Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
Coma 2


__ADS_3

"Lihat ini, aku sudah menyiapkan undangan. Aku juga sudah memilih tanggal cantik untuk pernikahan kita. Tidakkah kau penasaran dan ingin membantuku." Amanda berceloteh dengan nada riang di depan tubuhku yang masih di alam bawah sadar.


Dua bulan lamanya aku hidup ditopang oleh alat-alat medis. Sejauh ini tak ada perkembangan nyata tentang kondisiku. Segala cara dan dokter terbaik dunia didatangkan untuk pemulihan ku, tapi nihil hasilnya. Aku tetap terbaring koma dengan jiwaku yang semakin hari semakin hilang arah.


Aku benci kondisiku yang tak menentu seperti ini. Aku bahkan tak bisa mengendalikan tubuh sendiri, hanya menjadi penonton atas apa yang terjadi disekitar tanpa bisa berkomentar apapun. Aku lelah, ingin rasanya menyerah, tapi sejauh ini aku belum ditemui malaikat maut. Mungkinkah dia takut seram dibandingkan rekam jejakku saat mencabut nyawa manusia.


"Kau masih disini, bukankah harusnya kau ada kuliah hari ini?" Jason datang dengan bunga segar ditentengnya lantas meletakkan di vas bunga dekat ranjang rawatku.


"Hari ini aku ingin lebih lama dengan Jiji, bolehkah?" Semenjak aku koma, Amanda dan Jason menjadi akrab dan saling mengandalkan tanpa rasa cemburu berlebih dari Jason.


"Boleh-boleh saja, kuliah juga tidak teramat penting." Jason menarik kursi di samping Amanda, lalu duduk dan mulai menatap ke arah tubuhku.


"Mommy tadi menelpon, mungkin seminggu lagi mereka kembali, paman Dalton juga akan turut serta." Beber Amanda, atas informasi yang baru diperolehnya.


"Lebih cepat lebih baik, mungkin dengan berkumpulnya semua keluarga Gerlard cepat sadar." Harap Jason dengan penuh harap.


Dua minggu menanti pulihnya hidupku, semua anggota keluarga pergi untuk mengurus pekerjaan yang terbengkalai, menyisakan Amanda dan Jason. Bahkan Amanda mempersiapkan pernikahan kita hanya dengan bantuan Jason, Felix, beserta kekasihnya.


Harapan semua orang, mungkin aku akan sadar jika tanpa menungguku mereka setiap harinya menyiapkan detail pernikahan. Menaruh peruntungan, jikalau aku bisa sadar sebelum hari yang telah ditentukan. Dan aku harap bisa bangun lebih awal, aku tak sanggup melihat bulir air mata Amanda setiap hari. Dan mungkin akan bertambah jika aku tak siuman sampai hari pernikahan datang.


"Menurutmu, Jiji akan suka tidak ya dengan desain undangan yang aku pilih?" Amanda meletakkan kertas undangan di dekat Jason.


Jason mengambil undangan itu, menelisik beberapa menit lantas berucap," Kau cukup yakin meletakkan tanggal pernikahan disini, aku berdoa dari lubuk hati semoga Tuhan mengabulkan segala anganmu Manda."


"Aku yakin Jiji akan bangun sebelum itu." Meski berkata demikian, Amanda tersenyum getir.


"Kapan fitting baju?" Tanya Jason sembari mengembalikan kartu undangan pada Amanda.


"Senin depan." Jawab Amanda menahan tangis.


"Hei, apa pertanyaan ku mengundang tangismu? Aku bertanya untuk kelangsungan hari bahagiamu, harusnya kau antusias Manda." Petuah Jason, mendadak dewasa setelah ku tinggal koma beberapa bulan.


"Andai waktu itu aku tak egois, dan berbohong pada Jiji. Mungkin semua tidak seperti ini Jas, mungkin aku masih bisa merasakan kasih sayangnya setiap hari." Pecahlah tangis Amanda untuk kesekian kali di hari ini.


"Apa stok airmata mu begitu melimpah? Kenapa betah sekali menangis sehari-hari." Meski ketus, Jason membawa Amanda dalam dekapannya, membuatku cemburu saja.


"Aku bodoh bukan, aku tahu aku penyebab semua ini. Jiji koma karena aku Jas." Rintihnya pedih.

