Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
Coma


__ADS_3

Tak terhitung berapa jumlah kecelakaan yang menimpaku sejauh ini. Setiap tetes darah dan rintihan sakit tak luput dari sepak terjangku dalam dunia gelap. Timah panas beserta goresan senjata tajam mana yang belum pernah aku rasakan. Aku cukup kebal dengan semua itu, ingat aku saudara malaikat maut.


Tapi kini aku terbaring bersimbah darah di sekujur tubuh. Aku mendatangkan kerumunan orang yang menatapku dengan berbagai pandangan. Dan di luar nalar aku dapat menyaksikan itu semua, seolah ruh ku terpisah dengan jasad, dan kini bebas berkeliaran.


Bagai adegan drama yang sering aku sponsori, aku menjadi gentayangan dan tanpa arah. Satu-satunya yang aku bisa adalah mengikuti kemanapun ragaku di bawa.


"Dokter setelah analisa di ruang ICU pasien mengalami pendarahan di otak." Ucap perawat memberikan hasil rontgen.


"Bawa ke meja bedah, kita lakukan operasi lima belas menit lagi, hubungi wali dari pasien untuk persetujuan." Perintah dokter sembari menganalisa ulang hasil rontgen.


"Baik dok." Perawat itu bergegas keluar ruangan.


Sedang aku mencoba tenang menguasai kondisi. Aku tahu semua anggota keluarga mungkin sudah ada di luar ruangan menunggu kabar kondisiku, tapi sedetikpun aku tak ingin beranjak menjauh dari tubuh ini.


"Kita akan melakukan pemasangan Ventriculoperitoneal shunt pada pasien." Kata dokter bedah saraf setelah siap sedia.


"Operasi ini akan berjalan selama dua jam, mari berdoa untuk keselamatan bersama." Aba-aba dokter sebelum membedah kepalaku.


"Pasien sudah dalam keadaan gundul dok." Perawat satu.


"Pisau sayat." Dokter membuat sayatan di belakang telingaku.


"Selang VP shunt." Berlanjut dokter memasak selang di bagian otak.


Meringis aku teringat akan dosa-dosa jika saat seperti ini. Aku harap semua hanya mimpi. Usai menyaksikan jalannya operasi, aku meninggalkan tubuhku dengan berat hati. Sebagai arwah aku takut stres, dan mempengaruhi detak jantung ragaku nantinya.


"Bagaimana operasinya?" Tanya Daddy dan Dalton yang baru sampai di depan ruang operasi.


"Kita semua juga belum tahu." Jawab Danda selaku manusia paling tegar mengenai kondisiku sekarang.


Lihatlah betapa wajah mereka terpuruk dengan kondisiku sekarang. Tak ada pembicaraan lanjutan mereka hanya diam membisu dengan pikiran masing-masing.


"Dok bagaimana keadaan anak saya." Daddy setengah berlari menghampiri dokter yang keluar dari ruang operasi.


"Operasi berjalan lancar. Tapi harap sabar pasien belum dapat dibesuk karena harus melewati penanganan intensif di ruang ICU terlebih dahulu." Jelas dokter tersebut ramah.


"Kapan anak saya sadar dok?" Tanya mommy ikut menimbrung.


"Umumnya sadar pasca operasi selama kurang lebih sembilan jam.Tapi setiap orang berbeda, tergantung kondisi fisik pasien." Jelas dokter diakhiri dengan senyuman.


"Terimakasih dok." Daddy menyalimi tangan dokter tersebut.


"Banyak berdoa untuk kesembuhan pasien, saya permisi." Ucapnya sebelum melangkah meninggalkan anggota keluarga ku yang histeris penuh tangis.


"Berhenti menangis sayang, yakin saja Gerlard siuman, dia terbiasa mendekati kematian." Ucap Daddy tak ada akhlak, mencoba menenangkan Mommy.


