Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
FIRST DAY WITHOUT HER


__ADS_3

Seorang wali hidup selalu menjadi manusia paling sibuk jika menyangkut kesuksesan langkah yang di tempuh orang terkasih. Aku tak pernah turut andil dalam mempersiapkan keperluan kampus sebelumnya. Untung saja Amanda masuk di pertengahan semester sehingga tidak perlu mengikuti orientasi kampus, aku tidak bisa membayangkan apa yang harus aku persiapkan jika Amanda melewati itu.


“Ji, tolong sadar aku bisa telat jika kau terus-terusan seperti ini.” Celetuk Amanda di tengah aku mempersiapkan keperluan kampusnya.


“Jiji, ayolah aku berangkat duluan saja kau terlalu lamban.” Ancam Amanda yang dibarengi dengan tingkah mulai meninggalkan kamar.


Aku hanya diam tak menggubris perkataan Amanda sedari tadi. Aku heran kenapa ada wanita setidak sabaran sepertinya, bukankah Amanda harusnya membantu ku untuk mempersiapkan keperluannya. Dan aku yakin dia tidak dapat pergi ke kampus dengan sendirinya tanpa aku atau perintah dariku. Jadi sekarang mari fokus bersiap untuknya.


Usai dengan persiapan yang aku lakukan, kini aku melangkah pasti menuju lantai utama untuk menemui Amanda yang aku yakin berada disana. Entahlah hanya dengan membantu hal kecil seperti persiapan keperluannya untuk pertama kali ke kampus membuat ku sebahagia ini, ya walaupun ada sedikit rasa cemas. Menginjak anak tangga terakhir aku mendengar suara gaduh Amanda dan Mommy di beranda Vila, maka aku bergegas untuk menghampiri mereka.


“Ada apa ini kenapa gaduh sekali.” Komentar ku setelah sampai di kerumunan keluarga.


“Ada apa, ada apa, sudah tahu salah masih berpura tidak tahu.” Balas Mommy dengan pandangan membunuh yang dilayangkan kepada ku.


“Apa yang salah dengan ku Mom, aku bahkan baru saja turun.” Ujarku sebagai bentuk pembelaan.


“Kau tahu ini pukul berapa, apa yang kau lakukan bukannya cepat mengantar Amanda ke kampus malah berlama-lama di kamar.” Hardik Mommy tanpa mengetahui hal baik yang sudah ku perbuat.


“Mom aku lama karena semua persiapan kampus Amanda hanya aku yang melakukannya, jadi jangan rewel sekarang beri aku jalan supaya bisa mengantar Amanda ke kampus.” Kata ku sembari menenteng barang yang harus Amanda bawa ke kampus.


“Tunggu dulu.” Cegah Mommy saat aku berjalan melewatinya.


“Apa lagi Mom, tolong jangan memperlambat orang untuk menuntut ilmu.” Aku mulai kesal dengan kelakuan orangtua ku sendiri di pagi hari.


“Apa yang kau bawa itu?” Tanyanya dengan raut heran yang kentara.


“Tentu saja ini semua barang yang di butuhkan Amanda saat di kampus nanti.” Aku dengan baik hati menjelaskan hal yang sudah jelas jawabannya mengingat dia adalah Mommy ku.


“Memangnya Manda akan kuliah di luar negeri, mengapa banyak sekali barang yang kau bawa Gerlard.” Mommy merampas paksa tas yang aku jinjing dan mengeluarkan isinya satu persatu.


“Mommy kenapa anarkis sekali, tolong jangan menjadikannya berantakan setelah aku repot mempersiapkannya.” Ujarku memohon.


“Kenapa banyak sekali makanan yang kau bawa, kenapa ini ada konsol game, ini ada P3K, untuk apa uang tunai sebanyak ini, dan anak kuliah mana yang membawa pistol ke kampusnya Gerlard? Kau membuat tensi Mommy naik saja.” Teriak Mommy di akhir kalimat.


