
Buntut dari ulah Amanda, aku harus ekstra dalam mengerjakan proyek Mega dana. Selama dua hari berturut, aku kerja tanpa mengenal kata istirahat. Aku memaksimalkan kerja otak dan keterampilan tanpa perduli kesehatan diri. Dalam benak aku harus cepat selesai dengan semua urusan, lantas terbang kembali ke Denmark.
"Kau gila untuk ukuran orang yang sedang kasmaran diusia mu, setahuku umurmu sudah menginjak dewasa jadi bertindaklah layaknya usiamu." Dalton masuk ke ruang kerjaku tanpa permisi dan langsung memberi petuah tanpa diminta.
"Seperti paman tidak pernah kasmaran saja, sudah tua mana ingat rasanya." Aku menanggapi Dalton, sambil mencoba fokus dalam pekerjaan.
"Maaf, tapi Dalton muda seorang casanova, aku cukup tinggal tunjuk wanita yang ku mau. Dan asal kau tahu, aku membagi banyak cinta untuk semua wanita. Pepatah berkata mati satu tumbuh seribu, dan ternyata benar adanya." Ujar Dalton bangga.
"Kau salah dalam menempatkan sebuah pepatah paman." Ucapku singkat.
"Kau bukan seorang pepatah, mana tahu tepat atau tidaknya." Tolak Dalton dengan pendiriannya.
"Aku rasa paman butuh istirahat." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar Dalton segera pergi dari ruang kerja sementaraku.
"Tidak salah ucap, Paman rasa kau jauh lebih membutuhkannya." Dalton benar, aku lebih butuh istirahat.
"Istirahat dengan pikiran keruh tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik." Mana bisa aku sekedar memejamkan mata jika dalam situasi bimbang begini.
"Ge, tidurlah ini sudah waktunya tidur untuk ukuran manusia normal." Ujar Dalton sambil menunjuk jam dinding di dekat lemari buku.
"Sesama manusia tak normal, lebih baik paman duduk disini menemaniku." Pintaku asal.
"Lebih baik aku memeluk Carmila, daripada berdiam diri lama-lama denganmu." Tolaknya seolah tak ingin menghabiskan banyak waktu bersama.
"Nah itu sudah tahu, kenapa masih betah disini." Usirku halus.
"Kau mengusirku?" Dalton bertanya dengan raut wajah tak percaya.
"Mungkin terdengar begitu." Jawabku acuh.
"Dasar keponakan tak tahu diri. Pertama ini rumahku, kedua aku kemari membawakan asupan makanan untukmu, ketiga aku berbaik hati memintamu untuk istirahat, ini sudah pukul dua dini hari Ge. Kau sudah tidak tidur hampir dua malam, apa kau menggunakan dopping?" Cerocos Dalton tak terima.
"Semakin larut paman semakin melantur, tidurlah paman. Aku tahu batas kerja tubuhku, aku pasti berhenti jika sudah diambang batas. Tak usah khawatir, aku bukan anak kecil." Akhirnya aku hilang fokus akibat banyak bicara dengan Dalton.
"Siapa yang perduli denganmu, aku begini karena mommy mu meneror ku tengah malam agar mengurusi mu dengan baik." Jujur Dalton akhirnya.
"Abaikan saja orangtua satu itu, tinggal berbohong saja apa susahnya." Ujarku menyesatkan.
"Tamat riwayatmu." Dalton memberikan telpon seluler miliknya, yang ternyata tersambung dengan mommy.
Pantas saja Dalton bicara kesana kemari, ternyata hanya untuk mengelabuhi ku. Dan aku kecolongan, yang berakibat kehilangan waktu berharga dalam bekerja.
Kupingku rasanya seperti terbakar mendengar ocehan mommy. Hampir setengah jam lamanya wejangan indah dari mulutnya aku dengar. Suaranya seperti lantunan suara kereta api tak henti. Terhenti karena janji aku akan baik-baik saja sampai bertemu nanti.
Pagi menjelang, aku bergegas berbenah diri lantas berpamitan dengan Dalton dan Carmila. Menemui Gaston, membicarakan proyek Mega dana.
