
Bagai disambar petir dimalam hari, jantungku bertalu, telingaku tak sabar menanti jawaban Jason. Bagaimana mungkin dari sekian banyak manusia yang aku beri perintah untuk melindungi Amanda tak ada satupun yang tahu keberadaannya. Sungguh jika dipikir terasa sia-sia bukan memperkerjakan mereka dan membayar tinggi tapi kinerjanya sangat buruk.
"Coba bicara yang benar Jason, jelaskan secara terperinci." Aku tak ingin salah ambil keputusan jika tidak tahu detail perkaranya.
"Felix kemari membawa serta rekan-rekan Amanda, lantas memberi informasi bahwa kau memintanya untuk mengurus tugas kelompok dari kampusnya. Lantas mereka beserta Amanda pergi mengerjakan tugas, akan tetapi di tengah misi Felix menghubungi rumah menanyakan apakah Amanda sudah pulang atau belum, lalu...."
"Bisakah lebih singkat, kau terlalu banyak membuang waktu." Aku memang meminta Jason untuk menjelaskan secara rinci, tapi tidak perlu seperti itu juga.
"Hah, kau ini bagaimana tadi minta secara rinci. Aku sudah menjelaskan sesuai permintaanmu kau malah emosi, pada dasarnya kau memang sulit dipahami." Protes Jason dan aku tak perlu menunggu sambungan informasi dari Jason, aku segera mematikan telpon.
Aku mencoba tenang agar dapat berpikir dengan jernih. Bernafas dengan baik agar oksigen masuk ke otak dan membuatku tak salah bertindak. Kuputuskan untuk menelpon Felix meminta penjelasan darinya, alih-alih penjelasan Jason yang terlalu jelas.
"Felix, ada apa?" Aku langsung ke intinya.
"Amanda hilang bos, tak perlu panik semua anggota sedang berusaha mencari, kau tunggu kabar baiknya saja." Kata Felix mantap, mencoba membuatku tenang agar tidak kena semprot olehku.
"Bagaimana bisa dengan jumlah manusia lebih banyak dari Amanda dan teman-temannya, kalian kehilangan jejak. Jika seperti ini bukan teledor lagi namanya." Aku kesal dengan orang-orangku, padahal selama ini performa mereka bekerja dalam naunganku sangat mumpuni.
"Sudah jika kau bertanya terus padaku, kapan aku bisa mulai mencari, aku tutup dulu telponnya." Pinta Felix sedikit kurang ajar.
"Lima menit Felix waktu yang bisa ku tolerir untuk menemukan mereka." Ujarku sebelum menutup sambungan.
Aku masih berada di tengah-tengah Dalton dan Carmila, mereka yang turut mendengar hilangnya Amanda mulai bermain mata seolah melempar tanya dan rasa ingin tahu yang harus dituntaskan.
"Amanda hilang, dan sekarang masih dalam proses pencarian." Jelasku sebelum pertanyaan keluar dari mulut mereka.
__ADS_1
"Kenapa bisa hilang, memang dia pergi tanpa pengawalan?" Carmila saja terheran-heran, apalagi aku selaku orang yang telah mengutus pengawal terbaik dan masih bisa kecolongan.
"Pengawal Amanda adalah orang-orang terbaik kepunyaanku dan beberapa dari Daddy." Bahkan aku saja sampai tak dikawal orang-orang handal seperti mereka.
"Aku rasa kau harus menemukan Amanda denganku Gerlard." Paman Dalton dengan permintaan tak jelasnya di tengah kepanikan yang sedang menderaku.
"Ayolah paman suasana sedang genting, kenapa ada saja permintaan konyolmu yang sulit untuk dikabulkan." Aku yang entah darimana memilik kekuatan melawan permintaan Dalton ditambah bumbu-bumbu mengatainya konyol.
"Wow..wow..wow.. Lihat kau terlalu berlebihan anak muda. Berani sekali kau berkata kotor seperti itu kepadaku." Paman yang memang aslinya memiliki tekanan darah tinggi sangat mudah tersulut emosi.
"Aku minta maaf paman, tapi aku jelas tidak bisa berpikir jernih jika menyangkut Amanda, sedikit berbaik hatilah untukku kali ini." Ditengah rasa panik yang mendera untunglah aku masih bisa mengeluarkan kata maaf.
"Sudahlah sayang, lihat Gerlard sedang kalut jangan menambah beban untuknya." Carmila memang titisan bidadari dengan segala tingkah baiknya, walau hanya kadang-kadang.
"Sayang, ini hanya masalah gadis hilang dan aku yakin gadis ini pasti belum pergi meninggalkan Denmark. Lagipula hampir separuh Denmark dibawah bisnis kita, jadi untuk apa membebani diri dengan rasa khawatir. Bukankah rasa khawatir hanya milik orang dengan kepercayaan diri rendah."
