Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
The Heirs


__ADS_3

Harta dan kekuasaan adalah simbol kemuliaan hidup bagi kebanyakan orang di belahan bumi manapun. Begitupun aku, tak luput dari hal itu. Beruntungnya aku, karena sekarang tak perlu repot merangkak menghasilkan pundi-pundi dolar. Karena sedari belasan tahun aku sudah berkecimpung menumpuk harta. Entah bagaimana asal muasalnya yang jelas aku sosok yang sudah tak memikirkan harta.


"Gerlard kau harus terima, lagipula sebentar lagi aku mati." Adolf bersikeras agar aku mau menjadi pewarisnya.


"Kau jangan seenaknya kakek tua, aku masih punya banyak bisnis yang harus dikerjakan tak ada waktu untuk perusahaan mu." Tolak ku halus.


"Yasudah kalau tak mau, akan ku bakar dengan diriku agar jadi pemakaman jasadku." Celetuk Adolf.


"Kau mau bunuh diri, tak elok sekali caramu mati." Jangan sampai Adolf benar-benar melakukannya.


"Hei, hei kau mau kemana?" Heranku, pasalnya bukannya menjawab perkataan ku barusan. Adolf justru pergi meninggalkanku.


"Mau memborong bensin untuk persiapan mati." Ancam kakek tua, yang aku takutkan dia nekat dan berakhir mati sungguhan.


"Kau, ini sudah tua keras kepala. Ayo bicara ulang dengan keluarga ku lainnya." Aku ikut berdiri menghampiri Adolf.


"Tidak ada tawar menawar, kau mau tidak?" Tanyanya tak memberi ku waktu memutar pikiran.


"Iya, aku mau." Jawabku final.


"Yasudah ayo siap-siap ke kantor, hari ini rapat direksi penunjukkan ahli waris ku." Ajak Adolf dadakan.


"Kau gila atau bagaimana, aku bahkan belum setuju dengan itu." Bisa stres aku berhadapan dengan kakek tua satu ini.


"Barusan kau setuju anak muda. Cepat, rapat dudah dimulai lima menit yang lalu." Adolf berjalan tanpa perduli mulutku yang menganga heran.


Warisan bukanlah hal yang aku pikir aku akan mendapatkannya. Warisan sebenarnya tak berati bagiku, ayolah kekayaan ku jika disatukan dari setiap negara tentu bisa menghidupi Denmark untuk beberapa dekade. Jadi untuk apa warisan itu sebenarnya.


Daddy saja belum memberikan warisan, ini tiba-tiba ada orang asing yang dengan tulus memberikan semua hartanya padaku dengan alasan sebagai hadiah pernikahan. Adolf sedikit berbeda memang dalam memberi hadiah. Dan anehnya lagi dia rela hidup menumpang padaku sampai mati, demi untuk memberiku semua kekayaan kepunyaannya.


"Jadi mari sambut tuan Adolf selaku pemilik perusahaan." Moderator memberikan wewenang waktu pada Adolf.


"Baiklah, terimakasih telah bekerjasama denganku. Kedepannya kalian akan dipimpin oleh putraku satu-satunya. Bersikap baiklah kepadanya, sebagaimana kalian bersikap padaku." Singkat Adolf lantas memperkenalkan ku di depan para dewan.


Prok


Prok


Prokkkkk


Ucapan Adolf bersambut tepuk tangan meriah dari hadirin rapat. Semua mata tertuju padaku, aku tak gugup hanya saja aku bingung harus bersikap. Aku asing di dunia bisnis legal seperti ini, biasanya Danda yang ku beri wewenang. Meski kadang aku ikut berkecimpung, tapi itu sangat jarang.


"Aku harap kinerja ku nanti tak mengecewakan kalian. Harap kerjasama kalian semua." Kataku memberi sedikit sambutan.


...****************...


"Kenapa mendadak kau jadi ahli waris, kenapa aku tak turut kau bagi kakek tua?" Jason protes sampai berdiri di tengah-tengah kami semua yang duduk hangat di ruang keluarga.


"Kau selalu mengataiku kakek tua kolot dan mengambil paha ayam kesukaan ku." Jawab Adolf santai.


"Hei kau memang tua, dan paha ayam memang favorit ku sebelum ada kau dan Amanda." Seru Jason tak terima.

__ADS_1


"Sudahlah, memang kau butuh warisan?" Tanya Daddy sambil meletakkan cangkir teh yang sedari tadi di genggaman.


"Tidak juga." Jawab Jason cengengesan.


