Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
Power Of Money


__ADS_3

Hawa sejuk mengiringi perbincangan keluarga di gazebo belakang vila. Tepat pukul 10:00 waktu Denmark setempat, sudut bangunan ini menjadi hangat karena perbincangan dan terkadang lelucon yang dilontarkan oleh salah satu anggota keluarga. Terlihat Luna (sebagai pengganti Lesi) nampak sibuk dengan perihal melayani permintaan salah satu dari kami, hanya Amanda saja yang tak meminta apapun darinya. Amanda malah menawarkan diri secara sukarela untuk membantu pekerjaan Luna.


"Em... mom, sepertinya aku ingin membantu Luna, apakah boleh?" Amanda selalu meminta ijin mommy jika akan melakukan sesuatu, padahal seharusnya dia tau siapa pemiliknya disini.


"Tentu saja tidak, jika kau membantu Luna berarti Gerlard harus menambah pelayan." Ucap mommy dengan nada lembut sambil memegang tangan kanan Amanda.


"Kalau harus menambah pelayan biar aku saja mom, jadi nanti lebih hemat. Aku rasa aku bisa melakukan pekerjaan rumah." Timpal Amanda yang membuat mommy tercengang dengan jawaban Amanda.


"Bukan begitu maksud mommy sayang, kalau kau saja melihat Luna kerepotan dengan pekerjaannya saat ini, berarti Gerlard kekurangan pelayan di vila ini, jadi bukankah solusi terbaik adalah mencari tambahan pelayan." Jelas mommy agar satu paham dengan Amanda.


"Tidak-tidak, disini sudah terlalu banyak pelayan. Mommy lihat sendiri jumlah pelayan bahkan lebih banyak dari pelayan kafe terdekat dari vila. Jika mempekerjakan pelayan lagi kenapa kita tidak membuka jasa penginapan dan kafe saja, aku rasa vila ini terlalu luas untuk ditempati oleh kita saja." Amanda dengan idenya yang aneh.


"Tidak-tidak, mommy tidak suka berbagi." Tolak mommy mengikuti nada bicara Amanda.


"Mommy......" Rayu Amanda tak menyerah.


"Sayang....." Mommy masih betah meledek Amanda, dengan menirukan nada bicaranya.


"Kenapa mommy mengikuti Amanda seperti itu, lihatlah dia seperti akan menangis." Seolah sadar dengan raut muka Amanda, tentu saja Danda mencoba membela Amanda.


"Mom, jangan membuatnya menangis. Terakhir Jason sampai harus membelikannya es krim di ujung kota agar kesalnya hilang." Adu Jason.


Saat semua membicarakan Amanda dengan tingkah lakunya, aku hanya diam, mengamati setiap perubahan raut mukanya. Bibirnya kini mulai mencebik, aku tau sebenarnya dia sedang menahan tangis. Sungguh tingkat cengeng Amanda sangat tidak dapat ditoleransi oleh kebanyakan manusia. Dan lihatlah ketika alam bawah sadarnya memberi sinyal butuh pertolongan, dia langsung bersembunyi dalam pelukku. Aku mendengar jelas isak tangisnya lirih. Sedang daddy, mommy, Jason dan Danda yang tadi sibuk dengan kegiatan masing-masing kini terpaku satu pandangan ke arah Amanda.


"Hei... Kenapa sayang, hm..?" Tanya daddy yang dari tadi hanya diam.


Amanda tidak menjawab, dia masih sibuk menahan ingus keluar dari hidungnya, dan semakin erat memelukku. Mommy yang merasa bersalah, mengelus rambut Amanda, kemudian berkata," Sayang, mommy tidak bermaksud menyinggungmu, kenapa jadi sedih. Mommy minta maaf sayang."


"Daddy dan mommy bertanya kenapa diam saja hm?" Aku sebisa mungkin mengontrol suara dari mulutku agar terdengar lirih di pendengarannya.


