Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
RIP Adolf


__ADS_3

Hidup tak melulu tentang rasa suka cita, kadang terselip duka cita tanpa tahu kapan pastinya hal itu datang. Meski tak diundang, duka tiba tak disangka-sangka, baru semenit lalu kita gembira kini kita merasa luka. Adolf dipastikan menghembuskan nafas terakhirnya dalam dekapan Jason.


Kehilangan Adolf meninggalkan duka mendalam bagi keluarga kami. Sosoknya memang belum lama kami kenal, tapi pribadinya yang selalu ingin ikut campur dalam urusan keluarga menjadikan kami begitu dekat dengannya. Jason sering tengkar mulut dengan Adolf, tapi sejatinya itulah bentuk pengakraban diri versi mereka.


"Tidak, tidak.... hiks....kau manusia tua hina kenapa meninggal saat kita seperti ini. Hiks....Kau membuatku jauh lebih merasa sakit, kejam sekali kau membuatku merasa terpukul." Jason berucap disela tangisnya.


Mommy memeluk Jason dari belakang, lalu Daddy membopong tubuh Adolf," Semua orang dengarkan aku, hubungi awak media sekarang, kita lakukan penghormatan terakhir hari ini juga."


"Sayang kau tenangkan Jason, aku harus membantu Daddy." Pintaku pada Amanda.


"Baiklah, tapi sebelumnya aku mohon kau untuk lebih kuat sayang, aku tau kau tak kalah terpukul dari Jason." Amanda menyempatkan diri memelukku sebelum pergi.


"Terimakasih sayang, kau juga." Aku mencium keningnya sebelum berpisah dengan urusan masing-masing.


Aku lekas menghubungi Felix untuk mencari tahu pemakaman keluarga Adolf, dan keperluan lainnya sebagai persemayaman terakhirnya. Danda bergantian mendampingi Jason yang masih kalut, sekaligus membantunya berganti pakaian. Aku ikut mengganti pakaian olahraga menjadi baju berkabung lalu menemui awak media yang sudah bergerombol di depan mansion.


Urusan rumah duka dan upacara penghormatan terakhir sudah siap. Jasad Adolf sudah dimandikan, dan siap disemayamkan. Dalam peti itu Adolf seolah tersenyum lega atas kepergiannya. Ribuan bunga anyelir putih menghiasi ruang duka dan sekitar peti. Ribuan karyawan mengucap duka silih berganti. Ribuan menit pula aku harus menahan tangis.


Kematian Adolf ditayangkan eksklusif di beberapa stasiun televisi swasta, mengingat dia memiliki beberapa investasi besar di bidang industri hiburan. Ragaku tak sanggup terus menerus tersorot kamera, selaku ahli waris satu-satunya. Aku butuh privasi untuk sekedar memeluk tubuh Adolf mencurahkan kasih sayang untuk terakhir kalinya.


Aku bukan Jason yang bebas berekspresi. Aku kaku hanya untuk mengucap salam perpisahan dalam kematian di depan umum. Aku tak mampu meski aku ingin.


"Hei, menangislah jika kau ingin." Seolah tahu Amanda yang sedari tadi berdiri di sampingku berbisik lirih.


"Aku...aku...." Aku tak mampu menyelesaikan kata, aku berakhir memeluk Amanda.


"Aku tahu betapa terpukulnya kau, meski sebentar Adolf mampu membuat ruang dihati kita." Ujar Amanda sambil mengusap punggung ku penuh kasih.


"Ikhlaskan Ji, Adolf bahagia di akhir hayatnya berkat bantuan mu. Setidaknya dia tak dijemput malaikat maut dalam kesepian. Mungkin sekarang Adolf sudah bahagia dengan keluarganya disana." Amanda terus membisikkan kata penenang.

__ADS_1


"Kau istirahatlah sebentar, sedari tadi berdiri disini, biar Daddy yang gantikan." Suara Daddy terdengar dari arah kanan ku.


"Benar apa yang dikatakan Daddy, kau bahkan belum makan, ayo aku antar." Tawar Amanda.


Secepat kilat rasanya, waktu berjalan saat ini. Kami tiba di pemakaman keluarga Adolf, dan siap mendampinginya di kebumikan. Beragam ekspresi dituangkan untuk menemaninya di tutup tanah perlahan. Mata enggan untuk sekedar berkedip, aku ingin menyaksikan proses penguburannya sampai tanah mencuat.


Sepanjang perjalanan pulang tak ada seorangpun yang bersuara. Hanya saling menggenggam tangan dan memandang ke luar jendela. Rasa ini baru bagiku, rasa kehilangan untuk selamanya. Teramat perih, sampai tak mampu sekedar berucap.


"Daddy putuskan untuk menginap sementara waktu di mansion mendiang Adolf, untuk mengubur rasa rindu bersamanya." Ucap Daddy tepat saat turun dari mobil.


"Baiklah, sekarang lebih baik kita masuk." Mommy menimpali setelah cukup lama karena semua bisu tak ada sahutan.


