
Amarah manusia sangat variatif. Kadang ada yang amarahnya gampang pudar, tapi sering tersulut. Ada yang jarang tersulut sekalinya marah tak kenal lelah sampai berhari-hari. Meski tahu batas kesabaran seseorang, terkadang sadar tak sadar kita penyebab utama amarahnya memuncak. Dan aku yang tak tahu mengapa, harus menjadi bulan-bulanan amarah Amanda.
"Sayang ayolah, ini sudah tiga hari lalu dan kau masih mendiami ku. Aku harus bagaimana agar kau memaafkan ku?" Gusar, pening rasanya menghadapi Amanda yang seperti ini.
"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya."
"Kau baik-baik di rumah." Niat hati ingin mencium keningnya, berakhir tulang keringku di tendangnya.
"Aw, sayang...." Aku merengek kesakitan, namun mimik wajahnya tetap sama.
"Yasudah, aku berangkat ya. Kalau kau butuh sesuatu bisa menghubungi ku."
Satu langkah sebelum keluar dari pintu kamar, badan ku dilempari bantal olehnya. Aku bingung, dia tak ingin aku didekatnya, tapi tak ingin pula aku jauh. Haruskah aku punah sementara waktu.
Bisa saja aku berbalik dan menghabiskan waktu bersama di mansion. Tapi aku kapok, tiga hari ini aku seperti tinggal dengan manusia purba yang sensitif dan penuh amarah. Bukannya aku ingin menghindar, tapi aku juga butuh sedikit ketenangan agar tetap waras.
"Muram sekali auramu, masih belum berbaikan juga?" Danda berhasil mencetak poin walau fokusnya sedang terbagi.
"Terus saja bermain game di ponselmu, dan biarkan aku meratap seorang diri." Kenapa aku merasa di balas oleh Danda.
"Kau jauh-jauh dari mansion kemari hanya untuk berbagi kesedihan, sudah untung aku mau menyahuti mu." Jarinya terus sibuk memainkan permainan tinju tersebut.
"Hah, padahal jika dirunut bukan aku penyebab utama dari amarahnya. Kau terlibat jika lupa." Ku rampas ponsel Danda lalu memasukkannya ke saku celana ku.
"Aih, jangan sembarang ambil. Aku sedang menaikkan level." Cegahnya terlambat.
"Oh kau mau aku diami seperti kemarin-kemarin?" Ancam ku.
__ADS_1
"Tak enak bukan rasanya dicueki oleh saudara mu sendiri." Ledeknya kini mulai membenahi cara duduknya.
"Jauh tak enak di diamkan istri berhari-hari." Curhat, aku butuh merilis segala stres ku.
"Mumpung di kantor ku, aku perlihatkan hal yang mungkin membuatmu bisa menghilangkan stres." Danda tampak bangga padahal dulunya perusahaan ini milikku.
Danda membangun ruang rahasia di balik kursi kerjanya. Tak ku sangka ruangan ini berubah cukup cepat setelah alih tangan. Kami masuk ke dalam ruang rahasia milik Danda, lalu melihat ratusan koleksi anggur miliknya.
"Aku tak ingin mabuk di pagi hari." Tegas ku peringatan di awal agar tak terus di paksa minum nantinya.
"Siapa yang membawamu kemari untuk minum-minum Ge, ayo masuk lebih dalam." Ajaknya yang terus berjalan tanpa menoleh ke arahku.
Aku dihadapkan dengan monitor besar, lantas ada beberapa monitor kecil di sampingnya. Ini seperti ruangan peretas saja. Jangan-jangan Danda bermain curang selama ini. Pantas lebih unggul dariku.
"Hah, kau curang?" Ucapku sebelum dia menjelaskan semua ini untuk apa.
"Sedikit curang tak apa, asal kau tahu kadal-kadal perusahaan besar tak kalah sadis dari mafia. Aku pikir mereka lebih kotor dari kita. Kau saja yang terlalu naif Ge." Jelas Danda lalu menunjukkan suatu data.
"Lihat kan, nyatanya kau lebih baik daripada mereka." Sanjung Danda.
"Lalu maksud kau apa memperlihatkan semua ini padaku." Aku butuh penjelasan lanjutan darinya.