"Habisnya aku tidak boleh membantu, kan kasihan." Ucapnya sangat lirih, membuat ku harus menajamkan indra pendengaran.


"Yasudah bantu Luna, tapi jangan merepotkan." Aku memberi izin untuknya.


"Benarkah?" Amanda yang murung berubah menjadi antusias, bahkan wajahnya yang tadi bersembunyi di ketiak ku, kini berani menatap ku dengan binar matanya.


Tuhan, andai aku tidak hebat mengendalikan ekspresi, aku yakin saat ini sudah tertawa terpingkal. Bagaimana aku tidak tertawa jika disuguhkan wajah Amanda dengan mata berbinar dipadukan tumpukkan air mata, dan aku yakin tidak salah lihat, ada sedikit ingus dari hidungnya.


Seperginya Amanda dengan hatinya yang kembali riang, terpancar dari caranya berjalan sembari bersenandung mengikuti langkah Luna. Menyisakan kami yang beralih topik pembicaraan, berbincang mengenai pendidikan untuk Amanda.


"Oh iya, mommy sudah lama ingin menanyakan padamu G, bukankah seharusnya Amanda masih bersekolah?" Tanya mommy, setelah memastikan Amanda tidak tampak dipelupuk mata.


"Memang seharusnya dia memasuki semester 3, jika berkuliah." Serobot Danda selaku manusia yang merasa paling paham mengenai Amanda.


"Yang ditanya itu Gerlard bukan kau, kenapa tidak sopan sekali." Entah ada apa dibalik kalimat Jason, karena hakikatnya Jason tidak akan pernah membela ku jika berkaitan dengan Danda.


"Benar yang dikatakan Danda mom, dan aku rasa Amanda mulai bisa belajar pekan depan." Jelas ku singkat.


"Mommy tidak ingin tahu, Amanda harus mendapatkan pendidikan terbaik di negara ini, dan kalau bisa jangan pekan depan itu terlalu lama, mommy rasa besok adalah waktu yang tepat." Perintah mommy mutlak.


Tidak ada perdebatan setelahnya. Kami tahu jika mommy sudah berkata maka semua yang terucap wajib hukumnya untuk dilaksanakan. Jika tidak terlaksana, maka daddy akan menjadi sarana kemarahan mommy. Jika daddy terkena imbas kemarahan mommy makan kami semua di damprat oleh daddy. Begitulah skema kemarahan keluarga harmonis ini.


"Kenapa Luna tak kunjung membawakan jus terong kesukaan ku, bukannya jika tanpa bantuan Amanda lima menit yang lalu jus itu sudah berada di tenggorokan ku." Tukas Jason, kesal karena dahaga setelah banyak mengeluarkan energi untuk melucu tapi tidak lucu.

__ADS_1


"Iya kau benar Jason, dan tolong ingatkan mommy, kenapa garpu pesanan mommy belum sampai juga, bukannya garpu tidak perlu diolah." Heran mommy karena kinerja pelayan mulai turun.


"Daddy rasa Amanda sangat teliti dengan semua keinginan kita, makanya menjadi sedikit terlambat." Argumen daddy salah kaprah.


"Oh benar juga, memang tidak salah dijadikan mantu." Antusias mommy menyahut ucapan daddy.


"Mom, aku rasa jangan terlalu banyak berharap. Aku pastikan tidak akan ada makanan, minuman atau hal lain yang datang kecuali.....


Ucapan ku terpotong karena datang salah seorang pelayan dengan tergopoh. Setelah berhasil menstabilkan pernapasannya, dia berkata," Tuan .... Nona Amanda..


