Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
POWER OF MONEY (Part 2)


__ADS_3

Dewasa ini aku sadar, jikalau pendidikan formal tidak amat penting untuk sebagian orang. Tapi mau bagaimana pun, dengan adanya pendidikan yang terskema dapat menciptakan bibit-bibit unggul. Oleh karenanya, aku mewajibkan Amanda supaya ikut serta dalam bangku kuliah walaupun sedikit telat. Semua itu karena aku sadar bahwa calon penerusku butuh ibu yang terdidik, seperti kata pepatah bahwa anak cerdas berasal dari didikan orangtua terutama ibu.


Serangkai persiapan untuk lanjutan kuliah Amanda yang sempat terhenti akibat kejadian memilukan yang menimpa keluarganya telah siap, dan pendidikan formal lanjutannya dimulai dari hari ini. Antusias keluarga kami mendukung kegiatan belajar Amanda terlihat dari semua anggota keluarga yang absen mengawasi studi Amanda hari ini di Vila. Memperhatikan pergerakan Amanda saat belajar sangatlah elok, siapa sangka wanita yang aku anggap hanya bisa menangis dan mengambil hati semua orang ternyata cukup mumpuni di bidang akademik. Bukan hanya aku yang terkejut, semua anggota keluarga bakhan Luna ikut tercengang, saat melihat Amanda mampu mengikuti pelajaran yang diberikan oleh dosen-dosen itu. Aku pikir hanya satu kesulitannya yaitu bahasa. Hal itu jelas mengingat bahasa negara kami berbeda.


Tiba saatnya untuk rehat, Amanda menyempatkan diri menemui kita yang sedari tadi hanya memonitornya dari lantai dua. Usai belajar mungkin ada sebagian otak Amanda yang syok. Tiba-tiba saja dia menjabat tangan daddy kemudian mommy lantas disusul kami bertiga. Tentu saja mendapat tatapan tanya dari kami selaku korban jabat tangan secara tiba-tiba.


"Ada apa, kenapa raut wajahnya kompak penuh keheranan?" Tanya Amanda ikut heran dengan respon dari kami.


"Emm, kenapa Amanda menjabat tangan kita semua? Maksudnya apa?" Mommy bersuara, sedang kami tanpa komando kompak menganggukkan kepala seolah setuju dengan pertanyaan yang dilontarkan mommy.


"Ah, aku lupa. Jadi mencium tangan orang yang lebih tua sepulang sekolah atau ketika akan berangkat sekolah ada rutinitas wajib dulu saat aku masih di Indonesia." Tukas Amanda, sekaligus mengenalkan budaya negaranya.


"Benarkah?" Tanya daddy singkat.


"Benar daddy, bahkan itu adalah suatu tanda penghormatan dari aku sebagai anak kepada orangtua." Ucap Amanda yang awalnya berdiri dihadapan kami, kini menyempil diantara aku dan mommy.


"Wow, aku merasa bangga ternyata kau masih menghormati ku juga." Ucap Jason sambil mencondongkan badannya sedikit ke depan karena posisi kami yang duduk sejajar, sehingga sulit baginya untuk menatap Amanda saat bicara.


"Bukan hanya menghormati, aku bahkan sangat mencintai kalian. Tanpa kalian aku mungkin hilang arah dan kendali." Kata Amanda santai, seolah tak mengerti bahwa perkataan singkatnya menyayat hati kecilku yang lembut ini.


Amanda tidak tau bahwa perkataannya barusan mampu menyentuh titik sensitivitas dari kami semua. Entah kenapa karena ucapannya menjadikan suasana sedih. Dan menciptakan keheningan dengan pikiran masing-masing individu. Terutama Daddy yang selama ini sangat mengidamkan anak perempuan, membuat reflek daddy menitikkan air mata saat Amanda selesai berujar.


"Ayolah, kenapa kalian aneh semua hari ini. Kenapa juga sekarang jadi terlihat seperti orang berduka?" Ucap Amanda yang sukses kami abaikan tanpa jawaban.


"Guys, jangan seperti ini kalian membuatku takut." Dan masih tak ada sahutan dari kami.


"Arghhh..... Amanda kenapa mencubit?" Sungguh rasanya lebih sakit daripada menahan pukulan preman jalanan, apakah sakit cubitan termasuk kelemahan ku? Aku berharap tidak ada satu musuh ku yang menggunakan metode mencubit saat melawan ku kelak.


