Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
Fantastic Baby


__ADS_3

Kehamilan Amanda sebuah anugerah bagi hidupku yang gelap. Amanda sosok indah yang menghadirkan sisi kemilau diriku. Jiwaku yang terkubur di dasar neraka, di titahnya melewati nirwana berharap berlabuh di surga. Aku yang kotor, berangsur bersih hari demi hari. Dia tak memaksa ku untuk itu, tapi aku berubah dengan sendirinya saat bersamanya. Entah seperti apa dunia yang akan ku tempuh jika tanpa sosoknya.


Amanda sendiri mampu mengguncang keyakinan ku akan pandangan hidup. Kini ditambah bibit ku dalam rahimnya, seolah menarik ku ke jalan yang penuh gemerlap bintang. Aku memang sosok hina, tapi aku bertekad tak mewariskan darah hina ini pada keturunan ku. Keturunan yang akan ku jaga, seperti aku menjaga oksigen yang ku hirup.


"Sayang, Mommy telpon barusan. Katanya kau diminta telpon balik." Kenapa Mommy selalu merusak momen, padahal hari ini Amanda menyusul ke kantor dengan membawa bekal.


"Nanti saja sayang, aku ingin segera memakan masakan mu." Tolak ku tak ingin di ganggu siapa pun.


"Tapi Mommy sudah menelpon dua puluh kali ke ponselmu, makanya dia langsung menghubungi ku barusan. Kau sengaja tak mengangkat ya?" Curiga Amanda.


"Aku malas sayang, aku mau istirahat." Ujarku lesu.


"Kau sudah istirahat dari dua jam lalu, mungkin jika ini bukan perusahaan milikmu, kau sudah di pecat dari jauh hari." Ledek Amanda.


"Bukankah aku istirahat baru sepuluh menit?" Benarkah sudah selama itu, kenapa begitu tak sadar.


"Kau terlalu banyak menciumi perut ku sedari tadi, sampai tak terasa menghabiskan dua jam lamanya." Ucap Amanda.


"Aku suka, rasanya anakku sedang ingin aku perhatikan. Maaf aku sampai lupa waktu dan mengabaikan makanan buatanmu." Aku mengubah posisi dari berbaring menghadap perut Amanda, kini duduk tegap disampingnya.


"Yasudah aku suapi ya, aku sampai menghabiskan duapuluh video mukbang menunggumu selesai menciumi perutku." Dumelnya meski tak suka tapi tetap membiarkan aku mengekspansi perutnya yang mulai membuncit.


"Iya sayang." Aku membantunya menyiapkan bekal di atas meja.


"Lagian, kau berbisik apa dengan mereka?" Sedari tadi aku mengobrol dengan anakku, dengan lirih.


"Rahasia, itu urusan ayah dan anak." Ucapku mendapat suapan maut hampir menyentak langit-langit mulutku. Bar-bar sekali tingkah ibu hamil satu ini.


Amanda mengemas bekal dari rumah berupa daging sapi panggang, jus jeruk, dada kalkun panggang, beberapa kue, salad, dan anggur. Aku pikir semua takkan habis dimakan kita berdua. Nyatanya semua makanan ludes aku lahap seorang diri. Aku memiliki nafsu makan tiga kali lipat di banding biasanya. Amanda sampai terheran-heran, namun rela memberikan jatahnya karena dia sudah makan di mansion, dan melakukan pemesanan makanan di kantor saat tahu aku kalap dalam santap siang.


Lima belas menit semua masuk dalam perut, tertata rapi siap menjadi lemak cadangan. Amanda membereskan tempat makan yang semula penuh kini kosong melompong. Aku tak ikut membantu karena Mommy lagi-lagi menelpon. Bedanya kini dia menelpon lewat Amanda.


"Ada apa sih mom, mengganggu saja." Tanyaku sedetik setelah mengangkat telpon darinya.


"GERLARD ANAK DURHAKA, KAU MAU MEMBUAT MOMMY MALU HAH?" Kupingku nyaris tuli oleh teriakan mommy.


"Apasih mom, aku tak paham." Kenapa wanita hobi marah-marah tak jelas macam Mommy, padahal bisa bicara intinya saja.


"Kau membiarkan mommy menghadiri acara kontrak dengan perwakilan Black Pink tapi kau tak ingat hari bahkan tak datang."


"Apa kau tahu Mommy harus menjelaskan konsep penampilan mereka untuk perusahaan mu."