“Ayolah Mom, apa perlu aku menjelaskannya. Sudah jelas Amanda suka makan jadi aku berjaga-jaga supaya dia tidak kelaparan, Amanda mudah bosan jadi aku membawakannya konsol game, dan perlu diingat Amanda itu ceroboh dan selalu terluka makanya aku membawa P3K untuknya, uang itu penting saat dia ingin belanja atau mentraktir kawan kampusnya, dan satu lagi pistol itu sangat penting siapa tau ada orang yang mengincar Amanda Mom.” Jelas ku secara rinci.


“Kenapa kau tidak memberinya pelayan, dokter, dan pengawal sekalian Ge?” Tanya Mommy kesal.


“Semuanya sudah ada Mom, hanya saja aku masih cemas melepas Amanda ke kampus.” Jujur ku pada akhirnya.


“Sudah, jika terus seperti ini kapan kuliahnya?” Amanda mengeluarkan suara frustasi dengan kekacauan yang ada.


“Sabar sayang tahan jangan kesal ya, anak cantik anak pintar tidak boleh marah ya, biar besok mommy yang urus semua keperluan kamu ya, dan tenang saja karena mommy lebih berpengalaman.” Bujuk Mommy melihat Amanda yang mulai melempar asal tas jinjingnya ke dalam mobil dan melepas sepatunya seperti anak kecil yang ngambek.


“Dengar aku tahu kalian sayang dengan ku, aku mohon ijinkan kali ini aku kuliah dengan caraku, cukup awasi aku dari jauh, aku janji akan langsung meminta pertolongan kepada kalian jika terdesak, jadi tolong biarkan aku seperti anak kuliah pada umumnya, dan sekarang aku akan berangkat dengan Joseph jangan ada yang mengikuti ku.” Perintah Amanda tak ada yang mampu menolak, bahkan aku hanya mengiyakan permintaanya dengan sebuah anggukan kepala.


Seperginya Amanda ke kampus, rasa khawatir mulai menyerbu pikiran ku. Aku tak tenang bahkan melewatkan sarapan ku, Amanda menolak sarapan dan membawa barang yang telah aku siapkan dengan susah payah. Alhasil aku kembali ke kamar Amanda sambil memonitoring pergerakannya melalui GPS yang aku pasang di beberapa barang yang dikenakannya termasuk telepon seluler miliknya.


Satu jam lamanya aku menunggu kepulangan Joseph selaku supir yang di pilih Amanda untuk mengantarnya ke kampus pagi ini. Aku sampai tak habis pikir kenapa Amanda memilih lelaki paruh baya itu, lihatkan sekarang sudah satu jam belum kembali padahal hanya ditugaskan untuk mengantar. Jika Amanda meminta ku untuk mengantarnya mungkin tidak akan selama ini, dasar wanita suka seenaknya saja.


“Luna tolong kau bereskan kamar Amanda, dan siapkan makanan bergizi untuk menyambut kepulangannya dari kampus sore nanti.” Titah ku pada Luna yang sudah berdiri tegap disisiku sedari tadi.


“Baik tuan, tapi sebelumnya saya izin bertanya apakah ada makanan khusus yang nona Amanda tidak bisa mengkonsumsinya?” Pertanyaan bagus yang di lontarkan Luna membuatku seketika ingat.

__ADS_1


“Ah kau benar, jangan pernah memasukkan kepiting dalam menu makanan kita untuk selamanya, lalu dia tidak suka susu kedelai, terakhir jangan sampai kau lupa menyediakan pisang setiap hari untuk konsumsinya.” Titah ku pada Luna.


“Baik tuan, saya mohon diri untuk mempersiapkannya.” Pamit Luna setelah tahu apa yang harus dilakukannya.


“Satu lagi Luna, tolong suruh Joseph menemui ku saat tiba nanti.” Pesan ku yang di jawab apik oleh Luna kemudian diakhiri dengan senyuman di akhir katanya.