"Kau menyelesaikan dokumen ini hanya dua hari? Ku rasa kau terlalu memaksakan diri Tuan Gerlard." Gaston heran dengan jumlah dokumen yang ku kerjakan dalam sistem kebut.
"Anda berlebihan Gaston, aku harap semua yang aku kerjakan dalam waktu singkat ini tidak mengecewakan untukmu." Sahutku merendah, belajar dari Amanda.
"Ini luar biasa Gerlard, aku bisa dengan jelas memahami material dan gelontoran dana yang akan digunakan. Ini terlalu rinci, sehingga memudahkan proyek kita nanti." Gaston menjabat kedua tanganku, lantas menepuk lengan kiriku, menandakan kepuasaan batinnya bekerjasama denganku.
"Syukurlah, aku bisa pulang dengan tenang." Ujarku memeberi kabar dadakan.
"Maksudmu?" Gaston bingung karena tak tahu menahu persoalan yang aku hadapi.
"Maaf aku tak bisa mendampingi proyek ini secara penuh diawal. Aku harus segera kembali ke Denmark . Kau tak perlu khawatir, aku akan mengirimkan orang kepercayaanku untuk mendampingi mu nanti." Jelasku agar Gaston paham.
"Kau belum sempat bermain golf denganku, kenapa buru-buru sekali, apa tidak bisa ditunda." Heran Gaston.
"Aku sudah bersabar selama dua hari menunda kepulanganku ke Denmark. Aku harap kau bisa mengerti Gaston." Jika tak paham terpaksa aku beri paham dengan cara lain, lanjutku dalam hati seperti yang sudah-sudah.
"Baiklah, aku rasa urusan disana tak kalah penting, jika kau sampai bersikeras seperti ini. Aku harap semua berjalan lancar Ge." Ucapnya seraya mendoakan ku.
__ADS_1
Helaan nafas panjang keluar dari saluran pernafasan ku. Kini aku lega sudah berada di dalam pesawat menuju Denmark. Aku harap rasa gundah gulana yang menderaku selama dua malam terakhir ini, hanya perasaan khawatir semata, tak terbukti dalam nyata.
"Yakk.. Felix jangan berbuat tak senonoh di vila tuanmu." Sungguh gila jelmaan manusia satu ini. Aku sudah berlari tergopoh dari pintu utama, berhasil memasuki ruang tengah harus disuguhi adegan berbahaya.
"Emm...e..haish.. maaf bos." Felix gelagapan dan sibuk menghapus jejak lipstik di bibirnya.
"Jadi?" Aku mengangkat alis sebelah kananku.
"Maaf tuan, kami terbawa suasana." Ucap gadis pirang yang aku tak tahu asal usulnya, tapi wajahnya tak asing.
"Hah, kalian tahu bahkan aku selaku pemilik vila saja tak pernah segila kalian. Saling memakan bibir, tanpa sadar tempat." Jelas aku mendumal, beda cerita kalau mereka saling bunuh ketimbang saling *****.
"Maaf bos, kondisi vila sedang mendukung karena hanya kami penghuni terakhir. Lagipula sah-sah saja bukan sepasang kekasih bermesraan." Felix berkata diakhiri dengan menggaruk kepala bagian belakang karena tak dapat respon dariku.
Mencermati ucapan Felix bahwa hanya mereka yang tinggal di vila, berarti Amanda sosok yang sangat ingin ku temui sekarang entah berada dimana. Pulang tanpa mengabari supaya memberi kejutan, kenapa jadi aku yang merasa terkejut.
"Dimana yang lainnya." Tanyaku pada dua sejoli yang entah kapan menjalin kasih, karena seingatku Felix masih jomblo sepekan lalu.
"Mereka ada di rumah sakit tuan." Jelas wanita berambut pirang, yang kemudian mendapat hadiah injakan di kaki kirinya oleh Felix.
"Yakkk.... Kenapa menginjakku b*doh?" Wanita itu meneriaki Felix.
"Kau jangan salah informasi jika bicara dengannya, bisa-bisa nyawamu raib seketika." Ujar Felix mencoba menghalau protes wanita tersebut.
"Ada apa Felix jangan menutup-nutupi hal yang seharusnya aku tahu." Aku mulai tak sabar melihat pertengkaran mereka.
