Mafia Love Journey

Mafia Love Journey
Oh, Is This Love?


__ADS_3

Berhenti. Duniaku berhenti sekian detik saat memandang mata Amanda. Entah sadar atau tidak, aku yakin nafasku ikut terhenti saat menyelami bias indah di bola matanya. Mata yang memantulkan gambar wajahku, dan memberi kenyamanan secara bersamaan.


"Ji berhenti memandang mataku, aku malu." Ucapanya tersipu.


"Diam, aku sedang menganalisa bola matamu." Timpalku sekenanya. Untungnya aku pandai dalam mengendalikan diri, jika tidak aku yakin akan tergagap menjawab pernyataan Amanda yang menangkap basah kelakuanku.


"Memangnya mataku sakit ya Ji, aku rasa semuanya normal-normal saja." Amanda melebarkan bola matanya lalu berkedip-kedip sesering mungkin untuk memastikan bahwa matanya dalam kondisi baik.


"Normal dari sudut pandangmu, tapi tidak dari hasil analisa yang sedang kulakukan." Aku tak tahu ada untungnya Amanda mudah dibohongi.


"Begitu ya, apa sudah selesai analisanya?" Amanda penasaran.


"Ini sangat sulit untuk dianalisa jika dengan jarak pandang terlalu jauh." Apakah aku terlalu banyak mengambil keuntungan, aku rasa tidak.


"Jauh bagaimana, aku rasa jarak kita sangat dekat. Aku bahkan kegeliaan karena nafasmu mengenai wajahku saat bicara, dan menyingkirlah badanmu berat." Usirnya tak tahan lama kelamaan.


Ya, kami masih di posisi yang sama setelah adegan untuk memanasi Danda si sepupu dengan kegemaran luar biasa indahnya, yaitu mengambil milikku, bedanya kini Amanda sudah berpakaian utuh tidak seperti kepompong berbelit selimut. Aku bahkan tidak sadar jika tubuhku bergerak di luar kendali. Dari sekedar memberi kecupan seringan kupu-kupu di dahi Amanda, sekarang jauh lebih intim karena separuh tubuhku menimpa tubuhnya. Amanda benar, jarak padang kami bahkan tidak sampai sejengkal jemariku.


"Dasar lemah, aku belum menindihmu seluruh badan saja sudah banyak mengomel apalagi jika semuanya."


"Lagipula apa motivasimu menindihku sepenuh badan, sudah tahu badan berat tidak tahu diri."


"Mengataiku seenaknya saja, rasakan ini." Ku gelitik perutnya tanpa sedikitpun celah baginya untuk lolos.


"Hahaha ampun hahaha Jiji hahaha aku hahaha ampun Ji!!!!!!!!" Mohonnya disela tawa yang tercipta akan paksaan.


"Bagaimana aku bisa menghentikannya kau saja sangat bahagia sampai tertawa lepas seperti ini."


"Hahaha bodoh, haha Jiji hahaha sakit."


"Hey maaf, bagian mana yang sakit?" Aku yakin masih mengontrol diri saat menggelitiki Amanda, dan sekarang aku menyesal membuatnya merasa sakit.


"Sebelah sini sakit, sini juga sakit, berlebihan sekali bercandamu Ji." Ucap Amanda sambil menunjuk bagian pinggang dan perutnya.


"Singkap bajumu biar kupastikan memar atau tidaknya."


"Bantu aku duduk." Pintanya manja.


"Sesakit itukah, sungguh aku tidak bermaksud." Ujarku menyesal.


"Jangan mengajukkan pertanyaan bodoh, sudah bantu saja." Perintahnya tak sabar, terkadang orang sakit memang sedikit sadis.


Aku menarik lengan Amanda sedang tangan satunya ku gunakan untuk merangkul punggungnya agar memudahkan Amanda bangun dari posisi. Setelah memperbaiki posisi dan merasa nyaman secepat ninja Amanda menggigit bahu kananku, dan kedua tangannya yang bebas mencubit perut dan pahaku.


"Yak, kenapa anarkis sekali kelakuanmu. Kau wanita atau babon sih?" Sungguh rasa sakit yang ditimbulkan dari gigitannya luar biasa, ditambah dengan rasa perih bercampur panas di pahaku.


Jika untuk ukuran saat aku normal, mungkin saat ini Amanda hanya tinggal nama. Nama dengan tubuh bersimbah darah di atas ranjangku. Akan tetapi, saat ini aku keluar dari zona normalku bahkan lebih menikmati keabnormalan ini. Aku konyol dengan nada marah namun tetap menampilkan senyuman secara bersamaan kala melontarkan kalimat sarkas sekalipun.