"Lalu kenapa ribut-ribut?" Daddy geleng-geleng kepala dengan tingkah aneh Jason.


"Biar suasana ramai saja, tapi di pikir-pikir boleh juga. Dad, pokoknya aku mau perusahaan juga seperti Danda dan Gerlard." Jason memang selalu paling iri hati.


"Mau jadi apa perusahaan itu jika kau yang memegang, sudah muda pembuat onar pula." Ledek Adolf bagai kucing dan anjing jika dengan Jason.


"Sudah tua belum pernah tersedak cangkir teh kan, sini aku contohkan." Jason membalas dengan anarkis.


"Kenapa tak kau saja yang tersedak, aku sih masih ingin menikmati sisa hidup." Balas Adolf sengit.


"Berantem terus, ini aku harus bagaimana mengurus butik pemberian kakek, belum lagi klinik kecantikan aku tak ada bekal." Celetuk Amanda setelah selesai membaca berkas waris dari Adolf.


"Kau hanya perlu mengikuti alur, dan tenang saja ada Carmila dan Mommy mu jangan ambil pusing sayang." Ujar Mommy.


"Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika ada penurunan penghasilan, kakek yang memaksa." Amanda mengerucutkan bibirnya, pertanda sebenarnya dia enggan.


"Kau ini, kakek tidak butuh lagi penghasilan hanya supaya tak sia-sia saja semua itu dulu di bangun, meski tak seberapa tolong jaga sampai kalian tua." Ucapnya Adolf rendah hati.


Usai perundingan dengan anggota keluarga lainnya, kini aku dan Amanda di boyong ke mansion milik Adolf. Mension ini di dominasi warna hitam dan coklat kayu. Adolf sepertinya mengusung rumah modern dengan kayu jati belanda. Nuansa mansion ini sangat enak dipandang mata.


Adolf membawa kami mengelilingi mansion miliknya sambil menjelaskan dimana nanti aku dan Amanda akan menempatinya. Berdasarkan kesepakatan bersama, aku dan Amanda di usir dari vila ku sendiri dan harus berpuas hati dengan hunian pemberian Adolf.


Hunian ini memiliki kolam renang di tengah-tengah mansion, lalu taman bunga matahari di samping rumah, dan kolam ikan koi dijadikan pagar sekeliling rumah, belum lagi ada kebun bintang yang hanya berisikan beberapa koleksi hewan milik Adolf yang didominasi dengan beberapa jenis anjing dan domba.


"Seleramu boleh juga pak tua, mana mungkin aku rombak semua pasti ada kenangan tersendiri bagimu." Jawabku.


"Jiji benar, kakak luar biasa merancang bangunan semegah ini dengan nuansa alam." Imbuh Amanda.


"Kalian berlebihan dalam menyenangkan hatiku, yasudah kalau suka ayo kita ke kamar masing-masing, aku yakin kalian lelah berkeliling tadi." Akhirnya Adolf peka juga.


Kamar yang disediakan untuk kami berada di lantai dua. Bangunan ini memiliki tiga lantai dan semua kamar terletak di lantai dua dan tiga. Lantai dasar untuk ruang makan, ruang amu, dan kolam renang, serta area bermain.


Aku merebahkan tubuh dan memaksa Amanda agar mandi lebih dulu, karena jujur aku butuh istirahat sekarang. Bagaimana rasa lelah tak menumpuk, baru pulang dari bulan madu aku harus rela rapat keluarga dadakan yang diadakan Adolf. Belum sempat istirahat sudah di paksa menghadiri rapat direksi, belum menginjakkan kaki di vila aku sudah di usir dan terdampar di mansion ini.


"Pakaian kita ada dimana sayang?" Amanda sudah selesai mandi dan hanya mengenakan bathrobe kuning kesukaannya.


"Di ruang ganti sayang, tadi pelayan rumah memberitahu semua sudah ditata disana." Jawabku dan meninggalkan Amanda untuk pergi ambil giliran mandi.


Daddy dan yang lainnya sungguh keterlaluan, aku bahkan tak diberi kesempatan untuk sekedar mengemas baju sendiri untuk di bawa kemari. Seolah mereka memang mengharap kepergian ku secepat mungkin. Mereka rela mengemas baju kami berdua, dan mengirimkan langsung kemari, sungguh luar biasa.


"Sayang masih lama tidak mandinya, ini Jason menelpon." Seru Amanda dari luar kamar mandi.


