Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
Love Shot


__ADS_3

Tahun berganti namun cintaku tetap pada orang yang sama. Manusia menyebalkan yang sayangnya aku suka. Manusia egois tak kenal mati dan tak sudi meneteskan air mata walau aku sekarat. Namun meraung histeris saat tahu aku kembali siuman. Manusia itu kini sedang berbaring tanpa sehelai busana di sampingku. Oh istriku tersayang.


Aku berpuas diri merasa bangga akan kemenangan yang ku peroleh. Aku berhasil berhubungan intim dengan Amanda tepat sebelum malam berganti tahun. Enak saja dia membatasi ku sebagai suami. Harusnya dia bersyukur punya suami gagah perkasa macam diriku. Sebagai bonus aku memberi sentuhan intim padanya pada awal tahun pula. Jadi jika mengikuti lelucon Amanda aku berhasil menidurinya setahun penuh dengan bonus satu jam pada awal tahun kali ini. Hahaha bahagianya diriku.


Untung saja Denmark di guyur hujan deras beserta badai, membuat Daddy dan yang lainnya urung datang ke mansion. Menguntungkannya lagi, kita terjebak di pusat hiburan yang bersebelahan dengan hotel. Kalau sudah di hotel, Amanda tak akan bisa kabur sesuka hatinya seperti di mansion. Misi komplit hari ini.


Aku melirik Amanda yang tak kunjung membuka matanya, apa mungkin dia pingsan akibat ku gempur tiada henti. Mulai khawatir, aku mendekat dan memeriksa jalur napasnya. Syukurlah, dia hanya tidur, karena aku mendengarnya dengkuran halusnya yang merdu di gendang telingaku. Wajahnya yang pulas seolah mengajak aku untuk tidur disampingnya. Ah, memang sudah waktunya aku tidur, ini sudah pukul tiga dini hari.


"Hoammmmmm....." Menguap dengan merentangkan kedua tangan adalah kenikmatan tiada bandingnya saat bangun dari tidur.


"Tutup mulutmu, aku rasa kepala ku bisa tersedot mulutmu yang begitu lebar." Amanda protes, mengganggu kesenangan suaminya yang tampan.


"Apasih sayang kenapa masih sewot saja, apa masih kurang yang semalam, apa mau satu ronde lagi?" Tubuhku bringsut mendekati Amanda.


Amanda memukuli ku dengan bantal hotel," Enyah kau mesum."


"Mesum begini kau menikmatinya bukan?" Aku nih gencar menggoda Amanda.


"Mandi sana, supaya setan mesum di tubuhmu ikut terguyur dan minggat." Sarannya misuh-misuh.


"Ah, kau ingin mandi bersama denganku, manjanya istriku." Lihat wajahnya memerah entah karena tersipu atau karena marah.


Tembakan cinta yang aku lemparkan pada Amanda dalam bentuk canda kadang bersambut tak baik darinya. Terbukti sekarang aku disiksanya dengan meninju bokong ku sekuat tenaganya. Ditambah gigitan ekstra, jurus maut Amanda pada lengan kananku. Serta kuping yang dijewer hingga terasa putus dan berdenyut.


...***************...


Badai masih berlangsung, seolah enggan bergeser dari bumi untuk sekedar istirahat. Alhasil kita harus berpuas diri menghabiskan waktu bersama di hotel. Entah siapa yang memulai, tapi kini kita berakhir duduk di atas kasur dengan saling memberi petuah tentang pekerjaan. Padahal aku tahu, Amanda sangat benci mencampur adukkan waktu bersama dengan pekerjaan.


"Aku rasa untuk pekerja baru yang langsung kau tempatkan sesuai divisi, coba kau kirim beberapa ke kantor Gaston untuk studi banding." Sarannya setelah tahu titik permasalahan yang aku hadapi saat ini.


"Ini ada beberapa rekrutmen yang potensial dan sudah melalang buana dalam bisnis, kau bisa memberinya kesempatan untuk menuangkan ide-idenya. Aku yakin berdasarkan pengalamannya pasti ada hal besar yang dapat di raihnya." Sambung Amanda.


"Kau perlu memperluas target bisnis, fokus pada kualitas produk yang bisa menjadikan kesetiaan pelanggan pada produk-produk perusahaan."


"Untuk bidang hiburan, undanglah grup band dari negara Korea Selatan yang sedang naik daun. Kau bisa undang BTS, EXO, BIGBANG, BLACK PINK, tanyakan ini pada Mommy dia tahu lebih banyak daripada aku."


"Dunia kecantikan, aku rasa bisnis kolagen dan keratin sangat menguntungkan belakangan ini dibanding yang lain. Dengan harga selangit yang kau berikan pada pelanggan, aku rasa kau harus mendampinginya dengan garansi juga Ji." Amanda menutup tablet target capaiannya yang aku perlihatkan.


