
***Amanda POV***
Hidup dan mati memang milik Tuhan, siapa pun tak dapat mengendalikan kematiannya. Hal ini berlaku bagi Gerlard meski dia penjahat sadis ternama. Ketika nyawanya diujung tanduk, siapa sangka bisa membuatku ingin ikut mati bersamanya. Meski jahat dengan kebanyakan orang, dia tetap malaikat dua sisi untukku. Aku tak butuh siapapun, kecuali seorang Gerlard yang aku panggil dengan panggilan mesra yakni Jiji.
"Tuhan, aku bukan manusia suci, aku tahu banyak ribuan doa diluar sana menginginkan kematian Jiji, tapi selipkanlah doaku diantara ribuan doa itu untuk keselamatannya. Meski harus bertukar nyawa, aku ikhlas, Tuhan." Aku memanjatkan doa ditengah para medis mencoba mengembalikan denyut jantung Gerlard yang sempat melemah.
"Nona, sebaiknya anda keluar ruangan jika terus menangis. Tenangkan diri anda terlebih dahulu, saya takut tangis anda menghambat kerja dokter karena hilang fokus." Pinta seorang staf medis yang ikut bersamaku tadi.
"Tapi sus, aku ingin disini apapun yang terjadi." Pintaku penuh rintih.
"Anda sayang dengan tuan Gerlard bukan, jika begitu mari keluar sebentar, berdoa dan panggil anggota keluarga lainnya." Perawat itu memapah badanku yang lemas ke luar ruangan.
Aku tersentak setelah duduk di kursi tunggu, aku baru sadar aku sendirian saat ini. Jason baru saja pergi untuk mengurus pekerjaan. Hakikatnya tidak benar-benar sendiri, karena banyak pengawal dan orang kepercayaan Gerlard di penjuru ruang.
"Nona memanggil saya?" Tanya seorang pengawal sebagai respon, dari panggilan isyarat aku yang melambaikan tangan.
"Tolong sebarkan kabar ke semua keluarga, jika kondisi Gerlard kritis, tiba-tiba irama jantungnya melemah, kejang dan muntah. Dan minta Jason cepat kemari. Terimakasih." Aku mana sanggup menghubungi mereka sendiri, sedang telpon ku saja entah dimana.
Selang sepuluh menit aku meminta bantuan dari pengawal, aku melihat Jason berlari ke arah ku dengan rupanya yang kusut. Setelah menetralkan napasnya yang tersengal Jason buru-buru masuk ruangan tanpa menyapa ku lebih dulu. Tentu saja aku hanya melihat tanpa dapat mencegah.
"Hah, sial*n aku diusir perawat bedeb*h itu." Kesal Jason setelah menempatkan bokongnya di samping aku duduk.
"Jas, aku....." Tak sanggup rasanya lidah berucap, aku berhambur memeluk Jason, berharap mendapat ketenangan.
"Hei, tenanglah. Gerlard pasti bisa melewatinya." Jason mengelus pucuk kepalaku, meski berupaya tegar aku tahu tangannya sedikit gemetar saat berucap.
"Aku takut Jas, rasa takut itu semakin detik kian menggerogoti perasaanku." Jujur aku sudah tak dapat memendam semuanya sendirian.
"Jangan melantur, Tuhan mengabulkan prasangka setiap hambanya. Jadi bisakah kau berprasangka baik saat ini." Nasihat Jason yang entah kenapa mendadak agamis di mataku.
"Hm, mari menaruh harap pada kekuatan doa." Ucapku pasti.
Aku melepas dekapan Jason setelah merasa cukup tenang. Tak ada pembicaraan lanjutan dari kita berdua. Mata kita sibuk tertuju ke pintu masuk kamar inap Gerlard. Berharap pintu segera terbuka dan kabar baik diterima.
Brukk
"Keluarga pasien mohon ikut sebentar." Seorang perawat membuka pintu secara tergesa dan memanggil wali Gerlard.
"Ada apa sus?" Jason menghampiri perawat wanita tersebut, sebelum berbisik agar aku duduk saja disini.
"Kami minta persetujuan untuk operasi lanjutan, karena pasien di diagnosa tempurung kepalanya geser tidak pada tempatnya." Jelas perawat tersebut.
"Kenapa operasi lagi, bukankah operasi waktu itu berhasil?" Tanya Jason tak terima.
"Benar, bukankah beresiko mengoperasi orang yang dari operasi pertamanya saja belum siuman sus?" Aku tak tahan berdiam diri, akhirnya mendekat dan mengeluarkan pendapat.
"Waktu menjelaskan tidak banyak, kami butuh persetujuan segera, karena berpacu dengan irama jantung pasien yang mulai naik turun. Dokter sudah mengambil banyak resiko untuk kesembuhan pasien. Kami bertaruh pada operasi kali ini." Beber perawat yang nampak tak sabar dengan pertanyaan yang kami ajukan.