"Matikan saja." Jason sekarang sudah seperti mantan kekasih ku saja setiap satu jam sekali menelpon hanya untuk tanya kabar, sinting bukan.


"Katanya darurat." Seru Amanda berhasil dibodohi Jason. Aku yakin pasti Jason sedang cekikikan saat ini, karena berhasil membuatku kesal.


"Yasudah biarkan saja." Teriakku dari dalam, sebenarnya aku telah selesai mandi tapi malas saja meladeni Jason.

__ADS_1


Satu menit menunggu di kamar mandi membuat rasa dingin menerpa tubuhku, aku menyerah dan segera pergi ke ruang ganti. Aku ganti piyama yang tealh disiapkan oleh istriku tercinta, mengeringkan rambut, lalu menyemprotkan parfum untuk tampilan sempurna.


"Jason masih menelpon?" Aku menghampiri Amanda yang sedang santai memainkan tabletnya.


"Masih, itu aku loud speaker." Amanda saja menjawab dengan enggan, berati Jason memang semakin meningkat tingkah menyebabkannya.


"Halo, ada apa?" Tanyaku menyapa lebih dulu.


"Akhirnya kau selesai jua, apa kau keramas dengan sampo satu botol?" Jason memulai dengan pertanyaan nyeleneh.


"Sudah jangan bertele-tele, ada perlu apa menelpon malam-malam?" Aku sudah malas bicara dengannya, tapi jika tak diangkat dia akan melakukan serangkaian teror yang merepotkan.


"Tidak ada hanya ingin bertanya kau sudah keramas belum hari ini, aku kan keluar dari grup jadi tak tahu perkembangan kau keramas atau tidaknya." Tanyanya di seberang sana yang membuat aku menaikkan alis kiri.


"Kau yakin ingin tahu jawabannya?" Aku menaruh curiga, apa dibalik pertanyaan jebakannya kali ini.


"Sudah apa belum tinggal jawab saja tak seru." Jason memaksa.


"Sudah, kenapa?" Jawabku singkat.


"Kau tidak merasakan sesuatu di kepalamu saat ini?" Tanya Jason yang sudah dipastikan, berbuat usil padaku.


"Tidak, aku baru saja keramas dan rasanya segar." Jawabku bohong.


"Yak, kulit kepalamu badak atau bagaimana, kenapa tidak bereaksi." Serunya kesal.


"Aku menggunakan sampo baru, aku tahu kau menaruh zat yang bisa membual kepalaku gatal dan panas kan." Tebakku, karena saat ini aku belum keramas, sedikit rahasia tenagaku banyak terkuras hari ini tak ada waktu untuk berduaan.


"Dasar menyebalkan, kau tak seru. Aku sumpahkan meski tak lewat sampo kepalamu gatal sampai tak kuat menahan rasanya dan gagal untuk melakukan hal yang iya-iya." Semprot Jason lantas menutup sambungan telpon.


"Kenapa?" Amanda menghampiri ku dengan sedikit rasa penasaran.


"Biasa, Jason dengan sifat usilnya." Jelasku.


"Kali ini apa?" Amanda menuntun ku agar duduk di tepi ranjang.


"Sepertinya berhubungan dengan sampo, dia sampai bertanya aku sudah keramas atau belum." Tukasku.


"Sampo?" Tanya Amanda memastikan.


"Iya." Jawabku singkat.


"Gawat, tadi kakek meminta sampo dan aku menawarkan sampo yang di kemas oleh mereka, ku harap dia belum mandi." Amanda keluar kamar setengah berlari.


Aku menyusul Amanda yang menuju kamar Adolf, sedikit cemas karena bercandaan Jason kadang dapat berakibat fatal. Aku harap Adolf baik-baik saja.


"Yak, kenapa kau kemari? Ini balasanmu setelah ku beri warisan, kenapa sampo dari kalian begitu menyiksa." Teriak Adolf setelah aku sampai di ambang pintu kamarnya.


"Itu ulah usil Jason." Jelasku membantu mengompres kepalanya dengan air es yang saat ini dilakukan pelayan mansion.


"Dasar Jason pemuda kepara*t, tunggu pembalasan ku." Seru Adolf tak terima.

__ADS_1


Meski bersyukur aku selamat dari tangan jahil Jason kali ini, tapi sepertinya dia perlu di beri paham kali ini karena telah melukai kakek tua bangka yang telah memberiku banyak warisan tanpa ikatan darah dan kerabat diantara kami. Tunggu saja Jas, kau tak selamat kali ini. Dasar nakal.


__ADS_2