Seluruh pelayan rumah bingung harus bertindak bagaimana, mereka berkabung tapi harus tetap melayani kami semua. Hingga hati lembut Amanda berbisik lewat mulutnya memintaku untuk memberi kelonggaran masa duka agar tak sibuk bekerja. Semua pelayan diminta berkumpul di ruang tengah, dan berdoa bersama.


"Aku harap dia kita di dengar Tuhan." Daddy memulai pembicaraan setelah acara doa bersama usai.


"Untuk semua pekerja Adolf, masa duka bukanlah hal mudah untuk dilupakan, tapi aku minta tetaplah semangat dan bahagia sebagai balasan atas jasa Adolf selama hidupnya. Jangan terus-terusan dalam kondisi terpuruk, yang membuat kepergiannya terasa berat." Papar Daddy bijak.


"Sementara waktu semuanya bisa istirahat, kita dalam suasana duka, kita maklumi." Daddy meliburkan semua karyawan.


"Maaf tuan, kami tidak bisa, amanatnya kami harus tetap setia kepada tuang Gerlard dan keluarga." Ucap salah satu pelayan yang aku belum tahu namanya.


"Benar tuan, maaf jikalau lancang, kita berterima kasih dengan kelonggaran yang diberikan tapi kami tidak mungkin menerima itu." Timpal pelayan pria.


"Maaf tuan, ini ada sepucuk surat dari mending yang baru sempat saya berikan." Seorang pelayan memberikan surat titipan dari Adolf.


"Kapan dia memberikan ini padamu?" Tanyaku penasaran.


"Sehari sebelum tuan meninggal." Jawabnya tak berani menatap mataku.

__ADS_1


"Baiklah, kalian semua boleh meninggalkan tempat. Silahkan meluangkan waktu sesuka hati kalian, jangan terlalu di paksa." Amanda ingin memberi ruang lebih privasi bagi kami untuk membaca surat dari Adolf.


Satu persatu pelayan mansion melangkah menjauh dari ruang tengah. Kami yang semula berdiri kini duduk dengan rapi tanpa komando. Seolah semua paham surat itu sangat ingin segera dibaca. Dan isinya sangat ingin di dengar.


Jason sempet berseteru dengan Daddy tentang siapa yang berhak membaca surat dari mendiang. Entahlah, semenjak kepergian Adolf, Jason bertindak seperti orang yang paling terpukul atas kepergiannya. Akhirnya aku mengalah, biar Jason tak berkecil hati. Karena mungkin tanpa sepengetahuan kami, mereka lebih dekat daripada anggota keluarga lainnya.


Jason membacanya dengan suara yang dapat kami dengar dengan baik, isi surat itu berbunyi seperti nyanyian merdu yang menyihir kami menitiskan airmata.


...****************...


*Jason aku tahu pasti ingusmu sangat tak elok waktu menangisi kepergian ku. Kau pemuda egois pertama yang selalu meladeni tingkah orangtua ini, rasanya aku tak ingin mengucap salam perpisahan denganmu, tapi nampaknya melihat kau meraung menangis cukup seru dari atas langit sana.


Gerlard anakku terkasih, kau adalah manusia kiriman Tuhan paling indah yang pernah ku dapat. Kau mampu membuat hariku yang sepi menjadi berarti dengan menjadikan ku keluarga. Kau manusia sempurna untukku, terimakasih nak, kelak kau jauh lebih bahagia di hari tuamu bersama Amanda dan anak-anakmu. Aku jamin itu.


Justin dan Jessica kalian telah melahirkan anak-anak luar biasa. Terimakasih tidak menganggap ku orang lain saat ditengah-tengah kalian. Terimakasih tidak bosan mendengar celoteh mulut renta ini.


Amanda ku sayang, jaga Gerlard baik-baik. Jangan membuatnya koma untuk kedua kalinya. Aku mendendam padamu untuk itu. Tapi aku bersyukur karena Gerlard koma aku bisa menemukannya.


Dalton dan Carmila kalian harus waspada ekstra tinggi, anakmu memiliki kelainan. Danda sering mengabaikan ku sebagai manusia tua. Aku takut semasa kalian tua akan dibuangnya di panti jompo.


Untuk Danda aku tak sanggup berkata-kata, kenapa ada manusia sedingin dirimu. Banyak-banyaklah bergaul kau tidak seru bahkan untuk sekedar bertanya sudah makan atau belum.


Sudah ya, tangan jompoku malas untuk menulis. Jangan kangen, salam hangat* Adolf Justin manusia tua yang tampan.


...****************...


"Hahahaha..haha.... Kau benar, Danda memang punya kelainan." Daddy terbahak sambil memegangi perut.


Awalnya semua menatap Daddy dengan alis terangkat, lambat laun suara tawa menghiasi raung tengah. Dasar manusia tua sempat-sempatnya melawak sebelum meninggal.

__ADS_1


__ADS_2