"Aku ingin kau jangan terlalu bermain bersih. Meski bulan ini perusahaan mu mengalami kenaikan bukan berarti bisa menggulingkan mereka jika tetap lurus-lurus saja. Ingat darah yang mengalir di tubuhmu adalah darah mafia." Ceramah Danda.
"Kau pikir aku hanya diam saja. Aku tahu semua, tapi aku hanya diam." Danda lupa aku tak kalah hebat dalam meretas dan menyelundupkan orang ku di dunia bisnis.
"Tak usah dusta, aku selalu memantau mu dari sini." Bebernya tanpa merasa bersalah.
__ADS_1
"Kau lihat saja, tidak sampai anakku lahir, perusahaan ku akan melejit menjadi nomer satu. Kau harus menggendong ku keliling mansion jika itu terjadi." Ucapku pasti.
"Baiklah, aku terima tantangan mu." Sambutnya.
Aku pikir datang ke kantor Danda akan mengurangi kadar stres ini nyatanya tidak sama sekali. Bosan terus dipameri Danda tentang kemahirannya dalam mengumpulkan data perusahaan lain aku mual. Tak tahu saja dia aku lebih dulu bergerak. Aku tak seperti Danda yang naik daun secara perlahan. Aku bergerak sekali dayung dan itu pasti.
Aku hendak mengunjungi Felix karena telah lama tak bertukar pikiran. Tapi gagal karena sebuah pesan masuk. Pesan itu dari Amanda. Bagaikan menerima pesan darurat, aku sampai menahan nafas saat membukanya. Pesan itu bertuliskan I need you now.
Kita pamit tak terlontar, aku pergi dengan kecepatan tak terkontrol. Rasanya aku bahagia tapi khawatir lebih menyelimuti perasaan ku. Tak mungkin Amanda mengirimkan pesan, jika tidak benar-benar penting. Aku takut sesuatu terjadi padanya.
Di pelataran mansion sudah ada dua ambulance, melihatnya memacu kerja jantung. Lututku lemas, hampir terseok saat berjalan. Ada apa sebenarnya.
"Sayang kau kenapa?" Benar saja ada yang tak beres. Aku masuk Amanda sudah di infus.
"Tadi aku tidak sengaja terpeleset, lalu kakiku terkena meja dan mengeluarkan sedikit darah." Amanda tersenyum, senyum yang aku rindukan tapi aku benci jika dia tersenyum dalam kondisi luka.
"Maaf, maaf aku meninggalkan mu." Keegoisan ku berujung pahit.
"Maaf, aku tidak bisa menjaga anak kita." Deg, apa maksud kalimatnya, tanpa sadar air mataku menangis, takut dengan kemungkinan terburuk.
"Hei, kenapa menangis, aku terlalu ceroboh sayang. Tapi syukurlah dokter bilang anak kita kuat, jadi mereka aman sekarang." Amanda tersenyum lagi.
"Sayang, maaf aku tak menjaga kalian dengan benar." Aku memeluk Amanda, lalu mencium kedua bayiku.
"Tidak, maaf karena aku sok kuat dan mendiamkan mu beberapa hari padahal aku rindu." Ujarnya berkaca-kaca.
"Tetap aku yang salah sayang. Aku janji tak akan pergi tanpa restu darimu."
__ADS_1
Senang hati kami berbaikan. Tapi sakit rasanya, berbaikan di atas luka yang terjadi pada istri dan buah hatiku. Meski dokter berkata tak perlu khawatir, tetap saja aku ambruk, bersimpuh di lantai. Lega campur aduk dengan perasaan menyalahkan diri sendiri.
Amanda kini tertidur, aku menatapnya penuh rasa bersalah. Aku harusnya lebih tahu hormon ibu hamil sangat tak dapat di prediksi. Tuhan bahkan memberitahu ku lewat morning sickness yang aku alami, tapi kenapa aku egois. Aku tak terima di diami dan menghadapi istriku yang sedang merajuk. Alih-alih mendampingi Amanda, aku pergi dengan tujuan tak jelas. Jika anakku tak selamat, aku tak tahu harus menggambarkan rasa sesal seperti apa. Mungkin akan ku bunuh dunia dengan seisinya.