Kepergian Luna semakin membuat ku merasa cemas, akhirnya aku menelpon Danda yang sudah mulai aktif bekerja di kantor sepekan lalu, “Hallo Dan.” Sapa ku setelah tersambung.


“Ya ada apa, pagi sekali sudah menelpon?” Tanya Danda di seberang sana.


“Aku hanya meminta saran.” Ucapku mengharap responnya.


“Saran apa?” Tuntut Danda tak sabar.


“Menurutmu haruskah aku menjadi dosen di kampus Amanda untuk mengawasinya saat kuliah?” Aku meminta saran Danda karena aku rasa dia paling waras di keluarga kami.


“Tidak sekalian membuat universitas untuk kuliah Amanda?” Pertanyaan sekaligus saran apik dari Danda yang belum sempat terpikir olehku.


“Haruskah?” Anganku mulai menyusun strategi pembangunan.


“Stop berpikir kau akan mewujudkan apa yang aku katakan barusan Ge, ingat Amanda benci jika kita terlalu campur tangan dalam kehidupan sosial dan pendidikannya.” Jelas Danda si pemberi ide sekaligus mematahkannya.


“Kau benar, lantas aku harus bagaimana, kau tak tahu seberapa cemasnya aku sekarang.” Jujur ku pada Danda yang di balas dengan dengusan nafas di sebrang sana.


“Kenapa kau dramatis sekali akhir-akhir ini, aku pikir Amanda akan baik-baik saja di kampus mengingat ada seratus orangmu hanya untuk mengawasi dan melaporkan tindakan Amanda tiap detiknya, ditambah kau sudah berjanji tidak akan mengusiknya jika Amanda setuju untuk kuliah lagi, dan asal kau tahu aku sampai bosan mengingatkan hal ini berkali-kali padamu.” Danda dengan ceramahnya yang itu-itu saja.


“Iya aku tahu, tapi kau tidak akan tahu rasanya. Bayangkan Amanda orang asing di negara ini, dia selalu menempel padaku hampir 24 jam dan sekarang dia pergi seharian tanpa aku disisinya, tidakkah kau tahu perasaan ku?” Aku meluapkan tentang yang aku rasakan saat ini.


“Sudah dulu ya Ge aku ada rapat.” Ucap Danda memutus sambungan telpon kami tanpa persetujuan dariku.


Kesal dengan tingkah Danda aku dikejutkan dengan nafas Joseph yang tersengal menghampiriku,” Ada apa kenapa terburu menemuiku apa ada sesuatu yang terjadi pada Amanda?”


“Bukankah tuan meminta saya untuk segera menemui anda saat tiba di vila tuan.” Jawabnya dengan nada tak imbang karena nafasnya yang masih tersendat.


“Minumlah.” Aku memberinya botol mineral dan memintanya lebih rileks supaya aku dapat informasi dengan jelas.


“Maaf tuan saya sedikit terlambat, dan izin menyampaikan saya tidak bisa mengemudi dengan kecepatan biasanya karena permintaan nona Amanda.” Jelas Joseph mengenai keterlambatannya.


“Lalu apakah Amanda aman sampai tujuan?” Tanya ku lanjut.


“Tentu tuan, saya sudah memastikannya dengan mata kepala sendiri.” Imbuhnya lagi.


“Oke, kau boleh kembali ke tempat mu.” Titah ku.


Kegiatan ku seharian ini hanya memonitor apa yang dilakukan oleh Amanda. Berdasarkan laporan yang aku peroleh sejauh ini masih aman, hanya saja aku tak suka beberapa cara pandang laki-laki di kelasnya terhadap Amanda. Dan aku dikejutkan dengan laporan bahwa Amanda dapat berbaur dengan apik dan memiliki teman baru di hari pertama kuliahnya. Lapar mulai menyerang ku tepat pukul tiga waktu Denmark setempat, aku dengan berat hati beranjak dari kamar Amanda menuju ruang makan.


