Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
I Love Her First


__ADS_3

Perjalanan hidupku selalu manis bagai cerita pangeran tampan di negeri dongeng. Kepunyaan harta berlimpah, istana megah, ratusan pelayan, dan ribuan kaki tangan. Aku yakin tidak ada satu manusia pun yang berani berpikir kehidupanku sengsara. Gambaran kehidupan bahagia yang selalu dielukan kebanyakan orang. Tapi ternyata semua rasa bahagia yang dulu sempat aku miliki tiada bandingannya dengan satu kalimat janji. Ya janji dari seorang gadis malang bernama Amanda. Dia tidak menjanjikan kebahagiaan untukku, tapi janjinya menciptakan kebahagiaan itu sendiri.


Menanti janji tak pernah terbesit dalam benakku. Ayolah, aku seorang Gerlard tidak butuh janji dari mulut manusia, aku butuh kepastian dan tindakan nyata bukan bualan semata. Satu jam merupakan kepastian terlama dalam batas toleranku. Dan hanya Amanda seorang yang berani membuatku menunggu untuk datangnya hari esok. Satu lagi kebodohan tercipta, aku menghitung denting jam dalam penantian malam.


"Tuan.."


"Tuan..bangun."


"Tuan..


Sial*n siapa yang berani mengganggu tidur tampanku. Lihat saja akan ku potong royalti bulan ini.


"Kenapa berisik sekali ini masih pagi Lesi." Tidur tampanku terganggu karena ulah Lesi.


"Tapi tuan sendiri yang meminta dibangunkan pukul enam pagi karena mau olahraga bersama nona Amanda." Ujar Lesi.


Seperti mantra sihir yang ditujukan padaku, nama Amanda mengingatkan aku akan janji manisnya kemarin malam. Reflek terjaga seketika, menatap Lesi dengan garang, " Kenapa baru dibangunkan sekarang?"


"Maaf tuan saya sudah membangunkan tiga menit yang lalu tuan." Jelas Lesi.


"Yasudah kau bisa keluar."


"Baik tuan."


Kegundahan semalam suntuk membuatku bangun kesiangan. Untunglah aku sudah menyiapkan cadangan dengan di bangunkan Lesi, jika tidak hancur sudah reputasiku. Aku bergegas ke kamar mandi, menilik wajah tampanku yang ternyata malah makin bertambah, mencium kedua ketiak ternyata cukup wangi jadi ku poles sedikit supaya lebih meyakinkan. Lari sebisa mungkin kemudian menarik selimut, terlelap kemudian. Aku berakting tidur kembali hanya ingin tahu bagaimana cara Amanda membangunkan ku.


"Ji, hey bangun." Kurasakan sentuhan tangan Amanda di lengan kananku.


"Aneh tadi kata Lesi sudah bangun, kenapa masih tidur sih." Monolog Amanda kesal karena aku tak kunjung membuka mata.


"Ji bangun tidak? Ku hitung sampai dua kalau tetap tidak bangun terpaksa ku bangunkan dengan kekerasan." Ancamnya sembari mencubit lenganku yang tadi di pegangnya.


"Baiklah ku mulai ya, satu, dua, ih kenapa tidak bangun sih Ji, yasudah ku beri keringanan sedikit, ku ulangi hitungannya ya." Negosiasinya sendiri, dalam hati ku terbahak.


Amanda mengulangi hitungannya yang hanya sampai angka dua selama empat kali. Entah apa motivasi wanita ini, kenapa harus menghitung dengan nominal dua angka berulang sedang dia bisa menghitung sampai ratusan bahkan lebih, dasar aneh tapi ku suka keanehan ini.


"Ji ini kesempatan terakhir ya, jika tetap tidak bangun, terpaksa aku melakukan kekerasan terhadap makhluk baik sepertimu."


"Satu...dua...hiyaaaa...."


"Uhuukk.." Aku tersedak ludah sendiri atau bisa saja saluran pernafasan ku kaget karena idiot Amanda loncat ke atas tubuhku sekuat tenaga dengan pendaratan indah di atas perutku.


Terpaksa aku pura-pura sadar dari lelapnya tidur, " Hey kenapa nakal sekali, tidak ada cara lebih buruk untuk membangunkan seseorang hah?"


"Aku sudah membangunkan mu berulang kali, kau tuli seperti mayat mati tidak bergerak sama sekali." Adunya dengan mulut bisa dikuncir.


"Yasudah menyingkir aku kan sudah bangun, awas jangan menduduki perutku." Perintah ku dengan tenaga sedikit untuk menarik lengannya agar Amanda segera menyingkir, karena sungguh jika seperti ini kepalaku terasa penuh.


