
Kebahagian hidup tidak melulu soal uang, tapi tak dipungkiri tanpa adanya uang dalam hidup maka keseimbangan rasa bahagia akan turut berkurang. Oleh karenanya mari memaksimalkan diri dalam memproduksi pundi keuntungan secara massal. Suka tak suka aku harus terbang ke Chicago dalam waktu dekat untuk proyek mega dana kali ini.
“Kau yakin tetap pergi meski aku tak ikut Ji.” Tanya Amanda untuk kesekian kali mendengar kabar keberangkatan ku ke Chicago beberapa hari kedepan.
“Sayang sebenarnya aku tak ingin, tapi kau kenapa tak mau ku ajak?” Terkadang aku bingung menghadapi pola pikir Amanda, memintaku untuk berada disisinya tapi di ajak turut serta tak mau.
“Aku baru masuk kuliah tiga hari Ji, mana mungkin mengambil cuti.” Timpalnya dengan tangan masih sibuk mengemasi keperluan ku untuk di Chicago nanti.
“Bisa, di dunia ini tidak ada yang tidak bisa, kau hanya perlu percaya dan serahkan semuanya pada ku.” Kata ku memberi secercah solusi, Amanda seolah lupa siapa aku dan sebesar apa pengaruh ku di negara ini.
“Itu tidak mencerminkan manusia berpendidikan Gerlard sayang.” Oke Amanda mulai kesal, ditinjau dari segi cara panggil kepada ku.
“Yasudah, kita berpisah sementara waktu dulu sayang. Lagi pula tidak lama hanya dua minggu saja. Aku janji akan selalu menghubungimu setiap menit, jadi kau tidak terlalu merasa aku tinggalkan.” Aku mencoba mencari jalan tengah, sebenernya berat juga bagiku tanpanya tapi apa boleh buat.
“Awas saja kau tidak mengabariku, ku usir sekalian kau.” Ucapnya dengki, dan lupa diri selalu menempel dalam diri Amanda.
Aku menghampiri Amanda yang masih betah dengan wajah marah, khawatir, kesal jadi satu. Meski demikian dia tetap terlihat cantik, untung bukan Jason yang bersikap demikian, aku yakin raut mukanya pasti konyol. Amanda yang sadar aku berdiri tepat di belakangnya, membalik badan dan langsung menghambur memeluk ku. Berkata dengan nada tak jelas dikarenakan setiap kata yang keluar diiringi dengan jatuhnya air mata.
“Hei, kenapa menangis sayang. Aku pergi untuk kesejahteraan keluarga kita nanti. Jangan ditangisi karena aku bukan pergi untuk berperang.” Aku sedikit memberikan sentuhan candaan kata, tapi bukannya diam malah semakin menjadi suara tangisnya.
“Kau berangkat sore kan, tunggu aku pulang dari kampus baru berangkat ya. Jangan membantah ini perintah hukumnya wajib.” Kata Amanda penuh penekanan.
Jika tidak ingat situasi sekarang sedang haru, aku pastikan akan tertawa terpingkal-pingkal. Nada bicara Amanda mengancam, muka memohon, dipadukan dengan wajah berlinang air mata, tidak sinkron bukan. Tak ingin berdebat aku mengangguk mengiyakan.
Tepat pukul delapan pagi aku mengantarkan Amanda ke kampus, mengingat mata kuliah pertamanya di mulai pukul sembilan. Sepulang dari mengantar Amanda, aku meminta Luna menyiapkan keperluan ku, sedang aku memeriksa ulang berkas-berkas yang ku butuhkan nantinya. Aku yang sibuk dengan perkejaan sampai melewatkan sarapan bahkan melewatkan waktu untuk menelpon Amanda yang saat ini beristirahat di kampus. Aku tetap sibuk dan mengalihkan tugas menjemput Amanda ke Jason sore nanti.
__ADS_1
Selesai dengan semua berkas, aku mendengar kegaduhan di ruang tengah. Karena lapar mulai melanda, dan sedikit rasa penasaran dengan situasi di bawah vila maka aku keluar dari ruang kerja. Dan aku terkejut Amanda sedang mengoceh panjang lebar, duduk melingkar di lantai dekat perapian musim dingin, dengan para antek-anteknya, sebut saja Jason, Luna, Mommy dan Daddy.
“Sepertinya seru sekali obrolan kalian.” Ujar ku, turut menimbrung percakapan mereka.
“Oh sayang, kemarilah duduk. Kita sedang mendengarkan cerita lucu Amanda hari ini.” Sambut mommy atas kedatangan ku.
“Seseru apa sampai lupa berkabar sudah sampai di vila.” Aku mengira Amanda akan marah karena satu hari ini aku tak memperhatikannya, ini kenapa jadi aku yang merasa kesal.
“Ji maaf, aku takut menggangu pekerjaan mu, makanya aku mengajak mereka bercerita disini saja.” Ucap Amanda diiringi senyuman manis setelahnya.
“Sudah tidak usah minta maaf segala, tidak penting juga Manda, sekarang cepat cerita tentang kawan barumu.” Cerocos Jason si anak pungut kurang ajar.
“Iya, lagi pula yang harusnya minta maaf itu Gerlard sayang. Dia bahkan lupa untuk menjemputmu.” Daddy memang gambaran ayah yang terkadang minta di basmi.
