
Menanti adalah hal membosankan yang tak pernah disukai banyak orang. Tapi menanti hadirnya buah hati sangat berbeda rasanya. Jiwa seakan hanyut dalam setiap momentum kehamilan yang berharga. Tendangan bayi dalam perut saja sangat mengagumkan, apalagi kelak saat dia lahir. Dan aku tak sabar masa itu tiba.
Kehamilan Amanda memasuki trisemester akhir, dokter menyarankan untuk tiga hari sekali melakukan kontrol kandungan. Terlebih karena Amanda hamil anak kembar, dan ini kehamilan pertama jadi lebih riskan segala sesuatunya. Semua orang sudah siap siaga berjaga apabila sewaktu-waktu Amanda melahirkan. Jadi semua orang berkumpul di mansion kami, termasuk Carmila dan Dalton.
"Bagaimana kata dokternya sayang?" Belum sempat kami duduk di kursi, sudah diserobot dengan pertanyaan dari Mommy.
"Baik mom, hanya saja dokter bilang plasentanya sudah mulai mengalami pengapuran." Amanda duduk terlebih dahulu baru menjawab.
"Lalu bagaimana agar tidak terjadi pengapuran?" Lagi-lagi Mommy mengajukan pertanyaan sampai tak sadar berpindah tempat duduk di dekat Amanda.
"Tak ada mom, aku hanya butuh istirahat cukup, latihan pernafasan dan banyak minum air putih." Amanda tersenyum menyudahi kalimatnya.
"Kau pindah kamar di lantai dasar saja kalau begitu, agar tak lelah. Aku ngeri kau tergelincir dengan perut besarmu itu." Jason memberi saran dengan sedikit mengomentari fisik Amanda, untung dia sudah tak sesensitif dulu.
"Dokter malah menyarankan aku banyak bergerak, naik turun anak tangga sangat membantu bayi masuk panggul." Jelas Amanda dengan nafas sedikit sulit karena perutnya yang amat besar.
"Sudah jangan bertanya lagi, kalau ada pertanyaan tanya padaku. Tak kasihan apa melihat Amanda yang terengah-engah saat menjawab pertanyaan kalian yang bertubi." Aku mengelus bayiku yang dalam kandungan, aku takut mereka kaget karena barusan aku spontan menaikkan intonasi dalam suara.
"Jika sudah tahu begitu, kenapa kau tak jawab dari tadi pertanyaan dari kami. Malah diam saja seperti tak ada mulut. Dasar." Bagai gayung tak bersambut, aku malah kena semprot Mommy.
"Mom, bisa tidak jangan kencang-kencang volume bicaranya. Nanti kalau bayi ku kaget bagaimana?" Tentu saja aku tak terima Mommy bicara sekencang itu di samping Amanda.
"Kau yang mulai bicara dengan nada tinggi kenapa sekarang balik menyalahkan Mommy hah?" Bukan wanita hamil tapi emosinya lebih tinggi dibandingkan ibu hamil.
"Sudah tua marah-marah terus mommy ini, nanti keponakan ku takut dengan neneknya apa tak masalah?" Jason, entah darimana dia melawan perkataan Mommy.
"Kau sudah bosan hidup hah? Baru kali ini dalam sejarah usiamu yang tak belia lagi berani melawan Mommy." Bukannya membaik suasana malah semakin tak karuan.
"Sudah mom, mengalah sesekali tak apa bukan?" Daddy turut melerai.
"Ini lagi, tak anak tak Daddynya semua bersekongkol memojokkan Mommy." Kadang niat hati istirahat di mansion menjadi mustahil jika sudah seperti ini.
"Aw.." Cukup satu kata lembut menghipnotis semua orang untuk berhenti bersitegang.
"Sayang ada apa?" Amanda memegangi perutnya dengan ekspresi meringis.
"Sayang aku mengompol." Wajah Amanda pucat dengan peluh memenuhi dahi dan sekita wajahnya.
"Amanda, kau pecah ketuban sayang. Cepat panggil dokter." Mommy spontan berdiri dan histeris melihat kaki Amanda yang basah kuyup oleh air ketuban.