"Tidak mau, enak saja ini hukuman namanya." Dimana letak menghukumnya jika hanya bermodalkan duduk manis di atas perutku.


"Katanya mau bermain sepeda, jadi minggir dulu biarkan aku menyiapkan diri." Tawarku kemudian.


"Ji aku malas mengayuh, kau saja yang kayuh aku naik di belakang ya." Pintanya seolah aku yang memberi ajakan.


"Hah, i..iya." For the first time, aku terbata menjawab pertanyaan manusia.


Ada saja kelakuan Amanda, bagaimana aku lancar menjawab pertanyaannya jika dia dengan tiba-tiba merebahkan tubuhnya di atas tubuhku bahkan saat dia bicara aku bisa merasakan nafasnya. Aku tahu aku senang dengan posisi ini, tapi ini sangat bahaya untuk sistem kerja otak beserta nalarku.


"Menyingkirlah, kau bau." Bohongku.


"Enak saja aku sudah mandi, kau yang bau." Ungkapnya membalas ledekanku.


Yang jadi pertanyaan apakah aku benar-benar bau, padahal aku sudah bangun lebih awal agar bisa bersiap dengan segala wewangian. Wewangian yang ku pakai supaya Amanda tahu kalau aku tetap tampan dan wangi meski baru bangun tidur.


"Aku tidak pernah bau, selalu wangi dan tampan setiap waktu." Tukasku.


"Kau memang bajin*an tampan, makanya aku bingung harus benci atau suka padamu." Aku tau dia bercanda, tapi tidak mengikutsertakan kata laknat kan bisa.


Berkata hina tapi saat berucap sambil mengelus mukaku, bagaimana aku bisa bertahan jika seperti ini. Sungguh aku ingin mengenyahkan selimut tebal penghalang antara aku dan Amanda. Karenanya aku tak bisa mengeluarkan tangan untuk sekedar memeluk Amanda di pagi hari.


"Jika terus seperti ini kapan kita akan bersepeda?" Sebuah pertanyaan pengalihan isu.


"Tentu saja secepatnya, kenapa repot bertanya dengan pertanyaan yang jawabannya sudah pasti." Ujar Amanda sewot.


"Whatever."


"Ih kok gitu sih Ji." Rengeknya sambil memukul dadaku manja.


"Cepat bangun dari atas tubuhku, atau kau ku timpa balik?" Ancamku serius.

__ADS_1


"Iya, iya bawel sekali." Sahutnya cemberut.


Perkara timpa menimpa telah usai, kami bergegas turun untuk bersepeda di jalanan sekitar vila, sembari menghirup dan menikmati sejuknya alam. Tentu saja hal yang tidak pernah ku lakukan sebelumnya. Hanya untuk mengabulkan permintaannya aku bersedia melewati batas ku sendiri.


"Sepertinya aku mencium bau tidak konsisten dari mulut wanita yang katanya wanita baik."


"Wanita yang mana Ji, Lesi?" Tanya balik Amanda dengan mimik bodohnya.


"Disini hanya ada satu wanita, dan kau masih bertanya siapa? Jangan membuat kesal orang tampan di pagi hari." Lihat aku kesal dengan sifat bodohnya yang dibalut wajah cantik itu.


"Ya kan aku selalu konsisten makanya bertanya takutnya salah tanggap, begitu saja emosi." Tidak menyambung bukan yang aku maksud dengan daya tangkapnya.


"Konsisten ucapan seseorang dinilai saat ucapannya selaras dengan tindakan. Kau, kau tadi berkata akan duduk di belakang saat bersepeda kenapa sekarang duduk di depan hah?"


"Ah begitu saja naik satu oktaf nada bicaranya. Bagaimana aku bisa duduk di belakang jika model sepeda gunung seperti ini."


"Konsekuensi ucapan pribadi harus ditepati, cepat duduk di belakang."


"Okey aku duduk di belakang tapi kau harus contohkan sampe sepuluh meter ke depan ya Ji."


"Cepat naik!"


"Kau belum memberi contoh."


"Naik di depan!"


"Yes, ayo jalan."


"Kenapa menghadap ke arahku?"


"Ya supaya bisa pegangan, nanti jatuh."


"Kalau kau pegangan dengan memeluk perutku, lantas bagaimana aku bisa menjaga keseimbangan, dan tujuan kau bersepeda apa kalau bukan menikmati indahnya pemandangan pagi hari di jalanan pinus."


"Aku kan hanya menepati janji supaya kau tidak mengomel terus, emosi-emosi terus. Nih nih aku sudah menghadap depan, tapi pantat ku sedikit sakit jika duduk seperti ini, memangnya tidak ada sepeda jenis lain?"