“Tuhkan, harusnya kau senang aku yang terlihat cuek terhadap mu saja masih punya waktu untuk menjemput mu Manda.” Kompor terpanas adalah mulut Jason.
“Tapi tak apa mom, bukankah setiap orang punya kegemarannya sendiri.” Bijak sekali calon istriku.
“Ah sudahlah, tidak seru lagi mendengar ceritanya. Lebih baik kita makan sebentar lagi Gerlard akan terbang bukan. Dan ceritanya kita teruskan setelah kepergiaan Gerlard.” Ucap Jason yang membuat ku merasa seperti seonggok manusia terbuang.
Usulan Jason disetujui oleh semuanya, menyebabkan kita berakhir di meja makan saat ini. Tak butuh waktu lama untuk kami berlima menghabiskan sajian yang ada, akhirnya aku harus berpamitan untuk kerja, dan ini sedikit canggung bagiku. Karena sebelu ada Amanda di vila kami bahkan terlihat saling tak kenal, jadi untuk apa berpamitan satu sama lain.
“Aku berangkat dulu mom, dad, aku juga titip Amanda selama pergi bekerja.” Tukas ku dengan percobaan suara paling lembut yang aku miliki.
HAHAHAHA
__ADS_1
Aku cukup tau pasti respon mereka saat aku mengucapkan kata pamit akan aneh, tapi ini diluar dugaan ku, mereka malah mentertawaiku dengan ekspresi seolah mengejek. Sebenarnya aku juga malas untuk berpamitan, hanya saja aku yang mengajari Amanda untuk pamit walau pergi ke tempat terdekat yang masih terpantau olehku. Jadi curang rasanya kalau aku tak turut mempraktekkan ajaran yang aku punya.
“Kenapa kalian tertawa, apa kalian tidak mau merawat aku saat Jiji tak ada.” Amanda si tukang salah paham nomor satu.
“Bukan begitu sayang, bukankah sedikit lucu dengan perkataan Gerlard barusan. Kau tahu bahkan ini kali pertama dia berpamitan kepada kami selaku orangtuanya.” Ucap mommy jelas membeberkan ketidak benaran di muka bumi.
“Wow, kenapa bisa begitu?” Amanda si tukang heran.
“Tanya saja pada Gerlard, kita mana tahu.” Jason si penjilat.
Muak dengan tingkah konyol keluarga ku, aku mempercepat sesi pamitan ini, menghampiri Daddy, mommy, lalu Amanda. Mengucapkan sedikit kata penghibur dan berpesan untuk tidak merindukkan ku, lantas pergi dengan beberapa orang ku tanpa berpamitan pada Jason yang saat itu masih ada disana. Yang berakibat aku di hadiahi umpatan sepanjang langkah menuju ruang kendaraan.
Tiba di Chicago aku langsung bertemu dengan Gaston mitra ku dalam proyek ini, kami membahas proyek mega dana dan terjun lapang untuk menilik kemajuan dari pembangunan yang sedang dikerjakan. Lelah berkeliling kami rehat sejenak, mengisi energi sambil berbincang ringan.
“Tuan Gerlard, tidakkah sayang menolak tawaran ku untuk makan malam nanti?” Tanya Gaston di sela mulutnya yang masih setia menghisap cerutu layaknya bandit kampungan.
“Aku tidak menolaknya tuan, aku hanya tidak bisa karena harus bertemu kawan lama, dan kebetulan aku sudah membuat janji temu terlebih dahulu.” Mana mungkin aku membatalkan janji dengan paman Jorge, bisa menghilang kepala ku.
“atau lain kali tuan, aku merasa tak enak hati jika kau belum memenuhi permintaan ku satu ini. Kau tahu sendiri ke depannya banyak proyek yang akan kita lakukan bersama, jadi tidakkah kita perlu pengakraban diri?” Imbuhnya kemudian.
“Anda berkecil hati tuan, bukankah kita memang sudah dekat meski tanpa makan malam bersama, bagaimana kalau bermain golf bersama sebelum aku pulang nanti.” Tawar ku, basa-basi.
“Tentu, aku akan mengosongkan jadwal untuk itu, dan biarkan aku yang menyiapkan, ingat aku lebih mengenal Chicago daripada kau.” Sambungnya sedikit bercanda.
“Oke baiklah, kalau begitu mari berpisah untuk hari ini tuan, saya rasa istri anda sudah menjemput.” Ujarku melihat seorang wanita dengan menggandeng putrinya melambai ke arah Gaston.
__ADS_1
“sebagai daun muda, hebat sekali kau dapat mengenali istriku padahal belum ku kenalkan.” Tawanya riang.
Sebelum istrinya sampai di meja yang sedang kami duduki aku bergegas pergi meninggalkan Gaston. Bukannya apa, aku hanya malas berlama-lama dengan Gaston. Aku tidak mempersalahkan kerjasama dengannya, hanya saja aku mencium aroma perjodohan darinya. Karena aku sudah terbiasa saat bertemu mitra atau klien yang memiliki anak perempuan sehari dua hari pasti sibuk menjodohkan dengan ku. Gilanya pernah satu waktu di suatu negara aku di jodohkan dengan sesama lelaki, bayangkan betapa geli aku saat itu.