"Kenapa bengong? CEPAT!!!" Tak ada respon dari semua orang sehingga Mommy dengan jurus teriaknya beraksi.
Semua panik, baru saja kami datang dari kontrol mingguan dan kabar baik datang. Aku bahkan tak tahu harus berbuat apa. Padahal sudah mahir dalam berlatih, dan matang dalam persiapan. Yang aku lakukan sekarang hanya memegangi kedua tangan Amanda menatapnya dalam diam.
Aku melihat semua itu, Amanda yang dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan tak baik-baik saja. Wajahnya pucat pasi, keringat bercucuran tak henti mesti aku sudah menghapusnya dengan tisu berulang kali. Tak sepatah kata keluar dari mulutku, lidah dan gigi seolah bekerja sama dan membuat mulutku terkunci.
__ADS_1
Dalam panik aku tetap kagum, Amanda berusaha menguatkan aku. Seperti terbalik Amanda tampak tegar dengan semua yang menimpanya saat ini. Tiba di rumah sakit Amanda langsung mendapat penanganan dokter.
"Suaminya diperbolehkan ikut dalam proses bersalin." Suster memberiku satu set baju steril sebelum masuk keruangan.
"Gerlard, dengarkan Daddy kau harus lebih kuat dari Amanda. Jangan loyo seperti itu, Daddy muak melihatmu." Dorongan semangat yang sama sekali dan mendorong.
"Ge, ingat tiga nyawa dipertaruhkan. Kau harus membantu Amanda, kau bisa Ge." Entah kenapa justru kata-kata Jason mampu mengguncang kalbu, membuatku bisa bersuara.
"Tentu." Balasku lantas memasuki ruang bersalin.
Dokter ditemani dua perawat bersiap. Setelah mendapat penjelasan bahwa aku harus menguatkan Amanda dan berada di sisi kanan kepalanya, aku mengikuti instruksi tersebut. Menggenggam kedua tangan Amanda, mengecup keningnya khidmat.
"Kau bisa sayang, sebentar lagi kita akan bertemu si kembar." Bisikku di telinga kanan Amanda.
"Baik nona, sekarang rileks terlebih dahulu. atur nafas dengan baik. Ingat kunci melahirkan adalah pada pernapasan anda sendiri." Dokter mulai menekuk kaki Amanda, dan memposisikan Amanda setengah duduk di ranjang persalinan.
"Sudah bukaan sembilan dok." Perawat yang bertugas mengecek rahim Amanda bicara.
"Wow, anda hebat nona. Sekarang ikuti aba-aba saya, jika tidak diminta mengejan jangan mengejan ya." Titah sang dokter.
"Baik dok." Sahut Amanda.
"Oke kepala bayi sudah sangat turun."
"Dok pasien mengangkat bokongnya." Perawat yang lain memberikan informasi tambahan.
"Jangan diangkat nona, nanti bisa terjadi robekan. Rileks, tenang anda dibantu oleh kami dan suami anda." Dokter tersenyum menguatkan Amanda.
"Sayang kau bisa." Hanya itu dan itu sedari tadi kalimat yang mampu aku keluarkan.
"Oke, bersiap nona, bayi kalian pintar dia mulai mengajak untuk lahir. Jadi ayo nona, tarik nafas, tahan, dorong."
"Iya bagus, sedikit lagi, semangat. Jangan panik, tetap bernafas dengan baik dan jangan sesekali memejamkan mata, seperti yang diajarkan ya nona." Mengulang kembali nasihat sebelum melahirkan.
"Oke, dahinya mulai terlihat. Tarik nafas, tahan, mengejan." Seru sang dokter.
"Oekkkk.......oeekkkkkk.....oekkkkk..." Suara tangis anakku.
"Bayi laki-laki, dan sempurna dok." Info perawat yang kini menggendong putraku.
"Dengar bukan nona Amanda, bayimu lahir dan luar biasa. Apa sudah ada ajakan dari putrimu?" Aku tak tahu maksud dokter, mungkin bayi juga tahu kapan dia mau dilahirkan.