__ADS_1


"Kau memang bodoh." Kata Jason memandang tepat di mata Amanda.


"Sudah ku bilang, jangan menyalakan diri sendiri. Gerlard sedang tak beruntung saja, jika kau terus seperti ini, aku rasa sulit bagi Gerlard untuk siuman. Berdoalah, dan sayangi Gerlard seperti biasanya, kurasa itu sudah lebih dari cukup sebagai obatnya." Jason yang sekarang terlihat sedikit mirip dengan Danda saat memberi petuah.


"Kau tahu bukan, aku sudah berusaha meski sulit. Aku terpuruk Jas, andai kau tahu aku bahkan tak ingin melanjutkan hari tanpa berada disisinya setiap detik. Aku lumpuh Jas, separuh jiwaku direnggut bersama Jiji. Aku harus bagaimana." Kalut Amanda bertabur tangis.


"Aku hidup lebih lama dengan Gerlard daripada kau, aku lebih mengidolakan Gerlard daripada kau, aku lebih dulu menjadikannya sosoknya sebagai orang yang bahkan aku rela menukar nyawa untuknya. Kau lihat bukan, aku masih sabar menanti, dan yakin dia bisa melewati masa kritisnya. Aku adiknya, aku tahu itu dengan pasti." Jason memeluk Amanda semakin erat, seolah dia menasehati diri sendiri.


"Apa aku terlalu serakah sehingga merasa paling terpuruk diantara kalian?" Amanda melepas pelukan Jason.


"Tidak, kurasa sah-sah saja kau merasa begitu, mengingat kau orang nomer satu di hari Gerlard saat ini. Jika sudah tau seperti itu harusnya kau juga jadi orang paling kuat, dan paling semangat menanti kepulihan Gerlard Manda." Jason tersenyum, lantas memeluk tubuhku yang terbaring dan berbisik di telingaku yang aku tak dengar karena terlalu lirih.


Pilu rasa hati melihat orang terkasih haru biru menatap sekujur tubuhku yang terbaring. Merenggut sebagian semangat hidup dari mereka. Tuhan, tidakkah kau merasa iba padaku. Atau jika tidak, tolong ibalah pada mereka yang berdoa atas namaku si pendosa ini.


Tujuh hari lagi tenggat waktu yang aku miliki. Karena Senin depan Amanda harus fitting baju untuk pernikahan kita. Tapi aku masih terbaring, dan entah kapan akan siuman.


Langkah kaki berjalan membawaku mengelilingi koridor rumah sakit, dan berakhir di bangku taman rumah sakit ini. Tiba-tiba datang seorang kakek tua dengan baju rawat dan tiang infus yang dibawanya duduk di bangku yang sama denganku.


"Kau terlalu muda untuk merasa frustasi lantas mati, mau bertukar nyawa denganku?" Kakek itu seolah dapat melihat arwahku dan berbicara menatap mataku, sontak aku terpental akibat kaget bukan kepalang.


"Aku tak mengajukan syarat, cukup katakan iya dan datanglah ke makam ku sesekali." Ucapan kakek membuatku tergesa menjawab iya dan tersenyum lebar.


Lega rasanya hati dengan kalimat sederhana itu, meski mana mungkin dapat menukar nyawa, bahagia juga mendengarnya. Aku merangkul sang kakek meski tak dapat menyentuh kulitnya, aku tahu dia merasakan rasa terimakasih ku yang mendalam.


"Loh, kenapa jalan-jalan tanpa minta ditemani tuan?" Seorang perawat tiba-tiba datang di tengah pembicaraan kami berdua.


"Kenapa cepat sekali menemukan ku, aku sedang kabur ngomong-ngomong." Ucap sang kakek dengan cengiran kuda di penghujung kata.


"Kenapa kabur lagi?" Tanya perawat yang kini bertambah menjadi dua orang. Mungkin tadi mereka berpencar untuk menemukan kakek ini.


"Kau terus memaksaku meminum obat, kau pikir dengan minum obat semua anggota keluarga ku yang mati bisa hidup kembali?" Teriak kakek itu tiba-tiba marah.


"Yasudah kalau sedang tidak ingin minum obat bilang saja padaku, nanti aku temani jalan-jalan. Bukankah jalan-jalan seorang diri sangat tidak mengasikan." Tukas sang perawat.