Aku berlari tidak terlalu kencang tapi pasti lebih cepat dari berjalan santai, dan aku sadar anggota keluarga yang lain mengikuti aku dari belakang dengan raut cemas dan kebingungan melanda. Sesampainya di area dapur, aku sudah dapat menebak apa yang terjadi. Sedang mereka pasti terkejut dengan pemandangan yang tersuguh. Bagaimana tidak terkejut, jika disajikan dapur yang penuh dengan ceceran es batu, kompor yang mengeluarkan asap, blender menyala dengan kecepatan penuh tanpa tutup diatasnya, sungguh luar biasa bukan. Dari semua kejadian ini, aku berharap mommy tidak menyesal sudah berkata Amanda mantu idaman.


"Tolong siapapun jelaskan apa yang terjadi, mommy sampai tidak bisa membayangkan kronologi perkara sebelumnya." Mommy sedikit berteriak karena tak habis pikir dengan semua ini.


Mendengar suara mommy, semua pelayan yang sibuk hilir mudik seketika diam ditempat, hanya Amanda seorang yang berjalan menghampiri mommy sambil menunduk dan memainkan ujung jarinya.


"Mommy maaf, Amanda mengacaukan semuanya. Amanda ceroboh, Amanda terlalu bodoh untuk membantu, yang ada Amanda malah merepotkan." Menunduk sambil berkata penuh penyesalan.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya mommy halus, melihat sekujur tubuh Amanda bergetar menahan rasa takutnya.


"Aku baik, tapi dapurnya sekarat mom." Jawab Amanda mengundang gelak tawa semua orang, bahkan daddy sampai memegangi perutnya.


"Dasar anak nakal, kau lebih berbakat melucu daripada Jason." Goda daddy, mungkin sepakat denganku jika Amanda cocok jadi pelawak.


"Kau sedang memasak atau berlatih perang." Goda Jason.


"Tidak sepadan dengan tangisan beberapa waktu lalu, untuk acara meringankan beban Luna." Tukas Danda.


"Iya maaf semuanya, padahal aku sudah mengikuti saran Jiji untuk belajar memasak. Aku bahkan belajar terus setiap hari tapi hasilnya tetap nihil." Jelas Amanda dengan raut kecewa.


"Sendiri saja." jawab Amanda.


"Oke, begini maksud dari perkataan ku kau berguru kepada siapa?" Ulang Jason memperbaiki pertanyaan.


"Dengan youtube, kau tidak tahu, aku bahkan menontonnya setiap ada waktu, sambil mandi juga pernah." Jawab Amanda bersungut-sungut.


Hahha hahahaha hahhahahah


Pecah, gelak tawa terdengar seisi ruang. Aku yang sudah dapat menebak jalan pikir Amanda tetap ikut serta dalam tawa kali ini. Hanya tak habis pikir saja ada manusia sepertinya.


Tragedi di dapur dan membereskan kekacauan dari Amanda sudah usai siang tadi. Kini kami sedang bersantai di ranjang Amanda. Dengan dirinya yang sibuk menganti saluran tv. Membuat siapa saja yang melihatnya pasti ingin menggadaikan jelmaan manusia sepertinya.


"Sebenarnya kau mau menonton apa?" Akhirnya aku bertanya karena jengah juga lama-lama.


"Entahlah, semuanya terasa membosankan." Ucapnya dengan nada lesu tak seperti biasanya.


"Mengapa bosan?" Aku bertanya seperti menanyai anak balita.


"Bagaimana tidak bosan, kau mengurungku di kamar padahal ini masih sore." Jujur Amanda pada akhirnya.


"Ayolah, kau terlalu berlebihan. Ini sudah malam tolong di garis bawahi." Kadang Amanda mungkin tidak bisa membedakan perputaran waktu di bumi.


"Tapi ini masih jam delapan, Ji." Ujarnya masih berusaha berkata ini terlalu sore untuk mengurung diri di kamar.

__ADS_1


"Yang bilang ini jam sebelas siapa." Ujarku sarkas.


"Tuhkan kau memang menyebalkan." Dan lagi-lagi mengundang rasa kesalnya.