"Belum dok." Sahut Amanda seadanya.
"Tunggu sebentar, putrimu sangat pengertian memberi jeda untuk bundanya memulihkan nafas."
__ADS_1
"Terimakasih sayang." Aku mengecup kening Amanda lagi dan lagi.
"Dok, dia mengajak." Amanda langsung menggigit tanganku sampai aliran darah terasa hangat disana.
"Oke, oke, tenang nona. Atur nafas lagi."
Kali ini seperti lebih sakit dari kelahiran putraku, Amanda lebih banyak kehilangan momentum saat pernafasan. Bahkan aku dicakar dan digigitnya berulang kali. Aku tahu sakit yang aku rasa tak sebanding dengan sakit yang mendera sekujur tubuhnya. Sekitar limat menit kemudian tangis putriku menggelegar menghiasi ruang bersalin.
"Oeekkkkkk.... oekkkkk.....oeekkk....."
"Selamat nona anda berhasil."
"Melahirkan normal, bayi normal, ibu tanpa robekan dan jahitan dok." Ucap perawat.
"Nanti setelah plasentanya dikeluarkan kedua bayi nona akan diletakkan di dada anda untuk merangsang produksi air susu." Dokter berkata lalu mulai merogoh ke jalan lahir Amanda untuk mengeluarkan plasenta.
Putra putri ku yang amat berharga, mereka berdua berlumuran darah, amat merah kecil dan rapuh. Tangis mereka seketika berhenti saat diletakkan di atas dada Amanda. Berganti dengan tangisku yang pecah. Aku tak kuasa, akhirnya aku menjadi seorang ayah. Aku yakin jika Jason melihatku menangis saat ini, dia pasti akan mentertawaiku sepuasnya. Bagaimana tidak, tangisku amat tak elok dipandang mata, aku beringus dan berlendir.
"Sayang sudah, malu dilihat anakmu." Amanda menginterupsi perjalanan tangisku.
"Dokter, bolehkah aku mencium mereka?" Aku tak perduli mereka berlumuran darah, aku hanya ingin menyalurkan rasa syukur karena kelahiran mereka di dunia.
"Maaf tuan belum bisa, setelah ini bayi harus di inkubasi dan di sinar terlebih dahulu." Jelas sang dokter.
"Berapa lama dok?" Aku tak sabar melewati prosedur ini.
"Tenang hanya dua jam." Ucapnya tanpa tahu aku amat dongkol mendengar kata dua jam, bukankah itu terlalu lama.
Amanda dan bayiku sudah dipindahkan ke ruangan masing-masing. Kini kami berpisah dengan anak kami untuk pertama kalinya. Keluarga mulai berkumpul di ruangan Amanda. Tapi Jason dengan akal melencengnya, berdiri tegap di depan ruang inkubasi anak. Takut jika keponakannya tertukar, ujarnya.
"Kemana Jason mom?" Amanda menyadari ketidakadaan seorang Jason.
"Di depan ruang inkubasi cucuku dengan tingkah konyolnya." Jawab Mommy yang tangannya aktif mengelus lengan Amanda.
"Wow, dia sangat sayang dengan keponakan rupanya." Balas Amanda senang.
"Kau tak tahu saja, pertama mendengar suara tangis anakmu, dia ikut menangis dan mencuri dengar lewat celah pintu ruangan bersalin mu. Daddy membocorkan aib Jason, yang bisa jadi senjata ku kelak.
"Daddy tak tahu saja, Gerlard menangis sangat tak enak di pandang mata. Aku sendiri geli melihatnya, ku harap dokter dan perawat tadi tak trauma melihat Gerlard yang menangis." Bukankah membongkar aib suami itu suatu tindakan tak terpuji.
HAHAHAHA
HAHAHAHA
Pecah, aku yang awalnya mungkin selamat dari rundungan mereka kini sirna sekejap mata. Amanda dengan gamblangnya menceritakan diriku yang sedang larut dalam kebahagiaan tiada tara. Si*Al tahu begini harusnya aku tadi mengajak Amanda kompromi lebih awal.
__ADS_1