Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
Wedding Dress


__ADS_3

Parasnya yang ayu dipadu padankan dengan warna gaun putih tulang, sebuah mahkota bertengger di kepalanya, dan sepatu kaca bertabur berlian ia kenakan, begitu memancarkan kecantikan Amanda. Gaun pernikahan kami yang sakral, berhasil memukau mata siapa saja yang memandang.


"Wow." Ucap Jason lantas bersiul.


"Kau kenapa memberi tanggapan lebih dulu, mengambil hak ku sebagai mempelai pria saja." Sedikit protes ku lancarkan, meski dalam hati aku tak ambil masalah dengan perbuatan Jason.


"Pelit sekali, lagipula kau tidak akan menjadi orang pertama dalam hal apapun, jika fitting baju membawa Mommy dan Carmila. Lihat, mereka sudah seperti lalat mengerubungi bangkai." Kata Jason, menunjuk ke arah Amanda berdiri dan mencoba gaun.


"Tidak adakah pribahasa yang lebih baik di dengar, rasanya tidak elok pribahasa yang barusan kau ucapkan." Aneh sekali, pengantinku disamakan dengan bangkai.


"Stok pribahasa ku sangat minim, kau dilarang protes." Jason berdiri dan ikut mendekati Amanda seperti kedua lalat wanita tua itu.


"Hm, aku rasa aku salah langkah mengajak mereka semua." Ujarku pasrah.


"Kau sangat beruntung Ge, terimakasih telah membawaku menjadi bagian dalam keluarga besarmu, meski kau tahu nyawaku tak mungkin bertahan lebih lama lagi." Kakek Adolf dengan sikap pesimisnya.


Kewarasan ku sudah pulih di sertai kondisi tubuh yang semakin membaik, menjadikan ku Gerlard yang dulu brutal kini hadir dengan hati sedikit melankolis dan mudah tersentuh. Aku yang entah dapat ide darimana, dengan segenap hati memboyong sang kakek ke kediaman kami setelah diperbolehkan rawat jalan oleh rumah sakit. Dan aku selalu membawanya kemanapun aku pergi.


"Kau sudah berjanji untuk tidak berkata terimakasih bukan? Aku cukup bosan mendengarnya setiap menit kek." Adolf terlalu menghargai kehidupannya yang sekarang makanya tak henti bersyukur dan mengucap kasih.


"Kau jangan galak denganku, bukankah sudah ku katakan berulang kali, lidah tua ini hanya mampu berucap terimakasih apa itu sebuah dosa bagimu?" Si kakek memang sama keras kepalanya seperti ku.


"Susah memang bicara dengan orang kolot." Candaku padanya.


"Susah juga ternyata bicara dengan daun muda kep*rat." Sadis sekali lidah kakek tua satu ini.


"Wow, mulutmu sangat liar untuk ukuran orang yang selalu pesimis dengan sisa umurnya. Sudah aku kita coba baju." Balasku tak sanggup bersaing lidah dengan Adolf.


"Hahahaha, kau selalu kalah denganku Ge." Bangganya dan mulai berjalan santai dengan tongkat pemberian Daddy.


Semua anggota keluarga mencoba gaun, kemeja, jas, sepatu masing-masing. Puas dengan hasil rajut sang desainer, Adolf si kakek renta memberi bonus tambahan dengan menjadi investor butik milik perancang busana kenamaan di Denmark ini. Kadang sifat gila bisnisnya memang sulit luntur meski sudah berumur.


Lelah mencoba begitu banyak setelan baju, aku ambruk di ranjangku yang begitu ku rindukan. Seperti berabad tak merasakan nyaman kasur ini, aku bagai tersihir dan langsung terlelap tanpa repot membersihkan diri dan berganti pakaian.


"Hoyy anak muda, bangun kau tidur terlalu lama jangan sampai tak bangun untuk selamanya." Sayup aku mendengar suara manusia langka yang baru aku temukan dan ku museumkan di vila ini.


"Hoammmm.... tidak menggangu privasi anak muda adalah tindakan mulia seorang kakek tua, kau tak mencerminkannya sama sekali." Sindirku yang masih malas bergerak.


"Bicaramu cukup panjang untuk ukuran orang baru bangun tidur. Asal kau tahu kakek itu selalu tua bod*h, mana ada kakek muda." Sewotnya lalu hampir memukulku dengan tongkatnya jika tidak buru-buru bangun mungkin hilang sudah jidat mulusku.


"Anarkis sekali jadi kakek-kakek." Tindakannya terlalu membabi buta di pagi hari.