"Boleh juga saran darimu, ah kau memang istri hebatku. Ngomong-ngomong sejak kapan kau berubah menjadi pintar sayang?" Kadang menghabiskan banyak waktu di kantor menjadikan aku ketinggalan banyak perkembangan kinerja otak Amanda.


"Aku tak sebodoh yang kau pikirkan tuan Gerlard." Gerutu Amanda tak terima.


"Iya-iya sayang, maaf." Ujarku lalu memeluknya erat.


"Hakkhhhh, lepas...hah, kau terlalu kencang memeluknya. Apa kau berencana ingin mengirim ku ke akhirat?" Seru Amanda membalas dengan cubitan mautnya pada perutku.

__ADS_1


"Bisa tidak menamparku saja daripada mencubit, rasanya lebih ngilu daripada tersayat belati asal kau tahu." Mungkin cubitan bisa dimasukkan ke daftar penganiayaan tingkat tinggi dalam rumah tangga.


"Lebay." Ledek Amanda, lalu mengambil ponsel pintarnya dan bermain game spy atau mafia.


Nah satu lagi, hal yang aku ketinggalan, dan tak tahu kapan dimulai. Amanda yang sekarang sangat suka bermain game, bahkan ada puluhan game baru yang di instalnya beberapa hari lalu. Mandi membawa handphone, makan sambil war, di mobil saat berangkat kampus pun masih betah dengan game-gamenya. Jika ku ganggu atau lerai alamat ocehan panjang harus mendarat di depan muka ku, dan aku tak suka itu.


...****************...


Badai usai, Mommy sibuk meneror Amanda agar segera kembali ke mansion karena mereka sudah tiba satu jam yang lalu. Sungguh terkadang orangtua menjadi benalu yang sulit lepas ketika anaknya sudah menikah. Tidak sadarkah mereka aku butuh banyak waktu berdua, untuk sekedar curhat masalah random. Walau tak penting, tapi perlu untuk mempererat hubungan kami yang sedikit retak akibat pekerjaan, wacana liburan yang tak kunjung terealisasi, dan game sial*n milik Amanda.


Menolak, tentu tidak. Aku bergegas meninggalkan hotel dengan perasaan kesal yang bertambah-tambah. Orangtuaku seolah tak percaya kami benar-benar pulang ke mansion sesegera mungkin. Mereka menelpon bergiliran seperti kurang kerjaan. Lucunya, mereka meminta kita lebih waspada tapi ingin kita cepat sampai. Coba tolong jelaskan konsep permintaan mereka tergolong permintaan jenis apa.


Tepat tiga puluh menit kami sampai di mansion, dan disambut hangat oleh mereka. Anehnya mereka berempat yaitu Danda, Mommy, Daddy, dan Jason hanya menyambut Amanda tanpa menggubris kehadiran ku disampingnya. Daddy bahkan membridal Amanda layaknya pengantin baru, mommy membawakan tas Amanda, Jason dan Danda mengintil bagai kucing. Sebenarnya ada apa, kenapa aku merasa asing dengan perasaan ini.


Amanda duduk di kursi ruang tengah, dia diapit oleh Daddy dan Mommy di samping kanan kirinya. Sedang Jason dan Danda duduk di atas karpet tepat di dekat kaki Amanda. Mereka memperhatikan detail gerak Amanda, kadang Mommy seolah mengelap keringat Amanda di pelipisnya, padahal jelas-jelas tak ada keringat disana. Daddy sebentar-bentar bertanya apakah Amanda nyaman dan lain hal. Jason dan Danda jelmaan pengikut yang hanya memijat kaki Amanda dengan telaten. Apa mereka kerasukan setan vila, lantas menjadikan Amanda ratunya.


"Kalian sinting secara jamaah?" Tak tahan akhirnya aku bertanya juga.


"Diam kau tidak diajak, sana pulang ke rumah mu sana." Usir Jason tak tahu malu.


"Hei... ini mansion ku jika kau lupa." Lagian mereka juga tinggal di vila ku bisa-bisanya berkata yang memancing emosi jiwa saja.


"Ini mansion Adolf, lagian meski kau ahli waris tapi terbukti Adolf lebih sayang aku." Pamer Jason bahkan sampai menjulurkan lidah padaku.


Aku berjalan memutari kursi, mengalah dan berdiri tepat di belakang Amanda. Tanganku memeluk Amanda dari belakang meski terhalang sandaran kursi. Lalu berbisik pada Amanda," Sebenarnya ada apa?"


"Tidak ada apa-apa sayang, aku hanya hamil." Jawab Amanda.


"Oh, hanya hamil...." Aku berpikir sejenak, mencoba mencerna jawaban Amanda barusan.


"KAU HAMIL?" Teriakku keras membuat semua orang terperanjat dari duduknya.


"Hehehe, maaf aku kecil-kecil sudah hamil." Amanda dengan santai malah menjawabnya sambil cengengesan.


"Kau yakin sayang, kata siapa kau hamil?" Bahkan kita selalu menghabiskan waktu bersama, dan tak mungkin Amanda pergi menemui dokter dibelakang ku.


