
Tuhan begitu sempurna mempertemukan aku dengan Amanda, membuat cerita kita yang singkat tapi mampu mengubah diriku bersama kehadirannya. Sosok ku yang tak mengenal belas kasih, tak ingin terjamah oleh wanita bahkan tak berpikir akan menikah seumur hidup runtuh oleh gadis ini. Kadang aku berpikir sejak kapan aku berubah karenanya.
Amanda bukanlah sosok mewah gambaran gadis yang di puja para pujangga. Tapi paras dan pribadinya aku yakin dapat menggoyahkan siapa saja untuk mengikuti kemauan gadis ini. Amanda bagaikan gadis rubah, yang terlahir imut dan memiliki daya sihir mematikan. Barangsiapa berlama-lama dengannya, niscaya tersihir oleh elok rupa dan karakternya yang memikat.
"Ge, ingat jangan grogi saat merapal janji pernikahan nanti, tenang dan kuasai suasananya." Nasehat Daddy sambil merapihkan jas dan dasi yang aku kenakan.
"Tenang saja Dad, kau tahu seberapa ahlinya aku dalam mengendalikan hati dan pikiran." Balasku yakin.
"Jangan meremehkan momen sakral, dulu Daddy bahkan harus bolak-balik kamar mandi sejam sebelum mempersunting Mommy mu." Kenang Daddy beberapa tahun ke belakang.
"Eitss, jangan samakan dengan ku, kita beda era Dad." Canda ku, meski dalam hati mulai kuatir.
"Awas saja kalau sampai mempermalukan aku di depan banyak orang, tak ada bulan madu setelah menikah." Ancamnya tak berakhlak, mana bisa seperti itu.
"Dad, ingat orangtua tak boleh ikut campur rumah tangga anaknya." Nasehatku, sebagaimana dalam kitab yang aku baca.
"Aliran sesat mana yang kau tiru, ikut campur diperbolehkan apalagi melihat bentukan mu yang amburadul. Bimbingan orangtua wajib sampai akhir hayat rasanya." Daddy terkadang meremehkan aku berlebihan.
"Iya, iya Dad." Mengalah akan lebih untung untuk saat ini.
"Jangan lupa pertahanan senyum manismu, awas saja ada jepretan yang menunjukkan wajah masam mu." Peringat Daddy sebelum akhirnya pergi meninggalkan aku sendiri di kamar khusus untukku.
Aku tak sendiri di kamar ini, ada beberapa orang panita dan penata busana yang memoles penampilan ku. Pernikahan ku akan di mulai empat puluh menit lagi, namun dadaku terasa sesak melewati setiap menitnya. Pikiranku melalang buana, aku bahkan tak bisa menyantap makanan yang disediakan hotel. Aku rasa perkataan Daddy beberapa waktu lalu benar adanya.
"Kau kenapa, seperti cacing ingin kawin saja." Jason masuk dan menumpang bercermin sambil mengomentari aku yang sedari tadi mondar-mandir.
"Diam, aku sedang tidak mood untuk bercanda Jas." Tegur ku akan kebiasaan sikap Jason yang suka komentar.
"Siapa juga yang mengajakmu bercanda, sudah mengaku saja jika grogi, mukamu menjijikkan, cobalah bercermin dan lihat betapa menggelikan wajahmu saat ini." Jason mana tahu ucapannya menambah rasa gelisah yang menghampiri jiwaku.
"Jangan seperti itu Jas, kau menambah buruk suasana hatinya. Lihat mukanya bertambah tak enak di pandang." Ucap Danda seolah membela, tapi terdengar sama saja ditelinga ku.
"Aku sumpahi kelak jika kau menikah akan lebih parah rasa gelisah yang kau dapat." Aku hanya bisa mengutuk mereka.
"Hoho, tenang sobat kau terlalu terbawa suasana. Jangan bersumpah serapah seperti itu terhadap saudara mu, itu bukan perbuatan terpuji." Ejek Jason, bahkan sempat-sempatnya mencolek daguku.
