Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
Stay Awake


__ADS_3

Orangtua memiliki tanggungjawab tinggi akan anak yang dimilikinya. Baik tentang pangan, pendidikan, dan kebahagiaan anaknya. Meski belum genap seminggu, aku berusaha mewujudkan diri menjadi orangtua idaman. Namun, betapa terkejutnya aku, ternyata hal itu tak semudah membalikkan telapak tangan.


Aku bergelimang harta, memiliki banyak koneksi dan kekuasaan luas. Cukup tunjuk apa yang kau mau, maka akan terkabul dalam hitungan detik. Tapi merawat bayi merah, sungguh aku tak tahu apa yang membuat mereka bahagia. Tangis selalu menghiasi kamar kami akhir-akhir ini. Waktu tidur terkuras habis, dengan kedatangan mereka.


Kembar memiliki ikatan batin yang kuat, apabila satu menangis maka akan disusul yang lainnya. Sungguh repot saat mereka sama-sama haus. Saking frustrasinya, aku sampai berkhayal memiliki payudara untuk menyusui salah satu dari mereka.


"Sayang, apa tak kita berikan susu formula saja. Aku kasihan melihat mu yang kurang tidur tapi harus tetap terjaga dan melakukan pumping asi." Sungguh Amanda lebih tegar dibandingkan aku dalam hal menjadi orangtua baru.


"Sayang, kalau tidak begini nanti kita juga yang repot. Mana mungkin aku bisa menyusui dua anak sekaligus." Tukasnya sambil terus pumping.


"Kau tahu sayang, aku tak rela mereka minum susu formula." Lanjut Amanda menjawab pertanyaan yang aku lontarkan.


"Aku janji, akan memberikan susu formula terbaik di dunia untuk mereka." Uang tak masalah jika menyangkut anak.


"Tapi tak ada susu formula di dunia yang sebanding dengan ASI sayang." Sahutnya, lanjut memompa dengan mata hampir terpejam.


Bagaimana tak terpejam, ini pukul dua dini hari, dan kami sama sekali belum terlelap. Anak-anakku tidak begitu rewel, tapi mereka bangun setiap dua jam sekali. Hanya saja yang yang repot adalah setiap bangun, pasti dihiasi dengan suara tangis yang saling bersahutan.


Pernah kala itu mereka semua menangis dan Amanda belum pulih seutuhnya, untuk bangun dari tidur sangat sulit dan pergerakannya terbatas. Aku selaku ayah yang baik menawarkan diri untuk memberikan Asi yang di masukkan dalam dot, pada mereka. Yang ada bayiku menangis meraung, karena mommynya tak ikut bangun. Entahlah meski masih bayi, mereka seolah tahu kalau salah satu orangtuanya tak ikut terjaga saat mereka bangun, maka jangan mimpi tangis mereka berhenti denagn sendirinya.


Oekkk.....Oeekkkkk


"Lihat sayang kau belum selesai pompa, anak kita sudah bangun lagi." Aku setengah berlari menuju anak laki-laki ku yang bangun lebih awal.


"Tak apa sayang, kita nikmati saja." Amanda berjalan menuju gadisku sebelum ikut terbangun dan menangis.


"Sayang kau dengan daddy ya. Kali ini tak langsung dari sumbernya, kau pakai dot saja." Kini giliran dia yang aku susui.


"Anak mommy, sini mendekat mom beri kecupan." Amanda yang sedang memberi asi putriku, meminta aku lebih dekat.


"Emuahh, pintarnya anak mommy. Lapar ya nak, ayo diminum nanti kita istirahat lagi." Ucap Amanda setelah mencium kening putraku.


"Sayang aku juga ingin diberi kecupan kekuatan." Rasanya aku tak mau kalah.


"Hahah, lihat daddy kalian sudah seperti anak bungsu mommy." Kekehan Amanda diperhatikan dua bayiku, seolah-olah mereka paham dengan ucapannya.


"Jangan meledekku di depan mereka sayang." Bisa turun wibawa ku nantinya.


"Iya sayang, maaf." Amanda mengecup pipiku, setelah berujar.


Sebenarnya kami sangat terbantu dengan adanya keluarga yang turut serta merawat anak-anak. Tapi terkadang Amanda lebih ingin merasakan merawat mereka hanya berdua. Mommy sangat keberatan dengan itu, tapi tak mampu menolak jika menantu kesayangannya yang berujar.


"Bagaimana si kembar semalam, apa sangat rewel?" Kami bahkan belum mandi, tapi lihatlah semua anggota keluarga ditambah Felix dan Jolie ada i kamarku.

__ADS_1


"Kalian masuk darimana?" Karena seingatku, pintu kamar terkunci rapat tadi malam.


"Kumpulkan nyawamu yang masih berserak. Kau lupa kita ini ahli dalam hal menyelinap?" Jason memang menyebalkan.


"Si kembar sudah semakin pintar, mereka bangun jam setengah tiga, setelahnya mereka tidur dan bangun pukul enam. Lalu sampai sekarang masih tidur pulas." Amanda menjelaskan mewakili ku.


"Wow, tumben sekali. Ini pukul delapan dan si kembar masih nyenyak." Daddy, bersuara amat lirih takut mereka bangun.


"Kalian mandi, dan sarapan sana biar kami yang menunggu mereka." Danda menawarkan diri.


"Aku ingin makan disini, rasanya aku tak ingin berjauhan dengan anak-anak." Entah kenapa aku bahkan memiliki banyak tenaga meski kurang tidur dan jarang makan.