"Habisnya tidak ada yang menjawab." Jawabnya dengan bibir yang mulai maju beberapa inci.


"Ya kenapa harus aku yang kau cubit?" Ucap ku tak terima, kenapa dari sekian orang yang ada disini hanya aku yang menjadi korban cubitan mautnya.


"Ya siapa lagi, aku tak mungkin mencubit mommy." Kata Amanda yang kini tangannya mulai aktif mengelus bekas cubitannya di tangan kiri ku.


"Amanda lapar apakah kalian tidak ada yang bersedia menemani untuk makan siang?" Amanda berdiri mendahului kami ke ruang makan tanpa menunggu jawaban dari kami.


Di meja makan, kita sibuk membicarakan betapa bodohnya kelakuan orang satu rumah hari ini. Bagaimana tidak bodoh, jika saat akan makan siang belum ada satu pun sajian yang siap santap. Semua itu dikarenakan semua orang turut sibuk memperhatikan Amanda kuliah di vila. Dan pada akhirnya kami mengambil jasa antar makanan dari kafe terdekat.


Dari sini aku paham, bahwa tiap-tiap individu yang tinggal disini memiliki keperdulian terhadap Amanda. Mungkin tanpa sepengetahuan ku, Amanda menjadi akrab dengan mereka karena sifatnya yang selalu minta perhatian lebih dari setiap orang. Bahkan dengan adanya Amanda di kehidupan kami, aku tahu betul susana keluarga menjadi lebih hidup dan hangat. Kehidupan kami menjadi terasa lebih normal. Kegiatan dunia gelap pun tidak pernah kami tuangkan ditengah-tengah vila. Kami hidup layaknya manusia baik, yang dilimpahi anugerah hidup bahagia.


"Aku tak menyangka bahwa kau terlihat baik mengikuti pelajaran tadi." Celetuk Jason usai menelan ayam yang dikunyahnya.

__ADS_1


"Iya, mommy jadi bangga, bahkan enggan beranjak dari tempat agar terus memperhatikan kau belajar." Mommy menggebu dalam bercerita jika menyangkut Amanda seorang.


"Kalau begitu kenapa kalian tidak ikut belajar dengan ku saja, daripada hanya menonton. Lagipula kasihan dosennya mengajar hanya satu orang, bahkan rasanya aku bukan seperti belajar tapi sedang ujian skripsi. Jahat sekali memata-mataiku yang sedang menuntut ilmu." Dumel Amanda tak terima, atas perlakuan kami.


"Sudahlah, kalian ini ribut saja di meja makan, kita ini sedang mengisi energi, kalau bicara terus kapan penuh energi kita." Daddy berujar setelah diam sedari tadi.


"Maaf daddy, Amanda kelepasan, jadi tidak anggun lagi citra Amanda di depan daddy." Percaya diri sekali Amanda berucap demikian, yang diakhirin dengan cengiran andalannya.


"Uhukkk, ukhh.. yak minum!" Akibat ucapan Amanda aku tersedak.


"Jangan buru-buru makannya Ji, tidak akan ada yang merebut juga." Tangannya mengelus punggung ku, sambil menyodorkan segelas air putih untukku.


"Aku tersedak bukan karena makanan, aku tersedak karena kepercayaan dirimu. Tolong garis bawahi, sejak kapan kau anggun. Bukannya kau amburadul dalam semua bidang?" Protes ku tak terima.


"Dasar, begini-begini juga calon istrimu. Sudah jangan banyak protes nanti tidak dapat jatah." Celetuk Amanda yang membuat semua orang tersedak berjamaah kecuali aku.


“Amanda sayang jatah apa yang kau maksud, jangan bilang selama ini kalian sudah menyicil untuk memberikan kami cucu?” Tanya mommy penuh harap bahkan sampai berpindah tempat mendekati Amanda dilanjut dengan kegiatan tangan mommy yang mulai mengelus peut Amanda.


“Membuat cucu bagaimana?” Heran Amanda dengan tingkah mommy dan raut muka keluarga yang ada di meja makan.


“Jatah?” Kata mommy pendek.