"Kata Mommy." Amanda yang semula menengok kebelakang kini menghadap lurus ke depan.


"Hei lihat aku, Mommy buka dokter jangan percaya sembarangan." Sempat-sempatnya memalingkan wajah disaat serius seperti ini.


Bukkkkkk


Bantal sofa mendarat indah di kepalaku. Kalian tentu tahu siapa pelakunya, siapa lagi kalau bukan Mommy. Mungkin dia tersinggung dengan pernyataannya ku barusan. Padahal apa yang ku katakan benar adanya.


"Mau ku pelintir lehermu hah, enak saja menghasut Amanda untuk tidak percaya." Mommy mencak-mencak, bahkan kini posisinya tidak duduk lagi, melainkan berdiri dengan pose menantang.

__ADS_1


"Tapi Gerlard ada benarnya hon, darimana kau yakin Amanda hamil?" Daddy dengan sifat analisisnya yang tinggi hadir menyelamatkan ku dengan sebuah pernyataan.


"Memang ya, pohon jika buahnya jatuh pasti di bawah, kalian sama saja." Cerocos Mommy sampai salah ingat pribahasa.


"Mom yan benar buah tak jauh jatuh dari pohonnya." Koreksi Jason.


"Bodoh, yang tepat buah jatuh tak jauh dari pohonnya." Koreksi ulang Danda.


"Ah, sudah tak penting itu pribahasa. Mommy sudah berpengalaman. Lagipula Amanda sudah melakukan tes urine tadi pagi. Hasilnya garis dua, mana mungkin Mommy keliru." Ujar Mommy membela diri


"Ohh., pantas kau sangat yakin, kau terbaik hon." Puji Daddy.


"Kapan kau tes, kenapa tak memberi tahuku, aku ayah anak yang dikandung mu bukan?" Tanyaku tak habis pikir dengan Amanda, kenapa bukan memberi tahu kabar ini padaku lebih dulu.


"Tadi pagi saat di hotel, malas saja kau kan sedang ruwet dengan pikiran konyolmu, ini anak suamiku." Jawab Amanda kesal.


"Harusnya kau memberi tahuku lebih awal daripada mereka sayang." Aku lompat dari belakang kursi ke depan Amanda, dan hampir menginjak Jason.


"Woy bro, santuy." Kaget Jason lalu pindah tempat.


"Maaf aku juga tak tahu aku malas sekali bicara perihal kehamilan ku yang belum pasti padamu. Lalu aku bertanya pada Mommy, dan kata Mommy aku positif hamil. Lalu Mommy dapat ide untuk menyembunyikan darimu lantas pulang ke mansion lebih dulu." Jelas Amanda.


"Mom, harusnya tak seperti itu." Jadi semua ini ulah Mommy.


"Jika kau tahu Amanda hamil lebih dulu, aku yakin akan semakin lama kami bertemu Amanda. Bisa saja kau menetap berbulan-bulan di hotel karena tahu hamil muda amat rawan dan beresiko, apalagi ini kehamilan pertama Amanda." Jelas Mommy tak masuk nalar, tapi jika tahu lebih awal aku mungkin akan membeli hotel tersebut khusus untuk kami sampai Amanda boleh berkendara.


"Jika tahu rawan kenapa Mommy menyuruh kami segera pulang." Protes ku tak terima.


"Mommy kan tetap berkata utamakan keselamatan berkendara, jadi semua aman." Ujar Mommy tanpa dosa.


"Mom, mana bisa begitu." Aku masih tak terima.


"Sudah-sudah, sebenarnya kau senang tidak tahu aku hamil. Bukannya memberi ucapan selamat atau memelukku, ini malah kelahi. Dasar calon ayah mantan preman ya seperti itu." Dumel Amanda tak suka.


Perkataan Amanda ada benarnya, kenapa aku bisa tak sadar dan malah mementingkan siapa yang harus tahu lebih dulu, mengabaikan fakta kehamilan Amanda. Atau ini akibat aku terlalu kaget dengan fakta kehamilan Amanda yang mendadak. Kita bahkan belum menemui dokter untuk konsultasi masalah kehamilan. Tahu-tahu sudah dapat kabar baik saja.


"Mungkin dia kaget, sebentar lagi ganti status jadi ayah. Kau banyak-banyaklah bersabar kakak ipar." Ujar Jason.


"Apa perlu aku memanggil dokter, agar kau lebih yakin?" Tanya Danda.


"Sudah biar mereka berdua saja nanti yang memesan dokter, supaya lebih intim dan tak mencak-mencak seperti sekarang." Nasehat mommy.


"Jangan bingung Ge, berarti sper*ma mu premium, makanya cepat berbuah." Canda Daddy.


Gelak tawa menghiasi seisi ruang tengah, entah kenapa aku merasa bangga dengan perkataan Daddy. Aku memang pria sehat, sudah sepantasnya kualitas sper*ma ku premium.

__ADS_1


__ADS_2