"Hahahah, yasudah cepat turun ayo sarapan." Dia melenggang pergi dengan senyum merekah di pagi hari karena berhasil mengerjai ku untuk beberapa hari ini.

__ADS_1


...****************...


Malam begitu syahdu bagi setiap insan yang berada di Denmark bagian barat, malam ini rintik hujan membawa hawa sejuk membuat semua orang berkumpul di ruang tengah dengan pemanas ruang menyala. Berbincang mengemukakan isi hati, sambil ditemani secangkir teh madu dan kukis.


"Nona manis dari Indonesia, kau seperti tak bahagia menikah dengan Gerlard. Mata cantikmu tersirat sebuah rasa pedih mendalam, jika aku tak salah lihat." Tiba-tiba Adolf melempar perkataan yang membuat aku ikut penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Amanda.


"Hm, tidak kek, kakek salah. Aku teramat bahagia dengan pernikahan ini. Kakek tahu sendiri, aku adalah orang pertama yang mengusulkan semuanya." Senyum Amanda dipenghujung kata.


"Kau, ungkapan saja, jangan membodohi orang yang usianya tiga kali lipat darimu." Ujar kakek, membuat semua orang tertegun, dan berhenti mengunyah kukis lantas menyerbu pandang ke arah Amanda.


"Aku, sebenarnya aku...."


"Sayang... kau tak perlu menjawabnya jika enggan." Aku langsung duduk di samping Amanda, karena sebelumnya aku duduk cukup jauh darinya.


"Ji, maaf tapi memang ada yang mengganjal hatiku menyangkut pernikahan ini." Ujarnya memberanikan diri, dengan tanda kedua tangannya mengepal di atas pahanya.


"Bicaralah, biar kita selesaikan bersama. Dan maaf, aku terlalu abai hingga tak memperhatikan mu belakangan ini." Jelas saja, karena aku jarang bertemu dengan Amanda seperti sedang di pingit saja.


"Maaf semuanya, aku sebagai mempelai wanita bukankah aku seharusnya memiliki wali, sedang kedua orangtua ku sudah lama meninggal. Ditambah aku tak ada kerabat disini, aku bagai sosok penuh beban seperti benalu di keluarga ini. Aku, bahkan tidak bisa membayangkan pernikahan tanpa adanya kedua orangtuaku." Tangis Amanda pecah, tubuhnya tak mampu mengimbangi keinginan hatinya untuk terlihat kuat.


"Dasar gadis nakal, aku dan Daddy mu sudah mempersiapkan semuanya, kakek akan menjadi walimu nanti, apakah kau keberatan?" Kakek mengelus kepala Amanda penuh kasih, akhirnya aku sedikit merasa ada gunanya juga menjadikan manusia tua ini kerabat.


"Benar sayang, maaf Daddy dan semua belum sempat membicarakannya denganmu terkait hal ini. Kau tahu sendiri belakangan jadwal kita selalu bertabrakan bahkan untuk sekedar kumpul di meja makan saja teramat sulit." Jelas Daddy mendekap tubuh Amanda.


"Hei, calon pengantin banyak menangis bisa mengakibatkan saat dipajang nanti bukannya cantik malah terlihat seperti zombie mengerikan, bukan gaya kakak ipar ku sama sekali." Celetuk Jason yang akhirnya mendapat respon dari Amanda.


"Daddy, lihat Jason seperti itu dari dua hari yang lalu. Dia meledekku habis-habisan setiap ada kesempatan." Adu Amanda, lupa dengan rasa sedihnya.


"Biar, nanti kalau sudah jadi adik iparmu, kau bisa dengan mudah memberinya pelajaran." Dukung Daddy, yang tentu saja terselip canda di dalamnya.


"Jadi bagaimana, apa tidak keberatan dengan keputusan para sesepuh ini?" Adolf bertanya ulang.


"Hmm... tentu saja, bukankah seharusnya aku tak perlu merisaukan apapun, hanya terkadang otakku tak mau bekerjasama." Jelas sekali Amanda sering overthingking belakangan ini.


...****************...


"Tuan." Lusi lari dari lantai dasar menuju balkon kamarku dengan amat tergesa, dilihat dari caranya mengambil nafas saat ini.


"Ada apa, kenapa panik." Aku berharap bukan kabar buruk yang akan keluar dari mulutnya.


"Maaf, tapi anda harus ikut saya ke bawah untuk melihatnya sendiri." Terang Lusi tak berterus terang.