“Mommy sudah berharap lebih, ternyata hanya tipuan Amanda. Harap maklum mom, Amanda masih kecil wajar jika pikirannya belum menjurus kearah sana.” Petuah Jason masih dengan mulutnya yang sibuk mengunyah ayam.


Makan siang tlah usai, tiba saatnya Amanda melanjutkan studinya bersama dengan para dosennya. Jika tadi semua anggota Vila ikut serta memonitornya, kini tersisa Daddy, Mommy, dan jason saja. Aku dan Danda harus menyelesaikan pekerjaan mendesak keluar vila dan berharap dapat kembali sebelum Amanda usai dengan studinya sore ini.


Diperjalanan aku dan Danda tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Kami fokus dengan kegiatan masing-masing, aku menyetir sedang Danda menghubungi orang kepercayaan kami di pelabuhan. Yap, kami berhasil menangkap tikus yang menggelapkan pasokan senjata yang kami jual.


“Kali ini siapa yang berani menusuk keluarga kita?” tanya ku setelah sampai di pelabuhan.


“Kau pasti tidak dapat menebaknya, kali ini kita kecolongan lumayan banyak.” Tukas Danda sengaja memberiku kejutan agar lebih murka saat mengetahuinya sendiri nanti.


“Oh ya, bagus kalau begitu. Tolong ingatkan aku untuk menghukumnya dengan cara yang paling kejam yang bahkan tak akan terlintas dalam benakmu.” Ujarku sembari tersenyum.


“Jangan tersenyum seperti itu di depan Amanda atau dia akan menangis melihatnya, aku saja bergidik ngeri apalagi dia dengan hatinya yang rapuh.” Saran Danda yang justru membuat emosiku turun mengingat tingkah konyol Amanda yang tiba-tiba terlintas.


Kami telah sampai di lokasi, aku melihat anak buah ku berjaga di sepanjang pintu masuk. Mereka menundukkan kepala dan mempersilahkan kami masuk lebih dalam ke area gedung terbengkalai ini. Disana aku melihat beberapa orang kepercayaan ku sigap menghampiriku dan sedikit menjelaskan duduk perkara yang ada. Cukup terkejut bagiku karena bajing*n ini cukup mumpuni menipu ku, mendengar kerugian yang menimpaku terbilang besar.


“Wow, siapa yang mengijinkan mu mengambil uangku?” Aku bertanya di depan muka cecunguk yang separuh tak berdaya akibat dihajar orang-orangku.


“Maaf tuan, semua karena saya tidak terima dengan perlakuan tuan yang menurut saya tidak adil terhadap saya.” Sahutnya dengan berani.

__ADS_1


“Oh ya?” Tanya ku sambil mulai menggores wajahnya dengan cincin yang ku pakai.


“Maaf tuan saya telah lancang.” Ujarnya dengan tubuh yang bergetar.


“Apa kau pikir uangku akan kembali dengan kata maaf dari mulutmu, apa dengan rasa takutmu yang sekarang akan membuat ku iba terhadapmu?” Muak aku dengan manusia jago drama sepertinya.


“Ijin bicara tuan, tapi apa bedanya saya dengan hacker tuan lainnya kenapa anda selalu menomor duakan saya saat anda ada proyek apapun, seolah saya bukan bagian dari anda?” Ujarnya dengan sedikit imbuhan isak tangis.


“Jangan hilang ingatan Jod, aku diam dengan tingkahmu selama ini bukan berarti aku tidak tahu apa yang kau lakukan di belakang ku, jadi jangan memancing ku dengan bertindak di batas toleransi yang kuberikan.” Aku yang mulai muak dengan cara Joddy memancing simpati ku untuknya.


Ku perjelas Joddy adalah salah satu hacker handal yang bernaung di bawah kendali keluarga kami. Kemampuan individu dan untuk kerja tim sangat mumpuni, tapi untuk kejujuran sangat nihil. Aku tetap mempekerjakan sembari mengesampingkan beberapa keluhan yang sampai ke telinga ku, karena mendiang orangtua Joddy memiliki peran penting dalam hidup ku. Dengan kata lain keluarga kami segan menyentuhnya sedari dulu karena hutang budi yang melekat di keturunan keluarga Joddy. Tidak banyak hal yang aku benci darinya, hanya saja Joddy sangat hobby dengan wanita, mabuk, narkoba, dan hal bejat lainnya. Hampir seluruh pekerja ku yang menarik perhatiannya dijadikan teman tidur baik itu pria ataupun wanita. Tapi sebagai manusia biasa, aku tergolong manusia yang sangat mencintai uang dibanding dengan orang tak berguna seperti Joddy. Jadi saat aku tau dia menggelapkan uang dalam jumlah tidak sedikit apakah tindakannya masih bisa dibenarkan.


