Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
Planning


__ADS_3

"Untung kau segera bangun, kalau tidak Amanda mungkin menikah dengan orang lain." Kata Daddy meledek.


"Mungkin saja aku yang akan menemaninya fitting baju, tapi sumpah aku tak sanggup bila harus turun ranjang dan menikah dengan Amanda. Nasib baik kau siuman Ge." Jason nyerocos sampai tak sadar air liurnya muncrat mengenai wajahku.


"Bicara sih bicara, tapi ludahmu tolong dikondisikan Jas." Ucapku sambil mengusap wajah bagian kiri.


Meski aku tahu bahasan mereka kali ini mengenai pernikahanku dengan Amanda. Tapi disini aku sedikit bingung, bukan hati tak suka hanya saja terdengar sedikit aneh. Aku dengar aku koma dua bulan lebih, waktu sesingkat itu mana bisa digunakan Amanda untuk menyelesaikan kuliah bukan. Dengan pendiriannya tak menikah sebelum selesai kuliah, aku sulit sekali percaya dengan pembicaraan kali ini.


Suasana ruang inap ku amat ramai dan hangat, diisi dengan celotehan yang kadang diselingi gelak tawa penghuni ruang. Semakin larut obrolan semakin melantur. Tidak adakah dari mereka ingin pergi tidur, jujur aku sangat mengantuk meski sekeliling sedang ribut.


"Em, sepertinya Jiji mengantuk, matanya sudah merah dan menguap sedari tadi." Amanda paham akan kondisiku karena memang posisinya paling dekat denganku.


"Waduh tidak seru sekali memang jika sedang asik mengobrol di depan orang sakit. Ayo bubar, malas juga berlama-lama di ruangan pengap ini." Tebak mulut siapa ini, siapa lagi kalau bukan paman ku terkasih, tuan tua bangka Dalton.


"Dad, tak usah bicara seperti itu. Mendengar kabar Gerlard kecelakaan saja kau kalang kabut sampai tekanan darahmu turun. Masih ingin terlihat keras, rasanya aku belum lupa tindakanmu yang kemarin." Tukas Danda, meledek Dalton.


"Danda, kau memang tidak solid dengan Daddy mu." Dalton berucap, lantas pergi lebih dulu karena kesal .


Kepergian Dalton disusul oleh anggota keluarga lainnya. Meski banyak menaruh harap Amanda sosok yang tinggal menemani saat ini, nyatanya hal itu tak terkabul. Aku harus puas hati ditemani Daddy dan Mommy malam ini.


Kabar terdengar, Amanda sama sekali belum mencium rasa nyaman kasur semenjak aku koma. Rasa sesal yang menyelimuti diri Amanda amat kental, seolah tak mampu berpaling bahwa dia penyebab kecelakaan yang menimpaku. Pantas saja Amanda terlihat lebih murung daripada biasanya. Meski kekuatan ingatanku tak diragukan, kali ini aku hanya ingat sebelum kejadian aku memang sempat kesal dengan Amanda, tapi hal itu tentunya tak dapat dijadikan tolak ukur dia penyebab semua itu.


"Mom, aku banyak pertanyaan." Meski ingin mengobrol dalam posisi duduk ternyata aku tak banyak memiliki energi untuk itu.


"Bisa ditunda besok sayang. Kondisimu sedang tidak baik untuk rasa penasaran yang kau punya." Sahut Mommy membenarkan selimut lantas meredupkan lampu dan memberi kecupan kasih sayang seolah dorongan tidur terkuat digencarkan.


"Tidurlah, Mommy akan menjawab apapun esok hari." Senyum Mommy sebelum benar-benar pergi meninggalkanku dan menyusul Daddy di ranjang khusus di sampingku.


Rasa penasaran yang teramat kuat, tak sanggup melawan kantukku yang mulai mendera. Aku mulai memejamkan mata, bersiap menyelam dalam mimpi. Sebelum terlelap, sepintas aku mengingat sesosok kakek tersenyum lebar ke arahku dengan seragam rumah sakit. Aku tak tahu sosok itu siapa, tapi aku ikut tersenyum membalas senyumannya dalam secuil kesadaran yang aku miliki.


Malam sunyi berganti dengan cerahnya mentari. Pagi hari yang sangat ku nanti terlewatkan begitu saja karena efek obat yang ku terima. Pada akhirnya aku mulai sadar pukul dua siang. Dan betapa tak beruntungnya rasa penasaran ku yang tak tuntas kali ini.


"Kau sudah bangun?" Wajah Amanda adalah yang pertama ku lihat saat membuka mata.


"Hm, hai lama tak jumpa, kau kenapa terlihat jelek." Ledekku melihat pipi gembil Amanda menghilang entah kemana.


"Benarkah, berati aku harus banyak makan setelah ini." Kemana hilangnya Amanda ku yang ceria, sikapnya menjadi sedikit lebih dewasa membuatku tak suka.