Di ruang tengah aku melihat Daddy sedang asik bercengkrama dengan Mommy. Mereka duduk bersebelahan di kursi santai dengan di temani aneka biskuit dan secangkir teh hangat. Aku menyempatkan diri untuk menghampiri mereka sebelum ketujuan awal ku untuk makan.


“Dad, Mom boleh aku bergabung?” Izin ku karena terkadang mereka menolak orang tambahan jika sedang tidak ingin diganggu.


“Tentu saja boleh sayang, lagi pula kami sedang membahas mu sedari tadi.” Jawab Mommy riang.


“Pantas saja aku diizinkan menggangu waktu berduaan kalian ternyata aku bintang bibir saat ini.” Dumel ku sedikit tak terima.

__ADS_1


“Lihat Dad, bukankah sekarang sifat Ge sedikit mirip dengan Amanda.” Bukannya menimpali perkataan ku mommy malah meledekku.


“Tentu saja mirip, karena mereka berjodoh.” Sahut Daddy dengan senyum-senyum mencurigakan.


“Jangan tersenyum seperti itu Dad, kau menyeramkan.” Ujar ku jujur.


“tidak usah seperti itu bahkan Amanda bilang Daddy lebih tampan saat tersenyum.” Sahutnya tak mau kalah.


“Terserah Daddy saja aku hanya mengingatkan, dan tolong beritahu aku apa yang sedang kalian bicarakan mengenai ku saat ini.” Rayu ku penasaran dengan percakapan mereka yang tak ku dengar.


“Tentu saja tentang pernikahan kau dengan Amanda.” Mommy berkata seolah kami berdua sudah siap tentang pernikahan.


“Jangan mengada-ada Mom, Amanda belum selesai kuliah.” Jawab ku tak habis pikir dengan mereka.


“Daddy sudah sepakat dengan Mommy jika kalian akan menikah tahun ini, dan itu mutlak tidak dapat di ganggu gugat.” Ujar Mommy sambil beralih dari duduk kini memeluk Daddy dan memalingkan wajahnya dariku.


“Tidak bisa Mom, aku sudah janji untuk mengantarkan Amanda ke jenjang kuliah baru akan menikahinya, dan aku pantang ingkar janji.” Aku memberitahu mereka tentang kesepakatan aku dan Amanda beberapa pekan lalu.


“Amanda kan sudah kau kuliahkan, berarti kau tidak ingkar janji sayang.” Sanggah Mommy akan argumen yang baru saja aku lontarkan.


“Mom, ayolah Amanda belum genap sehari menghabiskan waktu kuliahnya. Aku takut dia akan membenci ku jika aku terlalu memaksakan kehendak.” Aku harus fokus saat melawan argumen Mommy jika tidak ingin kalah.


“Kau tahu, menurut laporan orang-orangku di hari pertamanya saja sudah ada laki-laki yang kagum dengan Amanda, lalu esok berubah menjadi ketertarikan yang menjurus ke rasa cinta, jika sudah seperti itu apa kau tidak khawatir, Mommy seperti ini juga untuk kebaikan kalian.” Mommy berkata tanpa beban menyisakan aku yang kini membayangkan skenario terburuk dari kelanjutan argumen tersebut.


“Mommy ada benarnya, tapi tidakkah semua terlalu cepat?” Ujar ku sedikit ragu.


“Sekarang Mommy tanya, butuh berapa lama untukmu mencintai Amanda sampai sedalam ini? Tidak lama bukan. Mommy rasa begitu pula dengan lelaki diluaran sana, jadi untuk berjaga-jaga saja bukankah menikah akan lebih baik, Amanda juga masih bisa kuliah setelah menikah, ingat firasat seorang ibu tidak pernah keliru.” Dugaan Mommy membuat aku semakin ketar-ketir setelah mendengarnya.