"Nona Amanda dilarikan ke rumah sakit bos." Felix menjawab dengan nada bergetar.
Reflek aku memberi bogem mentah di pelipis kiri Felix, lantas berlanjut ke bagian perut sampai dia memuntahkan sedikit cairan.
"Apa katamu?" Tanganku menarik kerah baju Felix sehingga dia tercekik.
"Tuan, biar aku yang menjelaskan." Wanita pirang itu melerai amarah yang sedang aku luapkan pada Felix.
"Amanda melarang kami memberi tahu bahwa iya masuk rumah sakit, bahkan mengancam tidak mau diobati jika memberitahu anda. Jadi semua anggota keluarga anda setuju merahasiakan kondisi Amanda, begitu cerita singkatnya." Ujarnya yang setelah selesai langsung membantu Felix untuk bangun.
"Antarkan aku ke rumah sakit sekarang juga Felix." Ujarku mutlak.
Tanpa sepatah kata Felix memimpin langkah kami ke luar vila. Menyetir mobil yang kita kendarai bertiga dengan kecepatan dahsyat, tentu saja atas permintaanku.
Kedua kakiku terasa lumpuh, hatiku mencelos saat melihat Amanda terbaring lemah dengan jarum infus menancap ditangan kirinya sedang pernafasannya dibantu tabung oksigen. Hey separah apa sakit yang di deritanya.
"Ge, kau yang kuat. Amanda tidak apa-apa." Mommy menghampiriku setelah sadar aku menerobos masuk secara tiba-tiba di ruang rawat Amanda.
"Aku dan Jason tak bisa menolak permintaan Manda tentu saja. Yang jelas kami merawatnya dengan baik berharap saat kau kembali kondisinya sudah pulih." Ujar Danda saat aku tak fokus, yang aku ingat pandangan lurus ke arah Amanda dan berjalan melewatinya tanpa menoleh.
"Hei... Apa sesulit itu memberi kabar padaku." Tepat saat aku berdiri di samping ranjang Amanda, aku mengelus pipinya dan tak sadar tetesan air mata meluncur tanpa komando.
Cukup lama aku hanyut dengan rasa hancur melihat orang yang amat ku cinta terbaring tanpa tahu apa penyebabnya. Cukup dalam aku menyalahkan tidak adanya aku disampingnya saat Amanda butuh. Separuh nafasku sedang tidak baik-baik saja, pantas aku khawatir berlebih tanpa tahu pasti apa yang terjadi.
"Ge." Suara lemah Amanda menarik paksa aku kembali ke dunia nyata.
"Hei sayang, kau sudah sadar?" Entahlah aku tak dapat mendeskripsikan bentukku saat ini, yang aku tahu suara ku bergetar ketika berbicara.
"Aku tidak sakit separah itu." Ujar Amanda sambil melepas alat bantu pernapasan yang menempel di wajahnya.
Aku tak menjawab hanya menatap dalam Amanda. Aku hilang kendali jika itu menyangkut sosoknya.
"Hei, kenapa menatapku seolah aku akan mati." Ujar Amanda tak tahu bagaimana sesaknya jantungku melihat kondisinya.
"Kenapa kau kejam padaku?" Tanyaku meminta pertanggungjawaban.
"Bagian mana yang menjadikanku kejam padamu Ji?" Tangan Amanda yang lembut menggenggam balik tanganku.
__ADS_1
"Aku yang bekerja tanpa mengenal kata istirahat, menghabiskan waktu berkutat dengan pekerjaan tanpa secuil kabar darimu. Kenapa kau begitu kejam menyiksaku dengan rasa khawatir sayang?" Aku berkeluh kesah dihadapannya.
"Aku hanya tidak ingin terlalu banyak membebani mu Ji." Tukas Amanda.
"Justru kau yang bertindak seperti itu sangat beban untukku. Sadarkah kau, kau membuatku sekarat." Jujur aku bahkan takut akan hal-hal buruk terjadi padanya.
"Kenapa kembali begitu cepat Ji, kau bekerja terlalu keras." Ujar Amanda yang mulai sadar kepulangan ku lebih awal.