"Sebenarnya ada apa, jangan bertele-tele Lusi." Untuk apa guna pelayan jika aku masih harus memastikan segala sesuatunya sendiri.

__ADS_1


"Nona Amanda sedang kalap, menangis histeris di ...." Belum selesai kalimat Lusi aku lonjak dari kursi dan segera turun ke lantai dasar.


Aku tak tahu hal apa yang membuat Amanda begitu histeris. Tangisnya bahkan terdengar sampai lantai dua, saat aku keluar kamar. Suaranya amat pilu, membuatku mempercepat langkah. Mengutuk dalam hati kenapa harus ada tangga setinggi ini.


Di lantai dasar bukan hanya Amanda yang histeris, Mommy dan Carmila ikut serta di dalamnya. Aku seperti orang terakhir yang tahu berita tentang hal ini, karena semua anggota keluarga minus para lelaki sudah berkumpul dan berbagi pelukan untuk menguatkan Amanda.


"Ada apa ini?" Tanyaku dengan mata menelisik sekitar.


"Sayang kau lihat di depan, Baju pernikahan kalian rusak tak tertolong." Mommy mewakili semua, untuk berbagi informasi.


Aku kembali melangkah, mengabaikan Amanda sementara waktu karena yakin Mommy sudah cukup untuk menguatkannya. Aku harus tahu sumber utama penyebabnya. Maka disinilah aku menyaksikan betapa mengerikannya baju kami yang kemarin tampak elok menawan.


"Sh*it, bedeb*h mana yang mau melawanku!" Teriakku benci.


Akhirnya aku paham kenapa mereka histeris. Baju pernikahan ku compang-camping dipenuhi bercak darah segar. Sedang di gaun Amanda bertulisan wanna die, sepertinya orang ini bosan menghirup oksigen di dunia.


Aku masuk lebih dalam ke angkutan yang membawa gaun kita dan keluarga. Dalam minibus terdapat puluhan burung dara dengan kepala terpenggal. Tak hanya darah berceceran ada beberapa tulisan ancaman di dalamnya. Aku meninju kaca minibus sampai pecah, dan membiarkan serpihannya menempel di tangan.


"Panggil Jordan, sekarang!" Teriakku pada para pelayan yang ada di dekat mobil.


"Tuan aku disini dari tadi." Jawab Jordan, mengembalikan fokusku yang sempat lenyap.


"Apa informasi yang kau peroleh?" Tanyaku dengan rasa emosi membuncah.


"Kedua kurir tak tahu menahu dengan isi paket yang diantar, sedang mereka tak memperoleh serangan atau hal mencurigakan lainnya dari butik sampai vila. Dugaan terbesar, semua dilakukan sebelum pengantaran." Jordan menceritakan detailnya.


"Lalu pihak butik sudah kau hubungi?" Aku mulai bisa mengontrol emosiku.


"Pihak butik sedang memeriksa CCTV mereka, dan maaf tuan saya meminta Felix ikut serta memeriksa, untuk sementara waktu kita belum mendapat titik temu siapa pelaku semua ini." Jordan menjelaskan.


"Gerlard, apa-apaan semua ini." Daddy baru tiba beserta Adolf dan Jason.


"Teror entah darimana." Jawabku singkat.


"Keterlaluan, sampah mana yang berani menyentuh keluarga ku arghhhh." Daddy tak kalah emosi melihat apa yang ada di hadapannya saat ini.


"Kau, ada musuh?" Adolf bertanya lugu, tak tahu saja hampir semua orang adalah musuh keluarga kita, karena tak suka dengan kesuksesan dan cara kerja kami.


"Aku rasa, kali ini bukan musuhku. Aku berani jamin." Yamato sudah tamat dan tak mungkin ada yang menyentuhku selain dia.


"Kau sih terlalu banyak musuh, jadinya dapat kejutan di momen spesial, kasihan sekali." Jason dengan sikap tengilnya.


"Jas,..." Tegur Daddy.

__ADS_1


"Ya ampun, kenapa tanganmu Ge. Bodoh sekali jadi manusia, hah kalau lukanya parah seperti ini baju juga compang-camping buat saja tema halloween, lagipula tubuh pengantin lelakinya ada yang cacat dan mana mungkin sembuh dalam dua hari, tema ini cocok untuk menutupi semua kekurangan." Jason lagi-lagi berceloteh sesukanya.


Benar mulut Jason kadang berguna. Kenapa aku bodoh dalam meluapkan emosi. Kalau sudah luka begini, masa aku menikah dengan dililit perban. Oh tidak.


__ADS_2