__ADS_1
"Mana biar aku tanda tangani." Jason menyerah, lantas meminta berkas yang harus ditandatangani.
Persetujuan ditangan, tubuh Gerlard langsung di larikan ke meja operasi. Aku dan Jason saling menguatkan saat melihat tubuh orang yang kami sayangi di gledek melewati kami dalam kondisi mengkhawatirkan.
Lampu menyala masih berwarna merah menandakan operasi masih berlangsung. Aku dan Jason sudah menghubungi keluarga yang lain tapi belum ada tanda-tanda kemunculan mereka.
"Jas, bagaimana ceritanya, kenapa Gerlard di operasi lagi?" Tanya Danda yang baru saja tiba bertepatan dengan kedatangan Felix dan Jolie.
"Aku tak tahu, yang aku tahu tadi Gerlard sempat kejang dan muntah lalu irama jantungnya melemah, lantas tiba-tiba ada keputusan dokter untuk melakukan operasi kembali." Jelas Jason, sedang aku tak mampu berkata dan langsung di peluk oleh Jolie.
Bungkam, setelah penjelasan Jason kita seperti tak ada bahan untuk sekedar mengobrol. Semua sibuk merapal doa dalam hati. Dan entah kenapa setiap detik yang dilalui terasa begitu lama saat ini.
Dalam rasa kalut aku masih terheran dengan kedatangan Mommy dan Daddy, beserta paman Dalton dan bibi Carmila. Bukankah mereka berada di negara berbeda, lantas kenapa bisa datang secepat ini. Aku lupa jarak dari Amerika dan Chicago menuju Denmark dapat ditempuh selama tujuh jam dalam perjalanan tanpa henti. Apalagi mereka menggunakan jasa penerbangan pribadi, sudah pasti bisa lebih cepat dari dugaanku.
"Jas, kau oke?" Tanya Daddy melihat Jason kusut tak karuan.
"Dad, aku....aku...." Tangis Jason tumpah ruah bersama dengan pelukan Mommy untuknya.
"Sayang tenang, kita semua ada disini. Bukan hanya kau yang menanggung rasa takut sendirian, ada Mommy nak." Mommy sibuk berucap sambil mengelus tubuh Jason yang jauh lebih tinggi di banding mommy.
Tangis Jason begitu menyayat hati bagi siapa saja yang mendengar. Tak heran jika beberapa dari kami ikut menangis, sedang yang lain menampakkan mata berkaca-kaca.
"Sayang tolong!" Mommy berteriak, dan refleks menarik lengan Daddy yang berdiri tepat disampingnya. Ya Jason pingsan dalam dekapan Mommy.
"Anak ini, hmm...." Daddy membopong tubuh Jason dan meminta Felix mencarikan perawat.
Tak ada sahutan dari kami. Jangankan untuk menyahut ucapan paman Dalton, untuk mengucap doa saja kami lakukan hanya dalam hati saja. Meski sosoknya mendapat julukan anak iblis, tak membuang kebaikan yang telah kurasakan di berikan olehnya begitupun dengan yang lain. Sehingga kehilangannya adalah hal terburuk di dunia yang tak sanggup ku bayangkan.
Operasi kali ini berjalan lebih cepat daripada operasi pertama. Lampu beralih warna, menandakan operasi selesai. Sebelum dokter keluar Danda menelpon Daddy memberi kabar. Dan Daddy berserta Jason yang telah sadar dari pingsannya datang tepat saat dokter membuka pintu operasi.
"Dok, bagaimana operasi kali ini." Tanpa sempat menstabilkan nafasnya, Daddy langsung menanyai sang dokter.
"Beruntung pasien mengalami kejang, sehingga kita tahu dimana letak kesalahan sehingga pasien belum juga siuman. Sehingga kami berinisiatif melakukan operasi ulang dan berhasil dengan baik, tinggal hasilnya kita serahkan pada Tuhan." Jelas dokter bedah tersebut.
"Bagian apa yang dioperasi dok?" Tanya Daddy yang tak tahu menahu.
"Ada tempurung kepala pasien yang bergeser sehingga tidak pada tempatnya sehingga menghambat kerja otak merespon segala sesuatu, bisa jadi hal ini juga mempengaruhi tubuh merespon obat yang selama ini diberikan." Tutur dokter dengan bersahaja.
"Terimakasih dok, jika anakku tak selamat jangan harap kau juga selamat." Gertak Daddy dengan sifat kerasnya yang kental.
"Baik, saya permisi." Dokter berpamitan dengan wajah sedikit suram.