"Kau....." Ucapku penuh tekanan.
"Ai sudahlah, ini aku membawa secarik surat dari Amanda. Isinya dia memberimu semangat, kau pasti bisa melewatinya bersama Amanda, jika grogi cukup ingat ini hari bahagiamu, untuk apa takut. Itu isi pesannya silahkan dibaca." Danda memberitahu secarik kertas dari Amanda.
__ADS_1
"Untuk apa di baca lagi kau sudah membacanya lebih dulu, dasar tak sopan." Heran kadang mereka masih saja menganggap tak ada privasi di antara kita.
"Lagian kenapa kalah dengan Amanda yang notabenenya masih anak kecil saja berani menghadapi pernikahan sendiri, kau laki-laki jago membunuh dan mencari uang kenapa sempat-sempatnya merasa grogi." Ingin rasanya aku meremas mulut Danda.
Kedatangan duo edan bukannya membantuku mengatasi rasa grogi, malah semakin bertambah saja rasanya. Alhasil aku mengusir semua orang dalam ruangan, duduk sila di atas kasur, memejamkan mata dan meditasi sejenak.
Manjur, hanya butuh lima menit aku merasa semua lebih terkendali. Kini aku siap menuju altar dan melangsungkan pernikahan. Aku turun ke auditorium gedung dan menuju altar yang disiapkan di dampingi Mommy dan Daddy yang tersenyum sumringah menyambut kedatangan ku.
"Dad, awas gigimu bisa kering jika masih tersenyum selebar itu." Ledek Jason, karena akupun merasa aneh melihat Daddy dengan senyuman yang di suguhkan kali ini. Mungkinkah kebahagiaan tak terhingga sehingga senyumnya begitu lebar.
"Kau, enyah sana merusak pemandangan saja. Yang harusnya berdiri disini hanya kedua orangtuanya kenapa kau ikut?" Tanya Daddy sambil berbisik-bisik.
"Sudah, jangan tengkar sebentar lagi sambutan selesai dan waktunya Amanda muncul." Ucap Mommy.
Tersihir untuk kesekian kalinya dengan kecantikan alami yang dipadukan dengan tangan ajaib para perias. Amanda terlihat cantik saat berjalan menghampiriku di dampingi oleh Adolf. Senyumnya terasa pas dengan wajahnya, tanpa sadar aku ikut menarik sudut bibirku sambil menantikan dirinya sampai dihadapanku.
"Kau cantik." Pujiku saat Adolf menyerahkan tangan Amanda untuk beralih ku gengam.
"Hai, calon suamiku." Balasnya tersenyum dan tersipu sekaligus.
Ikrar sumpah nikah di langsungkan, aku dan Amanda kini resmi pasangan suami-istri baik di mata negara maupun Tuhan. Aku berkesempatan untuk menciumnya, dan tak kusiakan keadaan tersebut.
"Aku mencintaimu selamanya." Ucapku sebelum ******* bibirnya yang ranum.
Rasa lembut, hangat dan manis bercampur menjadi satu. Sungguh tak tergambarkan, aku hanya merasa ada kupu-kupu bertentangan dalam perut ku saat ini. Aku hanyut dalam ciuman suci ini. Ciuman yang membius dan membuatku mabuk kepayang.
"Woy, sisakan untuk nanti malam Ge." Teriak Jason.
"Ingat tempat Gerlard." Teriak Daddy.
"Tak Daddy tak anaknya sama saja." Celetuk Mommy.
"Tolong jangan menodai mataku yang suci." Danda si pujangga tua.
Teriakan mereka teredam tepuk tangan dan riuh suara tamu undangan. Tak selang berapa lama, acara beranjak pada ucapan selamat dari kerabat dan tamu undangan. Meski biasanya enggan, kali ini aku merasa bersyukur diberi ucapan selamat berserta doa. Apalagi dia yang memberi doa agar segera mendapat momongan, entahlah hatiku seperti tergelitik rasanya.