"Mulutmu, aku tahu Gerlard terbiasa mengalami insiden menantang maut, tapi tetap saja tidak pernah separah ini." Mommy berujar sambil sesekali menyeka air matanya yang turun amat deras.


"Kau harus kuat, lihat muka Amanda seakan tak bernyawa meski tak mengeluarkan air mata sama sekali." Bisik Daddy ditelinga mommy.


Ucapan Daddy membuatku beralih pandang memperhatikan Amanda. Gadis pencuri hatiku, kenapa dalam ujung hayat pun kau pandai membuatku khawatir.


Wajah Amanda yang ceria sirna digantikan dengan wajah pucat seperti mayat hidup. Dia tak menangis, tak sedikitpun bersuara tapi sekujur tubuhnya bergetar ringan.


Aku berjalan mendekat ke hadapan Amanda, belum sampai tempatnya, aku harus terkejut karena tiba-tiba badannya ambruk mencium lantai.


"Yakk, Amanda pingsan mom." Teriak Jason selaku orang dengan posisi terdekat dari Amanda.


"Haduh sayang." Mommy dan yang lainnya bergegas mengerumuni Amanda.

__ADS_1


"Aku akan meminta ruangan untuk Amanda." Celetuk Danda selalu bisa diandalkan.


Semua bubar meninggalkan ruang ICU untuk mengurus Amanda lebih dulu. Menyisakan aku yang tak ingin jauh dari tubuhku.


"Hai Ge, kau pasti kesepian jika ku tinggal." Jason mengagetkanku karena seolah dapat melihat arwahku.


"Aku berterimakasih semua teralihkan oleh Amanda, jadi rasa risau mereka padamu sedikit terlupakan." Ucapnya memandang ruang ICU, dia berbicara dengan pintu, padahal aku ada di sebelahnya.


"Aku takut Ge, aku tak pernah setakut ini. Cepatlah pulih, agar rasa takutku tak terbukti." Jason meneteskan air mata.


"Kau membuatku tiba-tiba mendekat pada Tuhan, berdoa untuk keselamatanmu, bukankah kemarin hari bahagiamu, kenapa hari ini kau membuat kami penuh tangis." Air matanya semakin deras.


"Hei, kau jangan membuat Gerlard berkecil hati. Dia pasti bisa melewatinya, kita harus percaya itu." Danda menyusul Jason setelah urusannya selesai.


"Aku sedikit takut." Jason memeluk erat Danda, meluapkan rasa khawatirnya.


Hampir semalam penuh, aku tak tahu pastinya berapa jam, akhirnya aku pindah ruang. Perawat memindahkan tubuhku ke ruang rawat inap. Dan tentu saja membuat lega semua keluarga. Tapi aku bingung, kenapa aku belum juga kembali ke dalam tubuhku.


"Sus, kenapa Gerlard masih tertidur bukankah harusnya dia sudah siuman?" Dalton bertanya pada perawat yang membawaku ke ruang inap.


"Maaf tuan, sebaiknya tanyakan pada dokter detailnya, kami hanya bertugas mengantarkan pasien." Balas suster itu sebelum pamit meninggalkan ruangan.


"Jason cepat panggil dokter, kurang ajar sekali dia tidak segera datang setalah Gerlard dipindahkan." Daddy dengan segala tekanan darah tingginya.


"Maaf tuan tak perlu repot memanggil, saya sudah disini." Dokter datang menangkap basah perilaku buruk Daddy.


"Bagus kalau begitu." Daddy berujar tanpa rasa bersalah terhadap orang yang menyelamatkan nyawa anaknya.


"Pasien tetap akan dirawat intensif dengan beberapa alat bantu, karena kemungkinan pasien mengalami cedera sehingga membuat alam bawah sadarnya tak siap untuk bangun, dengan kata lain pasien dalam kondisi koma saat ini." Dokter menjelaskan sembari menilik kembali tubuhku.