"Kau banyak akal bulus, mana sudi aku bicara denganmu, pasti kau mencampurkan obat itu pada makanan dan minumanku nantinya." Sang kakek mulai berdiri, dan berusaha kabur dari kedua perawat itu.


"Yasudah tidak lagi, ayo kembali ke kamar bersama." Bujuk perawat lelaki.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri, kalian penipu cepat tinggalkan aku." Meski berkata dengan kata lembut, nyatanya tak dapat meluluhkan hati kakek satu ini.


Kesenangan teramat membuncah yang baru saja kurasakan, kini sirna bersamaan dengan perginya sang kakek. Ya, kakek itu terpaksa disuntik tenang karena terus berontak. Pupus, aku pikir dia benar-benar dapat melihat aku dalam wujud roh. Faktanya sang kakek sedang dalam gangguan psikis, yang mungkin karena ditinggalkan semua keluarganya.


Kepergian sang kakek membuatku seketika murung. Aku memutuskan untuk kembali ke ruang rawat. Bertepatan sebelum aku menaiki lift, aku bertemu kakek yang tadi ku temui, kini terkulai di kursi roda dan di dorong oleh dua perawat.


"Kasihan sekali kakek ini, keluarganya mengalami kematian secara bersamaan karena keracunan dan hanya dia yang selamat." Ucap perawat wanita.


"Tidakkah kau berpikir ini sejenis pembunuhan, mana mungkin bisa keracunan serempak dan hanya pelayan mereka saja yang selamat selain si kakek." Curiga perawat lelaki.


"Kau terlalu banyak menonton drama, kata kakek dia selamat karena tidak meminum jus jeruk dan hanya minum air putih." Sangkal perawat wanita.


"Berarti racunnya ada pada jus jeruk tersebut." Simpul perawat pria.


"Mungkinkah, sayangnya belum ada kesimpulan dari penyelidikan kematian janggal mereka." Jelas perawat wanita.


"Kau tahu darimana." Heran perawat pria.


"Kau kemana saja, beritanya ada di semua saluran tv." Kata perawat wanita.


Entah kenapa aku merasa iba pada kisah hidup si kakek. Rasa iba yang muncul ini, adalah rasa iba kedua ku setalah pertama untuk Amanda. Apakah hatiku melunak karena sedang dekat dengan sakaratul maut.


Aku membuntuti sang kakek sampai ke bangsal rawatnya. Dia dirawat diruang VVIP, menunjukkan status sosialnya yang tinggi. Sangat disayangkan dengan kemewahan fasilitas yang dimilikinya, tak ada seorangpun yang tinggal menemaninya.


Menilik kondisi sang kakek memantapkan hatiku, jika aku sadar nanti setidaknya aku akan berkunjung ke bangsal ini dan menemaninya mengobrol sesekali.


"Kek, tunggu aku mengunjungimu dalam kondisi yang utuh. Kondisi dimana aku bisa memelukmu yang mungkin sedang remuk perihal keluarga mu. Aku janji, aku pasti datang lagi kemari. Hanya yakin, bahwa aku sempat membahagiakan mu, dan akan ku kenalkan kau pada semua keluarga ku yang mungkin akan menjadi keluarga mu juga." Ucapku di dekat ranjang sang kakek, sebelum akhirnya memutuskan untuk benar-benar ke kamar ku sendiri.


Setibanya di kamar aku dikejutkan dengan Amanda yang tergopoh menembus tubuhku. Belum sempat aku menilik bilik rawatku, aku segera lari mengikuti Amanda.


"Sus, tolong pasien ruang 302, dia mengalami kejang." Tangis Amanda sambil menjelaskan kondisi ku.


"Baik, tolong tunggu di ruangan." Perawat tersebut dengan sigap menghubungi dokter dan membawa peralatan medis lantas menuju ruangan ku dengan berlari.


Bagai tersambar petir rasanya, saat melihat tubuhku kejang dan memuntahkan cairan putih seperti nanah. Ditambah saat dokter mencoba mengembalikan denyut jantungku selalu gagal, lantas menambah tekanan tinggi kejut listrik untuk kembalinya irama jantungku. Tapi henti jantungku seolah tak peduli dengan kerja alat ini.


Aku menangis karena takut, aku siap mati kapan saja, tapi aku tak siap melihat Amanda menangis meraung menatap tubuhku yang terkulai lemah.

__ADS_1


__ADS_2