"Kapan acara ini selesai aku mulai lelah." Bisikku pada Amanda yang masih saja tersenyum membalas ucapan para tamu.
"Masih lama sayang, kau tahu Daddy mengadakan pesta tiga hari berturut." Jawab Amanda tanpa beban.
__ADS_1
"Gila tua bangka satu itu, apa motivasinya menyiksa kita." Apa-apaan, aku tak diberi tahu jika pesta pernikahan ini diadakan seperti pesta rakyat.
"Kata Daddy supaya kau tak lupa acara istimewa mu, sebagai kado darinya." Jelas Amanda tak tahu saja maksud jahil manusia tua itu.
"Hah, kau harus segera les pendewasaan diri denganku nanti malam." Ucapku serius.
"Aku sudah dewasa, ingat aku sudah bukan gadis lagi." Sombongnya sebagai istri yang belum genap satu hari.
Lelah mulai mendera, lima jam lamanya aku berdiri menyapa tamu yang tiada habisnya. Kini kami dipaksa untuk menyaksikan penampilan band kesukaan Mommy yang berasal dari Korea Selatan. Dan siapa sangka antusias tamu undangan membuncah saat penampilan mereka, padahal aku tak tahu mereka dan lagu yang dibawakan. Sialnya lagi, Amanda diculik oleh para wanita tua untuk bergabung menari bersama mereka.
"Kau sendirian?" Danda menghampiriku dan memberi minuman dengan gelas yang dibawanya.
"Seperti yang kau lihat, pengantinku diculik." Jawabku malas.
"Selamat sudah menjadi sosok manusia berbeda. Meski kau tetap Gerlard, ingat tanggungan yang ada di pundakmu sekarang lebih berat. Aku harap kau bisa menjadi suami terbaik untuk Amanda." Danda berucap dengan nada serius.
"Jangan ragukan itu, aku tahu bagaimana bertindak. Kau cukup lihat dunia yang akan ku ciptakan saat bersama Amanda nanti." Balasku, lantas menyesap minuman dari Danda.
"Hem, tentu aku menantikan itu." Danda menepuk pundak ku seolah memberi dorongan semangat.
"Kau tidak ingin menyusul?" Entah darimana datangnya Jason, kini sudah menyembul ditengah-tengah kita berdiri.
"Aku masih sibuk." Balas Danda enggan.
"Oh ya, benarkah? Bukan karena tak ada calonkan." Ledek Jason menoel-noel pipi Danda.
"Lepaskan, kau menggelikan Jas." Danda menghempaskan tangan Jason.
"Oh aku lupa, pengantin priamu si Amberson sinting itu kan sudah tewas. Aku turut berduka." Jason tak hentinya meledek Danda.
"Bedeb*h, ku robek mulutmu." Danda mulai baku hantam dengan Jason.
Ku tinggalkan mereka yang entah mengapa sekarang sedikit sering bermusuhan. Jason seperti kehilangan sosokku dan mengalihkan ke Danda. Padahal sudah bertahun-tahun, Jason selalu menomorsatukan Danda sebagai kakak yang baik, sedang aku dianggapnya orang yang perlu diajak bersaing.
"Kau jahat meninggalkan ku sendiri." Rajukku setelah berhasil merebut kembali Amanda dari wanita tua yang mengatasnamakan pernikahan anaknya untuk konser idolanya.
"Maaf, tapi ajakan mereka sangat sulit ditolak. Ah bukankah mereka sangat tampan dan menggemaskan dalam bersamaan." Kagum Amanda, tak tahu tempat.
"Apa matamu bermasalah, aku lebih tampan dari segala sisi dibandingkan mereka." Ujarku tak terima.
__ADS_1
"Kau, tentu yang tertampan di dunia." Kata Amanda lalu mencium pipi kiriku sekilas.
Hey, darimana sikap nakal Amanda muncul. Tentu aku senang tapi jika dikejutkan seperti ini untung saja aku tak mimisan mendadak. Ini terlalu manis untukku.