah, dan setiap rangkaian seperti adegan pernikahan yang selama ini aku lihat secara langsung maupun tidak." Elakku mencoba membela diri mempertahankan citranya yang mulai luntur.
"Kenapa mendadak bodoh, mana ada orang nikahan tanpa mengucap janji suci Gerlard." Dalton, tamu tak diundang dak ikut mencibirku.
"Yakk... Ulah kalian hampir membuatku malu seumur hidup." Tentu saja aku tak terima dengan semua ini.
"Biasanya tanpa penjelasan pun kau pandai dalam membaca situasi Ge, jadi kami pikir tak perlu menjelaskannya jika terkait dirimu." Jelas Danda, sedikit menyanjung dan menjatuhkan secara bersamaan.
"Tapi tidak dengan diriku yang hampir tak ada stamina dan baru sadar dari tidur juga Danda." Tidak tahu saja kau jika suatu saat diposisiku.
"Waduh baru tunangan saja sudah tidak berstamina, kau harus menceraikannya sejak dini Amanda." Jason dengan lidah kurang terdidiknya.
"Kenapa harus?" Amanda bingung dengan pernyataan Jason, untunglah aku tak perlu repot-repot membahas stamina kali ini.
"Sudah-sudah, lebih baik kita bubar dan pergi istirahat. Kau tak tahu saja kita sibuk mempersiapkan pesta pertunangan mu sedang kau asik tidur tanpa ikut serta." Mommy mulai lagi, jika sedang mengantuk.
"Dan kau menyebalkan aku harus datang sehari lebih awal untuk menghadiri pesta ulang tahunmu ternyata kau tak bangun." Dalton merasa tak rela meninggalkan anak lorengnya lebih lama.
"Jadi, ada dua pesta secara bersamaan?" Tanyaku harap-harap cemas.
"Iya, pesta dua hari dua malam. Malam pertama pesta ulang tahunmu, karena kau tak bangun jadi hanya diisi dengan menonton video-video masa kecilmu sampai beranjak dewasa. Ternyata kau menggemaskan juga Ji." Ujar Amanda membuatku semakin ingin berenkarnasi jadi batu seketika.
"Ayo sudah jangan tanggapi rengekan Gerlard, bukannya terimakasih sudah dirayakan pesta ulangtahun, diberi hadiah pertunangan dengan wanitanya, bukannya senang malah protes terus menerus." Daddy mulai cerewet seperti Mommy, jika seperti ini lantas siapa yang salah. Apakah semua salahku, tidak bukan.
"Ayo kita ke kamar masing-masing. Besok lagi Ge kita tak cukup istirahat dua hari belakangan ini. Karena harus menghadiri pesta untukmu." Mommy mulai melunak, mungkin sedikit berbelas hati melihatku frustasi.
Tak ada bantahan dan kata tambahan, semua menurut melangkah ke kamar masing-masing. Begitupun dengan ku. Aku menggandeng Amanda melewati tangga, mendahului mereka, setelah sebelumnya Amanda pamit undur diri.
"Jangan tidur sekamar dulu Ge kau belum resmi menikah." Teriak Jason puas meledek ku.
"Berisik!" Balasku berteriak.
Hah, ini memang kado terindah dalam hidup tapi bukan berati aku ingin alurnya seperti ini. Ayolah tanpa campur tangan mereka pun aku bisa menikahi Amanda. Kenapa aku serasa anak menantu dan Amanda anak kandung mereka. Arghhhh kesal dan senang secara bersamaan, sulit bagiku untuk mendeskripsikan perasaan ini.
__ADS_1