"Cerewet."


Cara efektif mengurangi kecerewetan, ku kayuh sepeda perlahan dan memasangkan earphone kemudian bersenandung lirih mengikuti irama lagu.


"Aw.. Kenapa mencubit." Bayangkan betapa sakitnya perutmu saat sedang fokus mengayuh sepeda dan bersenandung dilengkapi menikmati pemandangan kemudian ada rasa perih melanda akibat ulah jahil tangan manusia.


"Maaf mari bicara sembari menghirup udara segar, aku hanya terlalu biasa bersepeda sendiri dan melakukan hal yang sama secara berulang." Bohongku yang nyatanya tak pernah ingat bersepeda di pagi hari.


"Jadi kau sering bersepeda Ji?"


"Tentu saja, makanya aku punya banyak sepeda di vila, hanya saja aku lebih suka memakai yang ini."


"Kalau ada banyak kenapa tidak bilang, kan aku bisa memakai sepeda yang lain."


"Karena aku yang ingin seperti ini." Jawabku lirih.


"Apa Ji, suara mu terlalu kecil aku tak bisa mendengarnya."


"Kau tuli mendadak?"


"Hish, orang memang tidak terdengar."


"Lupakan, apa kau senang bersepeda seperti ini?"


"Jauh dari kata senang aku bahagia sekali, aku jadi teringat masa-masa papa memboncengku mengelilingi komplek, terimakasih karena sudah menjadi penolongku Ji, terimakasih karena sudah mengisi kekosongan hatiku, terimakasih atas kebahagian yang selalu kau berikan, aku jadi menangis kau sih mendramatisir."


"Maaf karena aku bodoh, aku tidak mungkin berjanji tapi akan kupastikan kejadian seperti itu tidak terulang kesekian kalinya di depan matamu." Aku bersyukur karena kau tidak mengalami trauma akibat pembantaian itu, lanjutku dalam hati.


"Kau tidak perlu repot meyakinkanku, tanpa sepatah kata pun aku percaya jika itu bersangkutan denganmu."


Aku tersanjung dengan kalimat Amanda yang tidak genap satu paragraf. Ketersanjungan itu bahkan membuatku bingung harus menjawab seperti apa. Akhirnya aku berhenti mengayuh sepeda, memasangkan earphone di telinga kanannya sedang yang kiri ku pasang sendiri. Memutar alunan melodi ceria bersambut mengayuh sepeda tanpa memulai pembicaraan tambahan.


Dua jam berlalu, kami putuskan untuk kembali ke vila. Berbincang kesana kemari sembari saling melempar tawa sepanjang perjalanan pulang. Terlampau bahagia sampai kita secara tak sadar menakutkan jari jemari berdua ketika menaiki tangga menuju kamar masing-masing.


"Ji, sebaiknya kita makan dulu baru mandi, lagi pula bukannya tidak sehat jika mandi dalam kondisi keringat bercucuran."


"Keringatan darimana, kau hanya duduk santai sembari menikmati sejuknya angin pagi tanpa harus repot mengayuh sepeda. Jangan beralasan, lekas mandi dan kita sarapan."


"Tapi, aku masih ingin berbincang denganmu."


"Seperti tidak akan bertemu lagi saja, kan bisa setelah mandi."


"Aku sungguhan dalam hal ini Ji, aku rindu sosok yang hilang dalam hidupku, sedang aku menemukan serpihan bayang mereka padamu jadi kumohon ayo berbincang lebih lama."

__ADS_1


"Kau butuh makan dan mandi Amanda, jangan membantah cepat masuk kamarmu."


"Baiklah aku mandi di kamarmu saja."


Belum sempat aku menimpali ucapannya, Amanda sudah lari kencang menuju kamarku. Wanita gila satu itu, tidakkah dia tahu aku buka orang suci, aku bisa saja berbuat jahat padanya.


"Kenapa belum mandi juga?" Entah bagaimana bisa seorang wanita seperti ini lahir ke bumi, bukannya mandi malah tidur di kasur dengan kondisi badan kotor.


"Kasurnya memanggil mana mungkin ku tolak."


"Hah, terserah kau saja, sulit memang berbicara dengan wanita bebal sepertimu."


"Aku bebal dari segi mana, aku ini wanita cantik nan anggun."


"Wanita gila yang mengaku anggun dan cantik lebih tepatnya."


"Coba diam dulu Ji, daripada kau tidak berpartisipasi dalam mandi pagiku, lebih baik kau ambilkan baju ganti untukku, aku mau mandi."