"Kau tahu Mommy sampai menjamunya dan menemani makan siang."

__ADS_1


"Andai kau tahu mereka tak berbahasa inggris, kepala Mommy mau pecah rasanya."


"Lagian ini perusahaan mu kenapa Mommy diminta untuk kerja."


"MEREPOTKAN!!!!" Serbu mommy dengan dongkol dan kesal terhadap ku.


"Loh bukannya Mommy sendiri yang minta untuk ikut bertemu mereka?" Matilah aku, aku jadi harus memutar otak menghadapi Mommy karena kesalahan fatal kali ini.


"Mommy ingin ikut tapi sebagai nyonya besar yang hanya foto-foto dan ikut menimbrung, bukan jadi narator dan bekerja keras seperti ini, Mommy malah harus berbicara dengan translator mereka, dan itu memuakkan." Terdengar Mommy memukul meja demi meluapkan rasa kesalnya padaku.


"Mom, maaf Gerlard lupa kenapa Mommy tak menghubungi ku?" Keringat mulai mengucur dari keningku, entah karena metabolisme sedang berjalan atau karena takut menghadapi Mommy yang emosi.


"Mati saja kau, Mommy menelpon mu puluhan kali." Terdengar barang di lemparkan. Aku takut seisi ruangan yang di tempati Mommy saat ini hancur lebur tak tertolong.


"Maaf ternyata deringnya mati, masuk mode senyap Gerlard tak tahu kenapa bisa berubah mom." Alasan saja, nyatanya aku sengaja mengubahnya agar tak ada yang bisa mengganggu waktu ku bersama buntalan bayiku.


"Per*setan dengan alasan dari mulut busukmu, mommy murka. Lima puluh persen saham perusahaan mu menjadi milik Mommy sekarang." Apakah marah adalah jalan liciknya untuk meminta saham.


"Tega sekali, bagaimana dengan cucu kembar Mommy jika diminta sahamnya lima puluh persen." Maafkan Daddy sayang, sudah membawa-bawa kalian.


"Biar aku sebagai grandmom yang memberi harta atas nama Mommy, jadi dia tahu Daddy macam kau tak berguna dan miskin." Wow, niat sekali membalas dendam karena dua jam keteledoran ku.


"Tidak sekalian membunuh ku saja mom?" Sedikit bercanda mungkin bisa membuatnya lebih tenang.


"Yasudah, USG bulan ini mommy boleh ikut lihat, jadi bisa tahu jenis kelamin anakku." Hah, sekali lagi maafkan Daddy menggunakan kalian nak.


"Serius? Oke Mommy setuju. Bye!" Semudah itu, sungguh heran aku di buatnya.


Fantastis sekali bayi milikku, belum terlahir saja sudah bisa dijadikan alat nego, bahkan menggagalkan misi perampasan saham secara ilegal oleh neneknya. Meski tak masalah hartaku diambil, tapi aku belum melakukan apapun untuk perusahaan pemberian Adolf. Rasanya tak adil saja baginya, jika aku bertindak gegabah.


Malam menjelang Mommy datang dengan Daddy seorang, tumben dia kutu kupret tak ikut serta. Daddy geleng-geleng kepala mendengar aduan Mommy tentang kelakuan ku tadi siang. Hebatnya Daddy sama sekali tak menyalahkan ku. Wajar bagi ayah baru seperti ku lupa segala hal jika disandingkan dengan anak, apalagi saat mereka sudah lahir di dunia.


Akibat kejadian hari ini, berimbas manis untuk mommy. Padahal rencana awal aku akan merahasiakan jenis kelamin anakku sampai mereka lahir. Nasi sudah menjadi bubur, mana bisa ku kembalikan menjadi beras. Harusnya aku menawarkan hal lain untuk memikat hati Mommy. Tapi satu hal pun tak terlintas, mengingat Mommy punya segala. Merayunya hal yang tak mudah.


"Kapan Amanda cek up bulan depan?" Daddy yang semula menyesap kopi hitam kini meletakkan gelasnya dan mulai bertanya.


"Minggu depan Dad." Tanpa diminta Amanda menjawab dengan sopan.


"Daddy akan meluangkan waktu dan ikut menemani kontrol kali ini." Putusnya sepihak tanpa memperdulikan aku sebagai pemilik benih.