"Kau yang mulai lebih dulu, aku kan sedikit pendendam jadi terima saja. Ku beri tahu rahasia, itu baru sebagian kecil dari aksi pembalasan yang aku lakukan. Kau tenang saja, akan banyak serangan-serangan yang tidak terencana dan entah dimana tempatnya. Waspadalah, waspadalah, waspadalah anak muda." Cerocos Amanda ditutup tawa puasnya karena berhasil mengelabuhi seorang Gerlard.


"Yakin bisa menyerangku?" Suaraku menyusun ejekan.


"Yakin seyakin yakinnya, kau barusan terlihat sangat kesakitan, jadi aku akan menambah kekuatan untuk serangan berikutnya kau tunggu saja." Ucapnya menggebu.


"Kau memang perlu menambah kekuatan, ah tidak kau harusnya menggunakan kekuatan penuh. Karena yang tadi terasa seperti gigitan semut, akan sangat sakit dan perih jika menggigit sesosok bayi."


"Tidak perlu berkelit, kalau sakit akui saja. Mimik wajahmu sudah menggambarkan semuanya."


"Jika begitu selamat kau bertemu dengan aktor papan atas sesungguhnya."


"Kenapa tidak sakit sih, menyebalkan sekali. Sana pergi malas rasanya melihat muka pendusta sepertimu."


Aku selalu puas mengerjai Amanda, karena sekecil apapun godaan yang ku lancarkan akan sangat menarik respon yang diberikan olehnya. Berhubung rasa peduliku pada Amanda begitu besar, akhirnya aku beranjak dari kenyamanan ini. Bergerak seberat mungkin ke arah pintu keluar, dan sebisa mungkin memutus kontak dengan Amanda, jika tidak meninggalkannya akan jauh terasa lebih berat. Katakanlah aku berlebihan, tapi mau bagaimana jika begitu kenyataannya.


Belum genap sepuluh langkah Amanda menarik ku kembali pada dunianya dengan suara khasnya, "Ji kau marah, mau kemana kenapa pergi sungguhan. Aku hanya bercanda, aku ingin ditemani."


"Siapa yang marah, bukan gayaku marah karena hal kekanakan begitu. Aku hanya butuh memanggil Lesi untuk menyajikan makanan karena perutku mulai meronta."


"Ah begitu, aku kira kau marah. Kalau benar tidak marah kemarilah, ada yang ingin ku sampaikan dan sedikit penting."


"Bisakah ditunda, aku butuh asupan."


"Sesuatu yang menyangkut dirimu mana mungkin bisa ku tunda."


"Kau sedang tidak mengelabuhi orang laparkan? Jika iya, ucapkan selamat tinggal untuk kehidupan."


Bukannya menyahut, Amanda berdiri menghampiriku. Sial...sial..sial, jantungku bertalu lebih cepat hanya dengan menyaksikan Amanda berjalan dengan menatap mataku. Apa kabar jantungku saat jemari lembutnya menggenggam lenganku, menarik ke arah ranjang, kemudian dia berbalik menekan bahuku menandakan aku harus duduk. Setelah keinginan Amanda tercapai, dengan lancarnya berkata" Apa kau sekarang berubah miskin, atau sedang akting menjadi manusia purba?"

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Orang lapar kadang memang sedikit bodoh. Kau punya handphone?"


"Jangan meremehkan ku soal fasilitas."


"Nah jika sudah tau fasilitas lengkap kenapa tidak digunakan sayang." Mendengar kata sayang pertama kali dari mulut Amanda mengakibatkan separuh kesadaranku terbang menyisakan rasa membuncah di dada.


Kesadaran terenggut untuk kesekian kalinya dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam. Saat ini bahkan aku tidak tau apa yang dilakukan Amanda setelah kata sayang terlontar. Lancang sekali wanita ini, memanggil dengan sebutan sayang sedang aku belum memulainya.


"Ji, Jiji..!!!!!!!!!!!!!!!!"


"Teriak, teriak seperti gadis rimba saja, tolong anggun sedikit bisa tidak?"


"Anggun bisa pada tempatnya, ini diajak bicara tidak ada respon sama sekali. Ku kira kau kerasukan."


"Kerasukan darimananya? Diam bukan berarti tidak mendengar hanya sedang berfikir saja." Elak ku kemudian.


"Ah mendengarkan rupanya, coba katakan apa yang kau dengar." Tantang Amanda.


"Kau hanya mengoceh tidak jelas untuk apa di dengar."


"Banyak alasan, dasar tuli."


"Mengoceh saja sampai berbusa, lebih baik aku memanggil Lesi untuk sajian kamar."


"Inilah orang salah tidak mau mengakui kekeliruannya."


"Mohon maaf dimana letak kekeliruannya."


"Aku sudah meminta bantuan Lesi untuk menyiapkan semua. Tiga menit lagi kurasa semua akan tertata disini." Jelas Amanda dengan sedikit bumbu emosi jiwa.


