
Memasuki dua bulan kehamilan aku sudah tak mengalami mual muntah di pagi hari. Sebagai gantinya, Amanda yang merasakan itu. Mengerikan melihat Amanda mengalami morning sickness, akibat banyak kehilangan cairan dia sampai harus dilarikan ke rumah sakit dan mendapat perawatan intensif. Infus adalah jalan ninja untuk pemulihan cairan tubuh Amanda yang hilang.
Sudah empat hari lamanya Amanda di rawat. Saat kondisi genting seperti ini, Mommy dan Daddy malah terbang ke Chicago memenuhi undangan Dalton dalam acara kantor. Jason sibuk dengan Felix melakukan ekspansi di Jepang. Danda masih ada di Denmark, tapi aku malas melihat mukanya. Alhasil, tinggallah kami berdua ditambah Jolie, kami bertiga saling menguatkan.
Amanda sama sekali tak bisa makan, jangankan untuk makan, sekedar minum teh saja pasti akan dimuntahkan. Anehnya dia hanya minum satu sendok, cairan yang dimuntahkan lebih dari satu gayung. Aku kalang kabut, tapi harus tepat terlihat kuat di depannya. Untunglah Jolie sedikit keibuan, dan bisa mengurus Amanda ketimbang aku yang serba tak kuasa.
Aku tak suka melihat Amanda yang terbaring lemah, maaf tapi aku benci kondisi Amanda yang hamil seperti ini. Jika tahu mengandung membuatnya menderita, aku akan berpikir ribuan kali untuk membuatnya hamil. Bukan aku tak ingin keturunan, tapi rasa sayang ku pada Amanda lebih dari apapun. Kalau bisa meminta, lebih baik aku yang nyidam lagi.
"Ji, aku haus." Suaranya amat lemah, sarat akan rasa sakit yang terus mendera tubuhnya.
"Iya sayang, mau duduk atau minum ku suapi denhan sendok." Memberi pilihan, karena kadang dia marah-marah jika aku memaksanya minum dengan sendok.
"Aku mau duduk." Pintanya mengulurkan tangan.
"Baiklah." Aku mendekat, membuatnya setengah duduk, menyodorkan segelas air dan berdoa segenap jiwa agar tak di mutahkan lagi oleh Amanda.
"Sudah." Satu tegukan kecil dapat menghilangkan dahaganya.
"Sayang apa masih tak enak?" Tanyaku, tak tega.
"Hm, rasanya teramat lemas Ji. Maaf banyak merepotkan mu." Ujarnya berkaca-kaca.
"Sayang, jangan bicara seperti itu. Aku tak suka." Lagian dia begini juga karena anak kita.
"Aku ingin tidur." Pintanya lagi.
Aku membantunya menurunkan tuas ranjang agar sejajar dan nyaman untuknya tidur. Amanda tidur dengan menggenggam tangan kiriku. Aku hanyut hanya dengan memandang wajahnya. Ribuan pikiran berterbangan dalam kepala. Satu hal yang sangat menggangu, apakah Amanda sangat rindu tanah airnya. Dia memang tak pernah meminta untuk kembali, tapi belakangan dia selalu mengobati rindunya pada negara asal kelahiran dengan menonton beberapa tayangan youtuber asal negara tersebut.
Aku pikir Amanda hanya sekedar menonton, tapi semenjak jatuh sakit acap kali dia mengingau dalam tidurnya. Mengigau tentang papa mamanya, mengigau tertawa, kadang menangis dan mengunakan bahasa negaranya. Dari situlah aku yakin dia rindu pulang. Belum aku pastikan ke orangnya langsung, karena kondisinya belum memungkinkan.
"Ge jadi USG tidak?" Jolie masuk dan menanyakan rencana yang aku sampaikan semalam.
"Entahlah, Amanda masih kurang fit. Menurut mu bagaimana?" Aku tak dapat mengambil keputusan sendiri jika menyangkut masalah Amanda dan kehamilannya.
"Menurut ku, USG sekarang saja. Lagipula kita sudah di rumah sakit apa susahnya tinggal USG. Siapa tahu setelah melihat jabang bayinya, bisa memberi dorongan kekuatan pada Amanda untuk pulih." Saran Jolie, benar juga.
"Baiklah, kalau begitu minta doker melakukan USG disini saja." Aku tak rela jika Amanda harus pindah ruang dan sebagainya.
"Hah, lelah aku mengurus orang kaya macam kau. Kau tau berapa sulitnya instalasi perangkat untuk USG, belum lagi suara bising yang ditimbulkannya. Lebih baik Amanda USG di ruangan yang telah disediakan. Lagian dokter tahu mana yang terbaik." Jolie menjelaskan dengan nada kesal seolah aku berkata salah.
"Yasudah kau atur saja." Pasrahku pada akhirnya.
Selang sepuluh menit dua orang perawat datang dan membantu membawa Amanda ke ruang USG. Sampai disana saat sudah siap periksa aku terkejut karena yang menangani adalah dokter pria. Tanpa tunggu lama aku melayangkan protes dan berbuah tak menyenangkan. Kata perawatnya hanya dia dokter jaga kali ini.
