
Jika memiliki anak adalah suatu anugerah yang tak dapat digambarkan dengan kata rasa apapun. Mungkin perkataan itu ada benarnya. Hampir sembilan puluh persen orangtua hanya akan dikaruniai satu anak dalam sekali persalinan. Tapi tidak denganku, tuhan menganugerahkan dua anak sekaligus dalam satu proses kehamilan. Lalu bagaimana aku mengungkapkan rasa mendapat anugerah itu. Satu-satunya cara adalah bersyukur atas berkat Tuhan.
Bentuk rasa syukur yang aku jalani adalah menjaga titipannya dengan baik dan benar. Meski bukan aku yang mengandung, aku selalu ikut kegiatan apapun yang berkaitan dengan anak kita. Bahkan saat Amanda meminum vitamin aku ikut mengambilkan air minum, saat Amanda olahraga aku turut serta, Saat Amanda gelisah tak bisa tidur aku turut menemani. Bukankah aku suami idaman.
Banyak hal yang aku jaga agar tak menyinggung perasaan Amanda. Sebisa mungkin, aku mengalah dan memenuhi semua keinginannya, tapi tetap saja salah. Sering membuat Amanda menangis tanpa tahu dimana letak kesalahan ku. Pernah suatu waktu dia menangis karena aku terlalu tampan, lantas aku harus apa. Apa mungkin tiba-tiba operasi agar menjadi jelek, kan merugikan.
"Sayang kau sedang apa?" Amanda masuk tanpa mengetuk pintu ke ruang kerjaku.
"Sedang memeriksa beberapa berkas sayang, ada apa?" Sungguh gemas melihat pipi gemboknya yang semakin hari semakin bertambah.
"Oh kau sedang kerja." Memangnya orang di kantor selain untuk bekerja untuk apalagi, kadang aneh sekali wanitaku ini.
"Iya sayang." Senyum manis ku tampilkan agar suasana hatinya bagus.
"Kau selalu mementingkan pekerjaan daripada aku dan si kembar." Amanda mulai drama.
"Sayang aku tak begitu. Memang ada apa sayang. Kau mau aku temani?" Aku kelabakan sampai tak fokus harus menyusun kalimat.
"Aku ingin bermain game." Ujarnya berubah ceria.
"Baiklah ayo duduk dulu." Aku menuntunnya agar duduk.
"Kenapa duduk, aku ingin game sungguhan." Celetuknya mebuatku bingung.
"Oke, yasudah ayo aku ikut." Jawabku tanpa pikir panjang.
"Kau memang yang terbaik, nanti disana aku ingin menaiki rollercoaster ya sayang." Ucapannya seringan angin.
"Tidak, kau masih hamil sayang." Gila saja permintaan wanita hamil ini.
"Tapi aku nyidam." Jurus andalannya.
"Tidak. Kali ini tidak." Aku mengunci pintu kantor, takut dia kabur.
Akibat penolakan ku dengan tindakan bahaya yang dirancang oleh otak sempit istriku dia meraung seperti tak makan bertahun-tahun. Aku pusing mendengarnya, mana dia menolak segala bentuk pertolongan yang aku berikan. Bingung menghadapi Amanda dengan segala sikap absurdnya aku menelepon Mommy. Memintanya untuk datang, tapi berbuah penolakan karena sedang sibuk mengurus Daddy yang rewel. Meledaklah kepalaku satu-satunya.
Lelah dengan amukan dan tangisnya, Amanda tertidur dengan sendirinya. Aku menghampiri Amanda yang tidur pulas di sofa. Menyelimutinya dengan jas ku yang tersampir di kursi. Menghembuskan nafas lega, dan mulai berdoa agar saat bangunnya suasana hatinya sudah membaik.
...****************...
"Halo, sampai kapan kau mual melihatku bed*ebah?" Danda berteriak di ujung telepon.
"Sampai kau memberikan aku peringkat pertama dalam dunia bisnis." Hal yang mustahil dikabulkan.