"Yak, kenapa senang sekali berlari setelah bicara tapi belum ditanggapi, jika seperti ini terus pasti rasa cintaku akan berkurang seiring bertambahnya hari." Aku baru menemui wanita bodoh yang tingkat kebodohannya dikuadratkan sepuluh.


Tok tok tok


"Masuk."


"Ge kau tahu dimana Amanda? Bukankah tadi sudah pulang dari bersepeda, tapi kucari ke kamarnya tidak ada." Tanya Danda dengan raut khawatir.


"Dia sedang mandi."


"Tidak, aku sudah mengecek ke pelosok kamarnya, kamar mandi termasuk di dalamnya tapi nihil."


"Cari saja sampai pohon pinus tumbuh seribu juga tidak akan ketemu."


"Maksudmu apa Ge, kau tidak berbuat macam-macam atau merencanakan pembunuhan lainnya?"


"Dia sedang mandi di kamar mandiku, puas?"


Lelah dengan makhluk-makhluk idiot, akhirnya aku merilekskan tubuh di sofa dekat ranjang. Tanpa diminta Danda turut serta duduk di sampingku. Kami duduk bersanding tanpa suara malah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Danda berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi saat mendengar suara kunci pintunya dibuka. Sedang aku hanya mengikuti langkahnya lewat ekor mata. Terlihat kepala Amanda menyembul, "Ji mana baju gantiku?"


"Hay, kau kenapa mandi disini?" Tanya Danda setelah cukup dekat dengan pintu kamar mandi.


"Aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan Jiji, makanya mau melakukan apa-apa bersama dengannya." Jelas Amanda yang ku yakin apa yang diucapkannya berbeda makna dengan apa yang terdengar.


"Yasudah aku akan mengambilkan baju untukmu" Tawar Danda seperti pelayan setia Amanda.


"Terimakasih Danda, tapi tolong biar Lesi saja yang menyiapkannya aku sedikit malu jika kau yang memilih." Danda sudah seperti pesuruh Amanda, langsung bersedia tanpa sanggahan ketika Amanda berkata.


Setelah mendengar sendiri keinginan Amanda Danda pergi dari kamarku dengan tatapan tajamnya. Aku sudah pasti mengabaikan seperti angin lalu. Lagipula bukankah dia terlalu sering menghabiskan waktu dengan Amanda, kenapa tidak mau berbagi sehari saja. Ya walaupun hakikatnya dia milikku.


"Ji mana handuknya, kenapa tidak ada satu pun di dalam?" Amanda menyembul lagi dari balik pintu kamar mandi.


"Mana aku tahu, memangnya pekerjaanku menyiapkan handuk bersih."


"Dingin Ji, cepat tolong aku."


"Malas sekali."


"Tapi aku sudah menggigil, aku lupa mandi dengan air dingin pagi ini." Bodoh, bodoh, bodoh siapa juga yang menyuruh menggunakan air dingin.


"Masih dingin?" Tanyaku setelah dengan sigap mengambil selimut di atas kasur lantas menyelimuti tubuh Amanda.


"Peluk." Ditanya apa malah memberi perintah, yasudah ku peluk saja sebagai bonus.


"Mau berdiri disini berapa lama?"


"Ayo pindah ke ranjang saja."


"Sana pergi ke ranjangmu sendiri, sembarangan saja nanti kasurnya basah."


"Basah dari mananya kau bahkan melilitku seperti kepompong dengan selimut setebal ini mana bisa menetes di kasur, yang ada sudah meresap di selimut." Tutur Amanda yang kebetulan benar.


"Yasudah jalan."


"Mana bisa jalan Ji, menggerakkan tangan saja aku tak mampu. Kau belajar darimana menggulung manusia seperti ini?"


"Tidak mampu jalan menggelinding saja."


"Ih gendong." Rengeknya manja.


Mana sudi aku menggendongnya, namun berhubung aku melihat pantulan Danda di kaca rias jadi ku kabulkan keinginan Amanda dengan menggendongnya seperti pasangan pengantin di film. Merebahkannya secara perlahan di ranjang, mengecup keningnya, mengelus pipinya dan memberikan senyuman terindah yang kubisa. Di luar dugaan, Amanda malah membalas mengecup pipi kananku. Ku lirik kaca di sebelah kanan, Danda sudah lenyap entah kemana. Rasanya aku menang tanpa berbuat banyak, salah siapa mengambil Amanda sembarangan. Amanda, aku yang menemukan dan aku yang harusnya mencintai Amanda lebih dulu, tidak untuk Danda tidak untuk siapapun.

__ADS_1


__ADS_2