"Menyebalkan darimana, kau minta ditemani aku dengan senang hati duduk disini menemani." Entahlah seharian ini tingkah Amanda berlebihan dalam segala hal, atau mungkin dia sedang datang bulan.


"Tapi kau sibuk dengan tablet mu." Protesnya tak terima dengan aku yang ada disampingnya tapi mengabaikan keberadaannya.


"Aku sedang bekerja, sayang." Jelasku memberi pengertian.


"Jangan sayang-sayang, dasar penipu. Sana keluar aku muak." Usirnya kesal.


"Yasudah aku pergi ya, kau lekas tidur besok kau harus kuliah." Pada dasarnya aku sedang tidak ada waktu untuk meladeninya kali ini.


Aku meninggalkan Amanda, belum sampai aku berdiri sempurna dia menerjang punggung ku, lalu menyilangkan kakinya di pinggangku dan berbisik," tidak peka."


"Oke sekarang kau mau aku bagaimana?" Aku tau jalan terbaik adalah menurut.


"Aku belum bisa tidur Ji, bisakah kau membuat ku tidur?" Ucapnya tanpa dosa.


"Jelaskan bagaimana biasanya kau bisa tidur."Tanyaku menyerah.


"Mengantuk jalan satu-satunya." Jawab Amanda benar, yang entah mengapa terdengar menyebalkan.


"Oke pegangan yang benar, aku akan menggendongmu sampai tertidur." Aku menawarkan menjadi budaknya sesaat.


"Apakah ditambah dengan lagu pengantar tidur?" Oke tampaknya aku salah memberi tawaran.


"Iya." Dan persetujuan itu meluncur dengan lancar dari lidahku.


Aku mulai berjalan mengelilingi kamar, menarik nafas untuk menciptakan nada yang terdengar pas ditelinga. Saat aku merasa yakin bahwa suara ku begitu merdu, entah kenapa tidak ada tanggapan dari Amanda. Akhirnya aku berjalan menuju cermin, memutar tubuh dan melihat gambaran Amanda melalui cermin, dan benar saja dia tertidur sedang aku belum menyelesaikan satu lagu pun.


Aku yakin sebenarnya dari tadi Amanda sudah mengantuk, mengingat hari ini sibuk dengan membersihkan kekacauan atas perbuatannya. Maka, aku membaringkan Amanda, memposisikan sisi ternyaman, mengecup kening, dan meninggalkannya dalam lelap.


Keesokan paginya, vila diributkan dengan teriakan Amanda yang melengking.


"Mommy......................" teriak Amanda satu oktaf, sedang kami yang ada di meja makan santai seperti tak mendengar apapun.


Amanda berlari menghampiri kami, dengan keadaan jauh dari kata indah. Bahkan kurasa masih setengah sadar.


"Mom aku telat bangun, bagaimana dengan kuliah hari pertama ku." Tanyanya khawatir.


"Kau tenang saja, mommy sudah atur." Jawab mommy tenang.


"Tapi mom ini hari pertamaku, aku bahkan masuk ditengah semester. Lantas bagaimana nama baik ku, belum masuk saja sudah tercoreng. Ah, kenapa tidak ada satupun yang berbaik hati untuk membangunkan ku?" Tanya Amanda kepada semua.


"Sudah tidak perlu khawatir, sekarang kau mandi, sarapan, dan belajar. Dosen mu sudah menunggu dari tadi." Saran mommy.


"Mommy benar, aku rasa aku tidak punya muka untuk esok ke kampus." Kata Amanda putus asa.


"Amanda, dengarkan mommy baik-baik. Kau mandi dulu, kemudian sarapan. Kau tahu dosen-dosen mu dari mata kuliah pertama sampai terakhir sudah ada di vila ini satu jam lalu, jadi kau harus bersiap."


"Tapi mom bagaimana mungkin?" Bingung Amanda.

__ADS_1


"The power of money sayang."


__ADS_2