"Seharusnya aku yang sakit karena tak sanggup menanggung letih, kenapa kau yang masuk rumah sakit." Aku menggerutu dengan kenyataan yang ku dapat.
"Maaf." Amanda memintaku sedikit menunduk lantas memberiku pelukan dengan posisinya yang masih berbaring.
"Aku rasa kau mafia sesungguhnya, dalam kondisi sekarat kau mampu melumpuhkan ku yang belum tentu orang-orang kuat bisa melakukannya." Dalam dekapannya aku masih saja tak terima, akan pengaruh istimewa dirinya untukku.
Happy birthday to you
(Cheer up, it's your day)
Happy birthday to you
(Cheer up, it's your day)
Oh, happy birthday to you
(Now cheer up, now it's your day)
Happy birthday to Gerlard
"Ayo tiup lilinnya." Seru mommy sembari membawa kue diiringi semua anggota keluarga berserta Felix dan sang kekasih.
"Aku ulang tahun?" Tanyaku tak paham, kenapa harus merayakan di rumah sakit sedang Amanda saja masih terbaring lemah.
"Selamat bertambah usia Jiji, aku berdoa semua keinginan mu tercapai." Amanda mendahului mereka semua dengan doanya yang tulus.
"Lihat tadi mukanya seperti mayat hidup saja." Daddy dengan cemoohan tak berkelasnya.
"Adegan terlucu adalah saat air matanya bercucuran." Cemooh Jason sambil menonjok bahu kanan ku.
"Mommy senang rencana kita berhasil total." Ucap mommy sedikit keceplosan.
"Jadi?" Aku bertanya entah pada siapa untuk memastikan ulang perkara ini.
"Kau senang bukan Ge, di usiamu yang menginjak 30 tahun ini diberi kejutan, lihat betapa perduli kami denganmu." Ujar mommy seolah bangga.
"Mom, seingatku terakhir mengapresiasi hari lahirku saat ulang tahun di usia sebelas, lantas kenapa sekarang mendadak repot." Protesku tak terima.
"Ya karena waktu itu kau tidak asik, diberi kejutan selalu gagal dan tidak tahu terima kasih. Menjadikan hari yang harusnya penuh suka cita menjadi hari penuh keributan." Mommy dengan cita-cita mulia membahagiakan anak lewat pesta ulangtahun yang lebih mirip upacara kematian bagiku.
"Sudahlah Ge, tidak perlu ribut-ribut. Cepat tutup lilin, sebelum habis terbakar karena terlalu lama ikut menyimak obrolan." Danda mengingatkan.
"Lagian kau tak lihat Amanda sudah meneteskan air liur melihat kue tart milikmu." Ledek Jason.
"Aku, tidak Jason jangan asal menuduh." Protes Amanda tak terima.
"Jadi kau hanya sakit pura-pura?" Aku memastikan kembali dengan bertanya langsung membidik tepat di mata Amanda.
"Hehehe .... Maaf Ji, aku hanya mengikuti permintaan mommy." Amanda dengan senyum polosnya.
"Lagipula mana ada, orang sakit parah selang oksigennya saja tak terpasang, infus tanpa jarum yang di tempel pada lengan." Felix mengutarakan kebodohan ku yang tak teliti.
"Dan Felix kenapa berani sekali kau menurut perintah mommy, sedang aku yang membayarmu?" Felix antek tersetia yang aku miliki, Danda dan Jason bahkan dianggap Felix setara dengannya sebagai bawahan ku.
"Felix menolak permintaan mommy, lalu aku beri saja dia pacar mengingat kata Danda dia jomblo akut, kebetulan Jolie teman kampusku juga sedang mencari kekasih, makanya dia langsung mau dengan Jolie." Celetuk Amanda yang membuat semburat merah di pipi sejoli yang sedang di mabuk cinta, yang membuat aku ingin muntah melihatnya.
__ADS_1
Ini kali pertama aku mendapat kejutan ulangtahun yang tidak ingin diulang tapi tak ingin dilupakan pula. Ternyata merayakan ulangtahun cukup menggelitik perasaan ku, yang selama ini kelam. Haruskah aku berterimakasih pada Tuhan.