Setelah mendengar petuah Mommy rasa lapar yang tadi sempat singgah kini sirna tergantikan dengan kecemasan. Aku tahu aku mungkin sedikit berlebihan menanggapi ucapan Mommy, tapi aku juga tidak memungkiri perkataan Mommy kemungkinan dapat terjadi, dan aku tidak menginginkannya.


“Aku pulanggg....” Suara Amanda membuyarkan lamunan sesaatku.


Aku langsung berdiri menghampirinya berharap menjadi manusia pertama yang memperoleh dekapannya setelah belajar. Namun kenyataan menghancurkan hatiku yang lembut ini, karena Amanda hanya memberiku senyuman manisnya lantas melewatiku begitu saja dan menuju Mommy lalu Daddy. Lihat bahkan sekarang dia duduk di tengah antara Daddy dan Mommy sambil menceritakan kesenangannya di kampus tadi, tanpa ingat aku seorang disini yang masih setia menatapnya dari posisi berdiri.


“Oh yan Mom dan Dad nanti kita berbincang lagi saat makan malam boleh? Amanda ingin mandi dan istirahat sejenak.” Pamit Amanda setelah merasa cukup berbagi kebahagian dengan mereka tanpa aku.


“Bisakah tinggal sedikit lebih lama, Daddy suka mendengar kisahmu hari ini.” Daddy dengan ketidakrelaannya.


“Sebenarnya Amanda juga ingin seperti itu, tapi tidakkah Daddy sadar lihat Jiji sebentar lagi sepertinya akan menangis jika Amanda tetap disini.” Kata Amanda dengan santai memfitnah ku.


“Hahahahahhaha, kau benar sayang ya sudah sana urus bayi besarmu dulu.” Tangan Mommy mengulurkan Amanda ke arahku yang ku terima dengan riang.


Kini kami berada di kamar mandi Amanda, aku berada di pinggiran bath up menyaksikannya mandi dengan busa melimpah. Amanda bilang ingin ditemani olehku karena dia rindu seharian tidak melihat muka ku, jadi sudah tahukan kalian siapa sebenarnya yang jatuh cinta lebih dulu.


“Hei, kenapa melamun?” Amanda bertanya sembari ujung jemarinya yang dingin menyentuh permukaan kulit wajahku.


“Tidak, aku hanya sedikit lelah.” Aku berharap suaraku tidak tersendat karena kaget dengan sensasi dingin dan perasaan lembut yang kini mengalir di pikiranku.


“Maaf memintamu dengan egois menemani ku untuk mandi sedang kau sendiri saja kelelahan dengan pekerjaan mu.” Ujar Amanda tak menghentikan kegiatannya menyentuh pipiku dengan jemarinya.


“Kau tahu, apa bisa aku menolak sekecil apapun permintaan mu kan.” Ungkapku agar lebih jelas bagi Amanda bahwa dia selalu nomer satu bagiku.


“Ya aku jauh lebih tahu.” Jawab Amanda lembut, baginya aku tak perlu banyak bicara karena perlakuanku padanya sudah dapat menjadi bukti kasih itu sendiri.

__ADS_1


Aku tak mampu berkata lagi, karena aku terjerat dengan keindahan dua bola matanya yang kini tengah menatap ku hangat. Aku bahkan tidak pernah berpikir jika di dalam kamar mandi bisa menjadikan suasana seromantis ini. Suasana ringan penuh kehangatan dengan diiringi lantunan lagu kesukaan Amanda, dan hanya kami berdua yang sibuk menyelam dalam momen. Sekian detik kemudian Amanda mendekatkan wajahnya ke wajahku dengan jemari yang masih betah mengelus rahangku, dan detik berikutnya Amanda menyatukan bibir kami. Rasanya aku melayang dengan sentuhan seringan kapasnya, sentuhan yang mampu membuat ku lupa dengan gelapnya kehidupan dunia. Aku tahu kata yang diucapkannya sambil mencium ku, dan kata itu adalah ucapan terimakasih terindah yang pernah aku terima.


__ADS_2