"Kapan kau menemui Lesi, sedang daritadi mengoceh disini."


"Hah, terserah kau saja. Lelah bicara dengan setengah idiot." Putus asa Amanda nampak jelas, membuatku berfikir sebodoh itukah aku saat ini, tapi kenapa.


"Hey, sensitif sekali. Jangan marah dan berputus asa kepadaku. Ayolah, hey berbaliklah jangan memunggungiku. Kau tahu tidak sopan seorang gadis bertindak seperti itu kepada calon suaminya, nanti terbawa sampai berumahtangga." Rayuan pertama kali dalam hidupku, yang terucap untuk seorang gadis yang saat ini duduk di ranjang yang sama namun enggan menatapku.


"Salah sendiri bodoh bertambah-tambah, menyebalkan." Sahutnya masih memunggungiku.


Ayolah, aku belum pernah menghadapi wanita merajuk seperti ini, jadi apa yang harus kulakukan. Sudahlah, kuputuskan memeluknya dari belakang, kemudian berbisik di telinganya," Hey, maaf jika aku menyebalkan, tapi berada di dekatmu melumpuhkan sebagian besar kerja otakku. Jadi bersabarlah kepadaku, sampai aku benar-benar dapat mengendalikan diri. Saat masa itu tiba maka izinkan aku untuk menjadi lelaki teromantis untukmu."


"Siapa yang sandiwara, aku serius mengucapkannya."


"Tapi rayuan mu mana mungkin sungguhan."


"Jadi menurutmu aku menipu?"


"Iya, makanya stop tipu-tipu."


"Iya, iya, sudah berhenti menangis seperti anak TK saja."


"Habisnya belum ada laki-laki yang mengatakan seperti itu kepadaku, aku jadi senang, saking senangnya aku menangis." Adunya seperti anak sekolah dasar bercerita, lurus penuh kejujuran tanpa tabir dusta di dalamnya.


"Memangnya tidak malu mengatakan isi hatimu secara gamblang kepada laki-laki yang bisa saja sedang bersandiwara ini."


"Mau kau bersandiwara atau sungguhan aku terlanjur senang jadi kau harus tanggungjawab jika tidak aku akan menghantuimu sampai kehidupan setelah mati."


"Kurang kerjaan sekali dirimu, mengikutiku sampai neraka."


"Ih, malas kalau ke neraka kan panas, ikutnya ke surga saja."


"Kau ini bodoh atau bagaimana, nenek peyot juga tahu kalau aku anggota tetap penghuni neraka, jadi jangan sampai memiliki niatan ikut kemana pun aku pergi kelak."


"Tidak bisa, ini tubuhku pokoknya suka-suka aku mau dibawa kemana. Kau manusia jahat jangan atur-atur."


"Baiklah, aku pegang ucapanmu. Jangan berani untuk menariknya walau satu tarikan nafas saja."


"Hm." Gumam Amanda akan pernyataanku.


"Haduh asupan romansa untuk mommy sangat memuaskan, ayo dilanjut." Kadang hidup memang butuh peran pengganggu untuk mengalihkan suasana, mommy adalah contoh nyata dari itu semua.


"Wow wow wow, sampai mommy diabaikan, kalian benar-benar ya." Ledek mommy yang entah kapan datangnya, dan untuk keperluan apa.


"Apasih mommy mengganggu anak muda saja, sana pergi urus kawan sosialita mommy saja." Sahut ku seolah kesal, ah tidak maksudku memang kesal.


"Boleh saja dimabuk cinta, tapi mohon maaf sebelumnya ini Lesi sampai duapuluh menit menunggu drama kalian, dan kalian masih betah berlama dalam posisi itu. Mommy bahagia kau bisa jatuh cinta, tapi jangan biarkan Amanda tidak makan juga."

__ADS_1


"Mommy maaf Amanda lupa belum makan, ayo kita makan." Ajak Amanda yang dengan tenaga babonnya melepaskan pelukanku.


"Mommy sudah makan, Amanda makan dengan Gerlard ya. Ini sudah dibawakan oleh Lesi. Ah Lesi tolong letakan makanannya di atas ranjang saja." Perintah mommy disertai gestur tangan khasnya.


"Tidak bisa mom, untuk apa meja di kamar jika makanan harus diletakkan di ranjang?" Tidak...tidak, aku tergolong orang yang menjaga kesucian ranjangku.


"Letakkan sekarang Lesi, semakin banyak mendengar Gerlard semakin lama proses konsumsi dilakukan."


"Baik Nyonya." Patuh Lesi pada mommy.


Tanpa dapat menyuarakan bantahan, Lesi sudah sigap menata sajian di ranjang. Aku siap mengumpat, akan tetapi semuanya tertelan kembali saat Amanda dengan riangnya ikut naik ke atas ranjang, dan mulai menatapku seolah memohon persetujuan. Jadi yasudahlah, jika sudah seperti itu mau bagaimana lagi.