"Mimpi saja kau, aku saja belum mencapainya." Danda sewot.
"Yasudah tunggu saja sampai bayinya lahir." Aku ingin tertawa, karena sebenarnya sekarang saja aku sudah tak benci mendengar suaranya.
__ADS_1
"Gila kau, bisa stres aku seperti manusia dimusuhi." Sanggahnya tak terima.
"Ya mau bagaimana lagi, ini kemauan keponakan mu." Dusta sekali aku jadi manusia.
"Hah, mungkin kau butuh satu tamparan lagi Ge." Danda memutuskan sambungan sebelum ku jawab. Sudahlah, aku akan menghubunginya nanti.
Kehamilan Amanda mengharuskan kita cek kondisi bayi setiap bulannya. USG adalah hal pertama yang dilakukan dokter sebelum pembicaraan lanjutan mengenai kehamilan. Oleh karenanya, dengan ide brilian yang ku punya aku mensulap satu kamar menjadi kamar periksa Amanda. Ruangan itu lengkap dengan alat USG, aku pun memanggil dokter keluarga ke rumah sewaktu aku ingin. Jadi aku bisa terus memantau perkembangan janin ku.
Hari ini semua keluarga berkumpul, minus Danda karena masih pundung tidak diajak dalam urusan keluarga belakangan ini. Kumpulnya keluarga, ditambah Felix dan Jolie yakni untuk mengetahui jenis kelamin anakku secara serentak. Aku malas berbagi video USG dengan mereka. Jadi ku boyong saja ke rumah.
"Kau yakin sudah tak mual berdekatan denganku?" Danda memastikan untuk kesekian kalinya.
"Iya, sudah ku jawab hampir sepuluh kali, masih saja bertanya." Pada akhirnya aku tak tega dan memintanya untuk datang.
"Syukurlah." Danda langsung berlari ke dalam mansion meninggalkan aku sendirian.
Bagaikan reuni, Danda penuh suka cita memeluk Amanda. Rindunya tampak jelas, karena dalam senyumnya dia tak sadar telah meneteskan air mata. Melihat Danda yang seperti itu, aku serasa menjadi saudara yang amat kejam. Tapi tak apalah sesekali mengerjainya.
"Ayo cepat jalannya, lambat sekali. Aku sudah tak sabar ingin lihat keponakan ku dalam perut Amanda." Jason si paling tak sabar.
"Hm, yasudah ayo kita masuk ruangan." Ajakku pada semua orang.
Seperti anak itik yang mengikuti induknya, mereka membuntuti langkahku bersama Amanda. Rasa bahagia campur aduk dengan rasa penasaran. Apapun jenis kelamin kalian, aku hanya bisa bersyukur atas semuanya.
Amanda berbaring, aku menggenggam tangannya. Dokter di dampingi oleh perawat telah siap melakukan tugasnya. Mula-mula Amanda menyingkap bajunya, lalu seperti rutinitas yang lalu-lalu perawat akan memandu jalannya USG.
"Sayang." Amanda berucap lirih.
"Iya sayang aku tahu, mereka indah bukan." Aku membalasnya dengan senyuman rupawan milikku.
"Aku bahagia." Ucap Amanda kemudian.
"Aku jauh lebih bahagia darimu sayang." Balasku tak mau kalah.
"Tidak, aku yang lebih bahagia." Amanda tak terima.
"Iya sayang." Aku mengalah saja, daripada tengkar di momen sakral seperti ini.
"Dokternya yang paling bahagia, kalian ini malah sibuk kelahi tidak ada perasaan haru apa?" Lerai Jason sembari mengusap tetesan airmata di pipinya .
"Ku menangis?" Tanya Amanda.
"Tentu saja, mereka mirip denganku, membuatku terharu." Darimana letak miripnya, Jason terlalu mengada-ada.
"Aku ingin mencium mereka." Jason tanpa izin menciumi perut Amanda, berimbas Amanda merasa geli. Tak mau kalah Danda ikut serta, tapi tak sampai karena ku cegah dengan tegas.