"Entahlah, aku hanya butuh kepastian tentang keberadaan Amanda secepatnya." Mantra ampuh dari Dalton tak mampu merobohkan rasa khawatir yang menyatu dengan aliran darahku saat ini.
"Cepat hubungi Felix kembali, aku rasa sudah lebih dari lima menit yang dijanjikan." Dalton mengingatkan ku, lantas mulai sibuk berbalas pesan entah dengan siapa.
Tanpa banyak bicara aku langsung menekan nomor Felix yang tertera di riwayat panggilan. Aku tahu aku sedikit berlebihan, tapi aku tak dapat memungkiri rasa khawatir itu semakin bertambah seiring bertambahnya detik seolah aku sedang berpacu dengan waktu.
"Felix, bagaimana perkembangannya?" Dalam kondisi stabil, aku akan memaki Felix karena telat mengabari sesuai janji.
"Felix, kenapa diangkat biarkan saja Jiji dengan kesibukannya." Itu suara Amanda, sepertinya dia sedang bersama Felix.
__ADS_1
Telpon dimatikan secara paksa dari handphone milik Felix, dan aku yakin pelakunya adalah si pemilik suara yang barusan ku dengar. Aku bersyukur Amanda kini bersama Felix. Tapi aku tidak terima karena keberadaan mereka masih belum jelas. Dari telpon singkat tadi aku mendengar suara musik yang begitu kencang menandakan mereka ada di klub. Dan apa aku tidak salah dengar sepertinya mereka sedang berpesta minuman disana.
"Bagaimana hasilnya Ge, kenapa cepat sekali menyudahi pembicaraan di telpon, apa Amanda sudah ditemukan?" Carmila harap-harap cemas dengan isi telpon tersebut.
"Sepertinya aku harus segera pulang, aku bahkan tak bisa menjawab pertanyaan bibi barusan." Aku berdiri secara spontan, dan mulai menghubungi maskapai pribadi milik keluarga.
"Duduk kembali, aku tak suka sifatmu yang kekanakan seperti ini Gerlard." Dalton berujar dengan penekanan di setiap katanya.
"Aku tidak bisa paman, Amanda memang ada bersama Felix. Tapi Felix berani kurang ajar denganku, aku takut mereka dalam pengaruh alkohol mengingat sekarang mereka berada di klub malam." Aku takut Amanda dicekoki mereka dengan barang haram tersebut.
"Gerlard apakah jatuh cinta membuat sarafmu beku, sehingga menjadi amat bodoh. Kau tidak hanya memiliki Felix untuk sekedar mendapat info konkret keberadaan dan kebenaran perkara disana." Dalton membujuk agar aku bertindak sewajarnya.
"Tidak, tidak, paman. Aku harus memastikan dengan mata kepalaku sendiri." Keputusan sudah final.
"Dan melimpahkan semua beban pekerjaanmu padaku?" Tuding paman, padahal aku belum berunding.
"Aku akan kembali kesini setelah urusan disana usai." Tanpa sadar aku telah berjanji.
"Tidak, aku tidak setuju. Jika kau tetap memilih kembali saat ini juga maka aku tidak akan tinggal diam, mungkin saja aku bisa kalap mata dan membunuh Amanda." Paman berkata tanpa memandang aku yang cinta mati padanya.
"Tidakkah paman memahami ku, aku sekarat tanpa kabar darinya. Tolong kali ini saja paman, aku bahkan tak pernah mangkir dari tugas-tugas ku sebelumnya, bisakah kau memberi ku kelonggaran." Bisa gila jika aku tertahan disini tanpa tahu kepastian yang terjadi disana.
"Coba kau pikir ulang, jika lima menit lalu Felix mengabari Amanda aman bersamanya, apakah kau akan tetap kembali? Tidak bukan, lagipula jika menurut ceritamu Amanda adalah gadis murni tanpa catat pribadi dalam perilaku buruk aku yakin dia bisa memilih apa yang tepat untuk dilakukan dengan sendirinya walau itu dalam klub malam." Perkataan Dalton benar adanya.
"Tapi aku..."
__ADS_1
"Tapi apa Gerlard, kau hanya tak percaya dengan wanitamu. Selamat maka dengan rasa itu selamanya hubungan kalian tidak akan berjalan baik. Kunci keberhasilan dalam suatu jalinan kasih iyalah kepercayaan itu sendiri, jika kau tak memilikinya maka tamatlah." Petuah Dalton dengan bumbu-bumbu pengalaman hidupnya.
Aku menahan amarah dengan mengigit pipi kiri bagian dalam. Seharusnya aku bisa terima dengan baik semua nasehat Dalton, nyatanya hatiku berkhianat. Bahkan sempat terlintas untuk kabur dari sini dengan segala resiko menghadang di depan. Cinta itu buta, tapi haruskah buta arah mana yang tepat dan tidak seperti ini. Atau mungkin aku terlalu awam dalam mencinta.