Ingin hati membatalkannya, tapi membawa Amanda ke ruangan ini saja butuh banyak perjuangan. Tapi aku tak rela jika perut Amanda terekspos, apalagi di sentuh olehnya. Cukup lama USG terhenti karena aksi protesku yang tak kunjung usai. Alhasil dokter memberi kuasa penuh bagiku untuk melakukan USG dalam bimbingannya.
Pertama perawat memberikan gel pada perut Amanda, setelah diratakan dokter meminta aku untuk mengarahkan alat USG ke beberapa titik. Aku membagi fokus antara layar monitor dengan tanganku pada alat USG. Aku menyerah, ternyata sulit untuk melakukannya. Dengan berat hati aku serahkan semua pada dokter kutu kupret tersebut.
"Dari tadi kan lebih enak Ge. Hah seperti akan meledak kepalaku jika menyangkut dirimu." Jolie berbisik di balik punggungku.
"Kau orang lain, kenapa ikut masuk sana keluar ini khusus keluarga." Usirku tak suka.
"Set*an belang kau, bisa-bisanya aku diusir. Diam atau tak ku urusi nanti." Ancamnya dengan kepal di depan muka.
__ADS_1
"Ehem, tuan bisa melihat bayi anda di layar monitornya." Dokter bersuara untuk melerai pertikaian kita yang tak penting, mungkin dia heran dengan keluarga kita. Dahinya menyerngit bingung.
"Tuan, selamat bayi kembar." Tukas dokter tanpa penjelasan lanjut.
"Maksud dokter, aku bahkan tak bisa melihat mana bayiku." Tanyaku gagal paham.
"Sayang kau membuat kepala ku pusing, dengarkan dulu dokternya baru bertanya bisa?" Amanda yang sedari tadi diam kini bersuara hanya untuk memarahi ku, huh dasar istri tak peka.
"Jadi begini, disini ada dua bakal janin yang erhadil dibuahi saat fertilisasi, nah bisa dilihat ada dua inti pada monitor." Jelasnya sambil terus mengarahkan alat pada perut Amanda.
"Karena masih terlalu kecil, kita hanya bisa mengamati dari dua kantung janin ini. Nah nanti lakukan USG setiap bulannya untuk tahu perkembangan janin." Ujar sang dokter.
"Apakah bayi ku sehat dok?" Amanda bertanya mendahului ku, padahal tadi dia memintaku untuk diam dan mendengarkan penjelasan dokter.
"Syukurnya kondisi bayi nona sehat, perkembangan juga bagus sesuai dengan bayi seumurannya." Jawab dokter tersebut.
"Saya akan beri resep vitamin, untuk penguat janin dan ibunya." Lanjut sang dokter.
"Baiklah dok, terimakasih." Ucap Amanda tanpa memberi kesempatan bagiku untuk bicara, atau bertanya pada dokter.
Sempat kesal karena memperoleh dokter pria, kini perasaan ku membuncah. Tuhan begitu baik sehingga memberiku dua anak sekaligus. Aku senang, dan tersenyum sepanjang koridor dari ruang USG ke ruangan Amanda di rawat. Tapi senyum ku terhenti karena mulut kurang ajar Jolie.
"Sinting kau senyum-senyum sendiri." Katanya sambil berlalu mendahului ku masuk ruangan Amanda.
Muka ku memerah karena merasa malu, dua perawat yang membantuku membawa Amanda menoleh ke arahku akibat perkataan Jolie barusan. Ingin ku pelototi dan berkata apa kau lihat-lihat, tapi urung karena Amanda yang mungkin tahu tabiatku langsung mencubit tanganku yang ada di samping bangsalnya.
"APA ANAKMU KEMBAR?" Teriak Mommy dari Chicago sana.
"wow, Mommy ingin lihat." Serunya konyol, apa yang mau dilihat.
"Bayinya masih di perut belum bisa dilihat." Sarkasku, lalu mematikan telpon karena mendadak kesal.
"Hei kenapa dimatikan sayang, Mommy sepertinya belum selesai bicara." Amanda yang sedari tadi ikut dengar memulai protesnya.
"Entah, aku mual mendengar suara Mommy." Jujurku pada Amanda.
"Hah, ada-ada saja tingkah mu." Heran Amanda.
"Sayang, apa mungkin kita berdua nyidam bergantian karena anak kita kembar jadi setiap anak satu-satu perwakilan ngidamnya. Apa mungkin anak kita kembar laki-laki dan perempuan ya." Entah darimana aku dapat nalar seperti itu.
"Hahahaha, kau lucu sekali sayang. Mana bisa begitu." Tutur Amanda.
"Hanya firasat ku saja, tapi jika benar anak kita kembar laki-laki dan perempuan. Maka ketika lahir aku akan menghadiahkan pesawat untuk masing-masing." Nazarku di depan Amanda.
"Gila dasar, mending kau hadiah kan untuk ku." Ledek Jolie akan nazarku, tapi soal hadiah tetap ingin diberi.