Dokter dan perawat undur diri setelah semua proses pemeriksaan usai. Tinggallah kami sekeluarga besar di ruang makan. Amanda minta ditemani semua orang untuk makan, padahal kita baru saja sarapan. Meski demikian, tak ada satu orangpun yang berani membantah permintaan manusia hamil itu.
__ADS_1
"Apa menu makan siang belum siap?" Amanda kecewa, karena sesampainya di meja makan tak ada hidangan yang disajikan disana.
"Maaf nona, semua sedang dalam proses masak." Ketua pelayan menjelaskan.
"Yasudah tak apa." Amanda terduduk lesu, sedang kami sedikit bernafas lega.
"Kenapa harus repot-repot sedih, kita pesan pizza, gelato, burger, ayam, dan lainnya." Teringat dengan jasa antar, semua makanan siap saji dipilihnya seperti aji mumpung.
"Hanya sekali ini saja ya sayang, ingat makanan itu tak baik untuk perkembangan bayi kita." Sedikit nasihat, sebelum makanan itu di pesan.
"Hah, benar juga. Yasudah kita makan sayur bening saja yang bagus untuk janin ku." Amanda menyebutkan menu yang asing di pendengaran kami.
"Hah, makanan jenis apa itu." Jason menginterupsi.
"Sudah serahkan saja padaku, kalian hanya tinggal duduk manis disini dan lima belas menit aku selesai masak." Yakin sekali Amanda bisa melakukannya.
"Tapi aku tak mau sembarangan makan. Apalagi makanan seperti pete." Jason masih terbayang betapa tak enaknya rasa pete.
"Tenang saja yang ini pasti enak." Bangga Amanda, padahal belum tentu rasanya dapat di terima lidah kita.
Amanda masak seorang diri ditemani para pelayan. Dia menolak bantuan dari kami, karena katanya kami hanya akan jadi pengganggu saja jika ikut ke dapur. Menurutnya, kami yang tak tahu masakan Nusantara bisa memperlambat pekerjaannya nanti..
"Felix coba kau selidiki dulu apa itu makanan yang akan di buat Amanda." Pinta Jason jaga-jaga.
"Benar, Daddy cukup trauma dengan masakan Amanda yang aneh-aneh." Daddy yang biasanya tenang kini ikut ketar-ketir.
"Mommy juga takut, cepat mumpung dia sedang asik memasak." Mommy sampai mencubit lengan Felix untuk segera kerja.
"Padahal kalian bisa cari di ponsel masing-masing, kenapa harus aku juga yang turun tangan." Keluh Felix, walau berucap demikian tangannya mulai aktif berselancar di dunia maya.
"Jadi bagaimana?" Tanya Danda setelah cukup lama menanti.
"Ini adalah masakan sejenis sup asal Indonesia, kuahnya bening dan berbahan dasar sayuran." Jelas Felix.
"Jika dilihat dari segi gambar, tak ada yang salah dengan makanan ini. Kita masih bisa mengonsumsinya, lambung juga aman." Imbuhnya.
"Coba ku lihat." Danda dan Jason merebut tablet milik Felix.
"Ya memang dari foto sajian tampak enak, tapi ini Amanda yang memasak. Aku tahu kemampuan memasaknya meningkat pesat, tapi setiap mencicipi masakannya membuatku ketar-ketir dibuatnya." Ucap Jason.
"Kau tak tahu saja, aku pernah memakan masakannya tapi rasanya seperti memakan sayuran mentah, tapi bukan salad sayur juga. Mual aku mengingatnya." Jolie yang sedari tadi diam ikut menimbrung.
"Sudahlah, kita hargai jerih payahnya. Aku saja tak pernah protes meski makanan yang disajikan ke asinan." Aku ikut serta dalam obrolan ini.
"KALIAN SEMUA JAHAT!!!!!!!" Teriak Amanda lalu berlari menuju lantai dua.
Matilah kita semua, kenapa tak ada yang sadar Amanda berada di dekat kita dan menguping obrolan ini.
__ADS_1