"Kau, aku sudah membayar mu dengan tinggi. Apa yang kau lakukan, membuat anakku sadar saja tak becus. Apa gunanya menjadi dokter." Daddy menarik jas yang di kenakan dokter.


"Maaf tuan, saya sudah berusaha tapi takdir adalah kehendak Tuhan." Dokter berusaha menyingkirkan tangan Daddy yang masih bertengger di jasnya.


Tak ada yang berani dengan Daddy pada emosinya yang naik. Apalagi di ruangan ini hanya ada Dalton, Danda dan Jason. Alhasil Danda membawa dokter itu keluar ruangan sebelum hal buruk terjadi.


"Jangan membuat Daddy marah Gerlard, cepat bangun, muak melihatmu terbaring dan membuatku khawatir." Tangan kiriku digenggam Daddy begitu erat.


"Ingat kau punya tanggungan sekarang, jangan membebankan hidup Amanda padaku, kau lelaki yang berjanji jadi sosok pemanggul jiwanya." Tatapan Daddy sarat dan begitu dalam padaku.


"Dad, Amanda sudah sadar dia ingin bertemu Gerlard." Jason mendekat, memberanikan diri menginterupsi kegiatan Daddy akan tubuhku yang koma.


"Biarkan masuk, siapa tau Amanda bisa memancing alam bawah sadarnya." Daddy berdiri, seolah menanti kedatangan Amanda dan mempersilahkan untuk duduk di dekat tubuhku.


Amanda masuk diiringi Mommy dan Carmila. Aku tak tega melihat wanita-wanita Ki bermuram durja karena kondisiku yang kritis. Andaikan waktu bisa ku putar kembali, aku ingin tak sembrono dalam berkendaraan.


"Tuan." Felix menyerobot turut serta masuk ruang rawat berbarengan dengan datangnya Amanda.


"Bicaralah." Perintah Daddy tegas.


"Supir truk yang bertabrakan dengan Gerlard mati ditempat. Hasil pengecekan CCTV Gerlard bersalah, saat ini wartawan mencoba mencari informasi tentang Gerlard di luar gedung." Beber Felix, tak berani menatap Daddy yang sedang mengeluarkan aura hitamnya.


Brakk....


Daddy melemparkan handphone miliknya menyerempet wajah Felix. Sepertinya Daddy sengaja tidak mengenai telak diwajahnya, berakhir handphone tersebut menabrak pintu masuk dan remuk.


"Untuk apa orang bodoh sepertimu dipekerjakan. Haruskah aku yang turun tangan dalam kasus murahan macam ini hah!" Bentak Daddy membuat Amanda yang semula berdiri tegap, sedikit limbung dan ditopang oleh Jason.


"Dad, maaf. Tapi bisakah Amanda berbicara?" Amanda yang tak tahu bahwa tak ada yang boleh menginterupsi Daddy saat marah, dengan berani mencoba berunding, membuat semua orang menatap cemas.

__ADS_1


"Hah... bicaralah." Daddy menghela nafas panjang lantas mengubah nada bicaranya, yang membuat semua orang takjub termasuk arwahku.


"Bisakah Daddy berdiskusi di luar. Aku ingin bicara empat mata dengan Jiji saat ini." Ucapnya lirih.


"Kau yakin ingin kami pergi, lihat kau bahkan tak mampu menopang tubuhmu sendiri." Khawatir Daddy, mengenai kondisi Amanda, lagi-lagi membuat semua mata membelalak.


"Daddy percayakan padaku, aku anak Daddy, aku pasti bisa." Senyum Amanda menutupi kenyataan bahwa tubuhnya ringkih.


"Baiklah." Daddy secara langsung menuntun Amanda menuju kursi di samping ranjangku, lantas dengan matanya memerintahkan semua orang keluar ruang.


Bukannya merasa lega, semua orang memang turut keluar tapi dengan langkah tegang terutama Felix. Aku yakin semua takut Daddy mengamuk di rumah sakit saat ini. Bukan tak mungkin dia membakar rumah sakit ini beserta isinya.