"Kau masih kan merawatnya sampai puluhan tahun, tak usah berlebihan." Jason, paman kepar*t untuk bayiku.


"Kau belum tahu rasanya punya anak bod*h, jadi jangan so tahu." Enak saja mengatur ku.


"Tidak usah sok menjadi orangtua idaman, aku muak mendengar semua itu." Ketusnya berbicara.


"Aku memang idaman asal kau tahu." Dia mana tahu perjuangan malam-malam panjangku mengasihi mereka.


"Orangtua teladan, yang saat bayinya menangis diberi emas batangan supaya diam. Itu yang kau maksud idaman." Sindir Jason atas kejadian dua hari lalu.


"Namanya juga aku belum bisa menenangkan bayi, jadi segala cara ku coba." Balasku masih tak terima.


"Sampai kapan kalian berdebat di hadapan cucuku. Enyah, atau kepala melayang." Ancam Daddy dengan suara beratnya.


"Sayang, kau harus banyak makan protein dan minum air putih agar ASI lancar." Saran ku pada Amanda yang terlihat malas menyuap nasi dan sederetannya.


"Aku kenyang Ji." Tak bersemangat sekali jawabannya.


"Kenyang darimana, kau baru makan sedikit." Cara makan ku lebih cepat darinya, dan aku masih belum menghabiskan makanan di atas piring. Bisa-bisanya dia sudah kenyang.


"Sedikit darimana, aku sudah makan dua centong, ditambah susu, dan puding. Kau sadar tidak sudah berapa kali kau menambah nasi?" Raut wajah Amanda tampak sedang tak bercanda.


"Tentu saja baru sekali, sudah jangan di bahas ayo habiskan." Apa aku salah ingat.


"Hah, kau makan seperti kesurupan. Kau sudah habis pizza satu loyang, ayam goreng delapan potong, kebab lima, dan sepiring nasi dengan steak. Apa perutmu tak meledak?" Amanda menunjukkan semua bukti dengan jari telunjuknya..


"Kau yakin itu semua aku yang habiskan?" Apa aku makan sebanyak itu, perasaan aku belum kenyang.


"Hemmm, kau pikir aku yang makan?" Kesal Amanda meninggalkan aku kembali ke kamar.


"Dasar ibu menyusui, marah-marah saja kerjaannya. Biarkan saja, sekarang mana mungkin dia marah lebih dari semenit." Ada untungnya punya anak, yaitu mengurangi durasi pertikaian orangtua.

__ADS_1


Aku menyelesaikan santapan yang ada di piring. Tapi aku tak tega menyisakan dua roti maryam, jadi sekalian saja aku satukan dengan teman-temannya di dalam perut. Usai dengan urusan perut aku baru menyusul Amanda dan yang lainnya di kamar.


"Kapan bayinya akan diberi nama, aku sudah ada usulan nama yang bagus dan unik." Celetuk Jason.


"Kau tak ada wewenang untuk itu Jas. Daddy yang akan memberikan nama pada mereka." Lihat manusia yang sekarang menjadi kakek itu lupa diri.


"Aku paman paling berharga milik mereka, lebih baik aku saja yang menyematkan nama indah untuk mereka." Danda mulai ikut-ikutan.


"Jangan tengkar, biar Gerlard yang memberi nama. Kalian cukup beri warisan saja." Dalton dengan kebijaksanaan hartanya.


"Kau mana tahu rasanya memberikan nama pada anak." Sindir Mommy ada di kubu Daddy dan Jason.


"Tentu tahu, aku juga punya anak kakak ipar." Sahutnya tak mau kalah.


"Tapi kau memberikan nama anakmu, dan anak-anak ku pada binatang peliharaan. Dasar manusia purba." Sindir Mommy.


"Itu karena mereka istimewa, kakak ipar saja yang tak paham tentang seni memberi nama." Dalton dengan otak melencengnya.


"Biarkan ayahnya yang memberi nama. Sudah jangan berisik lagi, lihat si kembar mulai terusik." Carmila yang amat tanggap.


"Syutt, syutt sayang, tidur lagi ya keponakan paman yang tampan." Jason berusaha membuat putraku yang kini sedikit membuka matanya untuk tidur kembali.


Nafas seolah tercekat, bahkan tubuh mendadak kaku. Itu yang aku lihat pada segerombolan manusia yang sedang mengelilingi tembak tidur si kembar. Lagian salah mereka sendiri kenapa bicara keras-keras, padahal tahu kuping anakku sensitif dengar.


Oekkkk


Oekkkkk


Oekkkkk


"Nah mereka bangun, bagaimana ini." Jason mulai panik.


"Sini biar mommy gendong." Mengambil alih dan mengangkat si gadis.


Oekkk


Oekkk


"Kenapa malah tambah kencang tangismu nak." Mommy kini ikut panik.


"Yak, Gerlard selaku orangtuanya kenapa lama bertindak?" Daddy menuai protes.


"Kalian yang membangunkan mereka kenapa aku yang harus turun tangan untuk membuatnya tidur kembali." Candaku.

__ADS_1


"Cepat, ini katanya mereka ingin dengan daddy nya." Danda tak sabar dan menarik tubuhku untuk mendekati mereka.


Hah, begitulah kisah ku selaku orangtua baru. Hari-hari dipenuhi dengan indahnya tangis putra putri ku. Dan aku amat menikmatinya.


__ADS_2