Aku sangat heran dengan watak Daddy. Bukankah seharusnya dia berterimakasih, dokter sudah berusaha semaksimal mungkin mengobati pasien, ini malah mendapat ancaman kematian dari Daddy. Untung saja dokter itu tak dendam dan mencelakai Gerlard saat melakukan operasi.
Butuh waktu setengah hari akhirnya Gerlard dipindahkan ke ruang rawat. Lagi-lagi kejadian membisu setiap orang terjadi diruang ini. Tak ada seorangpun bicara. Bahkan aku bisa dengan jelas mendengar nafas masing-masing orang disini. Menunggu pasien sudah seperti menunggu giliran penghakiman di akhirat.
"Daddy jari Gerlard bergerak." Aku yang kebetulan berada di samping tubuh Gerlard menyadari dan segera berkata sedikit kencang akibat rasa senang saat melihat harapan sadarnya Gerlard.
__ADS_1
"Benarkah?" Tanya Daddy lantas mendekati tubuh Gerlard, kini semua orang berada dalam lingkaran mengerumuni ranjang Gerlard.
Kami semua memperhatikan Gerlard, lantas dikejutkan dengan mata Gerlard yang ingin terbuka tapi sulit. Aku menggenggam tangan Gerlard, mencoba memberi dorongan kekuatan agar dia bis membuka matanya.
Perlahan tapi pasti, Gerlard mulai membuka mata. Mengambil beberapa menit sampai penglihatan mulai fokus. Semua kejadian itu tanpa sadar membuatku menahan nafas menantikan momennya.
"Sayang kau sadar." Mommy langsung memeluk tubuh Gerlard, sebenarnya aku ingin lebih dulu memeluknya tapi tak enak hati dengan wanita yang melahirkan Gerlard.
"Syukurlah, aku tak jadi memuat perhitungan dengan dokter tadi." Daddy mengucap rasa syukur meski dengan embel-embel.
"Kau membuatku hampir mati berdiri dengan kondisimu asal kau tahu." Jason si adik bungsu yang ternyata cengeng.
"Kalian siapa?" Tanya Gerlard membuat semua orang tercengang.
"Ge ini aku Daddy mu, jangan mengada-ada seolah tak tahu." Daddy meminta semua orang mengambil jarak agar dia lebih leluasa bicara dengan Gerlard.
"Aku Ge, Ge siapa?" Tanyanya dengan nada anak kecil.
"Sayang jangan membuat Mommy takut." Mommy mengelus wajah Gerlard lembut.
"Tapi maaf aku tak ingat." Balas Gerlard membuat Daddy geram dan meminta Felix memanggil dokter bedah tadi.
Dokter datang dengan dua orang perawat jaga. Ah aku lupa saat ini pukul delapan malam waktu Denmark. Untung saja dokter tersebut belum ganti jam jaga dengan doker lainnya.
"Kau coba periksa anakku." Perintah Daddy melihat dokter baru saja tiba.
Dokter melakukan beberapa tes lantas memeberi kesimpulan." Tak ada yang salah dengan tuan Gerlard, apa yang dikhawatirkan tuan?"
"Masih bertanya, kau tahu dia amnesia." Teriak Daddy lupa kalau disini ada pasien.
Dokter tidak menjawab Daddy, lalu beralih menatap Gerlard cukup lama." Jangan mengerjai orang terdekatmu tuan.
"Hehehe, muka kalian tegang sekali padahal aku tidak apa-apa. Maaf-maaf membuat cemas." Ucap Gerlard tanpa bersalah, membuat Daddy nyaris melayangkan bogem mentah.
"Kau berani sekali melakukan itu padahal kami semua hampir kehilangan nafas melihat kondisimu." Ucap paman Dalton.
"Paman jangan bercanda, aku hanya kecelakaan beberapa jam lalu bukan. Seperti tak pernah melihatku celaka saja." Santai Gerlard tanpa tahu kebenarannya.
"Kau koma dua bulan lebih Ge." Celetuk Jason yang sedang berlindung di ketiak mommynya.
"Ah, yang benar saja. Mana mungkin aku koma. Lihat aku baik-baik saja." Masih tak percaya dengan kenyataan.
"Tapi yang dikatakan mereka benar Ji, kau bahkan menjalani operasi kepala dua kali." Ujarku yang sudah dapat bersuara dengan baik saat ini.
"Yak, yang benar saja. Aku benar-benar koma?" Tanya Gerlard memastikan.
Tak ada sahutan, hanya anggukkan kami serentak. Dan dokter yang mengiyakan. Dan kejadian lucu akibat tingkah Gerlard yang heboh tak percaya dirinya mengalami koma menghidupkan suasana ruangan yang sempat mati. Dalam hati aku berucap syukur karena Tuhan sangat bermurah hati menurunkan keajaibannya.
__ADS_1