"Daddy kenapa tak balik ke Amerika saja, kenapa seperti ikut menetap di Denmark?" Aku baru sadar akan hal ini, kenapa jadi semua orang ingin tinggal disini.


"Suka-suka Daddy, memangnya Daddy minta biaya hidup padamu? Tidak bukan." Nyolot sekali jawaban lelaki tua satu ini.

__ADS_1


"Perusahaan disana butuh Daddy." Ujarku memberi alasan tepat.


"Daddy kaya, Daddy cukup pinta mengelola segalanya dari jarak jauh. Tak seperti kau, yang kalah dari Danda." Selalu di bahas, lihat saja lonjakan yang akan ku buat nanti.


"Biarkan saja Daddy ikut sayang, lagian ini cucu mereka pasti menyenangkan bisa melihatnya walau masih di dalam rahim." Amanda membela mereka, tanpa tahu aku inginnya kita berdua saja yang bisa melihat bayi kita.


"Entah, dasar terlalu ingin main rahasia-rahasian. Padahal Mommy tanya Amanda saja pasti langsung di jawab." Benar apa yang dikatakan Mommy, kenapa aku lupa fakta Amanda sulit diajak kerjasama dalam berbohong.


Mommy dan Daddy terus saja memojokkan ku hari ini, rasanya aku ingin mengusir mereka sekrang juga. Tapi melihat tawa lepas Amanda berkat lelucon mereka yang tak menghibur sekali bagiku, tapi menghibur Amanda membuat aku urung. Beruntung saja mereka kali ini, awas saja aku akan mencari celah untuk memojokkan mereka di depan Amanda nanti.


"Kemarin Danda menonjok wajah Jiji mom." Ceplos Amanda ember.


"Loh kenapa?" Mommy sampai menggeser badannya agar lebih dekat dengan Amanda karena saking penasarannya.


"Karena Gerlard jahat tak mengabari aku di rawat waktu itu." Lagi-lagi Amanda membeberkan hal yang membuat aku semakin ditepi jurang.


"Kau ini jangan semena-mena dengan Danda keponakan paling mommy sayang, lagian Danda satu-satunya kerabat yang tinggal di Denmark waktu itu, kenapa tak berkabar?" Memelototi ku, tanpa menanyakan apa penyebabnya.


"Jangan menghakimi ku seorang mom, mana aku tahu jika melihat wajah Danda membuat mual seketika dan aku kesal berdekatan dengannya." Pada akhirnya aku hanya bisa berkata jujur.


"Hah, mungkin anak-anak mu nanti akan banyak merepotkan Danda seperti kau yang selalu merepotkan Danda." Sarkas Mommy sebagai tanggapan dari kejujuran ayng aku ungkapkan.


"Syukurlah Danda menonjokmu saja, kalau Daddy sudah ku tendang sampai jungkir balik kau." Kepala keluarga tak patut di contoh adalah gambaran pribadi Daddy.


"Sudah selesai belum kalian memojokkan ku. Aku mengantuk dan ingin pergi tidur." Bosan sekali duduk disini berlama-lama.


"Ngambek terus, padahal sudah mau punya anak ya kan mom." Lihatlah betapa Amanda tak sedikitpun berpihak padaku malam ini.


"Biarkan saja, mau tidur ya tinggal tidur sana. Lagian malam ini Amanda kan tidur dengan Daddy dan Mommy." Mommy mesem menang.


"Tidak Amanda tidur denganku. Enak saja kalian, sana pulang, hobi sekali menumpang tidur di rumah orang." Pada akhirnya aku tak kuat dan mengusir mereka.


"Menginap ya memang harus di rumah orang, masa di hutan." Dengan santainya mommy membalikkan kata-kata ku barusan.


"Hah, terserah mau menginap atau tidak. Ayo sayang kita tidur sekarang." Aku mengulurkan tangan kanan berharap Amanda menyambutnya.


"Tidak, kemarin malam kau mengompol dan membasahi sebagian tubuhku. Aku trauma dibuatnya." Aibku yang berharga di bongkar orang yang paling berharga juga.


HAHAHAHA


"Sudah tua masih mengompol. Menjijikkan! Daddy terbahak mendengarnya.


"Mommy akan sebarkan ini pada grub keluarga." Antusias sekali langsung mengambil handphone dan berbagi pesan.

__ADS_1


HANCUR SUDAH REPUTASI YANG AKU BANGUN SEJAUH INI


__ADS_2