"Nah sudah sedia, sekarang kalian makan. Mommy tinggal sebentar untuk laporan ke Daddy." Ucap mommy riang.


"Laporan apa mom?" Tanyaku heran.


"Jelas mengenai perkembangan pesat kisah cinta seorang Gerlard, memangnya apalagi?"


"Mom, ayolah tidak usah menggoda. Aku sudah cukup umur untuk itu semua." Kenapa harus laporan segala, aku bukan anak belasan tahun lagi.


"Makanya karena sudah tua, cukup menikah. Mommy laporan ke Daddy supaya persiapkan pernikahan termegah sepanjang abad." Beber mommy dengan skenarionya yang kadang diluar nalar.


"Mom, semua butuh proses jangan terlalu cepat." Aku bahkan baru merasakan gelenyar cinta, lanjutku dalam hati.


"Berisik sana makan, lihat muka Amanda sudah seperti kucing kelaparan yang menunggu majikannya. Ah mommy tidak sabar ingin menimang cucu dari Amanda." Lihat menikah belum sudah memikirkan cucu.


Kulirik Amanda lewat ekor mata, menggemaskan sekali mimik mukanya. Aku yakin dia sangat ingin makan, tapi ajaib sekali tidak menyentuh makanan sedikit pun seperti kebiasaannya yang tak bisa menunggu soal makan. Tanpa mengucapkan satu kata untuk mommy, aku bergegas menyusul Amanda di atas ranjang. Mengajaknya makan yang bersambut antusiasme luar biasa indah.


"Makannya pelan nanti tersedak." Peringatku pada Amanda yang makan dengan gaya rakusnya. Terkadang aku heran, mulut semungil itu mengunyahnya bisa cepat sekali, terlihat seperti marmut.


"Nanti kalau makan lama-lama rasa nikmatnya berkurang."


"Pelanlah, lagi pula tidak akan ada yang merebutnya."


"Ini gaya makanku, jangan protes."


"Dasar, sini aku suapi." Pintaku langsung mengambil alih piring Amanda.


Usai adegan menyuapi aku sedikit kesal dibuatnya. Bukannya apa, aku sedikit banyak mengharap adegan romantis dimana sang wanita membalas menyuapi pihak lelaki saat diberikan suapan. Ini adanya aku kenyang melihat Amanda yang belum selesai mengunyah sudah minta disuapi lagi, hah sulit memang berharap dengan manusia tak peka.


Saat ini kita sedang mengobrol ringan di tempat yang tidak pernah terpikir kalau tempat ini dapat dijadikan mengobrol oleh manusia sebelumnya. Benar kata orang terdahulu, bergaul dengan siapa maka seperti itulah perilaku kita. Aku menjadi konyol tapi sangat menyukai sensasinya. Sensasi mengobrol penuh tawa Amanda di anak tangga. Menceritakan hal tak penting, sampai-sampai menceritakan nasib semut yang berani menggigit Amanda saat mendaki gunung, menceritakan kisah kecil yang sesungguhnya tidak ada untungnya untuk ku dengar. Sayangnya semua nampak indah jika Amanda yang berceloteh. Oh, inikah cinta?



.....


"Lihat Lesi kelakuan bosmu."


"Iya nyonya, semenjak ada nona Amanda tuan jadi semakin banyak di vila dan semakin sering tersenyum, sungguh kemajuan."


"Tapi memang apa asiknya mengobrol di tangga, menggangu mobilisasi manusia lainnya saja."


"Orang kalau sedang jatuh cinta lupa segala nyonya."


"Kau benar, lihat saja sebentar lagi aku jamin akan memiliki cucu."


"Semoga nyonya."


"Woyyyyy....... apa yang dilakukan makhluk-makhluk tua di bawah tangga."


"Jason berisik, nanti ketahuan."


"Ketahuan apa sih mom?"


"Pelankan suarumu bodoh."


"Oh mom mengintip Gerlard dan Amanda, tingkah orangtua selalu seperti ini."


"Terserah mulutmu saja yang penting mom segera dapat cucu."


"Masih lama mom, Gerlard masih bertekad meminta Amanda melanjutkan sekolahnya. Masa anak sekolah bawa-bawa anak bayi, apa kata dunia."


"Berisik."


"Haduh nyonya sepertinya tuan Gerlard mendengar kita."


"Oh ya, Gerlard lanjutkan saja mengobrolnya anggap kita tidak ada, kita tidak menguping kok."

__ADS_1


"Untung mommy ibuku, jika tidak aku meminta Gerlard binasakan saja." Jason dengan sedikit keluhan hati.


__ADS_2