"Hai, Ji." Amanda menarik fokusku dari keluarganya rombongan Daddy.


"Kau tahu, aku merasa sangat buruk berada di dekatmu." Tangan mungilnya bergetar, mencoba menautkan jemarinya dengan jemariku.


"Aku bodoh bukan, aku mengesampingkan sosokmu hanya untuk kesenanganku saja."


"Aku, aku menyesal. Kembalilah Ji. Aku takut."


"Aku sengaja tak ingin kau menjemput, karena aku belum membelikan kado ulangtahun untukmu."


"Aku berencana meminta bantuan Jolie untuk berbelanja "


"Tapi apa yang ku dapat, kau membuat duniaku runtuh seketika dengan kabar bahwa kau mengalami kecelakaan."


"Aku tidak sempat membeli kado Ji, aku tidak sempat membuat kejutan kecil untukmu, malah kau mengejutkan kami dengan kondisimu."


"Ji, tolong kembali. Kau tahu bukan aku tak memiliki siapapun. Lantas kau tega menelantarkanku?"


"Ji, aku tahu aku gadis gegabah yang bahkan tak tahu kondisi tubuhmu yang tak sehat, padahal sebelum berangkat tadi pagi aku banyak menghabiskan waktu denganmu."


"Kenapa Ji, aku merasa sangat tak berguna. Aku frustasi, aku bahkan tak tahu harus berkata apa. Aku seperti penyebab kecelakaan ini."


Amanda menangis sejadinya. Aku mencoba menyentuh bahunya memberi ketenangan, tapi tak bisa tersentuh. Aku mohon hentikan itu Amanda, kesalahan bukan ada padamu, hanya takdir sedang tidak memihak padaku.


Tiiiitt....


Titttt......


Seolah bersambut, alat rekam jantungku memberikan implus positif, yang membuat Amanda refleks menoleh ke alat EKG.


"Ji, aku tahu kau mendengar semua ucapanku."


"Sekarang dengarkan baik-baik. Kita sebagai manusia tidak akan tahu kapan umur memisahkan kita, kapan waktu tak berpihak pada kita. Belajar dari penolakan ku tadi pagi, aku sadar. Aku tak bisa mengulang banyak hal hanya demi keegoisan diri. Meski aku cukup tak tahu diri, izinkan aku bicara."


"Aku melamarmu, aku ingin dipersunting olehmu. Aku janji akan berusaha menjadi istri versi terbaik untukmu, aku bersedia menikah denganmu setelah kau siuman. Jadi kumohon sadarlah." Dengan lembut Amanda menempelkan bibirnya di keningku.


Ciuman itu amat dalam, membuatku ingin segera bangkit tapi apa daya aku tak bisa. Aku senang mendengarnya mengucapkan janji ingin dinikahi, tapi ayolah kenapa aku seperti orang yang selalu kalah langkah. Aku laki-laki, seperti tak ada harga diri saja. Aku merajuk meski sedang koma. Dan tolong singkirkan manusia-manusia yang menguping di balik pintu itu.


"Wow wow wow, Jika Gerlard sadar sekarang juga. Mungkin akan ada judul, terpaksa menikah karena koma." Jason.


"Jika langsung sadar, aku curiga dia hanya bersandiwara." Dalton.


"Membayangkan wajah Gerlard tersipu mendengar ucapan Amanda, kenapa aku mendadak mual." Daddy.


"Ah manisnya Amanda." Carmila.


"Aku harap bukan aku yang ditugaskan untuk mempersiapkan pesta dadakan nantinya." Danda.

__ADS_1


"Akhirnya, selangkah lebih dekat dengan cucu." Mommy


*Akhirnya bisa sedikit memutar otak agar selamat dari amukan bos besar.* Felix dalam hati.


__ADS_2