"Bolehkah aku mendapat pelukan, aku rindu." Pintaku menolak air mata yang mulai terkumpul di pelupuk matanya.


Begitu cepat respon tubuh Amanda saat memelukku, hingga sedikit sakit rasanya tertimpa tubuhnya yang mungil. Tumpah, tangisnya tumpah tak terbendung meski masih terkendali. Aku tahu tangis ini cerminan rasa syukurnya yang mendalam.


"Kau tahu Ge, bahkan Manda tak menangis saat pertama kali kau dirawat. Tapi dia pingsan karena tubuhnya tak kuat menahan rasa risaunya yang dipendam seorang diri." Jason menjelaskan hal yang terjadi saat aku koma, dan maafkan aku Jas karena baru sadar ada kau disini.


"Maaf." Aku mengelus pucuk kepala Amanda agar lebih tenang.


"Ge bolehkah aku ikut memelukmu?" Jason yang biasanya tak perlu izin, bertindak sesuka hati kini terlihat lebih manusiawi.

__ADS_1


Tak ada balasan berarti hanya anggukan pertanda persetujuan atas tindakan Jason. Tubuh bongsornya langsung menimpa kami dan bergumam tak jelas. Rasanya amat mengharukan, tapi semua sirna saat tubuh Danda yang entah darimana asalnya ikut memelukku. Aku tahu, mungkin ini sebuah ungkapan kasih tapi tidak enak juga jika aku merasa sesak.


"Yak....menyingkir dari tubuhku." Akhirnya dengan sisa tenaga aku bisa mengeluarkan suara yang cukup keras dan terdengar oleh mereka bertiga.


"Aih, tak romantis sekali, kau merusak momen keluarga Ge." Protes Jason tak terima, perihalnya aku berucap tepat di daun telinga kanannya sehingga kupingnya sedikit pengang kurasa.


"Hummmmm, sesak rasanya ditimpa kalian, kenapa punya inisiatif menjadi teletubbies dadakan." Berpelukan tak harus dilakukan empat orang sekaligus, bukankah di dunia ini ada kata gantian.


"Tak seru sekali, ayo pergi." Danda kenapa seperti tertukar dengan Jason, jiwa kekanakannya muncul.


"Sudahlah, Jiji benar. Lagipula kondisi fisiknya belum stabil jadi wajar kita membuatnya pengap jika berpelukan seperti tadi." Tukas Amanda menengahi.


"Yasudah kita ganti tugas lagi, ayo pergi." Kata Danda berkomando.


"Hah, mau kemana?" Tanyaku spontan.


"Tentu saja beraktivitas seperti manusia lainnya." Ujar Jason tanpa memberitahu dan menarik Amanda serta Danda pergi bersama.


Rupanya Danda ada rapat direksi sore ini, sedang Jason menemani Amanda mengambil cuti kuliah untuk pernikahan kami yang digelar kurang dari dua pekan. Tinggallah aku bersama Felix dan Mommy, karena Daddy harus memimpin rapat bersama Danda.


"Mom, bukankah Mommy berjanji untuk menjawab semua pertanyaan yang ada dalam benakku saat ini." Ujarku menyinggung perkataan Mommy semalam, karena sedari tadi dia hanya berkirim pesan entah dengan siapa dan tentu saja berimbas mengabaikan ku.


"Aduh, maaf sayang Mommy sibuk harus mengirim kabar pernikahan kalian." Mommy mendekati ranjangku, dan mulai meletakkan handphone miliknya di tas kepunyaannya.


"Mom, kapan aku menikah dengan Amanda?" Aku membuka dengan pertanyaan tersebut.


"Kau menikah tanggal sepuluh Oktober sayang, bukankah tanggal cantik. Itu tanggal pilihan Mommy, tapi dipaksakan agar Amanda menyetujui dan memilih tanggal itu juga." Jelasnya yang bukan menambah jelas, malah semakin runyam.


"Tentu karena Amanda ingin menikah." Jawab Mommy seadanya, membuat aku harus mengajukan pertanyaan tambahan.


"Mengapa, Amanda saja belum lulus kuliah." Aku kini memperbaharui posisi menjadi setengah duduk.


"Ceritanya panjang, intinya Amanda tergugah hatinya menikah denganmu karena kecelakaan waktu itu. Baginya tak ada kesempatan untuk menunda waktu, karena dia tak akan tahu apa buang akan terjadi kedepannya." Jelas Mommy.


"Mommy yakin tidak ada paksaan untuk ini? Aku lihat Amanda tidak seceria biasanya saat ini." Jujurku pada Mommy.


"Seribu persen yakin, ini kemauan Amanda sendiri. Kenapa banyak bertanya apa kau tak suka menikah dengannya? Cerewet sekali padahal baru siuman." Gerutu Mommy.


"Justru karena aku yang akan menikah makanya aku bertanya." Aku rasa tidak ada baiknya bertanya dengan Mommy, aku akan meminta penjelasan Felix dan bertanya langsung pada Amanda nanti.