“Jangan lupa dengan apa yang telah orangtua ku lakukan untuk anda tuan.” Tukas Joddy mengingatkan.


“Jangan membicarakan orang yang sudah mati, aku tidak berhutang denganmu.” Aku jengah mundur dua langkah dari hadapan Joddy kemudian menendang wajahnya sampai tubuh Joddy yang semula bersimpuh kini terjungkal.


“Kenapa anda menjilat ludah sendiri, bukankah anda tidak akan menyakiti orang yang memiliki jasa terhadap hidup anda tuan, saya hanya meminta keadilan.” Teriak Joddy tak tahu diri.


“Oh kau mau keadilan seperti aku menghancurkan Yamato sampai ke akar, atau kau mau aku membiarkan mu hidup seperti gelandangan yang di pandang rendah dan dilecehkan oleh orang-orang, atau pilihan paling bagus yaitu mati secara perlahan hah?” Aku membentak sembari menembak kaki kirinya.


“Akhhhhh, tidak tuan, ampun. Maaf saya lancang, saya dibawah pengaruh obat saat ini hingga memiliki keberanian untuk menggurui anda.” Jelas Joddy yang mulai sadar siapa yang dia lawan.


“Aku perintahkan kepada kalian untuk memberinya pelajaran, jebloskan dia di rumah sakit jiwa, jauhkan dengan semua elektonik dan hentikan semua sumber dana yang selama ini aku berikan kepadanya.” Lantang ku memberi arahan yang harus dilakukan orang kepercayaan ku di ruangan ini.


“Tidakkk, kumohon tuan kasihanilah aku.” Pinta Joddy dengan pilu.


“Ah, aku lupa jangan rumah sakit jiwa, kurung dia di penjara bawah tanah kita, masukkan dalam sel mandiri, cuci otaknya sampai kembali ke jalan yang benar, atau jadikanlah Joddy selangkah lebih dekat dengan Tuhan.” Memang opsi terbaik adalah membunuhnya mengingat orangtuanya berjasa untukku, jika terlalu disiksa terasa tak elok saja.


Akibat ulah Joddy aku harus melewatkan kelas sore Amanda, untung saja aku kembali tepat saat dosen-dosen meminta diri untuk pulang. Dan memperoleh pelukan hangat Amanda tentunya. Ah, rasa kesal ku meluap berganti dengan hati berbunga saat bersama Amanda.


“Bagaimana kelas mu sore ini, apakah menyenangkan?” Aku menanyai Amanda yang masih betah berada dalam pelukanku.


“Kau jahat sekali memborbadir otakku dengan memberi tiga dosen, delapan jam mata kuliah di hari pertama ku Ji.” Ucapnya dengan suara lelah.


“Maaf, aku hanya bangga dengan kemampuan mu makanya aku menambah dua jam terakhir sebagai hadiah untukmu yang sepertinya sangat menyukai belajar.” Samar ku atas dua jam tambahan yang diberikan dosen Amanda karena aku tak ingin Amanda tahu kalau saat dia melewati kuliahnya aku meninggalkan Amanda hanya untuk urusan tak penting.


“Hadiah yang sangat tak terlupakan, tolong pintar sedikit mana ada manusia senang belajar terus menerus, untung saya kepalaku tak meledak tadi.” Celoteh Amanda yang kuhadiahi dengan kecupan permintaan maaf di pipi gembilnya.


“Oh iya tiga orang profesor tadi memangnya sedang tidak ada kegiatan ya Ji, sampai memiliki waktu luang untuk mengajarku di rumah.” Tanya Amanda.


Aku hanya tersenyum membalas pertanyaannya. Amanda tidak perlu tahu berapa dana yang harus aku keluarkan untuk hari ini mengundang profesor terbaik di kampus Amanda sampai harus mengosongkan jadwalnya dikarenakan satu mahasiswanya yang telat bangun sehingga tidak bisa berangkat ke kampus.

__ADS_1


__ADS_2