"Kau siapa, sudah untung ku restui bersama Felix." Dengusku di akhir kata.
"Kau merestui hubungan kami, tapi kita dipisahkan negara setiap harinya akibat ulahmu Ge. Ingin rasanya aku hancurkan kepala batumu itu, tapi apa daya hanya angan tak sampai." Frontal sekali manusia ini.
"Lagian maksud ku baik, biar kalian menyelesaikan tugas masing-masing dulu. Felix selesaikan urusan pekerjaan dan uang berlimpah, kau selesaikan urusan perkuliahan. Baru setelah kalian menikah ku pertimbangkan memberi keringanan libur." Jelasku pada Jolie.
"Dasar tak adil, Amanda masih kuliah saja sudah kau buat hamil. Kenapa aku meski menurut padamu, kau tak membayar ku." Protesnya.
__ADS_1
"Sudahlah, kalian seperti kucing dan anji*ng saja setiap bertemu beradu mulut." Lerai Amanda lelah dengan sikat kita berdua.
"Siapa anjin*gnya?" Tanya Jolie, ingin kepastian.
"Kalian semua anji*ng." Kesal Amanda lalu menghadap tembok malas melihat wajah kita.
Malam datang dengan kehangatan buang dibawanya. Jolie pamit pulang karena ada beberapa urusan, tinggallah kami berdua di ruangan ini. Jari kami saling bertaut, melempar senyum bergantian, dan tak lupa mengucap syukur atas kehamilan Amanda.
Aku menarik kembali rasa kesal pada calon anakku. Ternyata ada benarnya mulut tak bermutu Jolie. Amanda mulai membaik setelah melakukan USG. Bahkan hasil periksa dokter, Amanda di perbolehkan pulang saat infusnya sudah habis.
Butuh waktu enam jam menghabiskan air infus tersebut. Akhirnya kami bertandang ke mansion lagi. Jolie tak ikut serta, tapi mengawasi kami dari kejauhan katanya. Padahal aku juga tak butuh pengawasan darinya. Aku punya banyak pelayan yang bisa membantu ku disini, dan lebih penurut dibandingkan Jolie.
BUGHHHHH
"APA MAKSUDMU KEPAR*T?" Datang tak di undang, membawa buah tangan dengan menonjok wajahku.
"Kau anggap aku apa hah?" Danda murka, dan entah karena apa.
"Kau sepupuku, apa kau mendadak bod*h." Apa mungkin otaknya tercecer di jalan, bisa-bisanya menonjok ku saat baru saja aku turun dari mobil.
"Kalian dari rumah sakit, kenapa tak berkabar padahal tahu aku disini." Teriak Danda emosi.
"Danda, bisakah kita masuk dulu?" Amanda turun dari mobil, padahal aku belum sempat membukakan pintu mobil untuknya.
"Tidak, maaf Manda aku tak ada urusan denganmu. Kau masuklah lebih dulu." Wow, tumben dia menolak permintaan Amanda.
"Masuklah sayang aku ada urusan dengannya sebentar." Aku memberi isyarat lewat tatap mata agar Amanda patuh.
Aku membawa Danda ke taman depan setelah Amanda masuk mansion, menghindari jika ada pertikaian dan di lihat Amanda kalau kami mengobrol di mansion.
"Ada apa, bicaralah. Aku kira kau bukan anak kecil yang semaunya bertindak. Aku memulai percakapan.
"Kau sudah dengar, aku tak suka tak di beritahu kalau Amanda dilarikan ke rumah sakit." Danda mulai leram emosinya, nada bicaranya mulai berubah.
"Bukan aku tak mau mengabarimu. Kau tahu sendiri, apa-apa selalu kau yang ku andalkan bukan." Bujuk hatinya ketika marah adalah langkah terbaik jika berhadapan dengan Danda yang murka.
"Lalu kenapa tiba-tiba berubah haluan, malha rela di tunggu gadis yang tak jelas asal usulnya." Mungkin Jolie maksud Danda.
"Percaya atau tidak, aku mual berasa di dekatmu. Bukan hanya itu aku sebal tak ketulungan melihat wajahmu. Maaf tapi aku jujur, dan semua tanpa sebab." Daripada aku terkesan menjauhinya tanpa sebab lebih baik ku utarakan yang sebenarnya.
"Gila kau, mana ada seperti itu." Protes Danda tak terima, mungkin akupun sama jika diposisinya.
"Sorry, but i cant to handle it."
"Lalu bagaimana aku bisa dekat dengan keponakan ku jika dari dalam perut saja sudah demo."
"Itu urusan nanti, ngomong-ngomong bayiku kembar." Aku mulai berjalan meninggalkan Danda karena mual mulai datang.
"Yak, kenapa seorang bajinga*n macam kau mempunyai kehidupan yang sangat beruntung?" Mengumpat adalah bentuk ucapan selamat Danda.
"Tanyakan saja pada Tuhan." Aku semakin jauh dari Danda.
"TUHAN AKU JUGA MAU." Teriak Danda merana.
__ADS_1