Bosan menghirup oksigen diruang yang sama selama dua bulan lebih, aku meminta Felix membantuku mengelilingi rumah sakit. Felix membawaku ke taman yang begitu tepat untuk mencari oksigen karena rindangnya suasana disini.


"Rasanya aku pernah duduk di kursi ini." Ujarku pada Felix, saat duduk di kursi dekat sebuah pohon.


"Bos baru sekali berkeliling, mungkin suasananya sama dengan tempat yang pernah dikunjungi." Balas Felix setelah membenarkan infus yang ku bawa.


"Tidak, aku yakin pernah kesini, tapi entah kapan." Aku kekeh dengan ingatanku.

__ADS_1


"Yasudah, tidak penting juga bos pernah kemari atau tidaknya. Disini tidak lebih dari sebuah bangku taman." Tukas Felix, benar.


"Dasar kau, sudah cepat jelaskan kronologi kecelakaan sampai Amanda ingin mempersunting ku, dan sejauh mana persiapan pernikahan ku." Pintaku mutlak.


Felix mulai menceritakan secara detail mengenai apa yang diketahuinya, tak ada satupun yang luput dalam ceritanya. Sedang aku menyimak sambil memastikan kembali kapan tepatnya aku duduk di bangku ini.


Setengah jam waktu yang dibutuhkan untuk memuaskan ku dengan semua pertanyaan yang menghampiri. Ternyata banyak peristiwa yang terjadi, padahal hanya aku tinggal tak genap seratus hari.


"Jadi bagaimana rencana mu bos?" Tanya Felix usai cerita panajng lebar.


"Aku akan memulihkan tenaga, lantas membahas pernikahan dengan Amanda, baru mengurus masalah pekerjaan." Ujarku.


"Masalah Mega dana sementara waktu diurus Dalton, kau tidak boleh campur tangan untuk itu. Sedang kantor disini di ambil alih oleh Danda." Jelasnya, sambil memainkan rumput dengan sepatunya.


"Aku susah payah membangun perusahaan di Denmark kenapa di ambil alih Danda." Sedikit tak terima dengan ini.


"Danda sembilan puluh persen membantumu untuk membangun perusahaan ini, jika kau lupa." Felix memang tidak solid.


"Tetap saja sumber dana terbesar aku yang menggelontorkan." Aku dengan hati masuh tak terima.


"Tidak usah iri hati, kau tetap pemilik perusahaan. Hanya saja Danda lebih banyak bekerja, apa bedanya dengan dulu." Tukas Felix mengingat kilas balik sistem kerja kami selama ini.


"Kalau Danda ambil alih, aku jadi tak ada kerjaan walau hanya sekedar tanda tangan berkas." Protesku.


"Bangun perusahaan lagi dengan istri, lagipula kau lebih suka bisnis gelap ketimbang duduk manis di kantor." Peringat Felix.


"Maaf bolehkah aku duduk disini?" Tiba-tiba datang seorang kakek menyela percakapan kami.


"Maaf kek, silahkan cari tempat yang lain." Usir Felix.


"Ah tidak usah kek, duduk disini saja." Aku mempersilahkan kakek tersebut duduk di sampingku, dan mengusir Felix dengan gestur tubuh.


"Terimakasih anak muda, bukannya aku tak mau duduk di kursi lain. Meski kosong, ini adalah kursi yang meninggalkan kenangan untukku." Jelas sang kakek, yang entah kenapa suara, nada bicara, dan wajahnya begitu aku kenal padahal aku baru pertama kali bertemu dengannya.


"Kalau begitu, biar aku yang pergi kek." Ucapku, meski dalam hati ingin lebih jauh mengetahui seluk beluk sang kakek.


"Tidak usah, kita bisa menjadi teman bicara sebentar bukan." Ujar sang kakek.


Ajakan sang kakek teramat sulit ku tolak. Rasanya lidahku kelu untuk mengatakan tidak. Hampir satu jam lamanya kami berbincang mengenai cerita hidup sang kakek, kadang diselingi dengan pertanyaan sang kakek tentang hidup ku. Berakhir karena perawat mengatakan waktu bersantai kakek telah usai dan harus kembali ke kamar.


"Felix, kakek itu siapa?" Selepas kepergian kakek itu, aku tak bisa berhenti berpikir siapa sebenarnya dia.


"Oh, dia kakek yang di rawat di rumah sakit ini." Jawab Felix serasa enggan.


"Orang bodoh juga tahu tanpa bertanya, cari tahu siapa kakek itu." Perintah ku, karena entah kenapa aku seperti punya ikatan batin dengannya.


"Kau tertarik dengan kakek-kakek, tidak biasanya." Kata Felix.

__ADS_1


"Kau..."


"Baiklah, begitu saja sudah hampir emosi." Jawab Felix cepat-cepat sebelum aku menyelesaikan kalimat.


__ADS_2